Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 14


__ADS_3

"Kak Andre?" Bisik Candra lirih.


Andreas dengan derap langkah kakinya yang mantap melaju menghampiri segerombol orang itu. Wajahnya nampak penuh kemarahan mendengar perkataan yang barusan diutarakan bu Asih. Dia berhenti tepat di hadapan bu Asih.


"Bagaimana anda bisa memikirkan hal semacam itu?" Ketus Andre menggertakkan sederet gigi gigi putihnya menatap bu Asih dengan tajam.


"Andre, Turunkan nada bicara kamu! " Seru bu Arum. Andre hanya menatap sekilas pada bu Arum. Dia mengusap wajahnya yang gusar berusaha meredam emosi.


"Bagaimanapun di dalam tubuh wanita itu terdapat calon anak saya!! Saya tidak akan biarkan siapapun mengambil alih keputusan untuk anak itu! " Ucap Andre dengan dingin.


"Akhirnya kamu mengakui kalau itu anak kamu?" Sindir bu Arum yang secara tidak langsung merasa lega dengan ucapan Andre. Dengan ini berarti benar jika Andrelah yang harus bertanggung jawab untuk janin dalam tubuh Citra.


Andre mendengus sebal. Sebenarnya dia malas untuk berdebat dengan bu Arum. Terlebih lagi dalam keadaan genting seperti saat ini. Memang kepribadian dua pasang ibu dan anak ini amat bertolak belakang, sehingga amatlah sulit untuk menyatukan pendapat mereka.


"Begitu wanita itu sadar, saya akan langsung melakukan akad !! Kita lakukan disini juga! " Ucap Andre dengan tegas. Dia tidak akan membiarkan siapapun menghilangkan janin dalam tubuh wanita itu, terlebih lagi Citra yang sepertinya belum bisa menerima kehadiran janin yang dikandungnya.


Bu Asih tak berkomentar apapun. Di dalam pikirannya kini hanya ada anaknya yang tengah tergeletak di dalam ruangan sana.


Apapun yang Andre katakan saat ini semuanya tidaklah dia hiraukan.


"Keluarga Nona Citra?" Seorang dokter tampak keluar dari ruang ICU.


"Ya.. saya! "Jawab bu Asih.


Bu Asih dengan tergesa gesa berjalan menuju dokter itu. Rok panjang yang dia kenakan hampir saja tersangkut pada pijakan kursi.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya! Saat ini kondisinya sudah cukup stabil.." Jelas dokter itu.


Bu Asih membuang nafas dengan lega. Dia bersyukur hal yang dia sangat takutkan tidaklah terjadi. Tuhan masih memberi kesempatan baginya untuk menebus segala kesalahannya kepada Citra.


"Alhamdulillah.. Apa saya sudah bisa melihat anak saya dokter?" Tanya bu Asih.


"Ohh tentu.. Sudah bisa dijenguk! Tapi jangan terlalu mengganggu pasien!" Tambah dokter.


"Silahkan!" Kata dokter itu sambil membuka pintu ruangan di belakangnya. Dia mengangguk menyapa keluarga yang menunggui Citra di lorong, kemudian dia berlalu.


Bu Arum mengejar langkah dokter yang erlalu dengan cepat.


"Dokter..!" Panggil wanita paruh baya bermake up tegas itu.

__ADS_1


"Iya..!" Dokter berhenti dan membalikkan badannya.


"Bagaimana keadaan janin dalam kandungannya?"


"Ohh janin bu Citra?" Bu Arum menganggunk pelan.


"Syukurlah janinnya baik baik saja bu! Untung secepatnya dibawa ke UGD, jika tidak.."


"Saya nggak tahu kemungkinan apa yang akan terjadi.." Lanjut dokter.


"Ohh.. Syukurlah.." Bu Arum bernafas lega.


"Oh ya dokter, saya minta pasien atas nama Citra itu dipindahkan di ruqng VIP ya.." Pinta bu Arum.


Dokter mengangguk mengerti.


"Tentu bu, nanti saya bilang perawat ya !!"


"Terimakasih dokter, saya permisi!" Bu Arum undur diri dengan langkah gontai.


_____


"Hallo Di? Tolong urus pernikahan siri untuk saya hari ini juga !" Ucapnya dengan mantap.


"Hari ini Pak??" Keluh Didi, asisten pribadi Andreas yang hari ini sedang izin untuk bercuti. Firasatnya sudah tidak mengenakkan, hari ini dia pasti akan kerja keras.


