
Mereka bertiga langsung bergegas ke depan gedung The Waves. Mereka merasa tidak enak membuat Aro menunggu mereka di sana. Terlihat Aro yang membelakangi ketiga peserta itu sambil melihat danau di depannya. Merasa di belakangnya ada orang, Aro langsung membalikkan badannya, ia tersenyum tipis melihat mereka bertiga.
“Selamat Pagi semuanya,” ucap Aro dengan suara seraknya.
“Selamat Pagi, Kak,” jawab mereka bertiga.
“Kita berempat akan menjadi perwakilan The Waves untuk kompetisi VEG tahun ini. Kita harus lebih banyak latihan karena seperti yang kalian ketahui, kita tidak punya operator,” ucapnya Aro yang dibalas anggukan ketiga peserta lainnya.
Setiap pemain yang bertanding di kejuaraan kategori individu biasanya memang memiliki operator. Operator bertugas untuk memandu pemain saat pertandingan berlangsung. Ia akan berada di dunia nyata dan ruangan khusus beserta komputernya. Tetapi, The Waves tidak memiliki operator. Hal tersebut terjadi karena divisi tersebut ditutup, dan lebih banyak anggota The Waves yang memilih menjadi pemain dibanding operator.
“Saya ditunjuk sebagai ketua untuk tahun ini dan juga tutor sebaya untuk kalian. Saya sudah meminta izin dari Pak Kelvin untuk melatih kalian dengan metode latihan saya,” lanjutnya lagi.
Liam tersenyum mendengarnya. Sebagai seseorang yang pernah juga dilatih oleh Aro, ia cukup hafal dengan gaya pelatihannya. Ini cukup menguntungkan untuk dirinya. Bukan hanya Liam, Ann yang pernah bertanding dengan Aro sebelumnya juga ingat bagaimana gaya latihan dari Aro.
Archie menghembuskan napasnya. Nampaknya ia harus bisa beradaptasi dengan cepat untuk pelatihan kali ini. Sebagai orang dengan minim pengalaman, hal ini cukup menantang untuk dirinya.
“Saya minta kalian untuk lari keliling gedung sebanyak sepuluh putaran. Liam, lima belas putaran untuk kamu,” perintah Aro yang dibalas anggukan dari Liam dan Ann.
Archie cukup terkejut dengan jumlah putaran yang diperintahkan.
Sepuluh putaran? Ya ampun, yang bener aja.
“Setelah kalian semua selesai berlari, segera datang ke lapangan latihan di belakang gedung. Kita latihan di sana,” lanjutnya.
Ini aja kita lagi di depan gedung, nanti ke lapangan belakang juga. Ya ampun, baru juga hari pertama. Gumam Archie sedari tadi di dalam hatinya.
Aro melihat ke arahnya. “Kamu kenapa? Terlalu sedikit?” tanya Aro yang terdengar tegas.
“T…tidak ada apa-apa, Kak,” jawabnya dengan sedikit gugup. Yakali mau ditambahin, sepuluh aja tepar.
Akhirnya mereka bertiga berlari keliling gedung The Waves. Terlihat banyak anggota The Waves yang lain melihat mereka bertiga. Delaney dengan beberapa teman Group F yang sedang berkumpul terlihat melambaikan tangan ke arah Archie dan dibalas olehnya.
“Sumpah, aku ngiri sama Archie,” ucap Zack. Delaney yang disebelahnya menoleh ke arahnya.
“Tapi aku tetep salut sama dia. Masih ga nyangka aja anak Group F ada peserta VEG. Peringkat kita emang lebih tinggi dari dia, kayaknya kita kurang rajin aja jadinya ga dilirik Pak Kelvin,” tambahnya lagi.
__ADS_1
“Makanya, kalo latihan tuh jangan males, hahaha,” balas Delaney.
Mereka berdua dan beberapa anggota yang lain menertawakan apa yang dikatakan oleh Delaney. Memang terlihat mustahil untuk Group F bisa menjadi peserta VEG. Jangankan menjadi peserta, menjadi calon peserta saja sulit.
Namun, melihat apa yang Archie raih saat ini menyadarkan mereka. Usaha terkadang memiliki hasil yang tidak diharapkan, tetapi tidak pernah sia-sia.
***
Matahari semakin naik dan hari mulai terik. Archie terlihat sedikit kelelahan diputaran kedelapan, namun ia tetap memaksa tubuhnya. Ia tidak ingin malu dihadapan kedua seniornya yang masih tetap berlari mengelilingi gedung. Bahkan Liam sudah berlari lebih dari dua belas putaran.
Hampir diputaran terakhir mereka berlari, Archie sudah terlihat kelelahan. Setelah selesai berlari, mereka berjalan pelan ke arah bawah pohon lalu berteduh di sana. Letaknya cukup dekat dengan lapangan tempat Aro menunggu. Archie menyelonjorkan kakinya. Ia belum pernah berlari hingga lelah seperti ini.
Liam dan Ann masih terlihat sangat segar, bahkan membawa aura tersendiri saat mereka berkeringat. Sementara Archie sudah meminum air sampai habis setengah botol minum.
“Langsung ke lapangan aja yuk, takutnya Kak Aro udah nungguin,” ucap Ann.
“Oh, iya, Kak,” jawab Archie.
“Tuh ada Kak Aro, ayo langsung kesana aja,” tambah Liam.
