Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 32


__ADS_3

Bu Asih menatap Andreas dengan rasa bersalah. Dia tahu pasti Andreas akan kecewa mendengar ini namun bagaimanapun bu Asih harus menyampaikannya, "Maaf Andreas sepertinya Citra tidak ingin berbicara denganmu."


"Tidak apa buk. Yang penting saya sudah tahu keadaannya." Ucap Andreas .


Bu Asih mengangguk, dia dapat membaca kekecewaan dari sorot mata Andreas. 


"Maafkan saya buk. Ini semua terjadi karena saya. Saya yang salah atas ini semua." Lirih Andreas dengan suara seraknya. 


"Sudahlah nasi sudah menjadi bubur. Yang terpenting kamu harus berusaha membersihkan nama baik Citra sekarang."


"Iya saya mengerti buk. Saya akan berusaha sekuat tenaga saya." Jawab Andreas mantap, "Kalau begitu saya permisi ya buk." Andreas berpamitan pada ibu mertuanya. 


"Iya..  Mari ibuk antar." bu Asih mengantarkan Andreas sampai depan pintu rumahnya hingga mobil menantunya itu tak lagi kelihatan. 


****


Joice berpakaian rapi dengan langkah tergesa gesa memakai sepatu ketsnya 


"Joice mau kemana kamu buru buru sekali." Citra yang tengah mencuci piring di dapur lantas menghampiri Joice yang melewatinya. 


"Ada pasien tabrak lari Cit. Katanya keadaannya sangat mengkhawatirkan. Dokter yang jaga dapat kabar kalau ibu mertuanya meninggal. Duh nggak ngerti lagi deh aku.." Jawab Joice yang kini memasukkan ponselnya ke dalam tas. 


"Jadi kamu beneran dokter ya Joice." Tanya Citra penasaran. 


Joice tersenyum mendengar pertanyaan Citra, "Ya gitulah. Emang aku belum kasih tahu ya? Hehe." 


"Beruntung ya kamu bisa nyelametin banyak orang. Dulu aku juga ingin sekali jadi dokter." Ucap Citra lirih. 


"Oh ya? Lalu kenapa kamu nggak wujudin keinginanmu? " Joice memakai jaket hitam kesayangannya. Itu bukan satu satunya jaket milik Joice, di lemari pakaiannya terdapat banyak jaket hitam dengan berbagai model dan merk. 


"Kamu taulah.. Biaya kuliah kedokteran itu nggak murah." Citra mencebikkan pipinya.


"Ehh iya juga sih." Joice sudah lengkap dengan atributnya, "Aku berangkat dulu ya, aku belum tahu pulang kapan. Ingat jangan buka pintu buat orang asing. Nih ponselmu aku balikin. IG dan yang lainnya udah aku uninstal jangan coba coba di pasang lagi. Kabarin aku kalau ada apa apa."


Citra tersenyum dengan segala petuah Joice, " Iya Joice, kamu ini bawel banget kayak emak emak." Goda Citra. 


"Idihh.. Joice bergidik ngeri, "Aku berangkat ya assalamualaikum." Ucap Joice. 


"Waalaikumsalam."


"Ehh Joice!" Citra berlarian kecil mengejar langkah Joice.


Panggilan Citra membuat langkah Joice terhenti. 


"Boleh nggak aku ikut?" Tanya Citra penuh harap. 


"Ikut ke rumah sakit?" Joice balik bertanya dengan heran. 


Citra mengangguk, "Aku tadinya juga seorang perawat. Aku sudah terbiasa berjaga malam, jadi nggak masalah buat nemenin kamu." Ujar Citra meyakinkan.


"Emmmm.. " Joice tampak berpikir menimang keputusannya. Sebenarnya dia khawatir jika Citra harus menunggu lama selama dia menangani pasien nanti. Sebab pasti tidak akan hanya satu pasien saja yang berdatangan. 

__ADS_1


"Biar aku nggak suntuk di rumah Joice." Citra memohon dengan tulus. 


"Okelah." Jawab Joice akhirnya. 


"Umm Makasih ya Joice sudah percaya padaku." Ucap Citra dengan berbinar. 


Joice memberi jawaban dengan anggukan manis.


"Bentar aku ambil jaket."


"Oke."


Joice hendak membuka pintu rumahnya, bersamaan dengan itu kepala Haris menyembul dari balik pintu.


"Astaga!!!" Pekik Joice hampir terpental namun karena berpegang pintu dia masih bisa menyeimbangkan badannya, "Lahh kok kamu balik lagi? Duh.. Ini udah malem bisa bisa rumahku digrebek sama pak rt nerima tamu cowok malem malem." Gerutu Joice. 


"Ini aku cuma mau anterin makan buat kalian tadi sekalian lewat pulang dari kantor."  Haris menunjukkan bungkusan yang dia pegang namun pandangannya fokus pada penampilan Joice. Dia mengamati Joice dari atas sampai bawah, "Kamu mau kemana pake pakaian rapi begini?"


