Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 18


__ADS_3

Suara berisik dari lantai bawah membangunkan Citra dari tidur pulasnya. Dia menggosok gosok matanya yang masih berat namun dia paksakan untuk terbuka. Suara itu kian kencang saja, sepertinya suara penggorengan dan pengaduk stainless yang saling beradu. Padahal dapur berada di lantai bawah, namun suara itu terdengar sampai kamar di lantai dua.


Dengan penasaran Citra menuruni tangga sembari mengikat rambutnya yang terurai. Hampir saja dia menjerit mendapati dapur yang sudah tak karuan bentuknya namun berhasil dia tahan dengan kedua telapak tangannya. Rasanya dia ingin menangis sungguh pemandangan yang tidak mengenakkan mata. Penggorengan, panci, bahkan pisau sudah saling jaga jarak dengan sangat jauh agar aman mungkin. Bekas kulit bawang tercecer dimana mana. Belum lagi minyak yang menggenang di bawah kaki si pemasak handal bagaikan master chef. 


Citra memberanikan diri. Dengan buru buru dia menghampiri Andreas dan mematikan kompor yang mulai mengepulkan asap. 


"Kamu mau bakar dapur? Mau bunuh diri?  Tolong biarkan aku keluar dulu, jangan ajak ajak.. " Sungut Citra sambil merebut penggorengan dari lelaki yang tengah berdiri di sebelahnya. 


Andreas mendengus kesal. Segera disodorkannya masakan yang tidak karuan bentuknya itu kepada Citra. Dia sangat kesal,  niat hati ingin memasakkan wanita tak tahu diri itu malah mendapat cibiran dan omelan. Namun jika diperhatikan wajah Andreas kini tidak terlalu buruk, sungguh lucu dan terkesan manis bagaikan anak yang sedang merajuk kepada ibunya.


Dengan cekatan Citra membereskan barang barang yang bertebaran itu dan menyulap dapur menjadi seperti sedia kala. 


"Kamu ingin makan apa? " Tanya Citra menghampiri suaminya yang tengah duduk di meja makan. Namun Andreas tak kunjung menjawab dan malah membuang muka. 


Citra membuang nafas dengan perlahan dan mengelus dadanya sendiri mencoba mengontrol emosi. 


Dia lalu menarik kursi di sebelah Andreas dan mendudukinya. 


"Iya aku salah tadi tidak masak dulu malah tidur.. " Ucap Citra mencoba membujuk karena dia merasa tak enak hati. 


Andreas tetap diam, bukan karena Citra tertidur yang menyebabkan dia kesal. Namun karena Citra dengan tiba tiba merebut masakan yang telah dia buat dan mengomelinya saat dia sedang berniat baik berusaha membuatkan wanita itu makanan. Ini kali pertama dia belajar memasak selama hidupnya. Dan usahanya terasa sia sia karena Citra tidak menghargai bahkan mengomelinya. 


Citra lalu beranjak dan mengambil masakan yang telah Andreas buat tadi, tentunya sudah Citra koreksi rasanya agar pas di lidah. 


"Ini.. Kamu lapar kan! "Kata Citra menyodorkan sepiring nasi goreng yang masih bisa diselamatkan. 


"Nggak kamu buang?" Cibir Andreas.


"Mana mungkin aku buang..  Aku tahu kamu bikin ini pasti penuh perjuangan kan! Kenapa tidak bangunkan aku jika kamu lapar? "


"Itu saya bikin bikin buat orang yang ambruk di toilet gara gara kelaparan. Saya nggak mau ada orang mati dirumah saya karena kelaparan. "

__ADS_1


Mendengar perkataan itu Citra yakin itu ditujukan untuknya. Walaupun kata kata Andreas terkesan kasar, namun ternyata perhatiannya membuat dada Citra bergetar.  Citra sadar betul tadi dia tertidur di toilet dan bagaimana bisa dia sampai ke ranjang jika bukan Andreas yang mengangkatnya tanpa membangunkannya. Sungguh sebenarnya sisi Andreas yang ini begitu manis. 


Citra menyuap sesendok penuh nasi goreng itu dan melahapnya. Andreas meliriknya sekilas dan tersenyum kecil tanpa Citra sadari. 


"Enak tidak? " Tanya Andreas dengan canggung melihat Citra yang terus melahap nasi gorengnya. 


"Emm.. Kamu mau mencobanya?" Citra menyodorkan piring itu kepada Andreas.  Namun Andreas segera menepisnya. Bukan Andreas namanya jika tidak dipenuhi dengan gengsi. 


