Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 25


__ADS_3

"Sayang.. " Suara nyaring yang memenuhi ruangan itu, Andreas sudah dapat menebak siapa pemiliknya. 


"Aku bawain kamu bekal nih buat nanti siang.. " Andreas melirik sekilas pada wanita itu kemudian kembali berkutat dengan laptopnya. 


"Kamu kenapa sih?" Wanita itu mulai kesal dan menggebrak meja Andreas. 


"Apanya?" Andreas balik bertanya tanpa bergeming dari posisinya. 


"Kamu berubah banget.. Pasti ada yang kamu sembunyikan dari aku." 


Andreas menghentikan aktivitasnya dan mulai memandang wanita itu. Matanya sudah berkaca kaca siap menumpahkan anakan sungai di pelupuk mata. 


"Sorry.. Aku lagi banyak kerjaan, bukannya apa apa." Ucap Andreas kemudian menghentikan pekerjaannya. 


"Ada apa ndre? Aku tahu kamu lagi sembunyiin sesuatu dari aku. Tolong jujur sebenarnya ada apa?"


"Nggak papa. Aku lagi banyak masalah kerjaan akhir akhir ini. Kamu jangan terlalu banyak mikir."


"Beneran kan? Kamu nggak lagi bohong kan?"


"Iya aku beneran."


"Kalau gitu kita makan bekal yang aku bawain ya. Ini aku sendiri yang buat." Fiana dengan antusias membuka bungkusan yang terletak di atas meja lalu dengan cekatan menyajikannya di sebuah kotak bekal.


"Ayo buka mulutmu." Pinta Fiana sambil menyuap sesendok nasi dan memposisikannya di depan mulut Andreas. Akhirnya dengan malas Andreas membuka mulutnya diiringi senyum puas dari Fiana. 


*****


Citra meremas kancing baju atasnya, dia tak bergeming melihat pemandangan di depan matanya. Apa ini? Apa yang dia lakukan? Perasaannya campur aduk. Suaminya tengah disuapi dengan mesra oleh seorang wanita, dan dia kenal betul siapa wanita itu. 


Hatinya hancur. Dia meremas dengan kencang tote bag yang dia tenteng lalu berbalik badan meninggalkan ruangan itu. Dia sadar, tidak seharusnya dia memilkki perasaan lebih kepada Andreas. Tapi melihat semua ini membuat dadanya sesak. 


Masih dengan mengusap air matanya dia berlari kecil menuju lobby kantor. Dia ingin cepat cepat meninggalkan tempat itu. Namun karena kecerobohannya dia menabrak seseorang sehingga dia terjatuh. 


"Hey! Kamu nggak papa?" Sapa lelaki itu yang kini membantunya berdiri. 


Citra mengenal betul suara itu lalu mendongakkan kepalanya. Benar saja, dia adalah lelaki yang selalu ingin dia hindari. 


"Nggak papa." Citra menepis tangan Haris, menolaknya untuk menyentuh dan berusaha untuk berdiri sendiri. 


"Ahh.." Sesuatu yang sangat sakit tiba tiba menyerang bagian perutnya. 


"Ada apa?" Dengan raut muka yang sangat cemas Haris kembali mendekatinya. 

__ADS_1


Citra menggeleng namun tak kunjung berdiri dan menggigit bibir bawahnya seakan menahan sesuatu. Haris yang menyadari tak tinggal diam, tanpa persetujuan dia menggendong Citra dalam pelukannya.


"Kak jangan! Turunkan aku! Aku nggak mau bikin orang salah paham." Ucap Citra dengan sedikit meronta. 


Haris tak menggubris ucapan gadis itu, dia menganggapnya bagaikan angin lalu. Apa pendapat orang lebih penting daripada kondisinya sekarang pikirnya. 


Seorang lelaki berkacamata mengejar mereka. "Anda mau kemana presdir? Ada rapat yang harus.."


"Diam!" Haris menggertak dengan suara yang keras hingga membuat Citra terkejut. 


Apa benar ini adalah Haris, lelaki lembut yang dia kenal selama ini? Batinnya. 


*****


"Kamu nggak pulang?" Andreas melirik Fiana yang sedang memainkan ponselnya di sofa ruang kerja Andreas. 


Fiana berhenti melakukan aktifitasnya dan memandang Andreas sambil memasang wajah manjanya. 


"Buru buru ngusir aku mau ngapain sih? Jangan jangan lagi mau ketemu wanita lain." Ucap Fiana. 


"Huk.." Andreas tersedak mendengar ucapan menohok gadis di ruangannya itu. 


