
Dila mempercepat langkahnya agar segera sampai ke ruangan dimana tempat kakaknya dirawat. Dia menenteng tas berisi makanan dan minuman. Dia menyusuri lorong rumah sakit yang cukup panjang. Hari sudah mulai gelap, namun tempat itu malah semakin ramai oleh berbagai macam orang dengan keperluannya masing masing.
Dila menghentikan langkahnya di salah satu ruangan bercorak putih bersih itu. Bau khas yang mengganggu penciumannya sudah tak di hiraukan lagi. Dia mendorong pintu ruangan tersebut. Didapatinya wanita itu sedang terkulai lemas. Dari nadi tangannya mengucur darah segar.
"Kakak!! " Pekik Dila kencang. Dila segera berlari keluar mencari bantuan. Kebetulan saja ada seorang perawat yang sedang berjalan di lorong itu.
"Tolong suster!! Darurat.." Kata Dila dengan tubuh yang gemetar menghadang di depan suster.
"Ada apa mbak? Pelan pelan.." Protes perawat itu.
"Itu.. Itu..!"
Dila dengan tergesa gesa menarik tangan perawat itu agar mengikutinya menuju ruangan Citra. Perawat itu terkejut mendapati pasiennya bersimbah darah tak sadarkan diri. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Mereka kecolongan.
Melihat kondisi Citra, perawat itu segera memposisikan dirinya di sebelah ranjang. Dia mulai mendorong ranjang itu dengan tergesa gesa menuju UGD.
Dila ikut membantu perawat itu mendorong ranjang. Namun langkahnya terhenti karena perawat tidak mengizinkannya masuk ke dalam ruangan.
Pintu itu tertutup. Terakhir Dila hanya melihat bayangan kaki kakaknya yang tak berselimut.
"Kakak.." Ratap Dila. Dila yang selalu manja dan keras kepala akhirnya meneteskan air matanya. Gadis belia yang wajahnya mirip Citra itu mengusap air mata serta ingus yang keluar dari hidungnya.
Tak ada hari dimana dia tidak membuat Citra kesal. Dia selalu tak menghiraukan omongan kakaknya. Dan pada hari ini dia sangat menyesali perbuatannya.
_________
Bu Asih dan lelaki paruh baya berjenggot telah sampai ditujuan. Sebuah rumah dengan pagar hitam setinggi tiga meter berada dihadapan mereka. Mereka berdua memandangi kemegahan rumah megah bercorak emas yang halamannya seluas lapangan bola itu.
Om Bayu menyembulkan kepalanya, mengintip dari balik pagar. Lalu kembali menarik kepalanya dan menatap bu Asih.
"Yakin ini yuk alamatnya?" Tanya Om Bayu ragu.
__ADS_1
Bu Asih membaca kartu yang dia pegang lalu lembali melihat om Bayu.
"Iya bener ini le.." Jawabnya.
Om Bayu tak bertanya dua kali. Dia mulai mengetuk pagar besi yang berdiri dihadapannya. Tak lama seorang lelaki dengan perut buncit menghampiri mereka bedua.
"Ya.. Cari siapa?" Tanya lelaki berseragam keamanan itu dari balik jeruji pagar.
"Benar ini rumahnya Andreas Yudistira?" Tanya Om Bayu.
"Iya benar ini rumah mas Andreas!"
Bu Asih membuang nafas lega telah menemukan alamat yang dia tuju.
"Kami ada perlu dengan Andreas.. Bisa kami bertemu?" Tanya om Bayu lagi.
"Sebentar ya pak saya tanya dulu.. Oh iya kalau boleh tau dengan bapak siapa saya bicara ini?" Tanya satpam itu dengan sopan.
"Ohh iya.. sekedap nya pak bu! "
Satpam itu berlari masuk kedalam rumah berlantai tiga tersebut. Bu Asih dan om Bayu masih setia menunggu di depan pagar.
Selang beberapa menit satpam kembali dengan kunci berentet yang digenggam di tangannya. Dia memilih kunci yang paling besar lalu mengaitkannya ke gembok pagar. Akhirnya pintu pagar terbuka, bu Asih dan om Bayu bisa dengan leluasa memandang pemandangan nan megah di hadapannya.
