
Din din..
Suara klakson mobil berbunyi begitu kencang dari luar pagar. Entah siapa yang berulah di malam hari begini. Citra dengan malas memakai sandalnya dan mengintip dari balkon atas. Sebuah mobil jazz berwarna silver terparkir di depan pagar rumah Andreas. Jadi pemilik mobil itu yang dari tadi membunyikan klakson dengan tidak sabar.
Citra menuruni tangga dengan cepat dan bergegas membuka pagar. Entah kemana perginya Andreas malam malam begini sehingga membuat istrinya yang baru saja dinikahi ditinggal seorang diri.
Dinn dinn..
Suara klakson kembali berbunyi. Sepertinya keadaan sangat mendesak sehingga orang didalam mobil itu tidak sabar.
Mobil memasuki rumah Andreas dan terparkir di halaman rumahnya yang tidak terlalu besar. Citra kembali menutup pintu pagar yang tadi dia buka.
Saat membalikkan badan hendak masuk kembali ke dalam rumah Citra begitu terkejut melihat lelaki yang turun dari mobil itu. Si lelaki tak kalah kaget, wajahnya pucat seakan tak ada aliran darah pada tubuhnya.
"B.. Bi? Kamu?" Pekik lelaki itu seakan tak percaya siapa yang dia lihat di hadapannya.
Citra terpaku, mulutnya tak dapat berkata lagi. Lelaki di hadapannya adalah manusia yang mati matian dia hindari selama ini, Haris.
Lelaki gagah berjambang itu pun dengan cepat mendekati wanita dihadapannya. Tangan kekarnya menangkup kedua pipi Citra.
"Bagaimana bisa? Bi.. Kamu nggak mau jelasin sama aku?" Ucap Haris dengan suara sumbang.
Pikiran Haris sudah kemana mana. Jika ada wanita dirumah Andreas sudah tidak perlu ditanya lagi, sudah pasti dia adalah istri adiknya itu karena selama ini tidak ada satu orang wanita pun yang pernah diajak Andreas ke rumah itu. Berkali kali Haris menggertakkan giginya menahan amarah.
Citra bingung tak tahu harus menjawab apa. Dia Pun bingung,bagaimana bisa Haris mengetahui keberadaannya di rumah itu. Sedangkan ibunya saja belum dia beri tahu.
"Bii… " Haris menatapnya dengan tajam. Matanya memerah entah menahan tangis atau amarah.
"A.. Aku.. "
"Sedang apa kalian?" Suara menggelegar Andreas mengejutkan mereka. Andreas menatap istri dan abangnya bergantian. Tangannya yang menenteng plastik berisi sayur dia geletakkan begitu saja di sebelahnya.
Haris segera melepaskan tangannya dari wajah Citra. Dan dengan nafas memburu menghampiri adiknya yang tengah berdiri mematung di hadapannya.
"Bagus lo disini.. Ikut gue!" Pinta Haris dengan gusar.
Andreas bingung hal apa yang membuat abangnya begitu emosi padahal beberapa jam yang lalu suaranya masih terdengar baik baik saja. Dengan isyarat menggerakkan dagunya ke arah rumah dia menyuruh Citra untuk segera masuk ke dalam.
Haris masih berjalan entah kemana tujuannya dengan Andreas yang mengikutinya di belakang. Hingga dia berhenti di sebuah danau kecil yang tak begitu jauh dari rumah Andreas.
"Kenapa bang?" Tanya Andreas memastikan.
"Sini lo!" Pinta Haris. Andreas tanpa ragu mendekati abangnya yang terus menatapnya dengan kebencian.
BUGH! !
Sebuah bogem mentah mendarat dengan cepat di perut Andreas. Pastinya itu sakit karena Andreas langsung memegang bekas bogemannya.
"Bang? Apa apaan lo?" Protes Andreas yang kesakitan.
"Lo pikir itu cukup?"
"Bang.." Protes Andreas.
BUGH.. BUGH..
"Sialan lo! Br***se*!!" Haris terus memukuli Andreas dengan membabi buta.
"Lo tau nggak siapa yang lo buntingin? Cewek gue sialan! Arghhh.. " Haris berteriak dan mengacak rambutnya dengan kasar.
