
Citra begitu terkejut melihat sosok lelaki yang tengah berdiri di belakang pasiennya, Bu Arum. Badannya gemetaran, wajahnya pucat seketika. Bahkan berjalanpun dia sekan tak mampu. Otaknya secara reflek mengingat kejadian malam itu. Malam dimana mahkotanya direnggut secara paksa dengan cara yang sangat kasar oleh lelaki yang sama sekali belum pernah dia temui dan tak pernah ingin dia temui lagi.
Namun lelaki itu kini justru tengah berdiri dihadapannya. Dan tatapan matanya yang dingin itu, apakah memang selalu seperti itu?
"Nakk.. kamu kenapa?"
Deg.. Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunan Citra. Dia segera sadar dan mempersilakan Bu Arum masuk. Lelaki dibelakangnyapun ikut masuk melewati Citra begitu saja, seakan tidak pernah terjadi apa apa diantara mereka.
Lelaki itu ikut masuk? Ohh.. jadi dia anak Bu Arum.. Sungguh nggak bisa dipercaya, sangat bertolak belakang.
Citra keluar dari ruangan dan menutup pintu. Wajahnya masih pucat, sehingga dia memutuskan untuk cepat pergi ke toilet.
Dia membasuh mukanya. Sejenak dia memandang kosong ke cermin dihadapannya. Sungguh dia tidak ingin bertemu lelaki jahat itu, namun kenapa takdir berkata lain. Jika lelaki itu adalah anak dari salah satu pasiennya, tidak menutup kemungkinan mereka akan bertemu lagi.
__ADS_1
Citra merapikan wajah dan rambutnya lalu kembali ke ruangannya.
__________
"Ehh Cit.. kamu tadi liat nggak cowok yang nemenin pasien kita check up?" Tanya Eva antusias sambil menyuap bakso di mangkoknya.
"Siapa?" Tanya Citra sembari mengaduk aduk es tehnya. Dia sedang tidak bernafsu dengan makanan kantin hari ini. Entah memang karena menunya atau mungkin karena kejadian tadi.
"Itu cowok yang pakai kemeja denim celana jeans hitam rambutnya kaya Cha Eun - Woo. ihh tipe aku banget tau.."
"Apa bagusnya sih Va, lagian bukannya kamu bilang udah tunangan minggu kemarin?"
"Ye... ngelirik doang bisa kali!! Lagian masih tunangan ini, belum nikah..Ohh ya lain kali kalo ibu tadi check up, biar aku aja deh ya.." Eva nyengir lebar dengan centilnya yang khas sedang merayu Citra.
__ADS_1
Memang tidak dipungkiri wajah lelaki itu termasuk tampan. Alisnya yang tebal dan bibirnya yang tipis ditambah hidungnya yang mancung siapapun pasti akan tergoda melihat parasnya.
Baguslah, Citra juga tidak ingin terlalu dekat dengan bu Arum sejak dia tau anak yang dimaksud adalah lelaki itu.
"Terserah kamu saja Va.. " Kata Citra dengan datar.
Bakso di mangkoknya masih utuh hanya diaduk aduk sana sini sedari tadi. Sementara bakso di mangkok Eva tinggal suapan terakhir. Eva yang melihat gelagat Citra tak seperti biasanya yang apapun selalu masuk dimulutnya sudah tentu curiga.
"Kamu kenapa sih? Kalau ada masalah cerita aja sama aku.. Keluarin uneg uneg kamu!" Ujar Eva meyakinkan.
"Engg.. nggak papa Va, aku ke toilet dulu ya.." Citra berdiri menarik kursi dan meninggalkan Eva di meja kantin sendirian. Citra tidakk ingin terlalu menanggapi omongan Eva. Ya.. karena dia tahu Eva hanya basa basi saja.
"Udah berapa kali ke toilet coba.. beser kali ya tuh bocah.." Gumam Eva menyuap kembali baksonya.
__ADS_1
"sayang banget nih bakso diaduk aduk doang, buang buang makanan kan nggak baik.. " Eva menarik mangkok Citra dan mulai memakan bakso yang sama sekali belum Citra makan.
_________