Mereka bertiga berlari lagi ke arah lapangan. Sudah terlihat Aro dengan beberapa alat latihan yang biasa digunakan para anggota The Waves. Liam, Ann, dan Archie berdiri dihadapan Aro.
“Karena kalian sudah mulai dengan pemanasan tubuh, berarti saat ini kalian harus melakukan latihan fisik. Saya sudah mempelajari profil kalian semalam,” ucapnya yang didengarkan baik-baik oleh tiga orang dihadapannya.
“Liam, kamu menggunakan dua gadget untuk senjata di pertandingan Grade B tahun lalu ‘kan? Apa saja yang kamu pakai?” tanya Aro.
“Iya, Kak. Saya memakai tembakan angin dan senapan laser tahun lalu,” jawab Liam.
“Saya lihat kontrol kamu cukup baik dengan senjata-senjata itu. Hanya saja kamu terlalu terburu-buru. Kamu harus lebih tajam dalam menggunakan insting dan lebih sabar dalam bertanding,” saran Aro yang dibalas anggukan oleh Liam.
“Kamu langsung ke lapangan, beberapa barang sudah saya siapkan di sana. Kamu pilih beberapa senjata yang membuat kamu nyaman,” lanjut Aro.
“Baik, Kak,” jawab Liam. Setelah itu Liam langsung menuju ke lapangan.
Setelah tiba di lapangan, Liam menuju tempat yang terlihat banyak barang di sana. Senjata untuk mereka latihan memang terlihat seperti peralatan permainan virtual reality. Karena memang hanya memiliki efek seperti senjata sungguhan di dalam dunia VEG.
__ADS_1
Liam melihat-lihat beberapa senjata dan mencobanya, lalu memilih salah satu senjata. Ia membidik ke arah papan target digital yang terletak jauh di seberangnya. Saat mencobanya, keluar suara tembakan dari senjata itu. Tidak keluar amunisi dari senjata yang digunakannya, tetapi meninggalkan bekas tembakan di papan target digital tersebut.
“Yang ini bagus juga, apa pakai yang ini aja ya?” kata Liam sambil melihat-lihat senjata yang ia pegang itu.
“Tapi kecepatan amunisinya kurang. Ganti yang lain deh,” lanjutnya sambil melihat-lihat senjata lainnya.
Sementara itu di ujung lapangan…
“Ann, kesalahan teknis apa yang buat kamu mengundurkan diri dari pertandingan terakhir kamu?” tanya Aro.
“Gadget saya tidak bisa aktif saat di dunia VEG. Saya saat itu juga tidak tahu kenapa tidak bisa digunakan, tetapi saat di cek ternyata ada keteledoran dari pihak kita yang tidak mengaktifkan beberapa komponen dari handgun yang saya pakai,” jelas Ann.
Archie yang mendengarkannya tidak terkejut. Karena saat pertandingan waktu itu ia menyaksikan keadaan hal tersebut. Ann sudah berada di dunia VEG dan saat itu sedang mencoba menembak beberapa musuh dihadapannya tetapi amunisinya tidak keluar. Sehingga karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, ia memberikan handsign dan keluar dari VEG.
“Kamu juga ke lapangan seperti Liam. Saya sudah memilih beberapa gadget yang mungkin cocok untuk kamu. Saran saya kamu gunakan lebih dari satu senjata untuk pertandingan nanti sebagai cadangan,” ucap Aro.
“Baik, Kak,” setelah itu Ann menuju ke tengah lapangan.
Hanya tersisa Aro dan Archie di ujung lapangan. Aro berjalan ke arah satu peserta terakhir itu. Archie merasa sedikit takut dibuatnya namun berusaha menguatkan mentalnya. Saat berada dihadapan lelaki itu, jantungnya berdegup tak karuan karena merasa sangat grogi dan menundukkan pandangannya.
“Melisa Eri,” ucap Aro. Archie yang mendengar Aro memanggil nama aslinya itu terkejut dan langsung mengangkat wajahnya.
“I… iya kak?” Jawabnya dengan tubuh yang menegang.
“Santai saja, saya hanya ingin sedikit lebih mengenal kamu, karena hanya kamu yang belum pernah saya kenal. Anggota The Waves dengan peringkat 35 sebagai Calon peserta VEG. Seberapa yakin kamu untuk ikut kompetisi ini?” tanya Aro.
“Anu…” jawab Archie ragu-ragu. “Sebenarnya saya juga tidak tahu kak, saya masih bertanya-tanya kenapa saya diikutkan VEG tahun ini,” jawabnya dengan sedikit lebih tenang.
“Bukan hanya kamu yang keheranan, sebenarnya semua anggota The Waves tidak ada yang tahu kenapa kamu yang dipilih. Termasuk saya,” kata Aro.
Kata-kata yang dilontarkan Aro tergolong menusuk hatinya. Tetapi ia tidak marah, karena bagi Archie memang seperti itu kenyataannya.
“Tapi saya yakin, yang dipilih oleh Pak Kelvin bukan orang yang salah. Kita satu tim sekarang, mohon kerjasamanya,” lanjut Aro.
Aro mengulurkan tangannya. Archie yang melihatnya terkejut dan keheranan, serta ragu untuk membalas uluran tangan itu. Ia melihat wajah laki-laki dihadapannya yang berbeda 4 tahun dari dirinya itu, dan orang itu tersenyum tipis ke arahnya. Dengan sedikit keberanian yang ia punya, Archie membalas jabatan tangan tersebut.
__ADS_1
“Mohon bimbingannya, Kak.”
***