
"Menyebalkan.." Gumam Citra yang tiba tiba berhenti saat sedang menyapu lantai kamar Andreas.
"Aih.. Beneran konyol nggak sih!"
"Bisa bisanya! Bahkan dadaku masih saja berdebar debar hanya karena melihat tempat tidurnya. Apa yang terjadi padaku. Apa aku akan gila?" Dia memandang spring bed berwarna abu abu dengan corak silinder itu.
"Haihhh…" Citra menggeleng gelengkan kepalanya. Dia membuang jauh jauh pikirannya yang dipenuhi wajah Andreas. Membuang bayangan alisnya yang tebal, manik matanya yang indah, sorot matanya yang tajam serta bibirnya yang merah.
"Nggak bisa.. Nggak boleh begini terus."
Dia meletakkan sapunya lalu mulai mengepel lantai bawah hingga atas. Sejenak dia beristirahat, kemudian mengelap kaca di kamar Andreas dan juga laci di lemarinya. Dia tidak ingin terlihat ada debu sedikitpun, karena dia sadar akan pekerjaannya. Saat membuka laci paling bawah matanya terpaku pada satu benda.
Dia mengenali benda itu, sebuah kalung berliontin lingkaran dengan hiasan permata kecil di tengahnya. Memang bukan benda mewah, bahkan itu hanya barang imitasi yang bisa di temukan di berbagai toko aksesoris. Namun yang spesial dari benda itu adalah itu sesuatu yang diberikan oleh ayahnya sebelum kecelakaan memisahkan mereka. Benda yang pasaran itu telah dibuat spesial karena dibalik liontin lingkaran yang terlihat biasa, benda itu sebenarnya adalah cincin kawin ayahnya.
Citra menerawang liontin bulat itu memeriksa sesuatu di dalam lingkaran. Dan benar saja di dalam lingkaran liontin itu terdapat inisial nama ayah dan ibunya.
"Ayah? Apa sekarang ayah sedang memelukku?"
Citra tersenyum haru mendekap benda itu di dalam dadanya. Sudah bertahun tahun dia mencari benda itu, dan kini dia secara tidak sengaja menemukannya di laci lemari suaminya.
Sungguh hal yang tak terduga. Bagaimana bisa benda itu berada di laci lemari Andreas. Dia ingat terakhir kali memakai benda itu adalah saat kecelakaan yang menimpanya lima tahun yang lalu. Apakah peristiwa itu ada hubungannya dengan Andreas. Sepertinya Citra harus menanyakan hal itu kepada suaminya nanti malam. Dia harus tahu alasan Andreas menyimpan sesuatu yang berharga miliknya.
***
DRTT DRTT DRTT
"Huh.. Siapa yang terus terusan menelpon begini! Tidak tahu aku lagi cuci piring." Citra dengan cepat mencuci tangannya yang berlumuran sabun dan mengeringkannya dengan lap yang menggantung di depannya. Dia lalu mengambil ponselnya di saku celana.
"Hah Andreas? Kenapa tiba tiba menelpon."
Jantungnya mulai berdebar
debar saat menggeser tombol panggilan. Dia tersenyum seakan ada sesuatu yang bermekaran dalam hatinya.
__ADS_1
"Ya Halo?" Sapa Citra. Namun tak terdengar sahutan dari sana.
Beberapa saat kemudian.
"Halo.."
"Ada apa Andre? Apa ada yang ketinggalan?"
"Eng.. Nggak papa sih. Aku lagi istirahat."
"Lalu?"
"Lagi makan bekal yang kamu buatin."
"Oh ya? Kamu bisa makan sambil nelpon?" Balas Citra dengan senyum yang kembali menyungging di bibirnya.
"Khemm.. Ya sudah sampai jumpa nanti malam."
"Hah apa apaan?" Citra berbicara menatap ponselnya.
"Dia menelpon cuman mau bilang itu? Apa itu penting? Kenapa akhir akhir ini dia jadi aneh. Dia aneh dan aku juga aneh.." Citra menggeleng gelengkan kepalanya kemudian menyalakan kran untuk kembali melanjutkan mencuci piringnya.
