Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 26


__ADS_3

Andreas duduk termenung di meja kerjanya sambil memainkan bolpoin di tangannya. Akhir akhir ini banyak hal yang dia pikirkan. Belum selesai masalah dengan abangnya, kini malah kekasihnya datang di saat yang tidak tepat. Dan wanita tersembunyi yang menjadi istrinya itu kini malah tidak mengangkat teleponnya. 


"Direktur.. " Panggil Joana yang tiba tiba membuat Andreas kaget. 


"Direktur, rapat kali ini sekretaris Julian meminta anda menggantikan presdir." Lanjut Joana dengan nafas memburu tetapi berusaha untuk tetap tenang. 


"Kenapa mendadak sekali?" Andreas mengambil jas hitamnya di atas kursi lalu mengenakannya dengan buru buru. 


"Apa orang itu tidak tahu client kali ini begitu penting." Gerutu Andreas yang masih merapikan pakaiannya. 


"Orang dari WG Group sudah datang sekitar lima menit yang lalu direktur." Ucap Joana. 


"Astaga... Sialan!" Andreas setengah berlari meninggalkan ruang kerjanya diikuti Joana dibelakangnya. 


****


Andreas menggebrak meja ruang kerjanya. Matanya memerah memendam kekesalan. 


"Apa kalian sudah tidak bisa kerja disini? Sudah bosan atau bagaimana?"


Empat orang diruangan itu hanya bisa menunduk tak berani menatap si empunya suara lantang, termasuk sekretaris Joana. 


"Kalian tahu? Gara gara kecerobohan kalian semua client besar kita lepas begitu saja. Apa kalian pikir waktu 10 menit itu tidak berharga." Andreas mengamati wajah mereka satu persatu kemudian menghela nafas. 


"Sudahlah. Kemasi barang barang kalian dan ambil pesangon di HRD."


"Ta.. Tapi direktur.. "


"Kembali!" Semuanya dibuat kaget dengan kedatangan seseorang yang penuh wibawa. 


"Semua kembali ke tempat kerja masing masing." Lanjutnya. 


"Tapi bang.. Apa abang tahu kesalahan apa yang telah mereka buat.. " Potong Andreas.


Haris hanya menjawab dengan seringai penuh arti yang membuat Andreas muak. 


"Sebenarnya abang juga ikut andil atas kegagalan kerjasama kita dengan WG Group kali ini." Akhirnya Andreas mengungkapkan kalimat kekesalannya itu. 


"Kalian bisa tinggalkan ruangan direktur." Ucap Haris pada para pegawainya yang dari tadi gemetaran. 


Andreas hanya bisa meninju meja kerjanya saat para pegawai itu meninggalkan ruangannya yang cukup luas. 


"Tempramen yang buruk bisa merusak citramu di depan karyawan." Sindir Haris. 


"Oh ya? Bukannya kinerja yang buruk juga sama saja." Balas Andreas. 


"Meninggalkan perusahaan disaat rapat penting. Apa itu kerja bagus? Mengingat jabatan abang sebagai presdir?" Lanjut Andreas. 


"Lalu? Menelantarkan istri hamil yang tengah kesakitan dan malah bermesraan dengan wanita lain itu perbuatan yang bagaimana?"


Tanpa babibu Haris memberikan bogem mentah pada perut adiknya itu. 

__ADS_1


"Perbuatan brengsek kan? Sudah gue bilang kalau ada kesempatan gue pasti bakal rebut wanita itu dari lo. Dan lo selalu membuka lebar lebar kesempatan itu. Jadi jangan salahin gue kalau nggak bisa berhenti."


Haris menghempaskan tubuh Andreas yang tadi dia cengkeram kerah bajunya. 


Andreas hanya bisa terdiam. 


Haris merapikan jasnya dan membanting pintu ruang kerja Andreas saat meninggalkan ruangannya. 


****


"Ada apa?" Tanya Citra yang heran karena Andreas dengan tegesa gesa membuka pintu kamarnya.


Andreas yang masih diliputi dengan rasa cemas segera berlari memeluk wanita yang tengah berjongkok mengganti sprei kamar tidurnya itu. 


"Apa? Ada apa sih?" Citra berusaha melepaskan pelukan Andreas. Namun lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya. 


"Maaf aku tidak menjagamu dengan baik." Ucapnya dengan lirih. 


Citra mendorong tubuh Andreas agar menjauh dari tubuhnya. 


