Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 21


__ADS_3

Haris mengetuk pintu poly umum dihadapannya dengan pelan. Sudah sekitar 30 menit dia mengantri menunggu giliran. Maag akut yang dideritanya tiba tiba saja kambuh dan tidak bisa di toleransi dengan obat apotik yang biasa dia beli. Dengan terpaksa dia pun memeriksakan diri ke rumah sakit yang tidak terlalu dia suka untuk masuki agar mendapat penanganan yang tepat. 


"Masuk!" Suara wanita bernada rendah itu seperti pernah dia dengar sebelumnya. 


CEKLEK


Haris masuk sambil memandang ke depan. Seorang dokter wanita tengah duduk di kursi putarnya sambil memegang sebuah kertas. 


"Tuan Haris.. " Dokter wanita itu mengangkat kepalanya dan memperhatikan Haris. Tiba tiba raut wajahnya berubah, matanya melebar seolah melihat sesuatu yang menyeramkan. 


Dokter itu menggigit bibir bawahnya. Wajahnya memerah, dia terlihat sangat malu. 


"Dokter?" Sapa Haris dengan datar yang mebuat dokter wanita itu semakin tegang. 


"Dokter?" Haris kembali mengulangi kalimatnya 


"Ah iya.. "Dokter itu tergagap. 


"Tuan Haris apa keluhannya?" Dokter itu mengurai senyum dengan paksa. 


"Perut saya kembung, rasanya panas seperti terbakar. Saya juga merasa mual dan di sini sangat sakit, nyeri." Haris menunjuk ke awah dadanya. 


"Baik, silahkan berbaring disana!" Dokter menunjuk ke arah ranjang periksa pasien yang terletak di tak jauh darinya. 


Haris berbaring pada ranjang itu dan memasang posisi yang rileks. 


"Dia nggak mengenali aku ya.." Batin dokter itu. 


Dokter memasang stetoskopnya di telinga dan mulai memeriksa Haris. Dia melepas stetoskopnya dan membuka pakaian bawah Haris dengan wajah tersipu. Dia menekan dengan pelan dan mengetuknya beberapa kali dengan jemarinya yang lentik, lalu kembali menutup pakaian Haris. 


Dokter kembali ke tempat duduknya diikuti Haris. 


"Tuan Haris kurangi makanan pedas, asam, dan bersantan. Perbanyak minum air putih buah buahan serta jangan sering telat makan. Perbanyak istirahat dan kurangi stress berlebih!" Ujar dokter itu sambil menuliskan beberapa resep. 


"Ini resepnya. Silahkan ke kasir" Dokter menyerahkan secarik kertas dengan senyum yang manis. 


Haris menerima kertas itu namun sejenak memperhatikan wajah imut dokter itu karena sejak tadi sikap sang dokter begitu menyita perhatiannya. 


"Sepertinya saya pernah bertemu dengan dokter sebelumnya." Ucap Haris dengan datar. 


"Haha itu perasaan tuan Haris saja. Ini bukannya pertama kali anda berobat kepada saya." Lagi lagi dokter itu mengumbar senyum yang dia paksakan. 


"Ohhh saya ingat."


"Matilah aku.. " Seru dokter itu dalam hatinya. 


"Dokter yang memaki saya malam itu ya." Seringai Haris yang membuat jantung dokter seakan copot. 

__ADS_1


"Haha ada ada saja tuan ini. Mungkin anda salah orang. " Dokter kembali tersenyum. 


"Mana mungkin saya salah. Saya ini adalah seseorang yang pandai mengenali orang lain yang sudah membuat saya marah loh, dokter Joyce Marinka.. " Haris tersenyum dingin pada dokter itu. 


"Haha.. Begitu ya tuan. Maaf ya bukannya saya tidak sopan, tetapi pasien saya masih banyak. Bisa tidak tuan Haris segera keluar!" Joyce masih bersuara halus kepada Haris. 


Haris tak banyak bicara. Dia segera beranjak dan menarik pintu keluar. Namun sebelumnya dia sempat menoleh kepada Joyce dan menyeringai. 


"Terimakasih dokter Joyce. Percaya tidak kita pasti akan bertemu lagi.. " Lalu keluar dan menutup pintu. 


"Hahhhh.." Joyce meminum segelas air mineral di mejanya dan mendesah lalu bersandar pada kursi putarnya. 


"Hari yang sial.." Desis Joyce memandangi pintu ruang kerjanya.


****


Citra telah sampai di rumah Andreas. Segera dia membuka pintu pagar dan kembali menutupnya setelah masuk. Dia hendak melangkah ke dalam namun seketika terhenti karena mendengar panggilan seseorang dari luar pagar. 


"Tunggu!" Panggilnya. 


