Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 16


__ADS_3

Citra menunggu panggilan yang tengah dia lakukan agar segera mendapatkan sambutan dari lelaki diseberang sana. Saat ini pikirannya sudah cukup tenang, dan tidak mungkin dia akan terus menghindari lelaki yang selalu mengkhawatirkan kabarnya itu.


"Halo?? Bi...?" Sapa Haris, lelaki di dalam panggilan ponsel itu.


"Bi?? Ya ampun kamu kemana aja? Kamu bikin aku khawatir tau enggak? Kamu nggak papa kan?" Haris memberondongnya dengan perkataan cemasnya.


Citra sudah menduga dengan sifat Haris yang mudah cemas dia akan menghadapi banyak pertanyaan dari lelaki itu.


"Aku nggak papa kak.." Jawab Citra mencoba tenang.


"Terus kamu kemana aja? Kenapa ponsel kamu mati? Ibu juga nggak jawab panggilan aku.."


Citra terdiam sejenak, menyiapkan jawaban yang tepat untuk lelaki yang lebih tua empat tahun darinya itu.


"Ponsel aku rusak kak, kecebur air ! Ibu.." Citra tak melanjutkan perkataannya. Dia masih mencari alasan.


"Ibu sedang sibuk banget akhir akhir ini, warung lagi rame.. Jadi mungkin ibu capek! " Ucap Citra berbohong.


"Tapi perasaan aku nggak enak banget sumpah.."


DEG


Perkataan Haris itu membuat Citra sangat ingin menangis. Rasanya ingin sekali dia mengatakan hal sejujurnya kepada lelaki yang telah menemaninya selama lima tahun terakhir ini. Lelaki yang selalu sabar menghadapi emosinya serta sifat manjanya yang terkadang masih belum mampu dia tinggalkan.


"Aku nggak papa kak, kak Haris nggak perlu khawatir.."


"Syukurlah, Maaf ya kemarin kemarin aku belum bisa hubungin kamu. Aku sibuk banget bi.. Bi??" Panggil Haris. Dia selalu Memanggil Citra dengan panggilan itu.


"Iya kak?"


"Buat rencana aku waktu itu, aku sudah omongin sama bunda.. Dan setelah aku balik ke Jakarta aku bakal kesana sama bunda buat lamar kamu.."


Tes.. Tess..


Deraian air mata sudah tak sanggup lagi Citra bendung. Apa yang telah dia lakukan? Untuk apa dia membohongi seseorang yang dia cintai dan memberinya harapan palsu. Citra sungguh menyesal tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Haris.


"Bi..?"


"Iya.." Citra menggigit bibir bawahnya menahan tangisan dan suaranya yang parau.


"Bi kamu baik baik aja kan?"


"Iya kak aku baik baik saja.."


"Lalu tentang lamaran kita gimana pendapat kamu?"


"Aku lagi nggak mood ngomongin ini kak.."


"Ohh gitu ya.. Ya udah deh nggak papa! " Ucap Haris kecewa.


Dia memang selalu memaklumi mood Citra yang sering berubah ubah. Haris sudah paham betul jika Citra seperti ini dia pasti sedang menyembunyikan sesuatu, namun Haris tidak ingin mempertanyakan itu .

__ADS_1


"Ehh bi.. Udah dulu ya !! Nanti aku telpon kalau aku udah nggak sibuk.. Jaga diri kamu baik baik ya.. Love you!!"


Tut. Tut.. Tutt..


Sambungan panggilan terputus. Citra meringkuk di ranjang dan memeluk lututnya. Tangis yang tadi berusaha dia tahan dia tumpahkan di ruangan yang dingin itu.


FLASH BACK ON


Seorang lelaki menggendong gadis belia di pangkuannya. Dia dengan cepat berlarian menyusuri lorong rumah sakit . Bibir gadis itu membiru. Dengan cemas dia mencari dokter yang tengah berjaga malam itu.


Gadis iltu tak sengaja dia temukan di dekat hutan tak jauh dari lokasi ditemukannya Andreas. Andreas yang hari itu tergigit oleh ular berbisa telah terlebih dulu dibawa ke rumah sakit oleh asisten Haris, sedangkan gadis malang ini entah tidak tahu dari mana asalnya. Dan mengapa sampai mulutnya membiru seperti terkena racun.


Haris menatap wajah lugu dan imut gadis di gendongannya. Entah dorongan darimana, namun dia merasa harus melindungi gadis itu.


"Dokter tolong.." Teriak Haris dengan lantang.


Perawat dan dokter dengan cekatan mengambil alih tubuh gadis itu.


"Bapak silahkan tunggu di luar.." Ucap seorang perawat kepada Haris.


Dengan cemas haris menunggu di depan pintu. Dia terus mondar mandir di depan ruangan. Hendak menghubungi keluarga gadis itu namun Haris sama sekali tidak menemukan kartu identitas ataupun tanda pengenal lainnya pada tubuh gadis itu.


Haris mengangkat ponselnya yang terus berbunyi.


"Hallo?" Ucapnya kesal.


