Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 09


__ADS_3

Suara decit roda brankar didorong oleh dua orang perawat. Citra tengah terbaring lemah di atas matras berwarna abu abu tersebut . Matanya tertutup, tidak sadarkan diri. Bu Asih mengikuti dua perawat itu dengan tergesa gesa. Wajahnya cemas, dia berharap tidak terjadi hal buruk pada anaknya.


Citra masuk keruang UGD. Ruangan segera ditutup oleh perawat berbaju merah maroon itu agar pasien cepat ditangani. Bu Asih terhenti di depan ruang UGD. Karena panik dia lupa bahwa dari tadi ada seseorang yang berada di sampingnya.


"Ehh.. makasih ya nak, sudah bantu membawa anak saya ke rumah sakit.." bu Asih menghampiri lelaki yang tengah berdiri di sebelahnya.


Lelaki berambut belah pinggir yang tengah bersandar di dinding itu tersenyum kecil.


"Ohh nggak bu.. Saya juga salah disini, saya bawa mobil terlalu ngebut tadi, kurang hati hati.." Jawab lelaki itu. Wanita yang rambut ikalnya mulai ditumbuhi uban itu mengangguk mengiyakan jawaban lelaki itu.


"Kalau begitu bisa saya tinggal kan bu? Saya masih ada urusan mendesak soalnya!! Maaf.. " Kata lelaki itu dengan pelan.


"Iya nak.. Maaf merepotkan!"


"Ini kartu nama saya, kalau ada apa apa ibu bisa hubungi nomor saya!" Lelaki itu merogoh saku celananya, memberikan sebuah kartu yang berada di dalam dompetnya kepada bu Asih.


"Iya nak, terimakasih .." Lelaki itu tersenyum pada bu Asih dan segera melangkah pergi undur diri meninggalkan bu Asih dengan langkah yang cepat hingga pandangannya semakin jauh dari mata bu Asih.


______

__ADS_1


"Keluarga Ny. Citra Maharani?" Wanita berhijab kuning dengan seragam dokternya yang berwarna putih memanggil dari balik pintu UGD.


Bu Asih segera menghampiri dokter tersebut dengan terburu buru.


"Iya saya dokter.." Jawab bu Asih.


"Bu.. Kali ini pasien baik baik saja, hanya perlu istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak beban pikiran .. Sepertinya pasien mengalami shock berat!!"


Bu Asih terdiam, dia tahu anaknya pasti terkena goncangan batin karena belum siap mengahadapi hal yang terduga.


"Bu??" Panggil dokter.


"Ahh ya dok.." Jawab bu Asih tergagap.


"Tolong pasien dijaga baik baik ya bu, kandungan pasien lemah ditambah masih masuk trimester pertama, dan untuk sementara pasien perlu opname untuk memulihkan kesehatannya.. Asupan makan juga harus dijaga, agar tidak kekurangan nutrisi seperti saat ini !!" Dokter itu menjelaskan dengan lugas dan tegas. Bu Asih tubuh melirik Citra yang tengah terbaring. Benar saja badannya semakin kurus ,pipinya menjadi lebih tirus sehingga tulang pipinya sedikit menonojol.


"Baik dokter.."


Bu Asih mengingat kembali pola makan Citra akhir akhir ini. Memang anaknya jarang sekali makan. Yang biasanya sehari bisa empat kali makan, ini 3 sendok nasipun jarang dia habiskan. Dan bodohnya bu Asih tidak terlalu menghiraukan hal ini karena mengira anak perempuannya sedang menjalankan program diet. Betapa menyesalnya dia saat tahu yang terjadi pada anaknya adalah hal seperti ini.

__ADS_1


_____


Bu Asih duduk di tepi ranjang pasien. Dia membelai lembut rambut anak perempuannya itu. Lalu mengambil tisue untuk menyeka buliran bening di kening Citra. Citra yang terpejam perlahan membuka mata.


Samar samar melihat ibunya tengah tetegun berlinang air mata dengan tatapan sedihnya. Bu Asih segera menyeka buliran yang mengalir dari pelupuk matanya. Dia membantu mendudukkan Citra dengan perlahan. Dia mengambil piring berisikan nasi dan sayur bayam dengan kuah bening, masakan khas untuk pasien dengan rasa hambar.


"Makanlah dulu.. Buat minum obat!!" kata bu Asih menyendok sesuap nasi dari piring untuk menyuapkannya kepada wanita yang tengah memandangi ibunya dengan rasa bersalah.


"Bu.."


"Shhhh.. Nanti!! Sekarang makan dulu!" Bu Asih memotong dengan tegas ucapan anaknya.


Citra menolak menghabiskan isi piring teesebut. Dia memilih mengambil obat diatas meja dan menelannya dengan bantuan segelas air mineral .


Bu Asih menghela nafas panjang. Raut wajahnya berubah.


"Sekarang ibu tanya, siapa ayah bayi itu?"


_____

__ADS_1


__ADS_2