Citra berbalik, dan menatap sekilas kepada pria diluar yang memakai masker putih itu. Saat pria itu membuka maskernya, ternyata dia adalah suaminya ,Andreas. Dengan cepat Citra kembali membuka pintu pagar rumah Andreas dan pria itu pun masuk. 


"Sudah pulang? Jam segini?" Andreas menunjukkan jam tangannya yang memperlihatkan angka 10.00.


"Aku.. Dipecat!" Ucap Citra dengan lesu. 


"Ada yang tahu aku hamil."


"Terus?" Andreas mendekatkan wajahnya pada Citra yang seketika membuat wanita itu mundur.


"Bisa tidak nggak usah dekat dekat! Ishh.." Keluh Citra sambil menahan dada Andreas. 


Andreas tersenyum melihat ekspresi istrinya itu entah sejak kapan dia jadi semakin suka menggoda Citra dan melihat wajahnya yang tersipu. 


"Ya terus kenapa kalau hamil?" Andreas kembali berdiri di posisinya. 


"Aku dikira belum menikah."


"Kamu nggak jelasin kamu udah nikah?"


"Udah..  Tapi aku malu kasih liat akta nikah siri kita." Jawab Citra.


"Ck ck ck.." Andreas berdecak. 


"Kenapa? Kamu malu? Kamu kapan bisa ngilangin gengsimu itu?" Lanjut Andreas seraya menyentil kening Citra. 


"Aww sakit.." Protes Citra. 

__ADS_1


"Lalu kamu ngapain pulang jam segini?"  Citra balik bertanya. 


"Ada dokumen yang tertinggal." Jawab Andreas. 


"Aku bantu cari." Ucap Citra yang berinisiatif. 


"Boleh. Sudah cepat masuk! Panas begini nanti kamu tambah gosong." Balas Andreas dengan datar. 


"Hey mana ada aku gosong." Citra tidak terima dengan perkataan suaminya. 


Merekapun beriringan masuk ke dalam rumah. Sesekali Andreas melirik ke wajah Citra yang ayu, yang dilirik sebenarnya sadar namun pura pura tidak melihat. Namun wajahnya yang tersipu itu tak mampu membohongi Andreas. 


***


CEKLEK


Andreas membuka pintu ruang kerjanya. Dia dengan cepat menuju meja kerjanya dan memilah beberapa dokumen yang bersampul hampir serupa. 


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Citra yang tengah berdiri di ambang pintu. Dia melangkah mendekati Andreas yang tengah merapikan dokumennya. Andreas tidak menjawab dan masih tidak menatap Citra sedikitpun. 


Citra dengan kesal membantunya merapikan dokumen. Tangannya gatal melihat benda yang berserakan di meja itu. Sesekali dia menekan dengan kencang tumpukan dokumen itu ke meja. Namun dia begitu terkejut ketika ternyata Andreas berdiri begitu dekat dengannya. 


"An.. Andre.." Ucapnya terbata, takut akan ada sesuatu yang terjadi. 


Andreas tidak menjawab dan malah semakin mendekatkan wajahnya kepada wajah Citra. Aroma maskulin langsung menyeruak ke indra penciuman wanita ayu itu. 


Citra meneguk ludahnya sendiri karena ketakutan dengan tatapan Andreas yang tertuju pada bibir mungilnya. Citra menahan dada Andreas, mencoba mendorong jauh jauh pemilik tubuh itu. 


"Kamu habis makan apa?" Andreas terperanjat dan bertanya dengan tiba tiba. 


"Ehhh???" Citra masih salah tingkah. 


"Itu mulutmu, pipimu, sampai hidungmu sangat berminyak. Kamu nggak cuci dulu?" Andreas menjauh dari Citra dengan tatapan bergidik. 


"Hah??? Aku makan apa?" Citra memegangi mulut dan pipinya serta mengusap usapnya, mengecek apakah ada sisa minyak yang Andreas maksud. 


"Mana ada? Ini nggak ada minyak." Protes Citra dengan mulut mengerucut. 


"Haha.." Andreas malah tertawa tidak jelas. 


Andreas mengacak rambut Citra,"Sudah sudah.. Aku ke kantor dulu!"


Kemudian berjalan sambil membawa dokumennya. Namun tak lama dia berhenti dan menoleh kepada Citra yang masih mematung. 


"Oh iya nanti malam kita check up kandungan kamu ya." Andreas mengerlingkan mata dengan genit kepada Citra kemudian keluar dari ruang kerjanya. 


Citra meremas dadanya. Dia tak mengerti mengapa jantungnya selalu berdebar dengan perlakuan sederhana suami sirinya itu. Padahal selama bersama Haris dia tidak pernah merasakan debaran aneh ini. 

__ADS_1


****


__ADS_2