Andreas yang hendak menangkis serangan abangnya terkejut membelalakkan matanya. Pantas saja dari tadi pandangan Haris kepadanya sangat tidak bersahabat . Dia sungguh tidak menduga masalahnya akan sepelik ini.
"Atas dasar apa lo ngancurin dia hah!" Teriak Haris dengan kencang.
"Bang.. Tenang dulu! Gue bisa jelasin."
Haris membuang muka dari Andreas dan memilih duduk di tepi danau untuk menenangkan diri.
"Bang.. Lo tau nggak siapa Citra itu? Dia yang udah bikin adik lo Puspita bunuh diri bang.. "
"Hah?? Jadi lo masih mikir Pita bunuh diri? Lo bener bener ya! Bahkan polisi aja masih nyelidikin kasus ini, lo dengan gegabahnya mutusin hal konyol kayak gitu.. Dan lagi tau dari mana lo Citra yang bikin Pita meninggal?"
"Diary.."
"Diary?" Haris mengangkat sebelah alisnya.
"Gue ragu, lo bener adiknya Pita bukan sih? Sejak kapan Pita main benda macam diary begitu? Gue kira lo lebih kenal dia dibanding gue.. Taunya.. " Cibir Haris yang mendengus kesal memandang air yang tenang di danau.
Andreas tersentak oleh ucapan haris. Benar juga, selama ini dia memang belum melihat secara langsung Puspita menulis diary. Namun tulisan tangan diary itu benar benar sama persis dengan tulisan tangan Puspita.
"Lo bener bener nggak berubah.. Masih seenaknya ngambil keputusan sendiri! " Desis Haris.
"Urusan lo sama gue belum kelar.. " Haris bangkit dari duduknya.
"Bang.. Maafin gue!" lirih Andreas yang nyaris tidak terdengar oleh Haris yang beranjak pergi meninggalkannya. Penampilan Haris sudah tak karuan saat itu. Muka merah padam yang penuh kebencian tak bisa dia sembunyikan.
****
Andreas membuka pintu pagar rumahnya dengan pelan. Diamatinya sekeliling, mobil abangnya sudah tidak ada di halaman berarti dia sudah pergi dari rumah Andreas.
Dengan langkah memburu dia masuk ke dalam rumah. Entah mengapa setelah tau hubungan Haris dan Citra dia merasa tidak nyaman. Dia berlari menaiki tangga dan langkahnya terhenti di depan kamar Citra. Dari luar lampu kamar wanita itu masih menyala, tandanya mungkin pemilik ruangan belum tidur. Sedikit ragu dia membuka pintu kamar itu dengan pelan tanpa menimbulkan suara.
Citra tengah duduk termenung di tepi jendela. Dia memandang keluar sehingga Andreas hanya dapat menatap punggung dan rambutnya yang indah tergerai.
Dia ingin mendekat wanita itu namun ragu. Egonya berlawanan dengan keinginan. Bukan hanya itu, gengsinya yang besar juga salah satu alasannya mengurungkan niatnya.
"Sedang apa kamu!" Serunya yang masih mematung di depan pintu.
Citra dengan gelagapan menoleh dan menyeka buliran bening di pipinya. Dia mendapati lelaki yang berbadan tinggi itu berdiri di ambang pintu kamarnya. Mata Citra terlihat sembab, Andreas tahu wanita itu pasti habis menangis. Dan Andreas Pun sekarang tahu alasannya menangis yang membuatnya menggertakkan gigi giginya.
"Aku.. Lagi cari angin!" Jawab Citra.
"Cari angin? Masuk angin baru tau rasa kamu! Masak sana aku lapar!" Pinta Andreas. Namun ucapannya lebih merujuk ke perintah .
__ADS_1
Entah mengapa melihat Citra menangisi lelaki lain membuat hatinya gusar. Jadi Andreas menyuruhnya masak juga hanya sekedar alasan agar Citra tidak memikirkan hal hal yang tidak perlu.
"Emm iya.. Kamu mau makan apa? " Tanya Citra dengan suara sumbang.
"Terserah.." Jawab Andreas dengan kasar. Dia kesal mendengar suara yang sedih itu.
