
Joyce menyesap soda yang dia pesan dengan pelan, dan sedikit mengernyitkan dahinya karena sensasi pekat yang menggigit indra perasanya. Dia memutuskan membawa Citra untuk belok ke satu cafe langgannya di daerah Kemang .
"Emm sorry bukannya gue mau ikut campur.. Tapi kalau boleh tau tadi kenapa nggak mau pulang sama suami lo?" Tanya Joice mencoba membuka pembicaraan.
"Dia bukan suamiku.."Balas Citra dengan pelan.
Joyce melebarkan matanya "Hah! Apa apa? Jadi tadi itu?"
Citra mengangguk pasti dengan mata sendu.
"Jangan bilang dia selingkuhan lo deh.."
Joyce menatap Citra cukup lama seakan menodong sebuah penjelasan darinya.
"Dia kakak suamiku."
Joyce menghela nafas panjang seakan menyesali tindakan bodohnya yang memaki pria yang tadi dia temui.
"Oh Tuhan.. Jadi gue salah orang? Jadi gue maki orang yang salah. Kenapa tadi lo diem aja"
"Dia.." Citra tak meneruskan kalimatnya.
"Dia juga mantan pacarku."
"Hah?? What the F***! Bisa gitu? Pantes aja lo ngindarin dia."
Citra kembali mengangguk.
Suasana sejenak hening karena Joyce tidak berani untuk bertanya lebih jauh.
"Gini.. Sekarang gue anterin lo pulang aja. Gue nggak mau bawa istri orang malam malam gini. Lo mendingan pulang deh ya!"
Joyce mengenakan jaket hitamnya dan memasukkan ponselnya kedalam saku. Tak lama dia kembali menyesap minuman berkarbonasinya yang tinggal seperempat kaleng sambil mengernyit lagi.
"Ayo!" Ucapnya kepada Citra yang masih enggan untuk beranjak.
Joice menepuk bahu Citra dengan pelan.
"Gue tahu lo pasti ada masalah sama suami lo, tapi alangkah baiknya jika lo hadapi masalah itu dan nggak lari menghindarinya." Ujar Joice.
Sentuhan Joyce dipundaknya seakan memberinya kekuatan. Dengan senyum tipis yang dia paksakan dia memutuskan untuk beranjak dari duduknya.
****
Haris berjalan dengan amarahnya yang telah di ubun ubun, Dia berkali kali mengepalkan tangannya saat mengingat kejadian yang tadi menimpa Citra.
Saat telah berada di depan pintu rumah Andreas, Haris dengan tidak sabar menggedor pintu itu dengan keras.
BUGH..
Sebuah pukulan mendarat di sudut bibir Andreas. Dia yang belum siap menerima serangan pun jatuh tersungkur saat dia baru saja membuka pintu.
"Bang??" Andreas melebarkan mata sambil meringis karena sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Andreas bangun kembali dan Haris sudah tidak sabar memberinya bogeman namun dengan cepat Andreas tahan.
"Apa lagi ini bang? Masih soal tadi siang?"
"Lo masih berani nanya bre****k?" Teriak Haris menarik kerah baju Andreas. Namun Andreas tak kunjung menjawab dan malah membalas tatapan tajam Haris.
"Istri lo hampir celaka di jalan dan lo nggak tahu apa apa? Kalau lo emang nggak suka dia, ceraii! Gue siap menerima dia dengan senang hati!"
Kali ini Haris tak dapat menahan lagi amarahnya. Dia kembali menghajar Andreas dengan membabi buta. Namun anehnya Andreas tidak membalas ataupun menahan serangan abangnya itu.
"Kalau saja lo bukan adek gue dah gue bunuh lo sialan!" Teriak Haris yang masih membabi buta.
"Kak Haris, jangan!!" Pekik suara wanita yang Haris kenal dari ambang pintu gerbang.
Wanita itu berlari dengan kencang ke arah mereka berdua. Melihat wajah Andreas yang sudah tidak karuan wanita itu sangat panik dan dengan cepat mendorong Haris dari tubuh Andreas.
Haris tersentak, dia tidak menyangka Citra akan memperlakukannya seperti itu.