"Kenapa kamu tidak sanggup!" Tanya Andreas tersirat nada ancaman di dalamnya.


"Oh sanggup Pak, sanggup!" Jawab Didi dengan cepat, dia tidak akan pernah melawan tuannya itu atau dia akan kehilangan pekerjaan yang gajinya cukup menjanjikan ini.


Tut tut tut..


Andreas tanpa basa basi mematikan panggilannya. Didi mengacak acak rambutnya dan bangun dari tidur malasnya .


"Padahal hari ini cuti !! Arrggh.." Geramnya.


Dia segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk bersiap siap melakukan perintah tuannya.


_____

__ADS_1


"Andre kemana sih? Bukannya lihat Citra, malah kabur! " Omel bu Arum mengedarkan pandangan ke setiap sudut untuk mencari keberadaan anak lelakinya.


"Ketemu bun?" Kejut Candra dari belakang. Dia juga sudah mencari ke setiap sudut rumah sakit tapi tidak menemukan keberadaan kakaknya.


Ketidak adaan Andreas membuat mereka berdua berpikir jika Andreas mencoba kabur dari tanggung jawab. Namun jika dipikir lagi Andreas bukanlah orang semacam itu yang dengan mudah mengingkari janjinya.


"Belum.. Coba kamu hubungi ponselnya!" Pinta bu Arum.


"Udah bun, tapi ngga di angkat! "Jelas Candra.


"Ya sudahlah, kita lihat keadaan Citra dulu saja! Mungkin ibunya sudah selesai." Ajak bu Arum.


Mereka berdua berjalan beriringan ke ruangan dimana Citra dirawat. Sebelumnya Citra sudah dipindahkan diruang rawat biasa. Kamar VIP yang bu Arum pesan merupakan ruangan pasien mewah yang belum pernah Citra lihat sebelumnya bahkan selama dia bekerja sebagai perawat.


____


Citra duduk di sandaran ranjang rumah sakit itu. Rambutnya yang berantakan tengah disisir oleh adiknya yang bermuka jutek tapi melankolis. Sementara mulutnya tengah mengunyah makanan yang tengah bu Asih suapkan dari mangkuk kecil berisi sayur mayur dan sedikit nasi. Semua yang berada diruangan sangat bersyukur melihat kondisinya yang berangsur semakin membaik.


Bu Arum mengetuk pintu dengan pelan dan menyunggingkan senyum kecil. Di tangan kanannya sekeranjang buah tengah dia tenteng yang entah darimana dia mendapatkannya. Dia berjalan pelan kearah Citra. Bu Asih segera berdiri memposisikan diri. Bu Asih mengedarkan pandangannya seakan mencari sesuatu yang sudah pasti itu Andreas.


"Sudah baikan?" Tanya bu Arum. Citra mengangguk pelan.


"Syukurlah.. Ibu minta maaf ya atas apa yang sudah kamu alami.." Sesal bu Arum. Citra menggigit bibirnya namun tetap mengangguk mengiyakan permintaan maaf bu Arum.


"Kamu jangan khawatir.. Ibu akan bertanggung jawab atas perbuatan tidak mengenakkan yang sudah anak ibu perbuat pada kamu.." Citra hanya terdiam.


Sebenarnya bukan ini yang dia harapkan, namun disisi lain dia memang butuh keadilan bukan? Lalu yang dimaksud bertanggung jawab apakah setelah ini Andreas akan menikahinya? Pikiran itu terus berkecamuk di dalam pikiran Citra.


"Kamu bersedia kan menikah dengan Andreas, anak ibu?" Tanya bu Arum meminta kepastian. Benar saja ternyata dugaannya benar. Citra belum berani menjawab, dia masih ragu dengan pernikahan yang dimaksud bu Arum.


"Dia harus bersedia, dia mengandung anakku! "


Suara familiar ditelinga Citra terdengar dengan nyaring memasuki ruangan dimana dia dirawat. Wajahnya yang rupawan dengan rahangnya yang tegas menatap Citra dengan tajam. Dia memakai setelan jas hitam yang rapih menambah kegagahannya di hari itu.


Dia tidak sendiri. Dibelakangnya ada dua orang lelaki. Salah satunya adalah om Bayu, dan satu lagi seorang lelaki paruh baya memakai sorban dan kopyah. Dari penampilannya sepertinya beliau seorang penghulu.


Citra tercekat, apakah pernikahan yang dimaksud akan berlangsung saat ini juga? Ditempat ini?


_____

__ADS_1


__ADS_2