
"Yuk ada apa yuk?" Om Bayu mengguncang guncang tubuh bu Asih yang lemas.
"Citra kritis.." Ucapnya lirih.
"Apa? Bagaimana bisa? Tadi bukannya dia baik baik saja! " Tanya Om Bayu khawatir.
"Ya sudah kita kesana saja sekarang! Jangan buang waktu!" Ajak om Bayu.
Bu Arum yang sekilas mendengar percakapan mereka ikut khawatir. Bagaimanapun di dalam tubuh wanita itu tersimpan benih anaknya, keturunannya. Namun tidak dengan Andreas, dia masih saja acuh mendengar apapun yang berhubungan dengan wanita itu.
"Di rumah sakit mana anak ibu di rawat? Ayo kita segera kesana! " Ajak bu Arum yang mulai bersimpati.
Bu Asih kagum dengan perubahan bu Arum yang tadinya acuh tak acuh menjadi begitu peduli kepada anaknya. Ternyata dia salah menilai bu Arum. Dia sempat berpikir bu Arum adalah wanita arogan dengan gengsi yang tinggi.
"Di rumah sakit Pelita Medika.." Jawab om Bayu yang mendengar niat baik bu Arum.
"Baik!! Candra, tolong panggil mang Iim buat siapkan mobil sekarang juga!!" Kata bu Arum kepada gadis di sebelahnya.
Candra segera bangkit dari duduknya dan bergegas memanggil mang Iim di kebun belakang.
Sementata bu Arum naik ke atas untuk mengambil tasnya. Dan Andreas. . Dia tetap berdiam tenang di tempatnya. Entah hati itu terbuat dari apa sampai tidak iba sedikitpun pada gadis yang telah dia nodai.
Tak lama Candra kembali bertepatan dengan bu Arum yang menuruni tangga.
"Bunda, kata mang Iim mobil sudah siap !" Ucap Candra.
"Oke.. Pak Bayu bu Asih! Mari! " Ajak bu Arum. Kemudian kedua orang tamu tersebut beranjak dari sofa. Bu Arum menatap sekilas ke anak lelakinya yang malah sibuk memainkan ponsel ditangannya.
"Apa calon suaminya akan tetap disini saja seperti orang bodoh!!" Sindir bu Arum dengan kasar. Andreas tetap tidak bergeser sedikitpun. Dia masih saja berkutat dengan ponselnya. Hal itu membuat bu Arum sungguh kesal.
__ADS_1
"Benar benar !!" Gumam bu Arum.
"Mari berangkat, tidak perlu menunggu orang yang tidak ingin ditunggu.." Lanjut bu Arum.
Mereka ber empat pun pergi meninggalkan Andreas seorang diri.
______
Andreas membanting ponselnya. Dia termenung beberapa saat, batinnya berlawanan. Disatu sisi dia sangat ingin mengetahui kondisi wanita itu. Tapi disisi lain dia sangat membenci wanita yang menjadi alasan kematian kakak kandungnya.
Tanpa berpikir lagi entah dorongan dari mana Andreas bergegas mengambil kunci mobilnya. Dia segera keluar dari ruangan itu dengan tergesa gesa.
_______
Dalam waktu lima belas menit Andreas telah sampai di rumah sakit. Entah berapa km/jam kecepatan yang dia gunakan. Langkahnya memburu menuju ruang ICU. Diruangan itu wanita yang dia benci tengah mempertaruhkan hidupnya. Andreas mengintip dari balik kaca di pintu ruangan.
Bagaimana bisa gadis berwajah lugu ini menjadi penyebab kematian kakaknya? Apa mungkin ada sesuatu hal yang belum dia ketahui? Entahlah, namun yang pasti kini hati Andreas luluh saat menatap wanita itu. Rasa bersalah yang dia sembunyikan semakin terasa nyata.
Selang beberapa menit derap langkah bergerombol mulai terdengar mendekati ruangan. Andreas menyadari itu pasti bunda dan orang orang tadi. Andreas tidak ingin mereka melihat kehadirannya. Dia segera meninggalkan ruangan itu dengan hati hati menuju arah berlawanan dengan kedatangan mereka.
