
Semua orang di lapangan itu terkejut. Aro, finalis VEG tahun ini datang ke Pulau Sierra. Nampaknya, dia memang suka mengejutkan semua orang. Bisik-bisik orang lain mulai mengisi lapangan.
Aro berjalan ke depan lapangan. Archie merasa kikuk. Ia melirik Dairen dengan ekor matanya. Melihat mentornya itu melipat kedua tangannya, dengan tatapan tegas. Seperti pertama kali ia melihatnya.
Seniornya itu berdiri di sebelah Archie, menyuruhnya mendekati layar jendela digital sambil berbisik.
“Anggap saja ini latihan simulasi kita beberapa bulan lalu,” Archie mengangguk cepat, lalu menyentuh layar dihadapannya itu. Semua orang terkhususnya calon operator lain, menyaksikannya.
Archie mengotak-ngatik layar hologram tersebut sambil menjelaskan apa saja yang ia lakukan. Sesekali, Aro juga membantu menjelaskannya. Lalu tulisan Hacked muncul di layar itu.
Perempuan itu menghembuskan napasnya lega. Merasa senang karena berhasil menyelesaikan pengkodean di layar tersebut. Lalu ia melirik ke arah Aro, laki-laki iu tersenyum ke arahnya seakan mengatakan good job.
Tetapi, Archie merasa sebelah kirinya ada aura dingin, dan ia menunduk. Ia memberanikan diri menengok ke arah kiri lalu mengangkat kepalanya. Dairen masih diam dengan keadaan yang sama.
“Pak, maaf ini senior saya. Dia satu tim yang sama dengan saya di The Waves,” ucapnya yang terlihat gugup. Keadaan masih sunyi. Tetapi beberapa detik kemudian, Archie malah melihat Dairen tersenyum. Lalu berkata, “Kamu jadi datang ya ternyata, The Ace.”
“Iya, Pak. Terima kasih, saya sudah diijinkan datang kemari,” jawab Aro dengan ramah.
Archie kembali terkejut. Ia tahu kalau orang-orang di Pulau Sierra pasti banyak yang mengenal Aro. Hanya saja yang membuatnya terkejut adalah, Aro sudah mengabari Dairen.
***
Keadaan lapangan kembali riuh, lalu saat Dairen memerintahkan semua orang untuk diam, mereka menurutinya. Aro dan Archie masih berada di depan lapangan, dengan Dairen disebelahnya.
Dairen berbincang dengan Aro dan Archie, meminta tolong sesuatu. Lalu mereka berdua menyetujuinya.
“Seperti yang saya katakan tadi, kalian akan berlatih menggunakan jendela digital secara langsung. Karena Aro dan Archie adalah pemain VEG, mereka akan membantu kalian,” ujarnya.
Para calon operator itu merasa senang saat mendengarnya. Tentu saja, lebih banyak yang ingin diajari oleh Aro, dibandingkan diajari oleh Archie. Bisikan-bisikan seperti ‘mau diajar sama Aro’ atau bahkan ‘lebih baik dengan Aro langsung’ terdengar di telinganya.
Mereka belum tahu saja, segalak apa waktu dia melatih. Batin Archie.
Archie berbisik dengan Aro. “Kak, aku gimana mau ngajarin? Kayaknya mereka gaada yang mau sama aku.”
“Kalau tidak ada yang mau sama kamu ya, saya juga tidak mau ngebantu mereka,” jawab Aro sambil mengangkat bahunya
“Masa tidak ada yang mau sih, diajarin sama pemain sekaligus calon operator kayak kamu?” lanjutnya sambil melirik Archie secara sekilas. Pipi Archie mendadak terasa panas.
Semua orang yang berada di lapangan, mulai menyentuh layar jendela digital mereka. Aro dan Archie berkeliling untuk membantu mereka, walaupun sering kali, Archie diabaikan oleh calon operator yang lain.
Archie berusaha membuat emosinya lebih stabil. The Waves dan Sierra Academy memang tempat yang berbeda untuknya. Rasanya, Archie ingin cepat-cepat pulang ke perusahaan timnya.
__ADS_1
Archie melihat seorang perempuan yang seusia dengan Aro, ia terlihat sedikit kesulitan. Ia mengenalnya, bisa dikatakan sebagai kakak kelasnya disana. Archie berniat membantu, lalu menghampirinya.
“Tidak usah dibantu, aku bisa,” ucap perempuan itu, terlihat galak. Archie hanya termenung.
“Yakin sudah bisa?” tanya Aro yang tiba-tiba muncul dibelakang perempuan itu. Archie dan kakak kelasnya itu terkejut.
“Kode kamu masih banyak yang belum benar. Kamu mau dibantu lho, sama dia. Sudah ditawarin bantuan, galak pula,” sindir Aro. Perempuan itu terlihat malu.
Ini orang, sekalinya nyinyir, seram juga mukanya. Batin Archie.
“Kak,” panggil Archie, Aro menoleh, melihat perempuan yang memanggilnya itu menggeleng. Seakan mengisyaratkan ‘jangan begitu’ dengan wajah memohon. Tetapi Aro hanya menatapnya diam dengan wajah datarnya.
Lalu Aro berjalan ke arah samping Archie lagi. Ia berbisik “Jangan mau ditindas terus,” lalu laki-laki itu berjalan ke calon operator lainnya.
***
Berjam-jam mereka berada di bawah sinar matahari, dan akhirnya sore pun tiba. Banyak yang duduk di pinggir lapangan, tidak terkecuali Aro dan Archie. Latihan mereka hari ini belum selesai, tetapi Dairen memberi mereka istirahat.