Citra tak mau ambil pusing. Dia dengan cepat keluar melewati Andreas yang masih berdiri di depan pintu. Namun dengan cekatan Andreas menahan tangannya.
"Ehh.. Apa?" Citra terhenti, dia terheran dengan perlakuan Andreas. Dia menatap Andreas. Dadanya berdegup kencang. Jika saja tidak ada kulit mungkin jantungnya sudah loncat.
"Aku mau mie kuah pakai sayur yang banyak, telurnya dua." Ucap Andreas.
Citra menepis tangan Andreas yang masih memegang tangannya dengan kesal.
"Ohh aku kira apa.." Dengan terburu buru Citra menuruni tangga dan menuju ruang tempurnya yang berada di lantai bawah.
Andreas masih memandangi istrinya yang menuruni tangga. Sebenarnya bukan itu yang ingin Andreas katakan. Namun lagi lagi ego dan gengsinya menghalanginya.
***
"Sialannn.. Gimana bisa gue kecolongan begini! " Haris meninju stang mobil yang dia kemudikan.
"Arggghhh…" Teriak Haris dengan kesal melampiaskan amarah.
Tak lama dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Hallo.. Rik, atur kedatanganku kembali ke kantor besok!" Ucapnya pada seseorang di ponsel.
"Ya tuhan, tuan muda akan kembali ke kantor pusat?" Bisik suara dari ponsel itu yang masih dapat Haris dengar.
Haris membanting ponselnya ke jok mobil. Pandangannya lurus ke depan penuh penyesalan. Kekecewaan kemarahan kebencian telah meliputi hatinya. Bagaimana bisa wanita yang dia cintai malah ternoda oleh adiknya sendiri. Andai saja dia datang lebih awal mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
*****
"Emm.. Mienya sudah siap!" Ucap Citra pada Andreas yang tengah duduk di ruang kerjanya.
Namun Andreas tak kunjung menjawab perkataan Citra sehingga wanita itu dengan kesal memberanikan diri memasuki ruang kerja Andreas.
Dipandanginya wajah rupawan itu, ternyata matanya terpejam. Entah sejak kapan dia tertidur dengan posisi duduk seperti itu. Andreas tampak begitu pulas membuat Citra tidak tega untuk membangunkannya.
Citra memilih beranjak pergi daripada membangunkan suaminya yang dingin itu. Namun baru selangkah dia beranjak, sebuah tangan menahannya.
"Sejak kapan?" Tanya Andreas dengan suara serak khas nya.
"Apa? Ohh baru saja kok.. Sudah matang, ayok, keburu dingin nanti benyek.. " Ajak Citra yang salah tingkah karena lagi lagi Andreas menyentuh tangannya.
"Bukan.." Ucap Andreas yang membuat Citra tidak mengerti maksudnya.
"Sejak kapan kamu mengenal abangku?" Sorot mata Andreas penuh intimidasi. Abang siapa yang dimaksud Andreas Citra tidak mengerti. Dia bahkan tidak mengetahui secara pasti silsilah keluarga Andreas. Kemarin Puspita itu, sekarang abang yang mana lagi?
"Haris itu abangku.. " Citra ternganga. Dan kini Citra paham ternyata alasan Haris datang kemari dan buru buru pergi karena bukan karena dia mengetahui keberadaan Citra, namun karena dia sedang mengunjungi adiknya. Dunia begitu sempit sampai sampai maslah ini begitu pelik.
"Apa itu penting?" Balas Citra dengan tak kalah dingin.
"Kamu sendiri yang bilang tidak peduli padaku kan.. Lalu ini apa? Alasan kamu apa bicara begitu padaku?"
"Jadi kamu masih ada perasaan pada abangku? " Tanya Andreas dengan kesal. Mengerutkan alis tebalnya.
"Jadi kamu sudah tahu ya.. " Citra kembali tersenyum kecut mencibir suaminya.
"Kalau iya kenapa?" Lanjutnya yang sontak membuat Andreas emosi.
Andreas sudah tidak dapat menahannya. Dengan sigap dia meraih kedua pipi Citra dan menge**p bibir merahnya. Sebuah ciuman penuh dominasi yang tidak pernah Citra duga sebelumnya.