Dengan cucuran air mata Citra memeluk wajah Andreas dalam dekapannya
"Apa yang kak Haris lakukan? Kak Haris tau nggak ini melanggar hukum? Dia ini adik kandungmu kak! Sebenci apapun kakak kepada dia, dia tetap saudara sedarahmu."
Tak hanya Haris, Andreas Pun kini tengah terheran dengan sikap wanita itu. Wanita itu dengan lantangnya memaki Haris yang membuat lelaki kekar itu kecewa.
"Haha.." Haris tertawa dengan getir.
"Jadi kamu nggak pernah memandang aku ya Cit.."
DEG
Ucapan Haris begitu menyayat hati, baru kali ini dia kembali memanggil namanya dengan jelas setelah beberapa tahun mereka bersama.
"Kak.."
"Sudah.. Sudah aku paham Citra. Aku tahu diri! Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi." Ujar Haris dengan suara bergetar.
"Namun satu hal yang harus kamu ingat. Kapanpun kamu ingin kembali, aku selalu menunggumu." Ucap Haris seraya pergi meninggalkan tempat itu dengan nafas memburu.
"Kak.." Citra melambaikan tangannya hendak menahan pria itu, namun kembali dia menariknya karena ragu.
"Hehe.. Kenapa?" Andreas terkekeh dengan lemah di pangkuan Citra.
Citra menoleh kepada pria di pangkuannya dengan kesal. Melihat wajah memuakkan itu dia buru buru mendorong tubuh Andreas menjauh darinya.
"Aduh.."
Andreas mengaduh kesakitan memegangi sebagian besar wajahnya yang memar. Dengan sigap Citra kembali mendekatinya dan memapahnya dengan wajah yang masih cemberut.
"Bisa bisanya kamu meledekku saat kondisimu saja seperti ini!" Cibir Citra yang membawa Andreas menuju kamar.
"Aku tidak meledek." Balas Andreas dengan datar.
Mereka telah sampai di kamar Andreas yang sebelumnya belum pernah Citra masuki. Kamar itu di dominasi warna abu abu yang manly sesuai dengan karakter Andreas.
Citra melepaskan tubuh Andreas dan mendudukkannya di tepi ranjang. Citra dengan cepat keluar kamar dan menuruni tanga menuju dapur untuk mengambil potongan es batu di dalam freezer.
Dia kembali dengan terburu buru sambil membawa sepanci es batu dan sebuah kain halus di tangannya.
Dengan perlahan Citra mengompres luka lebam yang memenuhi wajah Andreas dengan telaten.
"Kalau wajahmu begini, bagaimana kamu bisa kerja besok." Ucap Citra yang tak sadar telah mengkhawatirkan luka bonyok yang mengganggu wajah rupawan Andreas.
Andreas menahan tangan Citra dan menyeringai "khawatir sama aku?"
Citra mengubah raut di wajahnya. Dengan kesal dia menepis tangan kekar Andreas. Dan kembali mengompres luka lebam itu, namun kali ini dia menekannya dengan cukup keras.
"Shhh.. Aduh!" Pekik Andreas. Namun Citra tidak peduli mendengar keluhan pria itu.
"Maaf.." Desis Andreas yang membuat Citra menoleh.
__ADS_1
"Apa aku nggak salah dengar!" Balas Citra dengan senyum mencibir.
"Sudahlah! Anggap saja kamu tidak mendengar apa apa barusan."
Citra terdiam, dia tahu Andreas bukan tipe orang yang gampang mengucapkan maaf. Dan dengan egoisnya dia malah meledek ucapan pria penuh gengsi itu.
"Sudah.. Aku ke apotek dulu mau beli salep buat lukamu." Ujar Citra yang beranjak dan membawa baskomnya. Namun dengan cepat Andreas menahan lengannya.
"Kamu gila? Mau pergi lagi malam malam gini? Ini sudah jam berapa?" Omel Andreas dengan emosi.
"Tapi lukamu gimana?"
"Sudah tak usah pedulikan ini. Toh aku nggak bakalan mati hanya dengan bekas luka kayak gini."
"Terserah kalau begitu! Cepat lepaskan tanganku." Pinta Citra.
"Harusnya tadi kamu tidak memarahi pacarmu.." Lirih Andreas.
BUGH
Citra meninju dada Andreas dengan pelan.
"Aduh.. Shh!" Desis Andreas seakan kesakitan. Padahal Citra hanya memukulnya pelan saja.
