Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH-17


__ADS_3

Mobil Andreas berhenti didepan rumah dua lantai yang tidak terlalu besar namun terkesan mewah. Tak lama pintu pagar bercat hitam terbuka dengan sendirinya. Andreas melajukan mobilnya dengan pelan dan memarkirnya di garasi. 


Citra mengamati sekeliling, terlihat sepi tak ada orang berlalu lalang. Tampaknya ini bukan rumah keluarga besar pikirnya.


Andreas berjalan dengan cepat diikuti gadis bertubuh mungil dibelakangnya. Raut muka Andreas tidak berubah sama sekali dari keluar rumah sakit tadi. Seperti biasa dingin, beku seperti es. Disepanjang jalan pun mereka tidak membuka percakapan sedikitpun.


Kedua pasang pengantin baru itu memasuki rumah bernuansa modern dengan desain interior mewah serba putih. Mata indah Citra tak lepas dari setiap sudut ruangan yang biasanya hanya bisa dia lihat di televisi. Empat buah lampu kristal bebentuk bulat yang menggantung diatas ruang tamu tak luput dari perhatian wanita ayu itu. Dia berpikir betapa kayanya pemilik rumah ini. Walaupun terkesan minimalis tapi dengan desain yang seperti ini mungkin bisa membeli sepuluh rumah yang Citra dan keluarganya tinggali.


"Duduk!" Pinta Andreas yang mengejutkan Citra.


"Dengar ya! Pernikahan kita ini hanya kedok saja. Jadi saya tidak akan ikut campur dengan urusan kamu. Dan kamu juga jangan pernah ikut campur dengan urusan saya! Apapun yang kamu lakukan saya tidak peduli. Jangan sentuh barang barang pribadi saya, kecuali pakaian. Tidak perlu menunggu saya pulang. Tidak perlu menanyakan yang tidak penting pada saya.."


"Ada lagi?" Tanya Citra.


"Sudah berapa kali saya bilang! Jangan bicara sebelum saya minta.. Kamu semakin berani!"


Citra hanya terdiam melihat reaksi Andreas yang tak suka dia menyelak perkataannya. Namun Citra juga tak kalah benci dengan sikap Andreas yang selalu mendominasi.

__ADS_1


"Saya paling tidak suka kotor. Jadi kebersihan rumah ini tergantung kamu! Kamu juga harus memasak yang pas di lidah saya. Baju saya harus bersih rapi dan wangi. Dan satu lagi jangan pernah masuk kamar saya jika saya ada disitu, saya tidak suka !"


Dengan senyum kemenangan dia memberondong Citra dengan kata kata perintahnya. Andreas yakin hal ini cukup untuk membuat wanita dihadapannya kewalahan. Dengan badannya yang kecil bagaimana bisa dia mengerjakan hal yang merepotkan seperti itu. Tentu saja ini hanyalah alasan agar Andreas dapat menghukumnya jika pekerjaannya tidak beres.


"Iya aku paham.." Jawab Citra. Dia lebih memilih menyetujui perkataan Andreas daripada melawannya. Pertemuan singkat mereka sudah membuat Citra tahu bagaimana watak Andreas yang sepertinya keras kepala. Oleh karena itu wanita ayu itu lebih memilih mengalah daripada memperpanjang percakapan yang dia rasa dikuasai oleh lelaki rupawan di hadapannya.


"Bagus.. Itu kamarmu di sebelah kamar saya. Di lantai atas." Andreas menunjuk ke kamar bercat putih yang terletak di sudut kiri lantai dua. Setelah Citra perhatikan memang di lantai dasar hanya ada ruang tamu dan ruang makan yang tergabung dengan dapur. Serta ada taman yang tidak begitu luas di halaman belakang rumah. Jadi letak kamar mereka sebenarnya berdekatan hanya terhalang tembok saja.


"Apa aku masih boleh bekerja?" Citra memberanikan diri untuk bertanya. Bagaimanapun kini dia telah menjadi seorang istri, dan apapun yang dia kerjakan harus mendapat izin suaminya. Setidaknya itulah yang dapat dia lakukan untuk belajar menjadi istri yang baik walau hanya sementara.


