Virtual Evo Game

Virtual Evo Game
Operator Training


__ADS_3

Dari sebuah tempat yang berjarak cukup jauh dari perkotaan, terlihat sebuah pulau yang berada di tengah lautan. Pulau tersebut terlihat cukup megah dan canggih.


Terlihat banyak orang di dalam sebuah gedung. Mereka berpakaian seragam dengan rompi jaket berwarna biru dongker. Orang-orang itu terlihat sangat sibuk mengetik menggunakan keyboardnya. Kumpulan manusia itu juga menggunakan sebuah headset.


Termasuk seorang perempuan, yang tentunya sudah sangat dikenali. Archie, perempuan itu terlihat sangat serius memperhatikan layar komputernya, sambil berbicara seakan mengarahkan seseorang untuk melakukan sesuatu.


Sudah beberapa minggu ia berada di Sierra Academy. Sebuah tempat pelatihan intensif calon operator dan calon pemain. Archie cepat beradaptasi dengan keadaan tempat yang canggih itu. Saat pertama kali datang kesana, ia teringat dengan Cyber City Light.


Archie duduk disebuah kursi dengan komputer besar disana. Ia sedang melakukan tes penilaian performa yang disaksikan oleh calon operator lainnya dari arena monitoring, sama seperti latihannya di The Waves.


Sistematika penilaiannya adalah, melakukan simulasi pertandingan. Archie menjadi operator, lalu pemainnya adalah kecerdasan buatan yang berbentuk manusia, atau bahkan calon pemain Virtual Evo Game.


Archie mengawasi pergerakan partnernya sambil sekali-kali memberikan arahan. Ia juga membantu saat pengkodean, agar misi peretasannya bisa cepat terselesaikan. Dan, penilaian pun berakhir. Perempuan itu mendapatkan nilai yang cukup tinggi.


“Kerja bagus, Archie,” ucap Dairen, salah satu mentornya di Sierra Academy.


“Terima kasih, Pak,” jawabnya. Archie terlihat menghembuskan napasnya lega, lalu turun dari kursinya, dan keluar dari ruang operator.


Ia duduk di salah satu kursi di arena monitoring, sambil melihat layar besar dihadapannya. Archie terlihat kelelahan, ini karena ia memperbanyak waktu latihannya, agar bisa dengan cepat mendapatkan lisensi operator.


Beberapa jam, Archie melihat penilaian calon operator lainnya. Ada yang memiliki hasil yang baik, ada juga yang tidak.


Ia jadi tertawa getir, karena teringat dirinya di masa lalu. Waktu ia gagal dalam latihan, tercebur ke danau, dan mendapatkan hasil yang buruk saat pertandingan individu di VEG beberapa waktu lalu.


Saat datang ke Sierra Academy pun, banyak orang yang mengenalinya.

__ADS_1


“Itu Archie yang dari The Waves kan?”


“Iya, yang dapet peringkat kelima belas itu bukan?”


“Waktu dia tanding, kayak lagi bukan tanding. Malah keliatan kayak latihan biasa.”


“Jangan-jangan, dia diikutin tanding karena pake orang dalam. Ya, gimana ya. Pertandingan sekelas VEG, kalau pake orang dalam tapi skillnya kurang mah, abis kayak dia.”


Dan ucapan lainnya yang ia dengar. Archie sendiri mengabaikannya, karena ia datang ke Pulau Sierra hanya untuk melatih dirinya menjadi operator. Ia yang terlihat ceria tetapi canggung sepertinya tidak ada saat ini.


Archie yang sekarang adalah tipe yang serius. Memang banyak tekanan yang ia dapatkan, tetapi ia terus mencoba berlatih. Siapa sangka, ia malah mendapatkan peluang lebih cepat untuk mendapatkan lisensi operator.


Saat babak semifinal, ia menyaksikannya. Tekanannya semakin nyata karena Aro berhasil sampai ke babak final. Ia menyelesaikan semua programnya, karena karirnya sebagai operator akan segera dimulai.


***


Sedangkan yang lainnya, karena mereka semua dari awal hanya menjadi operator dan terbiasa berada di dalam ruangan tanpa latihan fisik, terlihat sangat kelelahan setelah berlari. Archie duduk di tengah lapangan seperti lainnya untuk beristirahat.


“Archie, silakan maju ke depan,” panggil Dairen.


“Baik, Pak,” jawabnya sambil ke depan lapangan.


Archie berdiri di sebelah Dairen. Ia menyuruh calon operator lainnya untuk berdiri, lalu orang-orang itu melakukannya. Tiba-tiba di hadapan Archie ada sebuah jendela digital hologram. Ia terdiam, teringat dengan kejadian saat ia belum menyelesaikan misi peretasannya saat itu.


Ini mau ada apa lagi? Batinnya.

__ADS_1


“Salah satu tugas operator adalah, membantu pemain untuk peretasan sistem pertahanan dari layar komputer. Benar begitu?” ucap Dairen.


“Benar, Pak,” jawab semua orang yang ada di lapangan.


“Alasan saya memunculkan layar jendela digital adalah, untuk kalian berlatih menghadapinya secara langsung. Tanpa bantuan komputer.”


“Dan karena diantara kalian, baru satu orang yang pernah melakukan ini,” lanjut Dairen lalu menoleh ke arah Archie di sebelahnya.


“Archie, karena kamu pernah bertanding, tolong beritahu teman-teman kamu, bagaimana cara melakukannya.”


Sontak Archie terkejut saat mendengarnya. Ia menenggak ludah, tidak tahu harus bagaimana. Perempuan itu hanya tidak ingin malu, karena banyak yang menyaksikan pertandingannya waktu itu. Dan ia gagal sebelum melakukan misi peretasannya. Rasa khawatir dan trauma itu datang kembali. Tangannya sudah menyentuh layar itu, tetapi Archie menarik kembali tangannya.


“Maaf, Pak, saya memang pernah bertanding, tapi…”


“Tapi kenapa?” tanya seseorang yang membuat ucapan Archie terpotong. Ia terkejut saat mendengar suara itu, ia sangat mengenalinya. Tetapi saat dicari-cari, tidak ada pemilik dari suara itu.


Mungkin ini hanya halusinasi ya? Batin Archie.


Tetapi ia merasa aneh, karena calon operator yang lain sepertinya juga mendengar suara itu.


Seseorang dari salah satu barisan depan, mengangkat tangan kanannya dan membuka hoodienya. Membuat orang disebelah kanan dan kirinya menjerit karena terkejut. Archie membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.


“Kak Aro?”


Aro yang berada di barisan depan tersebut, menatap Archie sambil tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2