
Andreas masih meringkuk pada stang mobil miliknya. Pikirannya sungguh kacau. Sungguh dia sangat geram pada dirinya sendiri. Andai saja saat itu dia tidak melakukan kesalahan itu mungkin hari ini Fiana tidak akan tersakiti seperti saat ini.
Ponselnya yang berdering membuyarkan segala pikirannya yang kalut.
"Hallo Di?" Dengan melas dia menyapa si penelpon.
"Oh ya kamu sudah temukan Damar?" Tanyanya berantusias menengar kabar dari penelpon itu.
"Baik tunggu. Tapi dengar ya, saya mau dia tetap hidup."
Andreas segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.
*****
Serang lelaki paruh baya dengan tangan terikat terlihat lemah saat matanya terpejam bersandar pada sebuah kursi.
Andreas menendang kursi itu dengan satu kakinya.
"Sudah lama tak berjumpa kakak iparku. " Sapa Andreas dengan seringainya yang menakutkan.
Lelaki itu membuka matanya dan mendapati seseorang yang dia kenal tengah berdiri di hadapannya.
"Andreas? Seru lelaki itu tak percaya, "Kenapa kamu melakukan ini pada saya? Belum puas kamu lihat saya menderita?"
"Saya tidak akan pernah puas." Geram Andreas.
"Kamu sangat kejam." Ujar lelaki itu, "Kamu nggak ada bedanya dengan wanita itu. Memang pantas kalian bersama." Lelaki itu berkata setengah berbisik.
"Wanita siapa yang kamu maksud Damar!!" Bentak Andreas.
Damar enggan menjawabnya dan memilih diam. Hal itu membuat Andreas naik pitam.
"Katakan! Siapa wanita yang kamu maksud?" Andreas kembali bertanya.
"Cihhh... Tak sudi aku memberi tahunya padamu." Jawab Damar meledek.
"Kamu mau mati atau bicara?!" Ancam Andreas dengan emosinya yang memuncak.
"Lebih baik aku mati agar bisa menyusul istriku." Jawab Damar dengan tenang.
"Hahaha baru sekarang kamu mengaggap kakakku sebagi istri? Selama ini kemana saja kamu?" Sindir Andreas.
"Apa yang kamu katakan? Aku dan kakakmu selalu bersama." Damar seakan kebingungan dengan perkataan Andreas, "Ohh.. Apa jangan jangan kamu mengira saya selingkuh?"
"Masih bertanya?" Andreas sungguh tidak bisa bersabar lagi.
"Demi tuhan saya tidak pernah menyentuh wanita lain selain kakakmu." Seru Damar dengan penuh keyakinan.
"Lalu ini?"Andre memperlihatkan sebuah diary ditangannya.
"Apa itu?" Damar mengamati benda di tangan Andreas.
"Tentu saja ini milik Puspita." Jawab Andreas.
"Tapi Puspita tidak pernah punya benda itu" Damar mengamati sebuah foto di sebuah ponsel yang Andreas tunjukkan di tangannya, "Foto itu? Bukannya itu saat penyakit jantung saya kambuh? Gadis itu memapah saya yang tengah kesakitan. Saat itu saya bersama puspita. Dia sedang mengurus pendaftaran. Kenapa kamu bisa punya foto ini. Dan kenapa kamu bisa punya ponsel saya saya yang hilang."
"Jadi kamu mau bilang semua bukti ini palsu?" Bentak Andreas.
__ADS_1
"Terserah kamu mau percaya atau tidak." Jawab Damar tegas.
"Sialann.." Andreas membanting barang di tangannya, "Ada yang sudah membohongiku dan memfitnah gadis yang tidak bersalah." Andreas melangkah keluar dari ruangan dimana dia menculik Damar.
"Siapapun itu. Aku pasti akan menemukannya."
******
"Kurang ajar!
Fiana membanting apapun yang ada di sekitarnya. Dan berteriak dengan frustasi membuat orang di sekitarnya panik.
"Kenapa rencanaku bisa berantakan kayak gini!" Fiana kembali berteriak.
Fiana membuka pintu ruang make up kususnya dan memanggil make up artisnya.
"Jessi panggilin Fika ke ruangan gue sekarang!"
Buru buru Jessi menghampirinya
"Iya kak?" lalu Jessipun berlari mencari Fika, manager Fiana.
Baru saja Fiana duduk di sofanya seorang wanita dengan rambut diikat kuda masuk ke ruangan make up nya.
"Fika lo gimana sih?Lo bilang rencana gue bakal berhasil? Gue pikir si Andreas bakal jeblosin ****** itu kepenjara, taunya malah dikawinin."
"Hahh? Kok bisa sih kak?" Fik sangat terkejut dengan perkataan Fiana, "Jadi Andreas sudah punya istri?"