"Hmm iya aku paham.."


"Bagus.. Sudah kamu cepat pergi sana dari hadapan saya! Jangan buat mata saya sakit.."


Citra mendengus kesal seperti banteng. Buru buru dia meninggalkan lelaki bermulut pedas itu. jujur saja dia juga tidak mau berlama lama dengan lelaki kurang ajar itu. Selalu saja ucapan Andreas membuat dadanya sesak. Dia berpikir apakah seburuk itu penampilannya sehingga membuat seorang Andreas merasakan sakit mata. 


Citra melemparkan tubuhnya ke atas springbed bercorak putih di kamar barunya.  Dia terlentang memandangi langit langit kamar bercat putih itu. Rasanya ingin menangis tetapi sudah tidak bisa. Tak pernah terpikir sebelumnya dia akan dipertemukan dan bahkan menikah dengan lelaki yang menurutnya begitu menyebalkan. Mendengar suaranya saja sudah membuat Citra muak, dan kini dia harus tinggal seatap dengan lelaki itu. 

__ADS_1


Citra mengamati ruangan kamarnya. Segalanya tampak bersih, saking bersihnya diruangan itu hanya ada satu buah lemari antik dan sebuah ranjang yang kini dia tiduri serta kamar mandi berpintu transparan yang berada di sudut kamar. Citra terbelalak memicingkan mata mengamati dengan seksama,  pintu kamar mandi itu benar benar transparan. Apakah lelaki kejam itu salah memasang pintu atau memang dia seorang serigala mesum pikir Citra bergidik ngeri. Ketakutannya terhadap suaminya kian bertambah. 


Tiba tiba saja sesuatu ingin melesak keluar dari mulut Citra. Dengan secepat kilat dia menuruni ranjang dan membuka closet kamar mandi, menumpahkan sesuatu yang mengganggu lambungnya secara tiba tiba.  Aneh, setiap memikirkan Andreas selalu saja secara tiba tiba rasa mual menyerangnya. Apakah janin itu juga tidak menyukai ayahnya sama seperti sang ibu? Citra mengelus lembut perutnya yang agak menebal. Namun bersamaan dengan perasaan bersalah mulai menghampirinya. 


"Maafin mama ya sayang.. Hampir saja mama menyakiti kamu! Mama janji mulai sekarang akan selalu menjaga kamu. Mama sayang kamu nak..  Mama hanya nggak ingin kamu merasakan penderitaan di dunia ini.!" Ucap Citra lirih.  


Beberapa menit menangis Citra tidak sadar dia telah tertidur.  Mungkin karena badannya yang lelah dan lemas setelah muntah tadi. 


BRAKK


Andreas membuka pintu kamar Citra dengan kasar. Langkahnya memburu mengamati sekeliling ruangan.  Dia kesal, sedari tadi memanggil istrinya namun tak kunjung ada jawaban. Diranjang pun wanita itu tidak ada.  Namun betapa terkejutnya dia mendapati wanita yang tengah dia cari tengah menutup mata menyandar pada closet di kamar mandi. 


Dengan tidak sabar dia membuka pintu kamar mandi yang transparan itu. Untung saja pintu itu transparan, jika tidak bagaimana bisa dia tahu bahwa ada manusia tidak sadarkan diri memeluk closet di dalam rumahnya. 


Hampir saja Andreas berpikir jika wanita itu terjatuh atau pingsan jika tidak mendengar dengkuran halusnya. Andreas terkekeh kecil bagaimana bisa tubuh sekecil ini mengeluarkan suara saat tertidur. Mungkin Andreas tidak tahu mendengkur adalah tanda bahwa tidur kita sedang nyenyak, jadi jangan coba coba untuk mengusiknya.


Dengan pelan Andreas mengangkat tubuh mungil Citra dalam dekapannya lalu meletakkannya di atas springbed. Dia tak ingin membangunkan wanita itu. Padahal tujuannya mencari Citra karena perutnya dari tadi meronta ingin diisi. Namun begitu melihat pemandangan itu dia mengurungkan niatnya.  Mungkin dia memberi kelonggaran di hari pertama.

__ADS_1


__ADS_2