Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 15


__ADS_3

"Kamu bersedia kan?" Tanya Andreas dengan dingin. Citra tidak berani menjawab pertanyaan Andreas. Bahkan untuk menatap sepasang mata bermanik coklat itu diapun tidak mampu. Setiap melihat Andreas tubuhnya bergetar, ingatannya akan kejadian malam itu selalu terlintas.


Sejujurnya baru kali ini Citra melihat Andreas berdandan dengan begitu rapi dan sempurna. Hampir saja dia terpukau oleh wajah rupawan itu. Namun jika diingat lagi kejadian itu bayangan wajah Andreas berubah bagaikan iblis bertanduk berwajah tampan.


Andreas paham, wanita yang tengah menunduk itu pasti masih takut padanya.


"Kamu diam? Saya anggap kamu setuju!" Ucap Andreas. Citra mendongak membelalakkan mata bulatnya tanda penolakan. Namun dengan segera bu Arum menggenggam tangan Citra meyakinkan. Dengan anggukan mantapnya bu Arum berusaha membujuk gadis yang masih belum membuka suaranya itu.


"Tenang, kami akan memperlakukan kamu dengan baik.." Ucap bu Arum lirih.


Citra kembali menunduk. Bertepatan dengan ucapan bu Arum datang seseorang lagi ke dalam ruangan. Dia adalah Om Arman, adik dari ayah Citra. Om Arman yang jarang sekali berinteraksi dengan keluarga Citra mengapa datang dengan tiba tiba tanpa diberitahu keberadaan Citra.


"Kita mulai sekarang! " Ucap Andreas sembari mengambil posisi di sebelah Citra.


Citra meremas selimut dikakinya dengan kencang. Mulutnya tak sanggup melakukan penolakan, namun batinnya juga tak ingin menerima lelaki disebelahnya sebagai suami.Pada akhirnya Citra hanya diam pasrah mengikuti nasibnya. Nasib yang dia tak tahu akan seperti apa kedepannya.


Andreas mulai menjabat tangan penghulu yang menjadi wali Citra atas izin om Arman. Jadi Om Arman dengan suka rela datang kemari bukan tanpa alasan. Andreas, sebagai atasannyalah yang secara khusus memintanya untuk berada diruangan ini. Dan tidak mungkin om Arman menolak atau dia akan kehilangan tawaran menggiurkan yang tadi sempat dijanjikan Andreas.


Andreas dengan lantang tanpa salah kata sedikitpun mengucap kalimat akad nikahnya dengan sangat lancar seakan akan dia sudah merencanakan ini sejak lama. Citra meneteskan air matanya, hari ini dia sah menjadi istri seoarang Andreas Yudistira walaupun hanya secara agama. Hari ini pula dia harus mempersiapkan mentalnya menghadapi Andreas yang bagaikan teka teki tidak mudah ditebak.


Semua yang hadir diruangan mengaminkan doa doa yang dilantunkan oleh penghulu. Bu Asih dan bu Arum menitikkan air mata. Hari ini dengan berat hati bu Asih melepas Citra kepada seorang lelaki yang belum dia kenal sebelumnya. Semoga keputusannya kali ini tidak salah.


"Nak.." Bu Arum memanggil kemudian agak berjongkok membisikkan sesuatu kepada Citra.


Tak lama Citra meraih tangan Andreas dan mencium punggung tangan yang berbulu halus itu. Desiran darah di dada Andreas tak dapat dihindarkan. Entah mengapa saat bibir wanita itu menyentuh kulit tangannya seperti ada aliran listrik yang menyengat dengan tiba tiba. Andreas buru buru menarik tangannya dan menggeser duduknya agar berjauhan dari Citra. Dia tak ingin hal yang lebih jauh terjadi.


"Tolong tinggalkan kami sebentar !" Pinta Andreas.


Semua yang hadir di ruangan tidak ada yang berani membantah. Mereka satu persatu meninggalkan Andreas dan Citra di ruangan itu. Bu Asih mengelus pundak Citra berkali kali sebelum dia juga meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Suasana hening seketika. Bibir merah merona tanpa polesan lipstik itupun tidak membuka suaranya. Hanya dentang jam dinding yang menggantung di atas mereka yang sedari tadi berbunyi.


