Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 06


__ADS_3

Citra mengambil motornya yang berada di parkiran rumah sakit. Dengan susah payah dia berusaha untuk mengeluarkan kuda besi kesayangannya dari himpitan kendaraan yang terparkir di kanan dan kirinya. Sebegitu berkonsentrasinya dia sampai tidak sadar ada seseorang yang tengah berdiri dibelakangnya.


"Kak.." Sebuah tepukan di bahu mengagetkan Citra. Diapun menoleh kebelakang.


"Ehh.. iya!!" Citra mengenali orang tersebut.


"Kak.. Bisa kita bicara sebentar!"


"Kamu anaknya Bu Arum kan? Ada apa ya?" Gadis itu tersenyum.


"Iya aku anak bu Arum.. Ada sesuatu yang penting! Tapi kita nggak bisa bicara disini kak.." Gadis itu menggenggam tangan Citra.


Citra menerka nerka apa sesuatu yang penting yang ingin dia katakan yang berhubungan dengan anak salah satu pasiennya itu.


Namun merasa gadis tersebut tidak mempunyai niat jahat, akhirnya Citra mengiyakan ajakan gadis tersebut.


"Kita bicara dimana?"


"Di cafe deket sini aja ka.."


"Ohh oke, naik motor aku aja ya.." Ajak Citra.


"Tapi aku nggak bawa helm kak.."


"Nggak papa, aku tahu kok jalan tikus.." Jawab Citra dengan tenang sembari mengenakan helm bogonya. Gadis itu diam tanda setuju. Diapun duduk di belakang Citra yang tengah siapa siap menjalankan motornya.


_________

__ADS_1


Bangunan bercorak putih dengan desain sederhana itu begitu ramai pengunjung hari ini. Mungkin karena letaknya yang dekat dengan rumah sakit dan pelayanannya yang terkenal Oke membuat cafe tersebut tidak pernah sepi pengunjung.


Citra menyedot jus alpukat dihadapannya. Saking hausnya dia hingga menyisakan setengah dari gelasnya.


"Sebelumnya kenalin, nama aku Candra.." Gadis itu mengulurkan tangannya.


"Citra.." Sambut Citra.


Mereka saling terdiam beberapa saat. Merasa canggung Citrapun memulai obrolan.


"Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan?"


Candra mencengkeram celana yang dia kenakan kemudian menghela nafas perlahan.


"Malam itu aku ngikutin kalian?"


"Aku ngikutin kamu dan kak Andre.."


"Andre siapa?" Tanya Citra yang merasa sama sekali tak pernah mengenal orang bernama Andre, apalagi pergi bersama.


Gadis dihadapannya terkejut. Dia tidak menyangka jika Citra tidak mengenal orang yang dia bicarakan.


"Jadi kakak nggak kenal kak Andre?" Citra menggeleng.


"Kak Andre kakak aku.."


Deg... Bagai tersambar petir saat Citra mengetahui orang yang dimaksud Candra adalah lelaki bejat itu. Apalagi saat mendengar bahwa Candra mengikuti mereka.

__ADS_1


"Jadi kamu tahu kejadian malam itu?" Mata Citra sudah berkaca kaca.


"Aku tahu kak.."


"Lalu kenapa kamu tidak mencegah kakak kamu?" Tanya Citra datar dengan penuh kekecewaan.


"Maaf kak, saat itu aku shock.. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin!!"


"Jadi apa alasan kakak kamu menuduh aku begitu dan tega melakukan hal itu padaku?"


Citra sudah tak bisa membendung air matanya. Buliran bening itu jatuh begitu saja tanpa bisa dia kendalikan.


"Sebenarnya aku juga nggak tahu kak, saat kak Andre mau melakukan hal itu pada kamu.. Aku nggak berani buat ngintip, jadi aku putusin untuk pergi!! Dan sekarang aku menyesal kak!! Aku dihantui rasa bersalah karena aku nggak mencegah kak Andre melakukan hal bejat itu.." Gadis itu menatap Citra dengan penuh penyesalan.


"Kamu nggak salah.. Kakak kamu aja yang b**ng*ek!! Dan untuk kedepannya tolong jangan ungkit masalah ini lagi!! Aku nggak sanggup buat mengingatnyaa.."


"Maafin aku ya kak.."


Candra menggenggam jemari Citra.


"Kalau ada apa apa kakak jangan sungkan buat cerita sama aku.. Kakak nggak harus menyimpan beban ini sendirian.."


Citra terisak kamudian menyeka air matanya.


"Sudah petang, kamu sebaiknya pulang.. Aku juga capek banget.."


Citra memasang tas selempangnya dan beranjak dari kursi, meninggalkan Candra sendirian. Candra yang tengah duduk terus memperhatikan Citra dari kejauhan. Badan Citra semakin kurus dibanding terakhir kali Candra melihatnya. Mungkin beban Citra memang sangat berat sehingga perlahan mengikis berat tubuhnya.

__ADS_1


________


__ADS_2