
Andreas tidak tega membangunkan Citra yang tengah tertidur pulas. Dia menggendongnya dengan pelan dan berusaha membuat wanita itu senyaman mungkin. Namun ternyata Citra malah terbangun mendengar suara langkah kaki Andreas.
"Ehh Andre? Turunkan aku!" Citra memicingkan mata lalu menggosoknya beberapa kali supaya pandangannya lebih jelas.
"Sudah pulang?" Sambungnya dengan suara serak.
"Iya.." Andreas hanya menjawabnya dengan singkat namun tetap tak melepaskan Citra dari gendongannya seperti yang diminta wanita itu.
"Aku mau turun!" Citra kembali meminta karena dia merasa risih digendong suaminya dalam keadaan sadar lebih tepatnya dia sangat malu.
Andreas mengerjap seakan tersadar dengan ucapan Citra barusan. Dia mengangguk mengerti, meski hati kecilnya masih ingin mendekap Citra. Dia menatap sejenak kepada istrinya tersebut. Citra memakai gaun dan sedikit mempoles wajahnya dengan make up. Dia pasti sudah mempersiapkan diri untuk rencana malam ini, dan malah berakhir mengecewakan.
Andreas lalu menurunkan Citra dan berlalu menuju lantai atas. Dia tak berani menatap lebih lama lagi wanita itu. Sebenarnya mulutnya ingin mengucapkan permintaan maaf, namun entah mengapa lidah itu bagaikan tertahan sesuatu.
Andreas merebahkan tubuhnya pada spring bed kamarnya. Dia teringat pada Fiana yang tadi datang ke kantor. Dengan perlahan dia memijit kedua pelipisnya, pikirannya begitu kacau. Masalah dengan abangya belum selesai, kini datang lagi masalah lainnya. Mungkin cepat atau lambat Fiana akan segera tahu hubungannya dengan Citra.
****
Sentuhan di bahunya membuat Andreas terbangun, dan mendapati seorang wanita cantik tengah menatapnya. Dia Pun mengusap usap matanya menghilangkan rasa kantuk.
"Maaf aku masuk. Tapi ini sudah kelewat jam biasanya kamu bangun. Aku takut terjadi apa apa." Citra menjelaskan maksudnya.
Andreas mengerjap, kemudian memeriksa jam tangannya, dan benar saja waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi. Ini bukannya kesiangan lagi, tapi sudah sangat mepet untuk berangkat ke kantor.
Andreas mengusap sebelah wajahnya dengan kasar. Dan beranjak dari tempat tidurnya.
"Aku sudah bawakan sarapan dan bekal. Kamu pasti tidak sempat sarapan, jadi nanti tolong di makan saat kamu sempat."
"Karena aku sudah masuk. Aku siapkan baju sekalian." Lanjutnya.
Citra membuka lemari Andreas dan mengambil satu stel kemeja dan jas serta dasi yang cocok untuk dipadu padankan.
Andreas tersenyum kecil, hatinya begitu bahagia melihat perhatian kecil dari wanita itu. Bahkan dia tidak marah setelah Andreas mengecewakannya semalam. Mungkin inilah rumah tangga yang dia impikan. Segala sesuatunya dilayani dengan baik oleh istri yang penuh perhatian dan pengertian.
"Kenapa senyum senyum sendiri? Bukannya cepat mandi." Tiba tiba Citra menoleh.
__ADS_1
"Kamu tidak marah?"
Pertanyaan itu sedikit mengganggu Citra. Marah? Kecewa tentu saja, tapi apakah dia punya hak untuk marah.
"Marah buat apa?" Citra tersenyum dengan terpaksa.
"Wajahmu tidak bisa bohong." Jawab Andreas.
Citra menggigit bibir bawahnya yang mungil untuk menyembunyikan kepedihan. Sepertinya memang benar ibu hamil itu sangat sensitif, buktinya hanya dengan mendengar ucapan Andreas yang sepele hatinya bagaikan tertusuk duri kecil. Namun reaksi itu justru membuat Andreas mengeraskan rahangnya.
Dengan cepat dia mendekap Citra yang masih berdiri di dekat lemari pakaiannya dan entah siapa yang memulai kini mereka tengah saling berciuman. Citra yang terlihat polos begitu menikmati sentuhan Andreas yang semakin nakal. Dia tak pernah menyangka jika punya keberanian sebesar ini. Andreas mulai membuka pakaian Citra namun dengan tiba tiba wanita itu mengerjap, seakan tersadar dari buaian yang semu.