"Mangga pak bu!! " Ajak satpam yang kira kira seumuran om Bayu itu. Mereka bwrtiga mulai melangkah memasuki halaman utama. Tampak dikiri kanan banyak tanaman hias serta pohon pohon rindang yang terawat dengan baik. Rumah semegah ini memiliki taman yang sangat asri, siapapun pasti betah berlama lama disini.
"Tapi punten nya pak bu, mas Andre nya nggak ada! Yang ada nyonya besar di dalam.." Jelas satpam itu dengan sopan.
"Nggak papa Pak, makasih.." Jawab bu Asih tak banyak bicara. Kebetulan sekali jika orangtuanya ada.
Tak lama mereka telah sampai di pintu utama. Pintu dari kayu jati tua setinggi tiga meter dengan ukiran yang sangat detail. Bu Asih menelan ludah, semua yang dia lihat begitu mewah. Seketika nyalinya menciut. Namun mengingat nasib anaknya dia mengusir jauh jauh rasa takutnya.
__ADS_1
Satpam itu mengantarkan mereka berdua ke ruang tamu yang berada di depan pintu. Ruangan yang luas dengan desain interior mewah. Di setiap ruangan digantung lampu kristal yang entah berapa puluh atau bahkan ratusan juta.
" Silahkan duduk pak, bu.. Nyonya sedang ada urusan sebentar.." ucap satpam itu. Om Bayu mengangguk. Mereka berdua duduk di sofa beludru yang lembut .
Seorang wanita dengan rambut disanggul berjalan menuruni tangga. Wajahnya yang bermake-up bold seakan menjelaskan kepribadiannya. Ekspresinya datar bahkan saat sudah berhadapan dengan kedua tamu asing dihadapannya. Wanita itu duduk menyilangkan kakinya, namun Bu Asih dan om Bayu malah berdiri.
"Silahkan duduk.." Kata wanita itu.
Mereka berdua kembali duduk. Mereka bertiga diam sejenak.
"Jadi anda berdua ini siapa?" Wanita itu meneguk cairan di dalam cangkir berukir emas yang dia ambil dari meja. Tangannya melambai tanda mempersilahkan bu Asih dan om Bayu untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Saya Bayu dan ini yayuk saya Asih, kami adalah orangtua Citra. Wanita yang ada hubungannya dengan putra ibu.." Om Bayu mulai menjelaskan.
"Hubungan apa yang anda maksud?" Wanita itu meletakkan cangkirnya ke meja. Ucapannya masih datar seperti tadi.
"Anak saya hamil, dan anak ibu yang harus bertanggung jawab." Bu Asih yang sedari tadi diam mulai berani membuka suara.
Wanita itu membelalakkan matanya terkejut dengan ucapan bu Asih. Dia memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas.
"Sebentar ya pak.. bu.. Nggak lama anak saya sampai! Biar kita tahu kebenarannya dan hal yang harus kita lakukan kedepannya.." Ucapnya dengan tegas.
"Apa ibu tidak mempercayai kami?" Tanya bu Asih mulai kesal.
"Yukk.. yuk.. udah yuk, sabarr sabarr ! Om Bayu menepuk nepuk bahu Bu Asih berusaha menenangkan.
"Bukan begitu bu, saya hanya ingin mendengar pengakuan dari anak saya dan lagi kita belum pernah bertemu sebelumnya bukan !! Jadi saya tidak bisa asal percaya saja dengan sembarang orang.."
"Baik Bu, kami ikut saja.." Jawab om Bayu . Bersamaan dengan itu suara derap sepatu terdengar memasuki ruang tamu.
Seorang lelaki jangkung dan bertubuh tegap berjalan ke arah mereka. Sorot matanya yang tajam menatap lurus tanpa menoleh sedikitpun ke sekelilingnya. Lelaki itu adalah Andreas Yudistira putra ketiga Almarhum Tuan Bimantara Yudatama, seorang konglomerat pemilik hotel dan mall terbesar di Indonesia.
__ADS_1