Benar memang rasanya dia ingin menemui wanita lain. Wanita yang seharusnya tidak dia pikirkan sekalipun dalam mimpinya. Padahal kekasih yang menemaninya selama beberapa tahun telah ada di depan mata, namun mengapa rasanya begitu hambar. 


"Ahh ngomong apa sih?" Andre berkilah. 


"Terus kenapa kamu batuk batuk pas aku ngomong gitu?" Tanya Fiana penuh curiga.


"Batuk ya batuk aja, nggak ada hubungannya sama perkataan konyol kamu."


"Iiihhh… Bikin badmood aja! Udahlah aku mau pergi aja. Sikap kamu bikin mood ancur tau nggak!" Fiana menggembungkan pipinya dengan mulut yang mengerucut seakan menunjukkan dia sedang tidak baik baik saja. 


"Ya udah hati hati." Jawab Andreas dengan santai. Memang dari tadi dia menginginkan wanita itu pergi. 3 jam bersama dalam satu ruangan, bagaikan diawasi pengawas saat melakukan ujian. 


"Andre...!" Wanita itu tidak melanjutkan perkataannya dan beranjak dari ruangan Andreas sambil membanting pintu dengan keras. 


"Hahhh.. Akhirnya! " Seru Andreas lega. 


"Permisi direktur. Ini ada titipan dari seorang wanita tadi?" Joana, sekretaris Andreas menunjukkan tote bag di tangannya dan meletakkannya di hadapan Andreas.


Andreas mengamati totebag itu, dia mengenalinya dan segera menghentikan aktivitasnya. 


"Dimana dia sekarang?" Tanya Andreas. 

__ADS_1


"Ya?" Tanya Joana memastikan. 


"Dimana wanita yang mengantar totebag ini?"


"Ohh.. Dia sudah pergi sekitar tiga jam yang lalu direktur."


"Tiga jam? Apa dia melihat Fiana ada di ruangan saya? "


"Masalah itu saya kurang direktur."


"Hahhh.." Andreas menghela nafas. "Ya sudah kamu boleh pergi."


"Baik direktur, permisi." Ucap Joana dengan sopan. 


*****


"Kak.. Aku beneran udah baik baik aja. Kakak bisa tinggalin aku sendiri disini." Citra melirik lelaki yang tengah berdiri disampingnya. 


"Segitu nggak sukanya ya kamu sama aku." Ucap lelaki itu dengan nada penuh kecewa. Siapapun yang mendengar pasti akan tahu lelaki itu tengah terluka hatinya. 


"Kak, bukan begitu.. Masalahnya aku ini istri orang, aku nggak bisa berduaan sama lelaki lain diruangan yang sama. " Citra masih tak berani menatap lawan bicaranya. 


"Ohh.. Kebetulan kamu ngingetin aku, bajingan itu pasti yang udah bikin kamu nangis. Dan bahkan dia nggak tahu keadaan kamu sekarang. Aku bakal buat perhitungan sama dia." Raut wajah Haris berubah drastis. 


"Kakk.. Apa yang kakak bicarakan? Kakak mau melakukan apa? Jangan melakukan hal yang menyakiti orang lain."


Wajah Haris semakin masam mendengar ucapan Citra yang membuat telinganya semakin panas. 


"Menyakiti orang lain atau menyakiti orang tercintamu? Kenapa? Kamu begitu khawatir ya sama suamimu itu? Begitu ingin melindunginya? Tenang saja dia nggak bakal mati hanya dengan aku hajar."


Citra membelalakkan matanya. Dia sungguh tak percaya lelaki yang tengah berdiri disampingnya dan orag yang telah bersamanya selama beberapa tahun adalah orang yang sama . Ini sama sekali bukan dia yang dulu. Apakah ini sifat aslinya dan yang lalu dia hanya berpura pura lembut. 


"Kenapa diam saja? Biasanya kamu begitu cerewet."


"Sudah cukup. Tinggalkan saya sendiri." Ucap Citra dengan dingin. 


Haris yang heran dengan perubahan sikap Citra yang sejak tadi bertanya. Mengapa wanita ini menjadi begitu dingin pikirnya. Terlebih mengucap kata saya yang seakan menunjukkan mereka tidak begitu dekat. 


Haris mengambil selimut yang terletak diatas meja lalu menyelimuti Citra yang tengah berbaring dengan telaten. Sisi lembutnya memang masih ada walaupun dia berusaha menutupinya. Namun hal ini malah membuat Citra semakin tak enak hati padanya. 


"Lain kali berhati hatilah. Dan berhenti membuat aku khawatir!" Ucap Haris seraya meninggalkan Citra tanpa tatapan penuh cinta seperti dulu. 


 

__ADS_1


Citra terdiam, tanpa sadar air mata telah menetes membasahi pipinya yang mulus. 


__ADS_2