"Dengar.." Ucap Andreas. Suara itu serak sama saat pertama kali Citra mendengarnya.


Citra dengan perlahan mulai mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap si empunya suara.


"Saya menikahimu hanya sampai saat anak itu lahir, setelah anak itu lahir kamu harus serahkan kepada saya! Dan kita bercerai.." Ucap Andreas dengan dingin.


Citra membelalakkan matanya, dia tak menyangka Andreas akan mengucapkan hal ini di hari pertama pernikahan mereka. Hari yang seharusnya menjadi haru biru penuh kebahagiaan bagi pasangan lainnya.


"Sa..ya tidak setuju.." Tolak Citra bergetar.


Setiap kata yang Andreas ucapkan mengapa sering membuatnya merasa sakit.


"Apa maksud kamu?"


"Kamu tidak bisa menjaga anak ini! Bahkan baru kemarin kamu hendak melenyapkannya bersamamu bukan ?" Desak Andreas. Mereka berbicara tanpa berhadapan.


Memang ucapan Andreas tidak sepenuhnya salah. Sebelum ini dia memanglah ada niat untuk membawa janin itu pergi bersamanya ke alam baka. Dia tak kuat menanggung beban otu sehingga memaksanya melakukan hal bodoh seperti kemarin.


"Saya tetap tidak setuju.. Kamu terlalu memaksakan kehendak orang! Apa semua yang sudah kamu lakulan pada saya itu kurang?" Cerca Citra yang sudah sabar sejak tadi.


Andreas menghela nafasnya.


"Kamu jangan lupa, kamu penyebab kematian kakak saya.. Bunda dan lainnya tidak tahu apapun tentang ini ! Apa kamu pikir jika beliau tahu, masih akan berlaku baik padamu?" Andreas mencoba mengancam.


"Sudah saya bilang saya tidak kenal dengan orang yang kamu maksud.. Terserah kamu! Saya sudah tidak ingin menjelaskan apapun!" Ujar Citra dengan berapi api.


Andre menatap Citra sejenak lalu membuang nafas dengan kasar. Sungguh wanita keras kepala. Dia ingat pertama kali berbicara dengan Citra, dia juga menggunakan kalimat yang lantang saat itu.

__ADS_1


"Kelihatannya kamu sudah baik baik saja, kalau begitu hari ini sepertinya sudah boleh pulang.." Ucap Andreas.


Citra membuang muka dari Andreas. Lelaki arogan ini memang tidak mau dibantah pikirnya.


"Saya akan pergi untuk mengurus administrasinya, setelah ini kamu tinggal dirumah saya.."


Andreas berdiri hendak melangkah keluar saat tiba tiba saja suara halus itu memanggil.


"Tunggu.."


Andreas menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Ada apa?" Tanya Andreas.


"Untuk masalah perceraian, saya setuju.." Ucap Citra.


Memang dari awal dirinya tidak menginginkan pernikahan palsu yang Andreas ciptakan ini.


Andreas menyunginggkan senyum lega. Satu masalah sudah dapat dia atasi, dia pikir wanita itu akan menyulitkannya. Ternyata tidak. Kini tinggal satu lagi, membujuknya agar kelak dia mau memberikan anak itu kepada Andreas.


Andreas menutup pintu dengan pelan meninggalkan Citra.


Tiba tiba saja terlintas bayangan seseorang dalam pikirannya. Orang itu mungkin saja sedang menunggu kabar darinya karena sudah berhari hari Citra mengabaikan pesannya. Citra memejamkan matanya sejenak dan memijat kepalanya yang berdenyut membuang pusing yang tersisa.


Dia menggeser duduknya ke tepi, meraih tas diatas meja, mengaduk aduk dan mengambil ponselnya lalu mulai menekan tombol power untuk menghidupkannya. Entah sudah berapa hari ponsel itu dalam keadaan tak menyala.


Selang beberapa menit setelah ponselnya menyala muncullah berpuluh puluh notifikasi pesan dan panggilan yang dilakukan oleh satu orang . Siapa lagi kalau bukan kekasih tercinta, Haris.


_____

__ADS_1


__ADS_2