
"Apa yang kamu lakukan?"
Kalimat itulah yang pertama di ucapkan Andreas saat mereka berada di dalam mobil setelah berhasil menerjang kerumunan pencari berita.
"Apa? Bukannya memang kita akan menikah? Apa jangan jangan kamu nggak niat nikahin aku?" Tanya Fiana penuh selidik mendengar ucapan Andreas.
"Bukan begitu.. " Ucap Andreas yang menurunkan nada bicaranya, "Situasinya sedang gak memungkinkan." Lanjut Andreas.
"Nggak memungkinkan darimananya?" Fiana meluapkan amarahnya dengan bulir air mata yang mengalir, "Coba jelaskan dari segi apa yang tidak memungkinkan Andreas!" Seru Fiana sambil menarik narik kerah baju Andreas.
"Maafkan aku.." Andreas menggenggam lembut tangan Fiana yang tengah memegang kerah bajunya, "Mungkin kamu akan sakit hati mendengar ini." Ucap Andreas lirih dan memandang Fiana dengan tatapan sayu.
"Apa maksud kamu? Cepat jelaskan! Jangan buat aku berfikir yang tidak tidak." Seru Fiana di sela sela tangisnya.
"Fi, sebenarnya aku …. " Andreas terdiam, ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Namun bagaimanapun Fiana harus tau ini semua, cepat atau lambat, "Aku sudah menikah."Ujar Andreas dengan lemah.
"APA!!!! " Pekik Fiana, kedua tangannya menutup mulutnya. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Nggak.. Nggak mungkin." Fiana menggeleng, "lni kamu cuman mau prank aku kan. Kamu cuman mau ngasih aku kejutan dan tiba tiba ngelamar aku gitu kan. Andre kamu nggak perlu begitu, to the point aja. " Fiana memaksakan tersenyum di tengah tengah tangisnya.
"Fi… " Andreas menggenggam tangan Fiana dengan erat dan matanya menatap tajam dengan penuh rasa bersalah, "Aku serius." Lanjut Andreas.
"Nggak.. Aku nggak percaya. Andreas, apa kamu lupa janji kamu lima tahun yang lalu? Janji yang kamu ucap dengan mulutmu sendiri? Kamu benar benar bren*s*k Andre." Fiana memukul mukul dada Andreas dengan luapan emosinya yang sejak tadi berusaha dia tahan.
"Fi.. Dengerin aku dulu!" Andreas berusaha menahannya, "Fi.. Pernikahanku tidak akan lama. Aku pasti akan menikahi kamu sesuai janjiku." Andreas berusaha menyakinkan Fiana.
Fiana menghentikan pukulannya dan menatap Andreas penuh kekecewaan dengan mata yang sembab.
"Sekarang katakan siapa wanita sialan itu?"
"Kamu tahu dia."Ucap Andreas.
"Katakan Andreas!" Seru Fiana tidak sabar.
"Citra Maharani." Ucap Andreas pelan.
"APA???" Fiana membelalakkan mata. Kali ini bukan hanya kekecewaan yang terpancar dari sorot matanya. Kemarahan yang luar biasa juga sangat terlihat jelas,"Andreas, bagaimana bisa kamu menikahi wanita yang menyebabkan kakakmu meninggal? Andreas apa kamu sudah gila? Sudah tidak waras? Bagaimana bisa!" Pekik Fiana.
"Dia hamil anakku.. "
Plakkk!
Sebuah tamparan keras dari tangan Fiana untuk pertama kalinya mendarat di pipi Andreas.
"Aku ngga mau dengar apapun lagi dari kamu." Teriak Fiana sambil membuka pintu mobil dan berlari pergi meninggalkan Andreas.
"Fiana.. Fi!" Andreas berteriak memanggil nama Fiana untuk mencoba membujuknya, namun wanita itu justru mempercepat larinya.
*****
Citra sedag duduk melamun di teras sebuah minimarket. Dihadapannya terpampang satu botol air mineral tersegel dan sebungkus pop mie yang tengah di seduh. Dia memandangi kendaraan yang tengah berlalu lalang di jalan raya.
__ADS_1
Citra mengusap air mata yang tanpa diminta jatuh begitu saja dari kelopak matanya. Sungguh, sebenarnya saat ini dia tidak ingin mengingat kejadian tadi dan ingin menenangkan pikirannya.
"Hey.. Citra kan? Kita ketemu lagi." Seorang wanita familiar berjaket hitam tiba tiba saja berdiri di hadapan Citra, "Sedang apa malam malam begini kamu disini?"
"Joice?" Ucap Citra mengenali wanita di hadapannya, "Tidak.. Aku hanya sedang suntuk." Citra buru buru menyeka air matanya.
"Tunggu, kamu nangis?" Tanya Joice melihat mata Citra yang sembab .
Citra menggeleng dengan senyumanya. Tentu saja dia tidak ingin orang tahu kegelisahannya.
Joice menarik kursi di depan meja Citra kemudian dia duduk.
"Citra dengarkan aku." Joice menatap Citra dengan tegas, "Kamu itu sedang hamil, jadi kamu jangan terlalu banyak stress. Itu sangat berpengaruh pada bayi yang sedang ada dalam kandungan kamu. Coba kamu cerita sama aku." Bujuk Joice.
Citra terdiam.
"Aku tahu mungkin kita memang belum seakrab itu tapi kamu bisa percaya padaku." Joice berucap tanpa keraguan.