"Nggak usah pura pura! Aku cuma pukul pelan masa kamu meringis kayak gitu." Protes Citra yang tak setuju dengan sikap Andreas.
Andreas hanya diam sambil memegangi dadanya. Biasanya dia akan membalas ucapan Citra dengan pedas, namun kali ini tidak. Merasa ada yang tidak beres Citra kembali meletakkan baskomnya di meja Andreas dan mendekat ke lelaki itu.
"Coba aku lihat" Ucapnya berusaha meraih tangan Andreas yang sedang memegangi dadanya.
Dengan pelan Citra mencoba membuka kemeja yang dipakai Andreas agar tahu apa yang membuat pria itu kesakitan. Saat kemeja itu terbuka Citra sungguh terkejut. Hampir sekujur badan Andreas depenuhi luka lebam bekas pukulan. Citra tidak dapat membayangkan seberapa lama Andreas telah dipukuli oleh Haris yang membuatnya merasa bersalah.
Padahal Citra tahu betul Andreas pantas mendapatkannya, namun mengapa di sisi lain hatinyaa dia merasa tidak rela melihat pria itu kesakitan. Entah perasaan aneh macam apa ini. Yang jelas hal ini membuat Citra tidak nyaman.
"Mengapa sampai separah ini." Desis Citra dengan lirih, meraba bekas luka itu. Sontak saja sentuhan itu mengejutkan Andreas. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan perlakuan Citra. Dengan cepat dia menepis tangan kurus Citra.
"Apa yang kamu lakukan!" Bentak Andreas.
"Aku hanya memeri..."
"Keluar!" Andreas memotong ucapan Citra dengan kasar.
"Tapi luka.."
"Keluar!" Andreas kembali mengulang perkataannya dengan tidak sabar.
Citra tak membentah lagi. Dia berlari kecil meninggalkan Andreas di kamarnya seorang diri. Dia tak mengerti mengapa tiba tiba sikap Andreas berubah dalam sekejap.
"Ahhh.. Hampir saja! Bisa gila aku kalau lama lama dekat dia." Gumam Andreas mengusap sebelah wajahnya dengan kasar.
***
Citra tak ambil pusing dengan sikap Andreas barusan. Dia lebih khawatir dengan perlakuannya pada Haris tadi. Dia sendiri tidak menyangka jika dia bisa berkata begitu lantang kepada pria yang telah menemaninya selama beberapa tahun itu.
Citra meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan, lalu menuliskan beberapa kalimat yang hendak dia tujukan kepada Haris. Namun setelah kalimat itu tersusun Citra kembali menghapusnya. Entah apa yang mencegah hatinya untuk mengirimkan pesan itu kepada Haris.
Dia lebih memilih keluar dari aplikasi itu dan membuka aplikasi sosmednya. Dia menscroll layar ponselnya mencari kabar yang menurutnya menarik hingga matanya tertuju pada akun Fiana Fe, artis yang saat ini tengah naik daun. Artis yang saat ini menjadi brand ambassador berbagai macam produk. Dari kecantikan, makanan, obat obatan dan masih banyak lagi.
Citra mengambil nafas sejenak. Dia tersenyum kecil, ada rasa sedikit iri di hatinya melihat kesuksesan Fiana dibandingkan dirinya yang kini tengah berbadan dua. Bagaimanapun dia dulu cukup mengenal Fiana yang adalah teman sekamarnya saat ngekost di Bandung.
Fiana yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Walaupun penampilan modisnya tak jauh beda, namun setahu Citra dia adalah gadis yang pemalu dulu. Bahkan untuk sekedar berpose saat foto selfie di ponsel saja dia sangat canggung kala itu.
Namun bagaimanapun Fiana adalah orang yang baik bagi Citra. Dia selalu membela Citra yang kala itu kena bully dan fitnah dari teman teman yang tidak menyukainya.
Saat ini Fiana adalah orang yang sukses. Entah dia masih mengenali Citra atau tidak.
Citra kembali meletakkan ponselnya dan merebahkan badannya di spring bed empuk itu. Dia menatap langit langit kamar favoritnya. Entah ada apa di langit langit itu sehingga Citra suka menatapnya.
Kembali dia mengambil nafas panjang. Mungkin hari ini begitu melelahkan baginya. Hari libur yang biasanya dia gunakan untuk istirahat hari ini begitu banyak peristiwa yang dia lewati.