"Aku baik baik saja. Memangnya aku kenapa?" Tanya Citra berpura pura tak mengerti. 


"Sudahlah.. maaf untuk semuanya ya! Dan maaf juga buat tadi yang di kantor."


Citra tersentak dengan kalimat terakhir Andreas. Pasti yang dimaksud lelaki itu adalah dia dan Fiana tadi siang. 


"Memang dikantor ada apa?" Tanya Citra berusaha menyembunyikan kesedihannya. 


"Apa kamu tidak melihat sesuatu di ruang kerjaku?"


"Hahh syukurlah.. " Desis Andreas. 


"Memangnya ada apa?"


"Ahhh tidak.. Tidak begitu penting. Oh iya tadi abangku bilang kamu sakit? Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Emmm itu tidak terlalu serius. Hanya kram perut yang biasa di trimester pertama. Kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga dia dengan baik." Citra menunjuk perutnya yang mulai membuncit 


"Baguslah.. Rutinlah meminum vitaminnya agar dia tumbuh dengan baik!"


Citra hanya menjawab dengan anggukan kecil. 


"Jika kamu baik baik saja aku pergi.."


"Ehh tunggu!"


Baru saja Andreas hendak beranjak namun Citra menahan lengannya yang kekar.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."


"Oh ya?  Apa itu? "Andreas lalu duduk di kasur kamar Citra. 

__ADS_1


"Emmm.. Sebenarnya saat sedang membereskn kamarmu aku melihat sebuah kalung." Ucap Citra dengan ragu. 


"Ohh..  Kalung itu? Kenapa memangnya?" Tanya Andreas. 


"Bagaimana bisa kamu mempunyai kalung itu?"


"Kenapa? Apa kamu ada hubungannya dengan kalung itu?"


"Ahh lupakan saja. Kalau kamu tidak mau menjawab."


"Kalung itu milik gadis yang telah menyelamatkanku lima tahun yang lalu. Itu mungkin tak sengaja terjatuh."


"Lima tahun yang lalu?"


"Iya.. "


Lima tahun yang lalu? Jadi itu kamu? Jadi lelaki yang sudah kuselamatkan itu adalah kamu lelaki yang malah dengan paksa merenggut kesucianku!


"Hey.. Kenapa terdiam?"


"Tidak..  Aku tiba tiba mengantuk ingin tidur."


"Ohh baiklah.. Aku tidak akan ganggu kamu kalau gitu.  Selamat istirahat ya."


Citra hanya menjawab dengan anggukan kecil. 


****


"Tiba tiba menanyakan kalung Fiana, buat aku curiga saja. Terlebih lagi aku serasa familiar dengan suara dia. Tapi kenapa aku baru saja menyadarinya ya."


Andreas yang tengah diliputi rasa penasaran dengan pertanyaan aneh Citra tadi masih berdiri di balik pintu kamar Citra. 


"Ehhh.."


Citra terkejut saat hendak keluar kamar karena mendapati seseorang dibalik pintu kamarnya. 


"Sedang apa kamu? Hahh? Jangan jangan kamu mau ngintip aku ya dasar mesum.." Pekik Citra dengan wajah memerah. 


"Hehh apa sih mengintip apa? Kamu? Kalau aku mau ya tinggal bilang aja kan sama kamu. Ngapain pakai ngintip segala? Toh kita suami istri ini kan.."


Citra terdiam tak berani menjawab. 


"Pipi kamu merah tuh kayak tomat. Kamu malu ya?" Goda Andreas mendekatkan wajahnya kepada Citra hingga jarak mereka begitu dekat. 


Wanita yang tengah tersipu itu begitu menggemaskan sehingga begitu sulit untuk menjaga jarak dengannya.


"Begini baru benar." Andreas mengecup pipi merona itu dengan tiba tiba yang membuat pemiliknya membelalakkan mata. 


Jika dilanjutkan hal yang tak terduga pasti akan terjadi. Oleh sebab itu Citra dengan sekuat tenaga menyundul kening Andreas yang tengah memandangi wajahnya. 


"Aduh.. Apaan sih kamu?" Gerutu Andreas.

__ADS_1


Citra bergegas melarikan diri ke dalam kamarnya dan segera menutup pintunya serta menguncinya. Sebelum membangunkan harimau yang tengah tertidur, kabur adalah jalan satu satunya untuk menghindar. 


"Citra Maharani… Awas kamu ya!" Teriak Andreas dari balik pintu sembari memegangi hidungnya.


__ADS_2