
"Terima kasih ini kembaliannya" Seorang kasir minimarket memberikan kantung keresek yang berisi belanjaan Citra.
Saat hendak menarik handle pintu minimarket samar samar Citra mendengar suara kasak kusuk. Dan merasa banyak pasang mata menatap ke arahnya.
/Sstt itu benar dia ya?/
/Iya aku yakin itu cewek yang di post sama Fiana/
/Lihat lihat! ****** itu merebut tunangan sahabatnya/
/Ihh menjijikkan.. Cantikan juga Fiana/
Citra berusaha tak memperdulikannya dan setengah berlari, Ya tuhan apa aku begitu terkenal gara gara Fiana?
Huh dasar nggak tahu malu
Saat berpapasan dengan orang yang tak dia kenal orang itu mengatainya, walaupun hanya setengah berbisik tapi pandangan orang itu jelas mengarah padanya.
Cekrek cekrek!
Beberapa diantara mereka pun tak segan untuk mengambil gambar Citra.
Citra lagi lagi tak memperdulikannya dan memilih menghampiri ibu penjual teh di sebuah stand.
"Bu saya ingin beli tehnya."
"Oh baik mbak.." Ibu itu mendongakkan kepalanya untuk melihat si pemesan, "Ehh..", dengan kasar tiba tiba ibu penjual teh itu menarik tangan Citra
Citra terkejut dengan perlakuan ibu itu, "Apa yang ibu lakukan?"
"Aku tahu kamu. Kamu Citra kan? Sahabatnya Fiana?" Ketus ibu itu.
"Lepaskan saya bu! apa yang ibu lakukan?" Citra mencoba menarik tangannya sendiri dari cengkraman ibu penjual teh.
"Dasar wanita jahat, Fiana sudah anggap kamu sebagai saudara malah ini ya balasanmu padanya." Teriak ibu itu yang mengundang perhatian banyak orang.
Citra menepis tangan ibu penjual teh, "Saya tidak bersalah." Sanggah Citra setengah berteriak.
Lihat lihat wanita itu berteriak
Bukan salahnya lalu salah siapa? Ibunya
Haha memalukan
Pasti orangtuanya malu punya anak kaya dia
Kali ini mereka sudah tidak berkasak kusuk lagi, namun berkata dengan suara keras sehingga Citra dapat mendengarnya dengan jelas.
Pergi dari sini pelakor!
Pergi saja pergi! Pergilah ke neraka.
Plak!!
__ADS_1
Seseorang melempar Citra dengan botol bekas.
Plak!! Plak!! Plak!!!
Kali ini bukan hanya botol, berbagai macam sampah dilempar ke arah Cita sehingga membuat Citra menjatuhkan barang bawaannya dan menutupi kepalanya untuk berlindung.
Hei posting ini di IG, pelakor diserang. Salah seorang dari mereka berceletuk.
Apa yang kalian lakukan? Aku sudah telepon polisi. Salah seorang lainnya berucap seperti itu.
Tidak peduli bagaimana aku menjelaskan. Pendapat publik terhadapku sangat buruk, Mereka berpikir aku perusak hubungan orang dan berselingkuh dengan kekasih sahabatnya.
Citra yang berantakan berlari kecil menjauh. Namun masih saja dia menemukan orang orang yang mengetahui identitasnya.
Hei jauh jauh sana kotor!
Mereka belum puas dan masih saja melempari Citra dengan berbagai macam samah.
Citra tak tahan lagi, dia berlari kencang menjauh menyusuri jalan yang tak dia tahu kemana arahnya. Yang terpenting orang orang itu tidak mengejarnya.
Haha haha
Samar samar suara tertawa itu masih terdengar di telinga Citra. Citra menutup kedua telinganya dan terus berlari.
Tinn!! Tinnn!
Tiba tiba saja sebuah avanza hitam melintas didepan Citra dan hampir menabraknya.
"Astaga!!!" Pekik lelaki itu yang segera keluar dari mobilnya.
Lelaki itu melepas jaket yang dia kenakan lalu memakaikannya kepada Citra. Sejurus kemudian dia berbalik hendak pergi namun sebuah tangan mungil yang ternoda menahannya.
"Tolong tolong saya!" Pinta Citra dengan tubuh gemetar.