“Sierra Academy keren ya. Canggih tempatnya,” ucap Aro. Archie hanya mengangguk. “Tapi masih lebih enak The Waves, Kak,” jawab Archie.
“Disini senioritasnya tinggi.”
“Tidak apa-apa. Tahan ya, sebentar lagi kamu pulang,” ujar Aro.
Archie tersenyum saat mendengarnya. Mereka saling berbincang, karena sudah lama tidak bertemu. Aro juga memberitahu Archie kalau ia sudah mengetahui, kalau mereka berdua akan dipasangkan.
Ada sedikit kekhawatiran menyelimutinya. “Kak Aro yakin?” tanya Archie.
“Saya yakin sama kamu udah dari lama. Kamu memang cocok kok, jadi operator. Buktinya juga udah saya denger dari Pak Dairen, kalau kamu dapat peluang buat dapet lisensi operator lebih cepat.”
“Padahal, dulu Pak Kelvin baru dapat setelah setahun masa latihannya,” lanjutnya.
Archie membulatkan matanya. Sedangkan Aro hanya tersenyum. “Orang lain sudah percaya sama kamu, kapan kamu percaya dengan dirimu sendiri?” ujarnya. Ucapan Aro tersebut membuat Archie terdiam.
***
Malam pun tiba. Saat ini, semua calon operator dikumpulkan dalam aula. Archie kembali menggunakan seragam rompi biru dongkernya. Begitupun dengan Aro, ia juga harus mengenakan itu karena berada di dalam akademi.
Ini orang, kayaknya pakai baju apa saja juga cocok. Sama-sama ganteng. Batin Archie yang tersipu saat melihat Aro yang menghampirinya. Mereka duduk bersebelahan di dalam aula besar tersebut.
“Selamat Malam, semuanya,” ucap Dairen.
__ADS_1
“Malam, Pakkkk,” jawab semua orang yang berada di dalam aula.
“Saya ingin mengumumkan tes dadakan untuk kalian, esok hari.”
“HAAAHHH?!” semua orang, tak terkecuali Archie yang terkejut. Ia melihat Aro yang masih di sampingnya. Mereka berdua saling berpandangan.
Beberapa orang mulai mengeluh saat mendengarnya. Bahkan Dairen belum memberitahu apa tesnya tetapi, banyak yang belum siap untuk mendengarnya.
“Dadakan banget sih.”
“Baru juga kemaren tes. Ini tes lagi.”
Dan juga beberapa keluhan lainnya. Archie juga merasakan hal yang sama, hanya saja semenjak masuk dalam pelatihan, ia hanya merasa perlu menghadapinya saja. Demi mendapatkan lisensi. Aro tidak mengikuti tesnya, karena dirinya hanya tamu.
Ia melihat Archie yang duduk disebelahnya hanya menghela napasnya. Paham dengan keadaan perempuan itu. Hanya saja, Aro masih merasa canggung untuk berkata apapun.
“Biar saya jelaskan dahulu, tes apa yang akan kalian hadapi esok,” ucap Dairen. Seketika itu juga, ruangan kembali menyadi senyap.
“Tesnya kurang lebih sama seperti biasanya. Tes kali ini bernama Demo Stage. Kalian boleh ikut, boleh juga tidak ikut. Untuk beberapa orang yang saya pilih, wajib mengikutinya,” lanjut Dairen.
Beberapa orang di dekat Archie menghembuskan napasnya lega. Mereka merasa tidak perlu mengikuti tes kali ini. Beberapa orang merasa dirinya tidak mungkin dipilih. Namun, Archie merasa ada yang aneh. Karena tidak biasanya ada tes seperti ini.
“Tetapi, untuk kalian yang mengikuti tes kali ini, dan mendapatkan hasil yang tinggi, kalian akan sangat diperhitungkan untuk segera mendapatkan lisensi operator,” ucap Dairen.
Archie membuka mulutnya lebar-lebar. Beberapa orang langsung mengubah keputusannya secara tiba-tiba. “Hadiah yang bener-bener menggiurkan banget sih ini,” ujar Archie.
“Kamu harus ikut,” ucap Aro datar.
Perempuan itu langsung menganggukkan kepalanya antusias. Belum tentu dirinya akan menjadi orang yang diperhitungkan. Tetapi, kalau belum dicoba, belum tentu tahu apa hasilnya.
Dairen mengungumkan siapa saja yang diwajibkan untuk mengikuti tes tersebut. Nama Archie termasuk di dalamnya. Tentu saja, ia akan menyanggupinya.
“Kalian yang mengikuti tes ini, boleh meminta bantuan dari pemain VEG, atau kecerdasan buatan yang selama ini kalian gunakan. Tidak ada poin lebih, semua secara adil. Baik bersama dengan pemain VEG ataupun dengan kecerdasan buatan.”
Aro menunduk lalu tersenyum. Archie menoleh ke arahnya. Seakan menyadari bahwa Aro sedang memikirkan hal yang sama dengannya. Hanya saja, dengan buru-buru ia membuang pikirannya.
Ia tidak ingin merepotkan Aro. Tetapi Aro malah menawarkan dirinya sendiri. Bahu Archie menegang, laki-laki itu berkata, “Ini kesempatan buat latihan, bukan? Sebentar lagi babak final, tapi kita belum latihan sama sekali.”
Bahu Archie mulai sedikit lebih relaks. Baginya, yang dikatakan Aro ada benarnya juga. Ini pertama kalinya ia dan Aro akan menjadi partner.
***
__ADS_1