
Wanita paruh baya itu menatap dengan tajam kepada wanita yang tengah bersandar pada ranjang pasiennya. Bingung harus mengatakan apa agar anaknya mengakui siapa laki laki yang harus bertanggung jawab untuk bayi dalam kandungannya.
"Haris?" Tanya wanita itu dengan tegas.
Citra hanya diam tak melontarkan sepatah katapun dari bibirnya.
"Pasti Haris kan? Siapa lagi laki laki yang berhubungan dengan kamu kalau bukan dia? Nggak ibu sangka laki laki yang terlihat begitu baik berhati bejat.." Wajah Bu Asih merah padam. Kerutan di dahinya selalu muncul kala dia sedang emosi.
"Haris nggak salah.. " Tak tahan ibunya yang terus mengutuki Haris Citra akhirnya membuka suara. Mana mungkin dia membiarkan lelaki yang tidak tahu apa apa mendapatkan kecaman dari ibunya.
"Maksud kamu?" Tanya bu Asih tak sabar.
Citra menghela nafas panjang. Kini diapun berani menatap wajah ibunya.
"Bukan Haris.." Citra menggelengkan kepalanya dan mulai terisak.
Bu Asih luluh melihat anaknya yang berlinang air mata. Tidak seharusnya dia menekan anaknya seperti ini. Dia membelai rambut Citra dengan lembut.
"Kamu tahu?" Bu Asih mulai berkata dengan lembut.
"Ayah kamu meninggal karena kecelakaan saat perjalanannya ke rumah sakit.." Bu Asih terdiam sejenak.
" Saat itu ibu sedang berjuang melahirkan Dila, adik kamu. Ayah dengan tergesa gesa mengendarai mobilnya, saat itu sedang hujan. Belaiau berusaha menghindari pejalan kaki yang hendak menyebrang, Tapi..." Bu Asih tak bisa melanjutkan ucapannya karena menahan sesak mengingat kejadian pahit yang pernah dia alami.
"Ayah malah menabrak pembatas jalan.. " bu Asih membungkam mulutnya sendiri.
Citra menggenggam tangan ibunya dengan erat. Pantas saja ibunya selalu menghindari pertanyaan bagaimana ayahnya meninggal. Ternyata hal itu begitu menyakitkan untuk di ungkit.
"Maka dari itu ibu nggak ingin kamu mengalami hal seperti ibu! Berjuang saat melahirkan tanpa ditemani ayah dari anak ini.." Bu Asih membelai perut Citra.
Citra terdiam, dia tidak pernah berpikir untuk melahirkan anak ini seperti yang dikatakan ibunya. Namun jika di pikir lagi anak ini memang tidak berdosa. Dia ibarat kertas putih bersih tanpa noda. Salahnya hanya dia tumbuh di tubuh seorang wanita yang belum menikah.
"Jadi katakan pada ibu siapa laki laki itu?" Bu Asih kembali dengan nada tegasnya.
"Apa kamu ingin ibu cepat mati nak? Tolong jawab ibu! Laki laki itu harus bertanggung jawab!!" Mohon bu Asih.
Citra tak berkutik. Mulutnya tak ingin mengatakan siapa lelaki itu.
Bu Asih tiba tiba berdiri lalu meraih pisau yang tergeletak di atas meja di sudut ranjang Citra. Citra terbelalak, dia berpikir bu Asih mungkin akan melakukan hal yang nekat.
Benar saja, bu Asih meletakkan pisau itu di atas pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Ibu.." Pekik Citra berusaha bangkit dari ranjangnya.
"Katakan!! Kamu tahu ibu orang yang nekat kan.. Katakan atau ibu gores tangan ibu!! " Bu Asih mengancam dengan pisau yang masih berada di posisi yang sama.
Maaf nak, hanya dengan cara ini kamu bisa mengatakan kebenarannya.. Batin bu Asih.
"Bu taruh pisau itu !! " Mohon Citra dengan iba.
"Nggak, jangan buat ibu bertanya lagi!!"
"Citra beritahu bu ! Tolong ibu letakkan dulu pisaunya.." pinta Citra.