Citra terdiam sejenak kemudian dia memberanikan diri untuk menatap Joice.
"Joice, maaf saya lancang. Tapi.. Malam ini bolehkah saya menginap di tempatmu?" Tanya Citra ragu.
"Ohh.. Tentu saja." Seketika Joice berdiri,
"Ayo kalau gitu! Tunggu apa lagi."
****
Joice membuka sebuah rumah dengan design modern yang tampak minimalis dari luar namun ternyata begitu luas di dalam.
"Orang sebaik kamu?" Tanya Citra tak percaya.
"Haha.. " Joice terkekeh mendengar pertanyaan Citra, "Mungkin itu menurut kamu saja." Joice menaruh tasnya di sofa dan mempersilahkan Citra, "Anggap saja rumah sendiri. Oh ya kamu sudah makan? Tadi aku lihat pop mie kamu masih terbungkus sendoknya. "
Citra menggeleng. Bagaimana dia bisa makan sedangkan pikirannya saat ini sedang kacau.
"Kamu harus banyak makan. Ehh..tapi bukan pop mie juga loh ya. Ini bukan hanya untukmu, untuk anakmu juga. Kamu Harus memikirkan itu!", Joice mengeluarkan ponselnya, "Mau aku pesankan apa? Kebetulan aku juga belum makan."
"Tidak usah Joice, aku malah merepotkanmu."Tolak Citra yang tak enak hati.
"Sama sekali tidak. Lagipula aku bingung mau ngabisin uangku buat apa." Ucap Joice sambil tergelak, "Jadi kamu mau aku pesankan apa?"
"Terserah saja Joice." Jawab Citra akhirnya walaupun sebenarnya dia masih tak enak pada Joice.
"Emmm apa ya? Kamu doyan bebek nggak? Aku ada langganan nasi bebek yang bisa delivery nih." Tawar Joice.
"Boleh."
"Aku jamin kamu pasti ketagihan. Nasi bebek bumbu hitam. Behh mantap banget." Joice mengacungkan jempolnya, "Tapi jangan sering sering nanti kolesterol." Lanjutnya kemudian.
"Pfttt.." Citra berusaha menahan tawanya dengan kekonyolan Joice. Ternyata wanita tangguh itu cukup ramah dan baik hati pikirnya.
__ADS_1
"Ketawa aja jangan ditahan."Goda Joice yang sesekali melihat layar ponselnya, "Sudah aku pesankan." Joice memandang Citra dengan iba, "Kelihatannya kamu capek banget. Kamu mau istirahat dulu di kamarku atau di kamar kosong sebelah sana? Nanti kalau makanannya sudah datang aku bangunin kamu. "
"Tidak usah Joice. Terimakasih. "
"Hmmm.. Anggap aku ini saudaramu. Nggak usah sungkan sungkan. "
"Kamu baik banget Joice." Kembali Citra mengucapkan hal itu.
"Ahh perasaanmu aja. Ngomong ngomong suamimu itu dimana sih? Bisa bisanya dia ngebiarin istrinya yang lagi hamil keluyuran terus." Joice mulai penasaran sekaligus kesal dengan suami Citra.
"Dia sedang sibuk Joice, urusan pekerjaan." Citra berusaha menyembunyikan kenyataan.
"Ya masa setiap hari?" Tanya Joice tak percaya.
Citra terdiam. Melihat itu Joice menyalakan tv untuk memecah keheningan Citra.
Baru beberapa detik televisi itu menyala Citra sudah tidak bisa menahan tangisnya.
"Hey kenapa menangis?" Joice sungguh terkejut melihat Citra yang menangis sejadi jadinya.
"Joice aku.. " Citra tak melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa?" Tanya Joice penasaran.
"Lelaki itu.." Citra menghela nafas, "Dia suamiku Joice." Ucap Citra dengan terisak.
"Brengsek.. " Joice mengumpat dengan kasar.
"Joice tidak, dia tidak salah. Maksudku mereka tidak salah. Aku, aku yang jadi orang ketiga dalam hubungan mereka." Buru buru Citra menjelaskan.
"Ni gimana sih maksudnya. Coba kamu cerita!" Joice semakin penasaran dengan wanita di hadapannya ini.
"Aku menikah dengan lelaki itu karena aku hamil anaknya. Bahkan sebelumnya kami tidak saling mengenal."
"Kenapa bisa?" Joice mengerutkan alisnya karena heran.
"Sebuah kesalahpahaman dan aku nggak tahu sampai sekarang apa maksudnya menuduhku atas kesalahan yang tidak pernah ku perbuat."
"Citra aku tanya sama kamu ya. Apa kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang? "
Citra menggeleng dan terisak.
"Lalu apa gunanya kamu bertahan?" Joice bertanya dengan pelan, takut menyakiti Citra, "Aku bukannya mau ikut campur masalahmu. Tapi aku tidak tega melihatmu seperti ini. Ingatlah apapun yang terjadi aku ada disini. Siap membantu kamu." Joice menggenggam tangan Citra dan menatapnya penuh ketegasan.
Mendengar kalimat hangat Joice, Citra yang saat ini memang butuh dukungan langsung memeluk wanita imut di hadapannya.
"Terimakasih Joice. Terimakasih sudah ada untukku." Ucap Citra lirih.
Tok tok tok
Ketukan pintu rumah Joice membuatnya melepaskan pelukan Citra.
__ADS_1
"Bentar ya, kayaknya nasi bebek udah dateng."
*****