"Andre!" Citra mendorong tubuh suaminya menjauh darinya.
Andreas juga telah tersadar dari nafsunya. Dia benar benar tidak bisa mengontrol diri jika melihat sesuatu yang memancing dari Citra.
"Aku mau mandi." Andreas berjalan dengan meninggalkan Citra yang masih mematung.
Citra masih terpaku. Dia benar benar heran dengan reaksi tubuhnya saat bersama Andreas. Tubuhnya seakan meminta lebih dari sentuhan sentuhan kecil yang diberikan suaminya. Untung saja akal sehatnya masih belum telat menyadarkannya, jika tidak entah apa yang akan terjadi pagi itu.
***
Citra benar benar tak mengerti bagaimana bisa dia berdebar setiap membayangkan wajah lelaki itu, padahal dia masih kesal karena Andreas pulang dengan sangat terlambat. Ia menyembunyikan wajahnya di balik bantal dan menggerakkan kakinya maju mundur.
"Haihh…" Citra melempar bantalnya dan mengambil ponselnya yang berbunyi dengan malas.
Telepon dari Andreas. Ohh astaga, lelaki ini baru saja ingin dilupakan malah semakin meresahkan.
"Ya, Ndre? Ada apa?" Citra mendengus pelan.
"Aku sudah di kantor. Maaf buru buru!" Suara nafas itu seperti orang yang sangat tergesa gesa.
"Ahh iya.."
Beberapa detik kemudian,
__ADS_1
Hening, tak ada jawaban ataupun lanjutan pembicaraan antara mereka berdua. Keduanya tak bersuara, mungkin merasa canggung dengan kebiasaan baru ini.
"Tut.. Tut.. Tut.." Dan panggilanpun berakhir begitu saja.
"Ehh.. Kenapa akhir akhir ini lelaki itu aneh banget!"
"Kruyukk.. " perut Citra berbunyi dengan nyaring meminta diisi.
"Ya ampun sampe lupa belum sarapan, pantesan keroncongan. Maafin mama ya sayang, kamu laper ya!" Citra meraba raba perutnya yang mulai sedikit membuncit. Diapun membuka pintu kamar dan menuju dapur.
Namun sebuah totte bag telah mencuri perhatiannya. Dia lalu memeriksa isi totte bag itu.
"Astaga benar kan.. Lelaki itu nggak bawa makanannya. Dia belum makan apapun dari tadi. Ini kalau dibuang sayang juga yah, belinya juga bukan pakai daun." Gerutu Citra sambil kembali merapikan bekal di dalam totte bag tadi.
"Mmmm.. Apa aku anterin aja ya? Ahh enggaklah, ide macam apa sih aku ini. Tapi… " Citra menimbang nimbang keputusannya. Diapun meraih ponsel dan mendial kontak.
"Hallo? Tante?"
"Sudah berapa kali bunda bilang, panggil bunda." Ucap orang di seberang sana yang membuat Citra gugup.
"Ohh iya bunda. Ma..maaf bisa kirimkan alamat kantor Andreas?" Ucapnya dengan ragu.
"Tentu saja tunggu bentar ya. Tapi kalau boleh bunda tahu emang ada apa nak? Nggak ada sesuatu yang terjadi kan?" suara itu terdengar khawatir.
"Enggak kok bunda, cuman bekal Andreas ketinggalan. Mau dianter aja, sayang soalnya."
"Ohh gitu.. Bunda kira ada apa. Ah kamu repot repot segala bawain dia bekal. Tapi syukur deh kamu perhatian, dia juga punya magh tuh lebih parah dari kakaknya. Makasih ya! Ni bunda dah kirim alamatnya ke WA kamu."
"Kakaknya? Mungkin maksud bunda kak Haris kali ya? Magh kak Haris kan udah kronis, kalau Andreas lebih parah berarti..."
"Makasih bunda. Kalau gitu saya berangkat sekarang aja ya, keburu siang nanti."
"Iya.. Hati hati ya.. Oh iya mending kamu paksa sekalian Andreas makannya. Dia suka susah soalnya nak."
"Haa?? Paksa? Apa aku sanggup?"
__ADS_1