Dia memejamkan mata sejenak untuk mengusir penat yang dia rasakan. Dan entah sejak kapan mulut kecil itu mendengkur dengan pelan.
*****
Andreas terbangun karena mendengar suara berisik dari lantai bawah. Suara itu tidak asing, mungkin sudah beberapa kali dia dengar.
Dia mengusap usap keningnya mengusir rasa kantuk yang masih menyerang. Dia memeriksa ponselnya. 05.30, begitu yang tertulis di layar wallpaper ponselnya. Waktu bangun yang terlalu siang menurutnya. Biasanya dia akan terbangun jam 4.30, mungkin karena terlalu sibuk sehingga dia lupa memasang alarm pada ponselnya.
Ada banyak notif di layar ponsel yang entah dari siapa saja dan Andreas masih mengabaikannya. Dia kembali meletakkan ponselnya dan beranjak menuruni tangga dengan cepat.
"Hoekk.. Hoekk!"
Dia mendapati Citra yang sudah memakai seragam kerjanya sedang menunduk di wastafel kamar mandi yang tengah terbuka di lantai bawah.
Dengan tergopoh gopoh Andreas mendekatinya dan memijat dengan pelan tengkuk leher Citra. Entah dorongan dari mana, namun melihat wanita yang kesakitan itu Andreas seakan merasakannya.
"Hoek.. Hoek!"
Citra masih saja mencoba memuntahkan sesuatu yang ingin melesak dari perutnya namun yang keluar hanyalah air liurnya saja.
Andreas mengelus perut Citra dengan lembut. Dan sungguh seperti keajaiban, mual yang tadi dengan ganas menyerangnya seakan lenyap ketika Andreas dengan lembut mengelus perutnya yang mulai menebal.
"Tiap hari begini?" Tanya Andreas yang di jawab anggukan oleh Citra.
"Nggak usah kerjalah!" Lanjut Andreas.
"Nggak papa, cuman pagi doang kok! Lagian juga kalau lagi bau masakan yang aneh doang suka begini."
"Hmm.. Ya kalau pas di kerjaan kamu kayak gini gimana? Aku juga yang susah." Andreas mengerutkan keningnya.
"Aku bisa urus diri aku sendiri. Udah lah aku mau berangkat. Aku udah siapin sarapan sama bekel kamu buat siang. Aku nggak siapin baju, kan kamu bilang nggak boleh masuk kamar kamu." Balas Citra mengerucutkan bibirnya yang merah.
"Hemm.. " Andreas hanya menjawab dengan gumaman yang tidak jelas.
Citra tak menghiraukan pria yang masih tetap wangi walaupun baru saja bangun tidur itu. Dengan cepat dia menaiki tangga untuk masuk kamarnya sejenak dan kembali menuruninya. Kali ini dia sudah mengenakan jaket dan tas gendong kecilnya di punggung.
"Emm.. Aku berangkat!" Ucap Citra dengan canggung. Ini pertama kalinya dia berpamitan pada Andreas untuk berangkat bekerja.
"Hemm.." Andreas yang masih duduk di ruang tamu memandang Citra sejenak dan kembali bergumam menjawab ucapan Citra.
Sebenarnya Citra ingin mendapat perlakuan lebih, namun dia urungkan niatnya karena dia tersadar dia bukan siapa siapa. Dia lalu dengan buru buru memakai sepatunya dan meninggalkan rumah.
"Dia cantik.." Gumam Andreas.
****
Citra kembali ke rutinitasnya seperti biasa. Yang berbeda kali ini statusnya telah menjadi seorang istri, ya walaupun belum sah secara hukum.
Dia menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah memburu, dia sudah rindu pada pekerjaannya yang menanti. Namun entah perasaannya saja atau bagaimana, dia merasa banyak mata yang menatapnya sambil sesekali saling berbisik.
Citra tidak peduli, mungkin akhir akhir ini dia terlalu banyak masalah sehingga dia mengalami halusinasi.
Citra melipat dan meletakkan jaket serta tasnya di locker karyawan. Tak lupa dia mengambil botol minumnya dan mencucinya karena sudah dua hari dia letakkan di dalam locker.