"Hallo tuan muda? Tuan ada dimana? Tuan Andreas sudah melewati masa kritisnya.."


Setelah mendapat kabar bahwa Andreas sudah siuman dan selamat dari maut, Haris merasa sedikit lega. Menurut dokter bisa ular di dalam tubuh Andreas sudah dikeluarkan sehingga dia bisa selamat. Jika tidak, entah kemungkinan buruk apa yang akan terjadi pada adiknya itu.


Tunggu.. Jika bisa didalam tubuh Andreas sudah tidak ada, sedangkan gadis itu seperti keracunan. Apa jangan jangan gadis itu yang mencoba menolong Andreas. Batin Haris, namun dia tidak pernah mengutarakan kejadian ini kepada siapun. Dia selalu menyimpannya sendiri di dalam hati.


Setelah setengah jam Haris berdiri, dokter keluar dari dalam ruangan.


"Syukurlah pasien selamat.." Ucap dokter itu lega.


Haris menelangkupkan kedua telapak tangannya ke batang hidungnya.


"Untung saja gadis ini dibawa kesini tepat waktu, kalau tidak..."


"Saya nggak tahu apa yang akan terjadi.." Kata dokter.


"Terima kasih dokter, apa saya sudah bisa melihatnya?"


"Tentu saja! Silahkan.." Ucap dokter.


Haris lalu masuk ke ruangan. Gadis itu masih terpejam . Haris terus menatapi wajah gadis itu, dia begitu terpesona oleh kulit kuning langsat yang terpadu dengan bulu mata lentik milik gadis itu. Haris mengira gadis itu berusia antara 18 - 19 tahun. Lalu untuk apa gadis itu berada di pinggir hutan pada malam hari yang gelap begitu.


Gadis itu terbatuk dan perlahan membuka matanya. Wajah ayunya begitu terpancar, padahal saat itu dia baru saja sadar.


Haris segera mengambil air putih di meja dan menyodorkannya kepada gadis itu. Gadis itu menatap Haris, dengan ragu ragu dia menerima gelas berisi air itu.

__ADS_1


"Tenang jangan takut, aku tidak berniat jahat.. Tadi aku temuin kamu di pinggir hutan.." Kata Haris mencoba mengakrabkan diri.


Padahal selama ini dia paling geli jika ada wanita yang mencari cari perhatiannya.


Gadis itu memberanikan diri untuk meneguk air ditangannya.


"Terimakasih.." Ucap gadis itu.


"Aku Haris, kamu?" Haris mengulurkan tangannya.


"Citra.." Dengan tersipu malu Citra menyambut uluran tangan itu. Lelaki dihadapannya begitu rupawan sehingga membuatnya terpukau. Dan bagaimanapun dia adalah penyelamat nyawanya.


Hari itu adalah awal Haris mengenal Citra, wanita yang selama ini dicintainya.


_____


"Kamu sedang apa?" Kejut suara menggelegar itu dari belakang Citra.


Citra segera mengusap air matanya agar Andreas, pemilik suara itu tidak melihatnya bersedih.


"Nggak.." Citra duduk kemudian menyisir rambut berantakannya dengan jemarinya yang lentik.


"Menangis?"Sialnya Andreas tetap bisa melihat itu.


Citra menggeleng.


"Cepat rapikan pakaianmu! Sekarang kita pulang ke rumah"


Citra mengerti, yang dimaksud Andreas adalah rumah keluarganya.


"Semua sudah saya suruh pulang.. Barang kamu nanti ada orang yang urus!" Lanjut Andreas.


"Semua sudah pulang? Jadi ibu dan lainnya? Ternyata dia benar benar ingin menyiksaku!!" Batin Citra.


"Baik.."


Citra turun dari ranjangnya dan berdiri tetapi dia sedikit kehilangan keseimbangannya, maklum saja karena dia baru saja pulih. Akibatnya dia hampir tergelincir, namun dengan secepat kilat Andreas menangkap tubuh mungilnya. Kini tubuh mungil itu berada dalam dekapan lelaki berhati dingin dengan wajah yang rupawan itu.


Mata mereka beradu. Andreas terpukau, dia memperhatikan mata bulat yang jernih itu. Sangat indah, Namun secepat kilat Andreas membuang pikrannya jauh jauh. Dia segera mendorong tubuh Citra namun tidak terlalu kencang.


Suasana menjadi canggung. Andreas lalu membalikkan badan dan membuka pintu.


"Cepat.." Kata Andreas tanpa menoleh.


Citra dengan tergesa gesa mengekor dibelakang lelaki berkulit putih itu. Langkah Andreas begitu panjang sehingga menyebabkan Citra yang bertubuh mungil tak kuasa untuk mengimbanginya.


Sungguh Andreas, bahkan dia sama sekali tidak memikirkan keadaan istri barunya yang baru saja pulih. Berkali kali Citra berhenti sejenak untuk beristirahat namun setelah mendingan dia kembali mengejar lelaki itu setengah berlari.


"Apakah ini awal mula penderitaanku?" Batin Citra.


_______

__ADS_1


__ADS_2