"Mmmhh… " Citra meronta memukul mukul tangan besar Andreas yang sedang secara paksa menangkup pipinya.
Namun usahnya nihil, ciuman Andreas semakin kuat bagaikan lintah yang tak mau melepas mangsanya. Citra tak kehabisan akal, dengan kuat digigitnya bibir bawah suaminya yang bertindak kelewatan itu. Akhirnya Andreas Pun melepaskannya.
"Keterlaluan.." Teriak Citra
"Apa?" Andreas terkekeh kecil membuat istrinya muak. Andreas mengelap bibirnya yang sedikit berdarah dan meninggalkan bekas luka.
"Kamu keterlaluan.." Citra mengulang perkataannya.
"Ohh.. Jadi abangku boleh tapi suamimu tidak? Begitu?" cibir Andreas.
"Apa maksud kamu.."
"Cihh.. Sudah sampai mana hubunganmu dengan Haris hah!"
"Kurang ajar.. Gini ya caramu perlakukan perempuan?? Aku nggak nyangka pikiranmu semesum itu.. Pantas saja kamar mandimu transparan begitu br***se*!" Teriak Citra.
Dengan linangan air mata dia berlari meninggalkan Andreas. Harga dirinya seakan diinjak injak. Selalu saja Andreas merendahkannya. Padahal lelaki itu tahu betul Citra wanita yang bisa menjaga kehormatannya sampai dialah yang merusak masa depannya saat itu.
Rasa lapar yang menyerangpun hilang seketika karena perlakuan tidak mengenakkan dari lelaki itu. Setiap langkah yang dia lalui Citra mengutuki suaminya.
****
"Huh.. Andreas apa yang kamu lakuin!" Andreas mengacak rambutnya dengan kasar. Dia menyesal telah melakukan hal itu kepada Citra. Namun dia sendiri tidak paham bagaimana bisa setiap berdekatan dengan wanita itu dia tidak dapat menahan dirinya. Seperti ada bisikan halus yang memintanya merasakan sensasi dari istri sirinya itu.
"Di.. Tolong cari orang buat selidiki kasus Puspita." Ucap Andreas sambil menekan voice note aplikasi pesannya.
"Saya mau sampai tuntas.. Selidiki juga dimana keberadaan Damar!
****
Citra menyusuri sepanjang jalan beraspal yang dia tapaki sejak keluar dari rumah Andreas. Dia belum tahu hendak kemana, membiarkan kakinya sampai lelah menentukan tujuan. Dia melihat sekeliling jalan yang remang itu ,namun tak terlihat siapapun melewati jalan tersebut. Dia sendiri tidak tahu dimana tepatnya dia sekarang.
Nyalinya mulai menciut. Cardigan creme yang dia kenakan juga tak terlalu mengurangi dinginnya malam yang menusuk tulangnya. Sesekali dia mengusap kedua lengannya yang terbungkus kain tidak terlalu tebal itu. Tanpa buang waktu dia meneruskan langkahnya yang sempat terhenti dengan terburu buru dengan air mata yang tak berhenti berlinang. Entah apa yang terjadi akhir akhir ini sehingga dia menjadi secengeng ini.
"Waw.. Lihat ada wanita cantik berjalan sendiri malam malam begini! Mau kemana cantik? Mau nggak abang temenin?" Ucap seorang pria kekar berwajah kasar yang tiba tiba muncul di hadapannya. Pakaiannya yang sembrono dengan celana jeans sobek di bagian lutut seakan menunjukkan dia bukan orang yang baik.
Bulu kuduk Citra meremang. Dia mengutuki keputusannnya dengan penuh penyesalan yang telah ceroboh memilih keluar rumah di waktu yang tidak tepat. Dia tidak memperhitungkan akan bertemu bahaya semacam ini sebelumnya.
__ADS_1
"Aduh cantik jangan takut! Abang nggak akan menyakitimu.. Hehe kita bersenang senang ya!" Ucap pria itu dengan seringainya yang menyeramkan.
Mendengar perkataan itu membuat nyali Citra semakin menciut. Tanpa pikir panjang dia segera berlari. Namun sepertinya keputusannya telat karena saat ini lengannya telah dicekal oleh pria menyeramkan itu.
