
"Sayang.."
"Fiana? Kamu?" Wanita itu sukses membuat Andreas ternganga. Dia menghambur ke pelukan Andreas dan bergelayut mesra di lengannya.
"Surprise! Kamu ngapain pake masker gitu?"
"Aku lagi flu aja. Kenapa tiba tiba?"
"Kamu kok kelihatannya nggak seneng gitu sih sayang. Padahal aku sengaja minta izin sama produserku untuk hal urgent." Fiana mengerucutkan bibirnya merajuk kepada pria di hadapannya.
"Hey bukan begitu Fi. Aku hanya terkejut saja, kan kamu bilang lagi ada Project di luar negeri selama sebulan. Ini kan baru dua minggu." Ujar Andreas mencoba menenangkan wanita itu.
"Ya.. Jadi intinya kamu nggak seneng kan." Fiana memutar bola matanya dengan malas.
"Ssstt.. Bukan! Aku seneng, aku seneng kamu disini." Andreas menempelkan jari telunjuknya pada bibir seksi Fiana.
"Benar?" Fiana tersenyum lembut, lalu semakin mendekatkatkan dirinya. Dia mengalungkan tangannya kepada Andreas dan mengelus dadanya yang bidang.
Andreas mendorongnya dengan halus, menepis tangan Fiana dan mengelus puncak kepalanya.
"Kamu kenapa? Salah minum obat? Agresif banget kamu hari ini."
"Aku hanya rindu saja. Memangnya salah? Lagian kamu kan pacar aku."
"Tapi nggak begini.." Andreas mencubit pipi Fiana dengan gemas.
"Ih kamu.. Kapan sih hubungan kita go public? Aku capek sembunyi sembunyi terus."
Andreas hanya terdiam dengan ucapan Fiana barusan. Dia enggan menjawab pertanyaan itu.
"Sayang?" Panggil Fiana dengan mesra.
"Emmm?"
"Kamu nggak lagi sembunyiin sesuatu dari aku kan?" Selidik Fiana dengan curiga.
"Haha enggak lah, memangnya aku berani sembunyikan apa dari kamu. Cuman kaget aja tiba tiba kamu bahas ini. " Andreas tertawa dengan canggung.
"Haha kirain."
"Sudah jangan mikir yang macam macam."
"Iya aku percaya sama kamu. Kalau gitu kita makan malam ya hari ini." Fiana kembali bergelayut pada lengan kekar Andreas.
"Harus sekarang?"
__ADS_1
"Iyalah.. "
"Ya sudah baiklah." Andreas hanya bisa menyetujui permintaan Fiana, karena tak ingin membuatnya semakin curiga. Padahal hatinya memikirkan hal lain.
"Aku nggak mau makan malam di hotel kamu tapi ya."
"Terserah kamu saja."
****
Citra membuka handuk yang melilit tubuhnya dan memilih satu stel baju yang menurutnya pantas dia pakai untuk keluar bersama Andreas. Dia memutuskan pilihannya pada dress berwarna pastel yang satu satunya dia miliki.
Dia menatap bayangannya pada cermin sambil mengenakan sedikit make up tipis untuk menambah kesan cantiknya. Dan menata rambutnya yang panjang dengan sanggulan yang elegan.
"Haihh.. Aku cuman mau ke dokter tapi udah kayak mau ke pesta." Gumamnya pada dirinya sendiri.
Dia membenci kelakuan konyolnya, namun kini justru dia melanjutkannya dengan parfum Victoria secret yang beraroma lembut favoritnya. Menurutnya aroma itu membuatnya lebih rileks dibandingkan minyak kayu putih atau minyak telon yang biasa disukai ibu hamil.
Dia berdiri dan kembali menatap bayangannya di cermin.
"Apa aku terlalu berlebihan ya?" Gumamnya lagi.
***
"Baik.. Oh maaf, tapi bukannya anda ini Fiana Fe? Artis terkenal itu?"
Fiana tersipu mendengar ucapan waiters lalu membuka topi yang dia kenakan.
"Aduhh sudah pakai topi kok masih saja dikenalin sih.. Hehe iya aku Fiana." Fiana mengurai senyum yang sangat manis.
"Wahh benar.." Waiters itu memekik dengan wajah berbinar penuh kegembiraan.
"Sssttt.. Jangan berisik!"
