Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 04


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang hangat menyambut kehidupan hari ini. Citra mengenakan setelan kemeja merah maroonnya dan menyanggul rambut ikalnya. Make up tipis yang soft dia sapukan sedikit ke wajahnya yang putih membuat wajahnya semakin enak dipandang. Matanya yang sembab sudah sedikit kempes walau masih terlihat. Dia mengambil jaketnya coklat kesayangannya dan bersiap untuk memulai rutinitasnya seperti biasa. Ya.. dia berpikir tidak boleh terus larut dalam kesedihannya. Anggap saja semua yang dia alami tidak pernah terjadi.


_____


"Citra.. mata kamu kenapa? Kamu abis nangis?" Tanya Eva rekan kerja satu shift Citra hari itu. Melihat mata rekannya sembab tentu saja jiwa keingin tahuannya meronta, mengingat sifatnya yang suka ingin tahu urusan orang.


"Ehh.. Enggak Va ini abis dikencingin kecoa hehe.." Citra nyengir menutupi kenyataan.


"Idihh jorok amaat sih.. Dua duanya gitu dikencingin?" Tanya Eva heran.


"Engg.. Ehh iya Va.. bentar ya aku manggil pasien dulu.." Citra beranjak buru buru agar Eva menghentikan pertanyaannya, dia harus membuat dirinya sibuk. Citra tau betul sifat Eva yang ember, kurang tepat untuk menjadi teman berbagi keluh kesah. Jika saja dia tidak memahami sifat Eva, Citra pasti sudah meluapkan kesedihannya kala itu.


"masa iya kecoa kencing .." gumam Eva.

__ADS_1


Citra memanggil pasien yang sedang mengantri untuk di cek tensi darahnya. Tiga bulan bekerja sebagai perawat, dia sudah mulai terbiasa melakukan pekerjaannya.


"Nyonya Arum Mulyani.." Panggilnya agak kencang supaya pasien yang dimaksud mendengar panggilannya.


Wajah familiar yang sering Citra jumpai berjalan menghampirinya.


Sosoknya yang anggun dan berwibawa serta ramah membuat Citra selalu kagum kepada salah satu pasiennya ini.


"ditensi dulu ya bu.." Ujar Citra telaten seraya meraih tangan wanita paruh baya yang tengah duduk dihadapannya.


"120/80 ya bu.. wahh ibu sudah berangsur sehat ya syukurlah.." Ujar Citra mengurai senyum sambil melepas alat yang membelit tangan wanita itu.


Wanita itu membalas dengan senyum tipis.

__ADS_1


"ohh ya.. Ibu sendirian hari ini?" tanya Cita penasaran melihat tidak ada gadis yang sering menemani wanita tersebut check up.


"Candra lagi ada kelas hari ini, jadi kakaknya Candra yang temani ibu.."


"Ohhh.. pantas bu, biasanya kan ibu nggak pernah sendiri!! Dan memang harus ada yang menemani.."


"iya nak, Ada anak ibu lagi ke toilet.."


"Baik bu, sebentar lagi saya panggil ya.." Ujar . Wanita itu mengangguk dan kembali duduk di tempat duduk antrean pasien.


Hari rabu tidak seperti hari biasanya yang banyak orang berlalu lalang , pada hari itu pasien rumah sakit tidak terlalu banyak. memang pasien agak sepi di hari itu.


Citra menyerahkan dokumen pasien kepada Dokter Arif, dokter spesialis jantung yang berjaga waktu itu. Lalu diapun beranjak.

__ADS_1


Ketika memegang handle pintu ruangan hendak keluar, dia mundur selangkah karena dari luar ada orang yang mendorong pintu untuk masuk. Ahh... ini pasien yang mendapat giliran diperiksa. Citra memandang ke balik pintu sambil mengurai senyum.Oohhh.. ternyata wanita yang tadi, Nyonya Arum Mulyani yang ramah. Namun jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok yang tengah berdiri di belakang Bu Arum. Sesosok lelaki dengan alisnya yang tebal dan wajahnya nyaris sempurna sedang menatap dingin kepadanya. Ya tuhan....


_____


__ADS_2