Bu Asih dengan wajah cemasnya berjalan didepan diiringi om Bayu dan Dila. Sementara bu Arum dan Candra berjalan beriringan mengikuti di belakang.
"Gimana bisa kayak gini sih Dila?" Tanya bu Asih.
"Huhuhu Dila nggak tahu bu, pas Dila sampek kakak udah kayak gitu.." Dila menyeka air matanya yang terus membanjiri pipinya. Gadis tomboi seperti dia yang jarang sekali mengeluarkan air mata bahkan bisa menangis separah ini. Dia menyalahkan dirinya yang datang tak tepat waktu sehingga tidak bisa mencegah hal bodoh yang dilakukan oleh kakaknya.
"Sudah sudah kita berdoa saja semoga kakakmu bisa melewati masa kritisnya.." Bu Asih merangkul bahu Dila dan mengusap usap pundaknya.
Sesampainya di depan ruang ICU mereka hanya bisa melihat dari balik kaca kecil di pintu ruangan.
__ADS_1
Wanita yang lemah itu masih belum sadar. Selang infus menancap di lengannya. Kondisinya belum ada perubahan. Mata yang biasanya terang berbinar itu kini hanya menutup saja tidak mau terbuka seakan tak ada dorongan keinginan untuk sadar.
Bu Asih mengusap kaca kecil itu. Dila memapahnya untuk duduk menuju ruang tunggu di sudut lorong.
Kini giliran bu Arum dan Candra yang mengintip dari balik kaca. Bu Arum tersentak sejenak, dipandanginya dengan saksama wanita yang tengah terbaring tak berdaya itu. Bukankah dia adalah perawat yang selama ini selalu menyapanya kala dia check-up ke rumah sakit. Bu Arum menoleh kepada Candra. Candra mengangguk seakan mengerti maksud bu Arum.
"Iya bun.. dia orangnya! " Bisik Candra pelan. Bu Arum terheran, dia tidak menyangka gadis itu adalah orang yang sering dia temui.
Bu Arum sungguh mengasihani nasib gadis itu jika benar anaknya telah memperkosanya. Padahal selama ini Andreas yang dia kenal bukanlah orang mesum seperti itu. Atas dasar apa anaknya melakukan perbuatan keji seperti itu.
Bu Arum menghampiri bu Asih yang tengah merundingkan sesuatu dengan om Bayu.
"Maafkan anak saya bu.." Ucap bu Arum lirih.
"Sudahlah bu .. Sat ini bukan saatnya untuk membahas hal ini, dengan maaf juga tidak akan merubah keadaan bukan !! Yang terpenting sekarang kita berdo'a agar anak saya segera sadar! " Jawab bu Asih.
"Saya berjanji, Andreas pasti akan bertanggung jawab untuk perbuatannya.. Ibu tenang saja!"
Bu Asih menghela nafas. Pikirannya berkecamuk, anak sulungnya masih belum sadarkan diri. Saat ini yang dia pikirkan hanyalah bagaimana anaknya dapat segera sadar dan mau membuka matanya.
Seandainya nanti Citra sadar, dia mungkin tidak akan memaksanya untuk menuruti keinginannya. Dia sadar terlalu memaksakan Citra sehingga membuatnya tertekan. Rasa sesal yang mendalam baru dia rasakan. Karena keegoisannya anaknya menjadi seperti ini. Kalau saja dia tidak terlalu gegabah dalam mengambil tidakan untuk hal yang menurutnya aib itu, mungkin saja keadaan Citra tidak akan seperti saat ini.
"Untuk kedepannya saya akan serahkan masalah ini kepada Citra bu.. Saya tidak akan memaksanya !! Semuanya terserah dia, hendak merawat anak atau tidak.." Kata bu Asih tenang tak bergeming.
Bu Arum tidak bergeming. Dia mengerti mengapa bu Asih yang tadinya begitu ngotot ingin pertanggungjawaban dari anaknya menjadi pasrah begitu saja. Dia menebak jika sebelum ini bu Asih terlalu menekan wanita yang kini tengah terbaring di ruang ICU itu.
"Saya tidak izinkan dia !" Suara menggelegar terdengar begitu tegas dari balik dinding. Segerombol awan hitam seakan berada tepat di atas kepalanya.
______
__ADS_1