Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 31


__ADS_3

Setelah beberapa waktu bermacet macetan di jalanan ibukota, mobil Haris berhenti disebuah rumah modern minimalis yang sangat asing baginya. 


"Ini rumah siapa?" Tanya Haris penasaran. 


"Temanku kak." Citra membuka sabuk pengamannya. 


"Aku nggak ingat kamu punya teman di daerah sini."


Citra hanya diam saja enggan menjawab . Citra lalu turun dari mobil dan beranjak masuk ke pelataran rumah itu.


"Aku antar!" Tiba tiba tiba Haris berdiri sangat dekat di belakangnya, hingga suara nafasnya terdengar jelas oleh Citra.


Merasa tidak nyaman Citra berjalan dengan memberi jarak antara mereka. 


Tok tok tok


"Assalamualaikum." Citra mengetuk pintu rumah dengan dominasi cat warna abu abu pada seluruh sisi dindingnya. 


"Waalaikumsalam ." Seorang wanita imut dengan tubuh yang standar berdiri dari balik pintu. Melihat kehadiran wanita itu Haris yang berdiri di belakang Citra begitu terkejut, begitu pula Joice wanita yang saat ini seakan menatap hantu di siang bolong. 


"Ehh Citra kamu. Ayo masuk." Joice tersenyum ramah pada Citra namun menatap dengan sinis pada pria di belakang Citra. Melihat itu Haris bukannya marah dia malah melemparkan senyum yang manis pada Joice. 


"Kamu kok sama dia sih?" Joice menunjuk Haris hanya dengan dagunya. 


"Oh iya kebetulan tadi ketemu kak Haris di jalan." Jawawab citra berbohong. 


"Jadi saya nggak disuruh masuk." Celetuk Haris yang merasa tak disambut. 


"Ya masuk! " Jawab Joice dengan jutek. Haris senyum lebar penuh kepuasan. 


"Duduk cit aku pesankan makanan ya. Aku juga belum makan baru banget nyampek rumah."


"Oh pantas saja." Haris kembali menyeletuk. 


"Pantesan apa?" Joice menatap Haris dengan ketidak sukaannya. 


"Pantas saja kamu tenang tenang saja atas apa yang terjadi pada yang katanya temanmu ini."


"Kak.. " Sergah Citra seraya menggeleng. 


"Memang ada apa ya?" Tanya Joice. 


"Citra... " Joice menatap Citra meminta kejelasan. 


"Nggak joice nggak ada apa apa." Sanggah Citra memprotes ucapan Haris. 

__ADS_1


"Buka saja sosmed yang kamu punya." Ucap Haris. 


"Sosmed?" Joice mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ruang tamu dan membuka akun  instagramnya. 


Dia terpaku saat melihat video pengakuan Fiana yang berada paling atas di layar ponselnya. 


"Brengsek!!!" Umpat Joice,  "Kurang ajar betul wanita ini. Apa dia nggak tahu Citra itu korban perk*s*an." Bisik Joice. 


DEG


Haris terbelalak mendengar ucapan Joice. Ucapan Joice walaupun sangat pelan namun Haris dapat mendengarnya dengan jelas. 


"Citra jadi selama ini.. " Haris berkata dengan bergetar, matanya memerah hampir menangis karena sebelumnya dia tidak tahu Citra hamil karena dip*rk*sa. 


"Nggak kak..  Bukan begitu." Citra menyanggah dengan buru buru. 


"Citra tolong jelaskan padaku! Jadi dulu andreas p*rk*sa kamu? Kalian melakukannya bukan karena cinta?" Haris meraih bahu Citra dan berlutut dibawah Citra duduk. 


Citra tak sanggup lagi. Dia menarik tangan Haris dan menggenggamnya. Namun dia hanya berani menatap Haris tanpa berkata sepatah katapun. 


Menyadari keadaan ini Joice segera bertindak, "Hey sudah.." Joice mendorong Haris dengan pelan agar pria itu menjauh dari Citra, "Kamu ini Citra sedang down. Jangan tambah beban pikirannya." Kemudian beralih menatap Citra, "Citra kamu ke kamar aku aja gih ya. Nanti aku nyusul."


"Iya, makasih Joice."


Citra berdiri meninggalkan ruang tamu Joice dan berlari ke sebuah kamar di sudut ruangan. 


Joice kembali duduk dan menyilangkan kedua tangannya di dada, "Kamu buta ya? Nggak lihat badan Citra masih gemetar kayak gitu." Joice mengamati Haris yang hampir meneteskan air mata, "Saya bukannya mau ikut campur urusan kalian. Tapi masa kamu nggak bisa lihat keadaan. Dan satu lagi saya sedang tidak bertugas, jadi jangan panggil panggil saya dokter dokter gitulah."