__ADS_1
Dia duduk di sebelah Eva, rekan kerjanya. Namun tak seperti biasanya kali ini Eva begitu pendiam dan hanya sesekali meliriknya.
"Va.. " Sapa Citra.
"Eh iya.." Balas Eva dengan gelagapan. Citra merasa aneh dengan sikap Eva,dia seperti menghindar dari Citra.
"Va?"
"Aduh sorry ya Cit, aku banyak kerjaan." Selak Eva yang merapikan dokumen lalu meninggalkan Citra.
Citra masih heran, pagi begini kerjaan apa yang menumpuk. Padahal pasien belum ada yang datang. Ruang opname juga hanya ada satu pasien yang sudah dia ganti infusednya tadi pagi sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
Citra kembali duduk dengan tegak sambil merapikan dokumen dokumen yang sedikit berantakan. Ditatapnya jam yang menempel di dinding. Pukul 07.30, dokter juga belum datang. Mungkin sebentar lagi, karena hari ini dokter yang praktek adalah dokter Dessy yang suka datang lebih awal daripada dokter yang lain.
"Cit?" Panggil seseorang dari depan mejanya yang tidak Citra sadari dari kapan dia berdiri di situ.
"Kak Mel? Ada apa kak?" Tanya Citra kepada Melisa, perawat senior itu.
"Itu kamu dipanggil ke HRD." Jawab Melisa dingin. Perawat itu memang dikenal dengan kejutekannya.
"Hah?? Kenapa ya kak?"
"Enggak tahu saya. Udah kamu kesana aja biar saya yang gantiin jaga, lah si Eva kemana?"
"Katanya banyak kerjaan kak. Nggak tahu deh kemana."
"Ya udah sana gih kamu!" Ucap Melisa.
"Iya kak. Makasih sebelumnya."
"Emm.." Melisa hanya menjawabnya dengan satu anggukan.
***
Tok tok tok
Citra mengetuk pintu yang sebenarnya telah terbuka di lantai empat itu. Di ruangan itu ada banyak orang yang tengah bekerja menghadap komputer nya masing masing.
"Citra Maharani?" Tanya salah seorang dari mereka yang cukup ramah diantara yang lain nya. Citra mengangguk pelan.
"Masuk! Langsung aja ke ruang manager ya, dari sini kamu lurus terus belok kiri sedikit." Ucap orang itu mencoba menerangkan kepada Citra.
"Baik Pak.. Terimakasih." Jawab Citra yang kemudian berjalan ke ruang manager yang di maksud.
"Padahal gak keliatan." Citra mendengar suara kasak kusuk di setiap dia melangkah. Namun dia tidak menghiraukan, mungkin ucapan itu tidak ditujukan untuknya.
Sampailah dia di depan ruang manager. Dengan perlahan Citra mengetuk pintu yang tengah tertutup itu.
"Masuk!" Pinta seseorang dari dalam ruangan. Citra membuka pintu, tampak seorang pria paruh baya dengan perut agak buncit tengah duduk di kursinya.
"Silahkan duduk." Pria itu manager rumah sakit tempat Citra bekerja.
"Citra Maharani?" Tanyanya sambil membolak balik kertas yang entah apa isinya.
"Iya.."
"Sudah menikah?" Tanyanya lagi yang membuat Citra enggan untuk menjawab.
"Tahu kenapa anda disuruh kemari?"
"Tidak." Jawab Citra lagi.
"Anda hamil kan?" Bak disambar petir Citra kembali mendengar ucapan yang membuatnya membelalakkan mata. Dia sangat terkejut bagaimana bisa orang rumah sakit tahu kehamilannya, padahal kemarin dia check up ke rumah sakit lain.
"Anda hamil dan anda belum menikah, jadi sesuai perjanjian kerja. Anda tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini." Ucap pak manager dengan tenang.
"Tapi saya sudah menikah Pak." Sahut Citra yang mulai berkaca kaca.
"Oh begitu? Bisa saya lihat surat nikahnya?" Pinta Pak manager.
"Itu.. Itu.. Saya tidak punya."Jawab Citra dengan terbata. Bagaimana dia punya, pernikahannya belum sah secara negara.
"Jadi kembali lagi ke perjanjian ya mbak. Anda tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini karena melanggar kontrak. Untuk pesangon dan yang lain bisa diselesaikan di HRD. Sekarang silahkan tanda tangan disini!" Ujar Pak manager sambil memberikan kertas yang dari tadi dia bolak balik.