"Dihh kepo amat bukan urusanmu kali."


"Jelas urusanku. Karena kamu ninggalin citra sendiri?"


"Sok tahu bangetlah nih orang. Dia ikut. "


"Iya kak aku ikut." Ujar Citra yang muncul tiba tiba dengan pakaiannya yang sudah rapi. 


Melihat itu Haris menghela nafas lega, "Ya sudah.. Aku antar kalian ya!"


"Ayolah Joice, kak haris berniat baik." Bujuk Citra yang masih tak enk hati pada Haris, "Baik kak kami mau."


"Ehh tunggu Cit.." Protes Joice saat Citra menarik tangannya menuju mobil Haris. 


"Aku mau karena Citra ya huh.. " Joice menatap sinis pada Haris. Haris hanya mengangkat kedua bahunya dan masuk ke dalam mobilnya. 


****


Andreas tengah terduduk di sebuah ruang tamu mewah modern. Dia mengamati sekeliling seakan mencari sesuatu. 


"Adreas?" Fiana keluar dari kamarnya dan duduk di sofa ruang tamunya, "Kamu sedang apa disini?" Fiana melipat kedua tangannya di dada. 


"Fiana kamu boleh marah sama aku tapi ingat hari ini jadwal kamu check up penyakit diabetes kamu." 


"Aku pikir kamu sudah nggak ingat." Sahut Fiana dengan senyum mengejek. 


"Fiana bagaimana aku bisa lupa pada kesehatan wanita yang aku cintai."


"Jangan kamu pikir karena nganter aku check up aku jadi maafin kamu." 


"Iya.. " Andreas menggeser duduknya dan meraih tubuh Fiana untuk memeluknya.


"Lepasin!" Fiana mendorong tubuh Andreas untuk menjauh darinya, "Jangan sentuh sentuh aku sebelum kamu menceraikan wanita ****** itu."

__ADS_1


"Fiana kita jangan bahas ini dulu oke." Bujuk Andreas. 


"Aku maunya bahas ini." Sergah Fiana. Sungguh, wanita ini membuat Andreas naik darah. Namun dia tetap sabar menghadapi Fiana. 


"Sudah ya ayo kita check up sudah jam delapan nih." 


****


"Aku nunggu kalian di cafe seberang ya. Kabarin kalau sudah akan pulang." Ucap Haris dengan menyandarkan kepalanya pada jendela mobil miliknya. 


"Oh nggak perlu kak. Kami nggak tahu akan pulang jam berapa Lagian kak Haris baru saja pulang kerja kan, lebih baik kakak pulang untuk istirahat." Tolak Citra. 


"Ya, dengerin tuh kata citra lagian kita juga punya aplikasi taksi online disini." Tambah Joice menunjukkan ponselnya. 


Haris menghela nafas, "Ya sudah kalau itu mau kalian. Yang penting kalian bisa jaga diri, terutama kamu Citra." Haris menatap Citra. 


"Iya kak Haris tenang saja." Citra mengulas senyum. 


"Oh ya.." Haris mengambil sesuatu di dalam mobilnya, "Citra pakai ini!" Haris memberikan sebuah masker berwarna hitam kepada Citra, "Aku balik dulu ya!" Ucapnya kemudian. 


Tinn!!!


Haris membunyikan klakson mobilnya tanda perpisahan. 


"Sialan!" Joice memandang ke arah mobil Hari yang menjauh dari mereka, "Nggak pamit sama gue tuh orang."


"Mungkin dia lupa kali joice." Jawab Citra. 


"Huh.. Nggak penting juga lagian. Ayok Cit! Apa kamu mau nunggu di mana? Tapi jangan jauh jauh ya dari aku." Pinta Joice. 


"Aku ikut nunggu di ruang tunggu aja. Tapi aku ke toilet dulu ya udah nggak tahan dari tadi."


"Duh Citra.. aku tuh sebenernya nggak enak biarin kamu nunggu di rumah sakit kayak gini, mana kamu lagi hamil lagi." Ucap Joice. 


"Nggak papa Joice. Aku kan yang minta."


Joice mengangguk mengerti, "Ya udah Aku ke IGD ya! Kamu jangan jauh jauh dari aku." Joice memakai jas putih khas dokternya. 


Citra menjawab dengan anggukan."


"Huhh dimana lagi toiletnya." Citra melihat sekeliling mengamati tempat seluruh sudut dia berdiri, "Disana kali ya?"


Citra berlari kecil untuk mencari toilet terdekat. 


"Sudah dong.. Please jangan ngambek terus!"


Samar samar Citra mendengar suara lelaki dan juga tangisan seorang wanita. Citra lumayan familiar dengan suara itu sehingga dia mengintip dari balik dinding untuk mencari tahu asal suara itu. 


Citra terpaku dengan yang dia lihat. 


******

__ADS_1


__ADS_2