Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 03


__ADS_3

Malam itu, Citra duduk melamun seorang diri di dalam dikamarnya. Dia duduk di tepi jendela sambil memandangi pemandangan malam hari di luar sana. Mata wanita 24 tahun itu menerawang jauh disana. Matanya sembab akibat tak berhenti menangis. Raut wajah sedihnya sulit sekali disembunyikan.


Peristiwa keji malam itu masih jelas tercetak di dalam ingatannya. Bahkan dia tidak dapat melupakan wajah lelaki yang dengan kasar merenggut mahkotanya. Kini dia adalah barang bekas, wanita kotor yang tak suci lagi.


Sebenarnya dia sangat ingin melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Namun, dia belum siap untuk mengecewakan ibunya. Mengingat ibunya adalah seorang single parent yang setiap hari banting tulang untuk menghidupi dia dan adiknya yang masih SMA. Banyak hal yang belum bisa dia capai. Dengan melaporkan peristiwa itu sama saja dia membuang jauh jauh cita citanya untuk membahagiakan sang ibu. Bukan hanya itu, dirinya junga belum siap kehilangan kekasih yang sangat dicintainya yang kini sedang bekerja keras agar bisa secepatnya membawa orang tuanya kesini untuk melamarnya.


Tok tok tok!!! Pintu diketuk.


"Ibu masuk ya.." Diambang pintu Bu Asih, ibu Citra tengah berdiri sambil membawa nampan berisikan dua cangkir teh. Bu Asih meletakkan nampan tersebut di meja rias Citra.


"Hmmmh.. Citra kamu nangis ya?"


"Ehhh.. enggak bu, kok tumben belum tidur?" Citra memasang senyumnya mengalihkan pembicaraan.


"iya.. ibu nggak bisa tidur, makanya mau ngajakin kamu ngeteh, ehh.. kamunya malah lagi sedih sedih gini.."


"Enggak bu, Citra nggak papa!!"

__ADS_1


"Mata kamu sembab gitu kok.. kenapa? Berantem ya sama Haris?" Bu Asih menggenggam jemari anaknya dan ikut duduk di tepi jendela.


"Emm.. iya bu, berantem dikit.." Citra terpaksa berbohong agar ibunya tidak curiga.


"Citra.. namanya orang dalam hubungan emang begitu!! Nggak mungkin kalau mulus - mulus aja.. Almarhum ayah sama ibu juga sama kaya gitu!!"


Citra menghela nafas panjang, lalu wajahnya kembali memasang senyumnya secantik mungkin.


"Nahh gitu dong!! Anak ibu memang paling cantik kalau lagi senyum.." Puji Bu Asih.


"Sama dong kaya ibu.." Rayu Citra. Seraya mengambil dua cangkir berisi teh yang dibawakan ibunya. Dia memberikan salah satu kepada sang ibu dan meneguk yang ada ditangannya.


"Apaan tuh?" tanya Bu Asih mengerutkan kening sambil menyeruput tehnya.


" Apa ya?? itu sejenis penyemangat gitu bu.. hehe!!"


"Aahh..kamu kebiasaan deh ngomong sama ibu pakai bahasa yang aneh aneh!! Udah tau ibunya wong ndeso gini, kalau ngomong bahasa jawa ya ibu tau.." Bu Asih tertawa kecil. Tawa yang sangat tulus, bagaimana bisa seorang anak mengecewakan ibunya yang bagai malaikat ini.

__ADS_1


"Ohh iya, kamu jangan lupa kompres mata kamu pakai air es, besok malu kalau kerja matanya bengkak begitu, ntar dikira dikencingin kecoa lagi.." Bu Asih kembali tertawa untuk menghibur putrinya.


"Iya ibuku yang cantik!! Dila udah tidur apa bu?"


"Udah tidur dari abis isya'.. Kamu udah shalat isya' ?"


"Udah bu tadi.."


"Ya udah.. Kamu juga cepat tidur! Besok kan kerja.. Ehh iya inget jangan lupa kompres matanya.." Bu Asih beranjak dari duduknya.


"iya nyonyahh.. mau kemana kog berdiri?"


"Hoammmm....! Ibu kok jadi ngantuk gini abis ngobrol sama kamu, ya udah ibu juga tidur dulu ya..!"


"ya udah.. ibu tidur aja duluan!! Nanti aku juga tidur.."


"iya dehh.. ya udah ya!! jangan lupa baca doa biar nggak mimpi buruk lagi" pesan bu Asih sambil berjalan menutup pintu.

__ADS_1


Ibu.. Maaf aku belum bisa jujur pada ibu bahwa aku adalah wanita kotor yang telah kehilangan kesucianku..


___


__ADS_2