Melihat tingkah Andreas membuat Citra tidak sbar.  Dia tahu lelaki itu menahan lapar. Dengan segera dia menyuap sesendok penuh nasi goreng lalu menyodorkannya didepan mulut Andreas.


"Cepat buka mulut.. Nanti kuhabisin nih!  Jangan nyesel.. " 


Kata kata Citra membuatnya mau tak mau membuka mulut dengan malu. Dan melahap sesendok nasi goreng buatannya ehh.. ralat buatan mereka berdua karena tadinya rasa nasi goreng itu tidak karuan. 


Andreas membelalak sambil tersenyum lebar penuh kepuasan. Dia tidak menyangka masakannya bisa seenak ini. Dia dengan cepat merebut piring di tangan Citra dan melahap nasi goreng di tangannya hingga tinggal sedikit. Dia tidak peduli pada wanita hamil di sebelahnya. Yang dia pedulikan hanya perutnya yang meminta jatah. Tentu saja melihat hal itu membuat Citra kenyang seketika. 


"Kamu laper banget ya?" Celetuk Citra. 


Dia lalu beranjak dari duduknya dengan wajah yang canggung. Citra tidak berani menanyakan kemana suaminya hendak pergi. Karena di awal dia masuk kerumah ini Andreas sudah memintanya untuk tidak ikut campur pada urusannya. 


****


"Sialann.. Apa Sih yang kulakukan!" Gerutu Andreas memijat kepalanya yang berdenyut. 


Jelas ada yang salah padanya. Niatnya membawa Citra kesini bukan untuk dia perlakukan bak ratu tapi sebaliknya. Namun setiap melihat wajah itu egonya selalu menolak untuk bertindak lebih. Entah apa yang terjadi padanya sebenarnya dia sungguh tak mengerti. 


"Sialann.. Sialan.." Umpat Andreas kesal meninju tembok kamarnya.  Tak lama kemudian ponselnya berdering dengan kencang, Andreas lupa menurunkan volumenya. Untung saja ponsel berbunyi bukan saat dia sedang rapat. Jika tidak entah mau ditaruh dimana mukanya karena selama ini dia yang memberlakukan aturan ponsel in silent saat sedang ngantor. 


"Ya halo.." Seru Andreas yang masih kesal entah kepada siapa. Bahkan dia tidak melihat nama di layar ponselnya terlebih dahulu sebelum mengangkat. 


"Heh kunyuk.." Raut muka Andreas berubah seketika mendengar suara yang dia kenal memanggilnya. 

__ADS_1


"Bang? Apa matahari bakal terbit dari barat nih lo nelpon gue!" Cibir Andreas. Hanya kepada orang yang dipanggilnya abang ini Andreas bisa bersikap friendly. 


"Banyak omong.. Lo ngebuntingin anak mana bego! Mana nikah nggak bilang bilang gue!"


"Shhh.." Andreas kembali memijat kepalanya yang berdenyut. 


"Lo pasti tau dari bunda kan! Dasar anak emak lo.. " Lanjutnya. 


"Ya dari siapa lagi? Nggak mungkinlah kalau dari adik kesayangan lo si Candra.. Dia aja diemnya setengah mampus sama gue!"


"Jangan gitu, adek lo juga itu.."


"Udah lo jangan ngeles! Hal penting gini nggak bilang gue.. Lo lagi dirumah bunda apa dirumah baru lo?"


"Kenapa emang!?" Tanya Andreas yang mulai curiga dengan pertanyaan abangnya. 


"Jawab aja banyak omong banget!" protes lelaki di telepon itu. 


"Rumah gue.. " Jawab Andreas singkat. 


"Oke.. Gue otw sekarang!"


"Apaan? Otw? Bang lu bukannya.. "


Tut tut tut… 


Belum sempat Andreas meneruskan perkataannya sambungan tiba tiba terputus. 


Bukan hal baik jika abangnya datang kemari. Dia harus bersiap siap menutup telinganya rapat rapat dan memasang matanya agar tetap terjaga. Karena jika abangnya sudah memberikan wejangan bisa sampai berjam jam. Abangnya sungguh luar biasa mulut yang kecil bisa mengeluarkan beribu ribu kata tanpa berbusa sedikitpun. Hal itu juga yang membuat adiknya,  Candra agak segan kepada abang pertamanya dan lebih memilih lengket kepada Andreas yang tidak banyak omong tetapi penuh perhatian. 


******

__ADS_1


__ADS_2