
Sesak, Citra merasa ada beban yang sangat berat menghujam dadanya. Seluruh badannya sakit karena pemaksaan yang baru saja dia alami. Ingin menangispun air matanya serasa sudah tak dapat lagi dia keluarkan.
Dia beranjak turun dari ranjang, dan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut hotel.
"percuma kamu tutup, sudah kulihat semua.."
Citra menghentikan langkahnyadan kembali duduk di tepi ranjang, perkataan lelaki itu bagai air garam yang dia siramkan di atas lukanya.
"kenapa kamu lakukan ini padaku?" Citra meratap dengan serak.
Lelaki berbadan atletis yang tengah duduk di jendela sambil menghisap sebatang rokok itu beranjak menghampiri Citra.
Tubuhnya membungkuk dihadapan gadis mungil yang malang itu.
"Puspita Handayani.. kamu kenal dia kan?" tanya lelaki itu.
Citra menggeleng, nama itu asing bahkan mendengarnya pun baru kali ini. Namun kenapa lelaki itu seolah yakin Citra mengenalnya.
"Cih... Kamu yakin tidak kenal?" tanya lelaki itu tak yakin.
"kalau Damara Wijayatama? tidak mungkin kamu tidak kenal kan?" sambung lelaki itu penuh selidik.
__ADS_1
Mendengar nama itu disebut tentu Citra mengenalnya.
"aku kenal, dia pasien yang sering chek up ke tempat kerjaku.."
"Hahh.. pasienn!! Pasien ranjangmu maksudmu.." cemooh lelaki itu.
Merasa terhina, Citra menyahut dengan ketus perkataan lelaki itu.
"Apa maksudmu? Pak Damar memang pasienku.."
"Pak Damar pasienmu itu suami kakakku, Puspita.."
"Lalu apa hubungannya denganku?"
Lelaki itu mencengkeram dengan keras kedua lengan Citra. Dia menghela nafas sejenak.
"Bunuh diri dengan membawa calon keponakanku.."
Citra terkejut mendengar ucapan lelaki itu, terdengar sakit yang mendalam di ucapan terakhirnya.
"Aku tak ada hubungannya dengan masalah itu.." Citra membela dirinya karena dia memang merasa tidak bersalah.
__ADS_1
"Ohh ya.. " Lelaki itu menyilangkan tangannya menginterogasi.
"Lalu kenapa fotomu banyak sekali di ponsel si Damar itu?"
"Mana aku tau? aku juga nggak dekat dengan Pak Damar.."
"Jangan bohong.." Lelaki itu mencengkeram wajah Citra.
"ahh sakit.. "keluh Citra. Lelaki itupun melepaskan cengkeraman tangannya. Dia mengambil kemeja yang berada di gantungan pintu dan mengenakannya.
"Masa depanmu sudah kuhancurkan, aku sudah puas..! Kelak jangan pernah muncul di hadapanku jika kamu tak ingin lebih hancur..! "
Citra bergetar menatap lelaki yang tengah berbicara dengan nada dingin di hapadannya. Lelaki jahat yang telah merenggut kehormatannya. Air matanya kembali menetes dengan sendirinya.
"Jangan pernah pasang tampang sok polos itu dihadapanku.. Aku bukan Damar atau lelaki lain yang mudah tergoda perempuan murahan sepertimu tau..!!"
"Aku bukan perempuan murahan.. Kenapa terus menghinaku seperti itu.." isak Citra.
Sejenak perkataan Citra menggoyahkan lelaki itu. Dia berpikir mungkin memang Citra bukan wanita penggoda, apalagi dia jelas tahu semalam adalah yang pertama kali bagi wanita itu. Namun mengingat diary Puspita yang pernah dia baca, dia segera membuang jauh jauh rasa simpatinya kepada wanita yang tengah terisak diatas ranjang itu.
Dia menatapi tubuh Citra yang terbalut selimut tebal bagaikan kepompong. Rasa sesal sedikit meracuni pikirannya. Apa iya gadis polos ini penggoda kakak iparnya? Namun lagi lagi wajah Puspita yang menahan sakit meregang nyawa meyakinkan bahwa yang dia perbuat telah benar.
__ADS_1
"cihh.. jangan sok lugu!!! hapus air mata buayamu itu.." ucap lelaki itu dengan nada dinginnya sebelum keluar dan membanting pintu meninggalkan Citra bagai barang bekas yang telah dipakai dan di buang.