Bu Asih perlahan mengalihkan pisaunya.
"Laki laki yang hampir menabrak Citra dijalan.."
Citra berkata dengan sendu.
"Dia yang melakukan itu bu.."
Bu Asih terkejut. Laki laki yang hampir menabrak Citra ? Berarti laki laki yang tadi mengantar mereka ke rumah sakit. Namun mengapa dia seolah tak mengenal anaknya? Pantas saja dia buru buru meninggalkan mereka.
"Bagaimana bisa kamu kenal lelaki seperti itu?" Tanya bu Asih heran.
"Citra tidak mengenalnya.." Jawab Citra pelan nyaris tak terdengar oleh bu Asih.
"Nggak kenal? Lalu bagaimana bisa dia melakukan hal kayak gitu ke kamu? Hah?" Bu Asih mencengkeram bahu Citra dengan tangan yang masih menggenggam pisau.
Citra menggigit bibir bawahnya, ingin berucap tapi tak sanggup. Namun ibunya harus tahu kebenaran ini jika dia tidak ingin semakin menyakitinya.
"Dia melecehkan Citra bu, Citra dipaksa.." Citra menunduk tak berani menatap mata sang ibu.
"Kurang ajar!! ibu nggak trima!! Susah payah ibu membesarkan anak gadis ibu, dia malah merusak seenaknya.." Bu Asih berapi api.
"Bu.. Maafin Citra!!" Ucap Citra.
Bu Asih duduk di depan Citra lalu memeluk anak gadisnya itu.
"Bukan kamu yang salah, tapi lelaki itu.. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.."
Citra melepaskan pelukan ibunya.
__ADS_1
"Maksud ibu apa? Ibu nggak akan maksa dia buat nikahin aku kan?" Tanya Citra penasaran.
"Apalagi? Kamu pikir ibu akan membiarkan dia lolos begitu saja? Dan membiarkan anak ibu menanggung malu? " Bu Asih menatap tajam pada Citra.
"Ngak akan!! Sampai ujung duniapun bakal ibu kejar lelaki bi*d*p itu..!!"
"Bu.. Citra.."
"Jangan bantah ibu!" Potong bu Asih.
Citra terdiam tak melawan, sebenarnya dia belum pernah melihat sisi ibunya yang seperti ini. Bu Asih yang selama ini lembut dengan canda tawa hangatnya tiba tiba dalam satu hari berubah bagaikan induk singa buas yang kehilangan anaknya. Namun siapapun akan berlaku sama jika ini terjadi pada anaknya bukan?
"Sudah!! Kamu diam disini.." Bu Asih beranjak dari ranjang Citra.
"Bu.." Panggil Citra.
Bu Asih tak menghiraukan panggillan anaknya, berlalu meninggalkan Citra sendirian.
Di balik pintu kamar Citra dirawat, bu Asih mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mendial nomor seseorang.
"Halo? Dila!! Pergi temui om Bayu, bilang ibu tunggu di rumah sakit Pelita Medika. Sekalian kamu ikut kesini?"
"Hahh? Rumah sakit? Kok rumah sakit? Nggak jadi ke klinik bu?" Tanya Dila penasaran dari balik ponsel.
"Sudah jangan banyak tanya!!"
Tutt tutt..
Sambungan terputus.
Dila yang sedang memakan seblak favoritnya langsung berhenti menikmati makanan berkuah tersebut. Dia hendak menyuap namun tak jadi.
"Kalau sampai ngelibatin om Bayu sih bukan masalah kecil.." Gumam Dila.
Om Bayu adalah adik dari bu Asih, dia salah satu orang yang cukup disegani di wilayah Citra. Walaupun belum terlalu tua, namun karena sikapnya yang bijaksana dan selalu bisa menggertak orang tanpa perlakuan fisik itulah yang membuat orang lain menghormatinya.
"Jangan jangan bener dugaanku.." Dila meletakkan sendoknya di atas mangkok dengan cukup keras sampai menimbulkan bunyi.
"Kak Citra hamil.." Ucap Dila ternganga akibat tebaknnya sendiri.
_________
__ADS_1