"Cantik mau kemana? Lebih baik nurut ya! Jangan buat abang marah .." Pria itu mencengkram kedua lengan Citra dengan kuat.
Citra meronta dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari pria itu, namun sepertinya usahanya sia sia. Dengan tubuhnya yang mungil sudah pasti dia tidak dapat melawan pria dengan postur tubuh yang kekar berotot itu.
"Lepaskan aku.. Tolong.. Tolong!" Teriak Citra.
"Diam lo! Berisik, jangan buat gue kesal ya.. Kalau lo teriak lagi jangan salahin gue kalau… "
BUGH
Ucapan pria itu terpotong karena seseorang telah menendang kepalanya sehingga dia jatuh tersungkur ke tanah. Melihat kesempatan itu Citra segera menjauh dari si pria menyeramkan.
"Kalau apa?" Tanya seorang wanita berkemeja hitam dengan senyumnya yang mencibir. Sulit dipercaya jika wanita itu bisa merobohkan lelaki kekar yang saat ini tengah memegangi kepalanya itu. Wanita itu tidak lebih tinggi dari Citra. Badannya juga langsing dan wajahnya pun cukup imut. Jika tidak menyaksikan secara langsung mungkin Citra juga tidak akan percaya.
"Siapa lo? Ngapain lo ikut campur!" Gertak pria yang kini berusaha bangkit dari tanah itu.
"Haha.. Gue nggak heran sih, jaman sekarang emang banyak pria sampah penjahat kelamin macam lo.." Seringai wanita itu berkacak pinggang dengan berani.
"Songong banget lo ya.. Lo pikir anak kecil kaya lo bisa ngelawan gue.." Ucap pria itu yang kini tengah mencengkram kerah wanita yang melawannya tadi.
BUGH.. BUGH..
Tanpa basa basi wanita itu menyundul kepala pria ituberkali kali dan menendang alat tempurnya dengan kencang. Pria itu terlihat kesakitan. Wanita itu tak membuang kesempatannya dengan cepat dia meninju perut pria itu bertubi tubi dan terakhir menendang mukanya sambil ancang ancang sebanyak dua kali. Pria itu pun jatuh terkapar tak berdaya dengan banyak luka di wajahnya.
"Rasain lo.. Masih sok jago?" Gertak wanita itu. Kali ini dia bertanya dengan wajah yang dingin serta tatapan penuh aura membunuh.
"A.. Ampun bos ampun.." Ucap lelaki itu dengan terbata menahan kesakitan yang di deritanya.
"Pergi lo.. Jangan sampai gue lihat muka lo lagi!" Ancam wanita itu.
Tanpa buang waktu pria itu segera lari dengan cepat sampai berkali kali dia terjatuh.
"Pergi yang jauhh.." Teriak wanita itu.
Citra bernafas lega. Bahaya yang mengancamnya telah berlalu. Dia tak dapat membayangkan jika wanita itu tidak datang entah apa yang sudah terjadi kepadanya.
"Lo nggak papa?" Wanita itu mengecek keadaan Citra yang tengah berdiri dengan tubuh yang menggigil ketakutan.
"Ma..Makasih.." Jawab Citra terbata sambil merapatkan cardigannya.
"It's Ok! Gue Joice.. Lo??" Wanita itu menepuk pundak Citra dengan bersahabat.
"Citra.. Aku Citra!"
"Lain kali jangan keluar sendirian malam malam gini, daerah sini rawan tau! Apalagi lo lagi hamil gini. Lo mau kemana biar gue anter!" Tawar wanita yang ternyata bernama Joice itu. Tentu saja ucapannya membuat Citra terkejut. Bagaimana bisa Joice mengetahuinya hamil bahkan saat mereka baru saja bertemu.
"Darimana kamu tahu aku hamil?" Tanya Citra dengan penasaran.
"Ahh itu nggak penting.. Ngomong ngomong mana suami lo? Bisa bisanya dia biarin istrinya yang lagi hamil berkeliaran sendirian di tempat kayak gini.." Kata Joice yang tiba tiba berdecak kesal.