"Ya ampun kak Fiana, kakak ini idolaku loh. Wah kakak lagi makan sama pria tampan. Ini siapa kak? Pacar ya? Akhirnya aku tahu pacar kak Fiana."
"Ada ada saja mana ada ini pacarku." Fiana melirik nakal kepada Andreas.
"Ohh teman ya kak?"
"Bukan pacarku, emmm.. Lebih tepatnya calon suamiku." Ucap Fiana sambil mengerling nakal kepada Andreas.
Andreas melebarkan matanya. Dia tidak menyangka Fiana akan berbuat sejauh ini. Dia sungguh tidak menyukai situasi ini.
"Sudah ya adik kecil. Aku sudah lapar loh!" Rajuknya kepada waiters itu.
__ADS_1
"Baik.. Akan aku buatkan dengan cepat spesial buat kak Fiana dan calon suami." Waiters itu berjalan cepat meninggalkan mereka berdua untuk membuatkan pesanan.
"Kamu apa apaan sih?" seru Andreas.
"Apanya yang apa apaan? Bener kan kamu calon suami aku?" Fiana dengan santai menanggapi pertanyaan Andreas.
"Fi, nggak gini caranya. Aku nggak suka kamu bertingkah kayak gini." Andreas mengerutkan alisnya karena kehilangan mood.
Fiana menatapnya lama kemudian memasang wajahnya yang sendu.
"Ada yang salah ya? Aku ngerasa kamu beda banget. Kamu nggak kayak gini loh sebelumnya."
Andreas mendengus kesal. Seringkali Fiana memasang wajah seperti itu ketika Andreas mulai emosi.
"Enggak ada yang salah. Sudah jangan bahas lagi." Andreas membuang muka dari wanita di depannya.
"Ini pesanannya kak." Waiters tadi datang sambil membawakan pesanan mereka.
"Nah taruh sini aja!" Fiana berkata kepada waiters lalu menatap Andreas yang masih membuang muka padanya.
Fiana berdecak kesal.
"Harusnya aku yang marah Ndre, bukan kamu." Celetuk Fiana sambil mengelap pisau dan garpunya dengan tisue sambil menatap Andreas dengan tajam.
Andreas menghela nafas. Dia mencoba mengerti perasaan Fiana. Sebenarnya dia juga merasa bersalah telah menyembunyikan hal besar dari wanita itu.
Sedari tadi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya namun dia tidak tahu harus menolak Fiana dengan cara apa. Citra, apakah wanita itu tengah menunggunya?
***
Citra menyalakan TV LED yang berada tepat di hadapannya. Tangannya terus menekan tombol untuk mengganti saluran yang menarik. Kemudian mematikannya lagi setelah tak ada sesuatu yang menarik menurutnya.
Dia mengambil ponselnya di dalam tas merk s*pie m*rtin yang warnanya sudah mulai pudar lalu membuka aplikasi wh**s**. Dia membuka kontak wh**s**nya dan tangannya berhenti men scroll pada nama kontak Andreas. Dia hendak menekan tombol panggilan, namun dia urungkan. Begitu terus sampai hal itu terjadi berkali kali.
Ditatapnya layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Sudah terlewat berapa jam untuk periksa ke dokter kandungan. Namun konyolnya dia masih menunggu pria itu, berharap dengan segera kepulangannya dan membiarkan perutnya belum terisi.
Dia tidak sadar dia sudah menguap beberapa kali. Sampai akhirnya kantuknya sudah tak bisa ditahan lagi. Dia tertidur di ruang tengah sambil terduduk memeluk pinggiran sofa bed.
Beberapa saat kemudian Andreas tiba. Dia heran lampu lampu masih menyala. Pikirannya sudah berkelana kemana mana. Dengan langkah memburu dia masuki kediamannya untuk mencari istrinya.
Dia hendak menaiki tangga untuk menuju kamarnya, namun betapa terkejutnya dia saat mendapati sesosok wanita tengah meringkuk memeluk pinggiran sofa bed ruang tengahnya.
Wanita itu tampak tertidur pulas sambil memegang ponselnya yang masih menyala. Andreas menatap ke arah ponsel. Ternyata wanita itu membuka kontaknya dan mungkin hendak menghubunginya namun dia ragu. Entah mengapa dengan melihat hal itu membuat hati Andreas seperti teriris, sangat perih.
****
__ADS_1