Haris terdiam, benar ini bukan keadaan yang tepat untuk meminta penjelasan. Keadaan citra sedang tidak memungkinkan. 


"Sudahlah mendingan kamu pulang saja. Biarkan Citra disini dulu." Pinta Joice. 


"Kamu ngusir saya?" Protes Haris. 


"Aduh, terus kamu maunya gimana? Kamu disini saya juga nggak bakal nemenin kamu. Ya terserah sih kalau mau menunggu disini." Joice mencebikkan pipinya. 


"Sudah sudah saya pulang." Ujar Haris seraya berdiri. Joice tersenyum geli melihat Haris yang seakan merajuk padanya. 


"Puas?" Haris kesal menyalakan alarm kunci mobinyal. 


*****


Jarum jam menunjukkan pukul dua siang. Tak terasa Sudah setengah jam Citra tertidur dan joice meninggalkan Citra sendiri di kamar rumahnya. Joice berkata dia akan membeli makanan tadi. Namun sampai sekarang dia tak kunjung kembali. 


Citra mengambil ponselnya yang sedari tadi berada di dalam tasnya. Banyak panggilan tak terjawab dari Andreas, bu Asih, bu Arum dan yang lainnya. Dia mengirim pesan singkat pada bu Arum untuk menjelaskan bahwa dia baik baik saja kemudian mendial nomor bu Asih untuk menghubunginya. 

__ADS_1


"Assalamualaikum buk?" Sapa Citra. 


"Waalaikumsalam Citra? Kamu dimana nak? Ya allah nduk ibuk lega kamu menghubungi ibuk. Kamu nggak papa kan nak?"


"Ibuk ibuk.. Citra nggak papa. Citra baik baik saja bu, Citra ada di rumah teman. Ibu jangan khawatir."


"Syukurlah nak. Emm…  "Bu Asih terdiam sejenak, "Ada Andreas disini nduk."


"Apa buk! " Citra tidak berkata lagi, "Ya sudah Citra tutup teleponnya ya buk."


Citra menutup panggilannya. Dia sangat jengah mendengar nama lelaki itu. Lelaki yang telah membuat hidupnya hancur. 


Karena rasa penasaran Citra memberanikan diri kembali membuka feed instagramnya. Namun baru saja dia menscroll layar ponselnya sebuah tangan menyambar benda mungil gepeng itu. 


"Untuk beberapa waktu kamu nggak boleh msin ponsel." Suara lembut yang sanagat dia kenal menggema memenuhi kamar Joice. 


"Kak Haris. Kakak nggak jadi pulang?"


"Tau tuh.." Celetuk Joice dari balik pintu, "Tadi dah aku usir usir padahal. Udah ambil kunci mobil kirain mau pergi taunya mau ngajak cari makan." Kata Joice sambil menenteng kantong kresek. 


"Kamu yang pegang ponsel citra ya dokcan." Haris melemparkan ponsel Citra pada Joice dan Joice pun menangkapnya dengan sempurna. 


"Dokcan?" Tanya Joice heran. 


"Iya dokter cantik." Ucap Haris. Padahal kalimat itu adalah kalimat menggoda namun saat Haris yang mengucapkan hal itu tidak membuat orang yang mendengarnya marah.


"Bisa nggak sih kamu serius dikit. Ini bukan waktunya ngegombal." Ucap Joice tersipu. 


"Citra ayo kita makan bareng bareng. Pokoknya aku nggak mau tahu ya kamu harus makan. Kita bela belain lo ngantri buat bungkus tiga porsi biar bisa makan bareng sama kamu." Ujar Joice menunjukkan bungkusan kresek di tangannya. 


"Kalian duluan aja aku nanti." Ucap Citra. 


"Nggak nggak. Pokoknya harus sekarang." Joice bersikeras dengan perkataannya. 


"Citra dengerin kata kata dokcan ya." Ucap Haris sambil sesekali melirik Joice. 


"Aduh gatel deh telinga gue denger kata kata itu." Joice bergidik ngeri karena kata kata Haris. 


"Aku lagi pengen sedih sedih tapi kalian nggak ngasih aku waktu." Keluh Citra


"Kamu nggak boleh sedih sedih sendiri. Kamu punya aku." Jawab Joice.


"Dan aku." Jawab Haris menambahkan. 


"Makasih ya Joice, Kak Haris tanpa kalian aku nggak tahu bagaimana nasib aku." Citra tersenyum bahagia. 

__ADS_1


****


__ADS_2