Lelaki itu berbalik dan mengamati Ciyra dengan seksama.
"Astaga kamu? Kamu Citra kan?" Ucap lelaki itu dengan terkejut.
"Tolong!" Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Citra.
"Apa yang terjadi padamu. Sudahlah ayo ikut aku!" Lelaki itu memapah Citra untuk masuk ke mobilnya.
Brak!!!
Lelaki itu menutup pintu mobil dengan kasar lalu menyodorkan sebuah kotak tisu pada Citra.
"Citra apa yang terjadi padamu?"
"Maaf apa kamu kenal saya?"
"Saya Amer, teman Haris."
"Amer?" Citra mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sudahlah lupakan kalau kamu tidak ingat." Amer masih menyodorkan kotak tisunya, "Apa yang terjadi padamu Citra?"
Tuk tuk tuk
Terdengar suara ketukan jendela mobil. Amer menurunkan kaca mobil saat mengenal siapa yang berdiri di baliknya.
"Mer, gue mau bicara sama istri gue." Ucap Andreas yang berdiri di sisi mobil Amer.
"Istri lo? Mana?" Amer celingukan mencari seseorang yang Andreas maksud.
"Disebelah lo." Jawab Andreas singkat.
"Dia?" Amer menengok pada Citra, "Dia istri lo?" Amer sedikit tak percaya. Karena yang Amer tahu Citra adalah kekasih Haris.
"Saya nggak mau ketemu dia." Ucap Citra tiba tiba.
"Gimana ini?" Amer bimbang mengambil keputusan.
"Plis ijinin gue masuk mobil Mer, ini penting." Pinta Andreas.
"Oke." Amer mengangguk lalu menutup kaca mobil. Tak lama Amer keluar keluar dari mobilnya dan Andreas masuk.
Melihat itu Citra segera memegang handle pintu mobil namun ternyata pintu itu terkunci oleh Andreas.
"Maafkan saya." Andreas memeluk Citra degan tiba tiba. Rasa bersalah terus membayangi Andreas. Lelaki itu begitu lemah dihadapan Citra sampai sampai hampir saja dia meneteskan air matanya. Citra menggeliat ingin berontak dari tubuh kekar itu, namun Andreas merengkuh tubuhnya dengan erat.
"Jangan sentuh saya!" Bukan sekedar gertakan, kali ini sorot mata Citra benar benar menunjukan kemarahan.
"Citra!! Citra tenang.. Saya mohon sebentar saja biarkan saya memelukmu." Ucap Andreas yang masih memeluk tubuh mungil Citra.
"Tolong lepaskan saya!" Citra melepas pelukan Andreas dengan paksa.
"Apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan saya?" Mata Andreas berkaca kaca. Suara Andreas terdengar sangat sedih namun itu tidak berpengaruh apapun pada Citra. Wanita itu sudah terlanjur terluka terlalu dalam.
"Menjauhlah dari saya."
Kalimat yang singkat itu membuat Andreas tercengang, "Citra?"
"Saya rasa saya sudah terlalu jauh masuk kedalam hubungan ini. Saya telah melibatkan perasaan saya terlalu dalam dan tidak bisa menghentikannya. Setelah perasaan itu tumbuh dia harus hancur berkeping keping seperti saat ini. Tolong menjauhlah dari saya agar saya sadar siapa saya." Ucap Citra dengan mata berkaca kaca namun enggan menatap pada Andreas.
"Citra apa kamu mempunyai perasaan padaku?" Andreas memegang kedua bahu Citra, "Citra.. Kamu belum boleh punya perasaan itu. Belum .. Ini bukan waktu yang tepat. Tunggu saya selesaikan sesuatu, saya janji kita akan bersama." Ucap Andreas.
Citra terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Andreas, "Berapa saja wanita yang sudah kamu janjikan kebahagiaan?" Tanya Citra dengan intonasi menyindir, "Maaf saya sudah tidak sanggup, saya tidak kuat hidup seperti ini.."
"Citra.."
Citra ambruk tak sadarkan diri.
"Citra!!! " Pekik Andreas yang panik melihat Citra memejamkan matanya.
"Amer!!" Andreas berteriak dari dalam mobil, "Mer gue pinjem mobil lo,lo pakai mobil gue." Andreas melemparkan kunci mobilnya kepada Amer.
***
__ADS_1