"Aku.. Emm.."
"Bi.. Kamu ngapain lagi ngapain disini?" Belum sempat Citra menjawab seorang pria yang dengan langkah memburu berjalan ke arah Citra.
Perlahan pria itu mulai mendekat, namun sepertinya tidak mendapatkan sambutan dari Citra karena dengan cepat dia berbalik badan dan memunggungi pria itu.
"Beby.. Kamu kenapa sih?" Pria itu semakin mendekati Citra namun tangannya segera dicekal dengan kuat oleh Joice.
"Berhenti!" Desis Joice dan membawa Citra dibelakang tubuhnya.
Pria itu adalah Haris, dia pun kembali ke posisinya lalu menatap Joice dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Lo siapa? Ngapain ikut campur!" Tanya Haris dengan sinis.
"Gue siapa itu nggak penting. Yang penting lo harus tau istri lo ini hampir celaka! Lo bajingan macam apa sih yang ngebiarin istri lo keluar sendirian malam malam begini di tempat kayak gini.. "
"Apa?? Bi.. Apa itu benar? Kamu hampir celaka? Apa ada yang terluka?" Tanya Haris dengan wajah yang cemas.
"Nggak ada.. Masih untung ada gue kalau enggak gue nggak tau kayak mana nih istri lo jadinya.." Selak Joice dengan nada mengejek.
"Gue nggak nanya lo.." Ketus Haris.
"Oke oke.. Sekarang lo bawa istri lo pulang! Ingat lo harus jaga dia dengan baik! Udah tau istri lo lagi hamil gini malah dibiarin keluar malam malam ditempat begini lagi."
"Nggak usah lo suruh juga bakal gue bawa pulang.. " Ucap Haris dengan kasar. Sepertinya dia tidak terlalu menyukai Joice yang telah salah mengira bahwa Haris adalah suami Citra.
"Bi.. Ayo!"
Citra menggeleng pelan. Dia memilih menggandeng tangan Joice seakan butuh perlindungan.
"Joice aku nggak mau pulang sama dia." Ucap Citra memohon.
Joice mengernyitkan keningnya karena heran dengan tingkah wanita itu. Walaupun tidak pulang bersama bukankah mereka akan bertemu juga dirumah nanti pikir Joice. Namun mungkin Citra punya alasan tersendiri sehingga Joice mengangguk menyetujui permintaan Citra.
"Makanya jadi laki yang peka dikit napa. Masa istri sampai nggak mau pulang bareng gini, kalau gue sih malulah ya..." Cibir Joice yang membuat Haris kesal.
"Bi.. Kamu mau pergi sama orang asing ini?" Bahkan dia ini kamu pasti baru kamu kenal kan?" Ucap Haris yang kecewa karena Citra malah memilih bersama Joice.
"Dia bukan orang asing kak.. Dia temanku, dia yang nolongin aku.." Jawab Citra yang sedari tadi enggan menatap Haris. Rasa bersalahnya kepada pria itu sungguh besar sehingga hanya menatapnya pun dia tak mampu.
"Udah denger kan! Minggir lo!" Joice mendorong pundak Haris dan menggandeng Citra dibelakangnya. Mereka meninggalkan Haris yang tak berani mendekat ke Citra karena penolakan wanita itu.
Joice membonceng Citra di motor sport 250ccnya. Dengan gagahnya seorang gadis mungil mengenakan jaket tebal berwarna hitam dan menutupi wajah imutnya dengan helm full face. Joice pun melajukan motornya sebelum dia melirik Haris yang tengah memandangi mereka dari kejauhan.
Haris mengepalkan tangannya. Dia sungguh kecewa, dia marah dia kesal karena keadaan seakan mempermainkannya. Dia memejamkan matanya, perlahan buliran bening yang jarang keluar dari pelupuk mata indah itu mengalir begitu saja. Dia mengeraskan rahangnya dan membuka matanya. Dia berjalan dengan dengan langkah yang memburu menuju mobilnya. Dengan keras dia membanting pintu mobilnya, mengambil kemudi dan melajukannya ke suatu tempat. Tidak salah lagi, rumah Andreas adalah tujuan pastinya.
*******
__ADS_1