****
Rapat sedang berlangsung, semua mata tertuju kepada Andreas yang sedang berpresentasi di depan. Walaupun wajah bawahnya tertutup masker karena luka semalam, tetapi suara lantangnya tetap menggema tentunya dengan bantuan microphone. Wajahnya begitu berwibawa dan tegas saat dia fokus berbicara dengan para clientya.
Meeting berjalan dengan lancar sampai sesaat sebelum meeting berakhir, terdengar suara pintu diketuk. Dan memperlihatkan dua orang pria dengan setelan jas hitamnya yang lengkap berjalan memasuki ruang rapat. Semua mata tertuju pada kedua orang itu.
"Permisi, maaf minta perhatiannya sebentar!" Salah seorang dari pria itu berbicara. Dia adalah sekretaris Julian, orang kepercayaan sam selama hidupnya. Dia adalah tangan kanan sam yang dipercaya untuk membimbing anak anaknya mengelola hotel dan mall.
"Perkenalkan ini adalah Haris Parasta, putra tertua tuan Bimantara Yudatama. Beliau ini yang kedepannya akan menjadi pemimpin utama hotel dan mall kita." Lanjutnya sambil memandang ke arah para client yang masih duduk di mejanya masing masing.
Andreas memandang pria itu dengan wajah pias. Sementara Haris menyeringai padanya. Haris yang dulu bersikeras menolak memimpin hotel dan mall dengan tiba tiba datang dan menjabat sebagai pimpinan tertinggi. Entah apa gerangan yang dia rencanakan.
__ADS_1
Soal kemampuan, Haris memang sudah tidak diragukan lagi. Namun saat ini semua orang tahu bahwa pimpinan tertinggi adalah Andreas, bukan dirinya.
"Kami tahu tuan Andreas lebih berpengalaman, untuk itu mohon kerjasamanya." Ujar sekretaris Julian.
Andreas mengangguk memberi hormat kepada pria yang seumuran dengan ayahnya itu.
Setelah perkenalan Haris sebagai pemimpin tertinggi, meeting pun selesai. Para client saling bersalaman dengan Haris, menyambut kedatangannya di kantor. Bahkan ada yang mendadak mencari muka kepadanya.
Beberapa menit kemudian ruangan kosong, hanya meninggalkan Andreas dan Haris.
"Apa tujuan lo sebenarnya bang!" Ucap Andreas tanpa melihat ke arah abangnya.
"Apa memang? Gue cuman nurutin permintaan bunda buat nerusin hotel." Haris melipat tangannya dan melirik Andreas dengan sinis.
"Gue tau bukan itu tujuan lo. Lo dulu pernah bilang nggak tertarik dengan hotel dan mall ini dan lo lebih memilih bekerja di perusahaan kecil yang sering nugasin lo ke luar kota itu kan."
"Bagus kalau lo tau. Intinya Kalau lo nyia nyiain Citra, Gue bakal bikin lo sulit kedepannya." Desis Haris.
"Ohh jadi dia ya? Pantes aja. Gue tau bang lo nggak bakal nyerah gitu aja."
"Lo emang harus tau itu. Sedikit aja ada celah, gue bakal manfaatin celah itu dengan sebaik baiknya. " Ucap Haris sebelum keluar dari ruang rapat meninggalkan Andreas seorang diri.
Andreas meremas tangannya mendengar ucapan Haris yang singkat itu. Dia tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Kini dia merindukan sosok Haris yang sering berkomentar dan hangat itu. Dia juga membenci dirinya yang membuat semua ini terjadi. Kalau saja waktu bisa diputar, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Mungkin kini dia akan kembali bercanda tawa dengan abangnya itu.
CEKLEK
Pintu tiba tiba terbuka dari luar sebelum Andreas membukanya. Seseorang masuk.
"Hai sayang.. " Panggil seorang wanita cantik berambut panjang dan bergaun biru.
***
__ADS_1