Citra hanya menunduk lesu. Sebenarnya perkataan Pak manager tidak sepenuhnya salah karena bagaimanapun dia memang hanya memiliki secarik kertas akta nikah sirinya namun dia tidak berani menunjukkannya kepada pak manager karena rasa gengsinya . Lalu diapun menandatangani kertas yang ternyata adalah surat pengunduran dirinya.
Dia menyerahkan kembali kertas itu kepada pak manager.
"Terimakasih atas dedikasi anda selama ini." Pak manager menjabat tangan Citra dan mempersilahkannya meninggal kan ruangan.
***
Citra kembali ke locker untuk mengambil barang barangnya setelah mengurus pesangon dan lainnya sebelumnya. Dengan cepat dia mengenakan jaket pinknya, dia ingin cepat meninggalkan tempat kerjanya ini. Dia tidak ingin ada yang melihatnya saat ini.
"Citra?" Panggil seseorang dari belakangnya. Citra menoleh.
"Ternyata benar kamu." Orang yang ternyata adalah Eva itu mendekati Citra.
"Oh Eva.. Udah nggak sibuk?"
"Lagi izin ke toilet. Kamu mau kemana?"
"Aku.. Aku resign." Ucap Citra.
"Ohhh gitu ya? Kenapa emang? Oh iya Ada sesuatu yang pengen aku tanyain nih. Sini deh!" Eva kembali mendekati Citra dan membisikkan sesuatu ditelinganya.
"Emang bener?" Tanya Eva mengerutkan keningnya.
"Ahh gosip aja itu. Mana ada aku hamil nggak ada bapaknya haha.. Haha!" Citra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ahhh gitu ya. Jadi kenapa kamu resighn?" Citra kembali menggaruk kepalanya. Dia bingung hendak menjawab apa kepada Eva yang terus mencecarnya dengan pertanyaan.
"Eva! Kamu ini.. Daritadi saya cariin. Lama banget taunya disini. Itu pasien lagi banyak banyaknya." Omel Melisa yang tiba tiba masuk ke locker dengan wajah garangnya. Tak heran banyak yang segan kepada Melisa dengan wataknya yang begini.
"Ohh kak Mel, iya aku lagi ambil pembalut ini aku lagi dapet kak. Hehe maaf!" Balas Eva dengan cengengesan.
"Udah sana! Kerjaan numpuk malah." Tegur Melisa. Wajar saja Melisa mengomel, karena jam jam ini memang pasien sedang padat padatnya. Eva pun langsung meninggalkan locker dengan terburu buru.
"Nggak usah terlalu dipikirkan. Sekarang yang paling penting adalah kesehatan kamu dan janin. Kamu nggak boleh kebanyakan stres. Sudah ya, tetap semangat. Saya yakin kamu itu orang baik." Tak disangka ucapan itu keluar dari mulut Melisa yang terkenal judes. Padahal sebelum ini Citra sangat jarang mengobrol dengan wanita yang lebih tua sekitar delapan tahun darinya itu.
"Terimakasih kak Mel." Ucap Citra. Untuk pertama kalinya Melisa memeluk Citra yang hampur saja menangis, lalu menepuk punggunggnya dengan pelan. Perlakuannya sangat hangat, beda dengan yang dibicarakan orang orang terhadapnya.
"Kak memang dari siapa kabar aku hamil itu?" Tanya Citra memberanikan diri.
Melisa melepaskan pelukannya. Dan menggeleng.
"Saya nggak tahu, dan kamu sebaiknya tidak mencari tahu. Itu hanya akan membuat kamu sakit hati." Ucap Melisa lagi.
"Sudah ya, kamu baik baik di luar sana. Jadi ibu yang baik untuk anak kamu ya!" Lanjut Melisa.
Diapun berjalan meninggalkan Citra yang masih mematung sebelum menepuk bahunya dengan cepat tanda memberikan semangat.
Citra memandang kepergian Melisa dengan sendu. Dia lalu kembali membereskan barang barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia memandangi lockernya sambil mengusap buliran bening yang hendak keluar dari sudut matanya. Hari ini dia resmi menjadi pengangguran.
__ADS_1
******