
"Sudahlah.. Jangan ngambek terus!"
"Aku sudah bilangkan jangan sentuh aku sebelum kamu bercerai dengan wanita itu."
"Fiana, aku bakal ceraikan dia tapi nggak sekarang tunggu anak yang dia kandung lahir aku pasti akan menceraikannya."
Sakit mendengar Andreas mengucapkan kata itu. Walaupun dia tahu memang itu kenyataan yang akan dia terima, namun mendengar kalimat itu terucap dari mulut Andreas untuk meyakinkan wanita lain hatinya bagaikan teriris sembilu.
"Buktikan! Buktikanlah kalau kamu lebih milih aku dibanding wanita itu Andreas."
Sebuah ciuman mendarat di bibir Fiana.
Citra membungkam mulutnya dan menutup matanya. Sakit? Tentu saja, itulah yang kini tengah dia rasakan.
"Kamu sudah percaya?" Tanya Andreas yang masih mencakup kedua pipi Fiana yang bersemu.
Fiana mengangguk kemudian merangkul manja Andreas.
"Sekarang ayo check up." Ajak Andreas.
***
Citra berlari menjauh meninggalkan tempat itu. Air mata yang sedari dia tahan jatuh berlinang membasahi kedua pipinya. Dia mengutuki dirinya sendiri. Sungguh, dia merasa sangat bodoh. Seberapa besar dia mengelak perasaannya untuk Andreas, sebesar itulah ternyata rasa cintanya kepada lelaki itu. Mungkin memang tidak seharusnya dia bersikeras untuk ikut Joice ke rumah sakit, sehingga dia tidak akan menyaksikan kejadian yang menyesakkan dada itu.
BRUG!!!
Seorang lelaki terjatuh tepat di sebelah Citra. Citra mendekati lelaki itu lalu menggoyangkan tubuhnya. Lelaki yang kira kira berusia 60 an itu tak kunjung sadarkan diri. Citra lalu berjongkok untuk memeriksa denyut nadinya.
Tak lama banyak orang yang berlalu lalang berkerumun di antara Citra dan lelaki itu namun mereka tak ada yang berani mendekat. Lelaki itu masih pingsan dan denyut nadinya semakin melemah. Semua orang panik. Citra lalu memberikan CPR pada lelaki tua itu.
Tak lama ambulans datang. Dan lelaki itu telah sadar namun lelaki itu keadaannya masih lemah.
"Terimakasih telah menyelamatkan nyawa saya nak." Ucap lelaki itu menggenggam tangan Citra dengan rasa terima kasihnya.
"Sama sama pak. Saya hanya melakukan yang saya bisa. " Ucap Citra mengulas senyum.
"Jika berkenan temanilah saya, karena anak saya sedang sibuk saat ini." Pinta lelaki itu.
Citra berpikir sejenak, "Baiklah pak saya akan temani bapak"
****
Ceklek!
Pintu kamar VIP sebuah rumah sakit terbuka, membuat lelaki tua yang tengah tertidur itu membuka matanya.
"Papa!" Seorang wanita imut muncul dari balik pintu.
Wanita itu segera memeluk papanya yang sekarang duduk di atas tempat tidurnya.
"Papa! Papa nggak apa apa kan?" Kalimat itulah yang terucap dari bibir mungil wanita itu di sela sela tangisnya.
"Nggak papa Joice!" Papa Joice mengusap punggung putrinya, "Untung tadi ada orang yang bantuin papa, jadi nyawa papa masih bisa tertolong." Ucap papa Joice.
__ADS_1
"Syukurlah pa." Joice menghela nafas lega, "Dimana orang itu sekarang? Joice ingin bertemu dia buat ucapin terimakasih." Tanya Joice.
"Lagi di toilet. Palingan juga bentar lagi keluar." Jawab papa Joice.
Ceklek!!
Citra keluar dari toilet dan merapikan baju atasnya yang terkena cipratan air saat mencuci tangan.
"Citra?" Pekik Joice terkejut dan memandang papanya penuh tanya, "Citra? Pah?"
"Loh kamu kenal ya Joice?" Menatap Joice, "Iya dia orang yang sudah nolongin papa." Menatap Citra.
"Ya tuhan Citra. Joice berdiri menghampiri Citra, "Makasih banget kamu sudah nolongin papaku. Aku nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kamu Cit.." Joice memeluk Citra dengan erat meluapkan rasa terima kasihnya.
"Sama sama?" Citra melepaskan pelukan Joice lalu menggenggam tangannya, "Eh tapi benar bapak ini papa kamu?"