"Iya. Terus gue harus gimana Fika. Semua ide itu dari lo tolol?" Keluh Fiana.
"Kakak maunya gimana? " Jawab Fika dengan tenang.
Fika tampak berpikir sejenak kemudian dia mendekati Fiana.
"Emmm.. Gini aja kak. Kakak bikin postingan seolah olah dihianati sama andreas. Kakak punya foto berdua sama cewek itu kan?" Tanya Fika, Fiana mengangguk.
Nah kakak bikin seolah olah kakak ditikung sama sahabat sendiri gitu."
"Boleh juga sih ide lo. Tapi lo yakin ini bakal berhasil?" Tanya Fiana ragu.
"Kak.." Fika mendekati telinga Fiana, kemudian berbisik, "Rencana aku baru gagal satu kali kan. "
*****
Andreas tengah duduk menunggu seseorang di sofa ruang tamunya karena mendapati Citra tidak ada di rumah.
"Dari mana kamu?" Andreas langsung berdiri saat melihat siapa yang tengah membuka pintu rumahnya.
Citra diam tak menjawab.
"Aku tanya sekali lagi dari mana kamu?" Andreas mengulangi pertanyaannya dan mulai emosi.
"Kamu nggak perlu tahu." Jawab Citra dengan tenang.
"Kamu pikir rumah ini hotel yang seenaknya bisa kamu keluar dan masuk begitu saja?" Seru Andreas setengah berteriak. Pikirannya yang kacau juga menjadi alasan kenapa dia sangat mudah emosi untuk saat ini.
Citra kembali tak menjawab.
__ADS_1
"Kamu tahu tidak aku khawatir!?" Andreas menahan Citra dan mencengkeram bahu Citra dengan erat.
Citra menepis tangan Andreas dan menatapnya dengan tajam.
"Jangan pedulikan saya. Saya kemana itu urusan saya."
"Apa maksud kamu bicara begitu?" Andreas heran dengan perubahan sikap Citra.
"Begini saja Andreas. Anggap kita orang asing! Sesuai perjanjian awal kita jangan campuri urusan masing masing."
"Tunggu! "
Citra hendak berjalan meninggalkan Andreas namun tangan kekar Andreas menahan tangan Citra dengan kuat.
"Saya bilang tunggu!"
"Lepaskan! Jangan sentuh saya! Saya nggak mau di sentuh sama calon suami orang." Ucap Citra dengan tegas.
"Jadi... " Andreas memelankan intonasi suaranya, "Jadi kamu sudah tahu semuanya?" Tanya Andreas dengan rasa bersalah.
"Hah.." Citra menyeringai, "Bagaimana aku nggak tahu? Beritanya tersebar ke seluruh pelosok negeri. Siapa yang nggak bakal tahu." Citra tersenyum kecut.
Andreas menatapnya tajam. Dia melihat mata Citra sembab, dia tahu pasti wanita itu menangis karena dirinya. Dia sungguh mengutuki dirinya yang bodoh ini.
"Aku… " Andreas tertunduk tak berani memandang wajah ayu Citra.
"Saya nggak mau dengar." Citra menepis genggaman tangan Andreas dengan paksa dan berlari ke kamarnya di lantai dua.
"Cit.." Andreas melambaikan tangannya namun kembali dia tarik karena0 ragu.
******
Di tengah krgalauannya karwna Citra dan Fiana ponsel Andreas berdering memecah kesunyian.
"Hallo Pak, saya sudah dapat petunjuk pelaku asli kasus bu Puspita."
"Benarkah?"
"Ya pak, Damar sudah memberi petunjuk. Saya sudah merekam videonya untuk bapak."
"Cepat kamu kirimkan kepada saya."
"Sudah Pak, sudah saya kirim. Tapi belum bapak baca."
Andreas dengan cepat mematikan ponselnya. Dan benar saja ada beberapa notifikasi di ponselnya. Dia segera membuka sebuah video yang dikirimkan Didi kepadanya dan memutarnya.
Dia melihat video itu dengan seksama.
"Suruh bosmu itu hati hati sama tunangannya. Dia wanita jahat yang bisa melakukan apapun demi ambisinya."
"Maksud bapak apa?" Suara Didi bertanya.
"Saya selama ini bersembunyi dari wanita itu bukan dari Andreas. Wanita itu ingin membunuh saya karena saya melihat dia mendorong Puspita ke jalan raya sehingga dia tertabrak mobil. Istri saya tidak bunuh diri, tidak.. Dia dibunuh." Suara Damar menekan kalimat terakhirnya "
DEG
Pikiran Andreas kacau. Matanya merah padam.
__ADS_1
Jadi selama ini musuhku ada di dalam genggamanku?
******