Joice mengangguk dengan cepat.
"Jadi beliau yang punya rumah sakit ini?" Bisik Citra.
Joice mengangguk lagi kali ini lebih pelan dari yang tadi.
"Citra mengerti. Pantas saja ruangan yang dia tempati bebeda dari pasien lain.
"Ehh ehh tunggu." Joice menatap penuh selidik kepada Citra, "Tadikan kamu ijin ke toilet, terus kenapa sampai jalan raya yang lumayan jauh dari sini? "
"Ahh ceritanya panjang Joice." Jawab Citra.
"Emang ada apa Joice?" Pak Nurdian, papa Joice menyelak pembicaraan mereka.
"Dia hampir diabisin preman komplek sebelah pa." Adu Joice pada pak Nurdian.
"Astaga.. Terus?"
"Ya anak papa ini lah yang nolongin." Jawab Joice dengan bangganya.
"Apa?" Pak Nurdian terkejut, wajahnya menjadi masam.
"Kamu ini nyeramahin anak orang buat nggak ceroboh. Kamu sendiri apa? Kamu pikir kamu bruce lee yang bisa loncat loncat sambil mainin double stick? Kamu ini bikin papamu ini jantungan." Ujar papa Joice yang tak henti menatap anaknya.
"Aduhh salah ngomong deh gue." Joice memukul keningnya sendiri.
"Ntar mamamu tahu baru nyaho ya kamu." Lanjut pak Nurdian.
"Aduh aduh papa. Papa nggak usah ngadu ke mama ya pa. Bisa bisa Joice dipaksa buru buru nikah lagi sama mama kalau tau." Joice merangkul pak Nurdian dengan manja.
"Papa nggak janji." Pak Nurdian menjawab sekenanya.
"Ah papa.. Ayolah pa! Kalau papa nggak bilang ke mama, Joice janji bakal nurutin semua keinginan papa." Pinta Joice merengek.
"Termasuk jual motor?" Tanya pak Nurdian.
"Ihh ihh .. Papa ya janganlah pa." Joice memelas.
__ADS_1
"Terus? Katanya nurut?"
"Ya nurut tapi nggak jual motor jugalah pa."
"Oke.. Papa simpen dulu lah permintaan papa." Ucap pak Nurdian.
Citra tersenyum geli melihat sisi lain joice yang manja pada papanya. Andai saja dia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah seperti Joice.
"Tuh kan diketawain Citra pa.. Citra itu taunya Joice jagoan tau." Protes Joice.
"Ya kamu itu ngapain sok jagoan." Celetuk pak Nurdian, "Udah sana kamu istirahat dulu. Kamu pasti capek kan?"
"Kamu juga Citra."
"Kebetulan saya ingin beli makanan kecil dulu pak, apa bapak ingin titip sesuatu?" Tanya Citra. Pak Nurdian menggeleng.
"Kamu Joice?" Citra menatap Joice.
"Aku nitip keripik kentang aja Cit yang rasa rumput laut ya." Joice mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Oke." Jawab Citra tersenyum melihat tingkah Joice kemudian menarik handle pintu untuk melangkah keluar.
"Kamu ini dokter makannya sembarangan terus." Celetuk pak Nurdian sesaat setelah Citra pergi.
"Nggak sering sering juga kok papaku sayang, cuman sekali dua kali." Elak Joice.
"Itu kamu kenal dimana kayaknya baru ini kamu punya temen." Ucap pak Nurdian penasaran.
"Iya pa dia anaknya baik, tapi kasihan pa." Joice menatap kearah pintu dimana tadi Citra keluar.
"Kasihan? Kenapa?" Tanya pak Nurdian lagi.
"Dia kan lagi hamil, tp suaminya nggak beres gitu pa." Jawab Joice.
"Astaga padahal anaknya cantik, baik juga. Ya.. Namanya laki laki ya gitu."
"Oh iya pa, kata Citra dia dulunya perawat."
"Oh ya?"
Joice memberi jawaban dengan anggukan, "Sepertinya papa bisa membalas rasa terima kasih papa " Ucap Joice.
"Maksud kamu?"
"Terima dia kerja di klinik papa yang bentar lagi buka itu."
"Ohhh itu.. " Pak Nurdian terdiam sejenak , "Boleh juga."
"Papa beneran?" Tanya Joice dengan wajah berbinar, "Wah Citra pasti seneng banget nih pa denger kabar ini."
******
__ADS_1