
Andreas berjalan dengan cepat tanpa ekspresi. Dia memperhatikan dua orang tamu yang tengah berada dirumahnya. Andreas mengenali wajah wanita paruh baya tersebut, ya dia adalah ibu dari wanita itu. Andreas lalu duduk disamping bu Arum.
Bu Arum membisikkan sesuatu di telinga anaknya . Raut wajah Andreas berubah seketika. Lidahnya kelu untuk mengucapkan satu kalimatpun.
Om Bayu yang menangkap kecemasan di wajah Andreas langsung membuka percakapan.
"Jadi bagaimana nak Andreas akan menyelesaikan masalah ini?" Tanya om Bayu.
Andreas menghela nafas sejenak, raut mukanya langsung berubah seketika.
"Bapak yakin bayi itu anak saya?" Sudut bibir Andreas mengurai senyum mencibir.
Pertanyaan itu sontak membuat bu Asih dan om Bayu geram.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu? Saya
mengenal anak saya ! Saya tahu dia seperti apa?" Protes bu Asih dengan sinis merasa harga dirinya diinjak injak.
"Oh ya? Lalu ibu punya bukti apa untuk tuduhan ibu kepada saya?" Andreas melipat tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sungguh perbuatan yang arogan. Dia amat percaya diri dengan sengaja mengelak tuduhan yang diberikan padanya.
"Kamu..!" Bu Asih bangkit dari sofa hendak meemukul Andreas namun om Bayu segera menahan badan yayuknya yang sedang tersulut emosi itu.
"Yukk.. tahan dulu, jangan gegabah!" Om Bayu berusaha menenangkan. Bu Asih terduduk di sofa. Cairan bening yang sejak dari ditahannya keluar dari kedua pelupuk mata membasahi pipinya yang mulai mengeriput.
Andreas meneguk kopi hitam di hadapannya dengan tenang. Bahkan saat suasana genting seperti ini dia bisa melakukan hal seperti itu.
"Bisa saja itu anak orang lain bukan? atau..."
BRAKK!!
Candra menggebrak meja tamu dengan keras. Gadis cantik berambut panjang itu tiba tiba muncul entah dari mana. Nafasnya memburu,wajah manisnya menunjukkan kemarahan.
"Cukup kak.. Kamu harus tanggung jawab!" Teriak Candra dengan lantang.
__ADS_1
Bu Arum membelalakkan mata lalu menarik lengan anak gadisnya.
"Candra!! Apa maksud kamu? Jangan ikut campur!!!" Cerca bu Arum dengan nada kesal.
Candra mengibaskan tangannya berusaha melepas dari cengkraman ibunya. Dia menatap Andreas dengan sinis.
"Aku lihat, aku lihat semuanya kak.. Aku lihat bagaimana kakak dengan kejinya menculik dan memperkosa wanita tak bersalah itu.."
DEG
Ucapan Candra bagai bom yang meledak dengan tiba tiba. Andre gemetar, bagaimana bisa ada orang yang mengetahui perbuatannya. Padahal dia sudah dengan susah payah menutupi ini dengan sempurna.
"Jangan asal bicara kamu dek !! Kamu tahu kan kakak seperti apa?" Andreas berusaha berdalih.
Candra tersenyum kecut mendengar sandiwara kakaknya.
"Kakak tahu tidak, awalnya kakak itu adalah panutanku.. Kakak adalah lelaki yang aku idolakan, bahkan aku bercita cita mempunyai suami seperti kakak! Tapi semua itu dulu kak bukan sekarang bukan setelah aku mengetahui perbuatan kakak yang seperti ini!!"
Candra melempar berberapa lembar foto ke atas meja. Di foto itu terlihat jelas wajah Andreas dengan Citra. Andreas membelalak, kepalanya berdenyut dia bingung apa lagi alasan yang bisa dia berikan untuk menghindar.
"Bunda nggak pernah ngajarin kamu buat ngerusak anak orang, apalagi menjadi laki laki pengecut seperti ini!! Kamu punya adik perempuan, apa kamu tidak takut karma hah?" Teriak bu Arum dengan tidak sabar.
"Sekarang bunda nggak mau tahu kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat!!" Bu Arum menunjuk nunjuk wajah anaknya.
"Tapi bunda.."
"Jika tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan bisa dilanjutkan di jalur hukum kok.." Om Bayu menyela perkataan yang hendak di ucapkan Andreas.
Bu Arum tetap memasang wajah tenang lalu kembali duduk dengan Candra disampingnya. Sementara Andreas hanya terdiam. Raut tanpa ekspresi itu memang selalu telihat di wajahnya yang rupawan.
"Pilihan ada di tangan kamu ndre, mau tanggung jawab apa masuk penjara!" Bu Arum berkata dengan dingin, menatap lurus kedepan. Wanita paruh baya itu sudah kecewa dengan kelakuan anak lelakinya.
Andreas terkejut, bagaimana bisa bu Arum yang selama ini menyayanginya tidak membelanya sama sekali. Kalau saja bundanya tahu alasannya melakukan perbuatan keji itu, mungkin perlakuan ibunya tidak akan seperti ini.
__ADS_1
Andreas menunduk sejenak lalu menatap dua orang dihadapannya secara bergantian.
"Oke.. Saya akan bertanggung jawab! Tapi saya hanya bisa menikahi anak ibu secara siri, bagaimana?" Tanya Andreas.
Bu Asih sebenarnya tidak rela dengan persyaratan yang di ajukan Andreas. Namun yang terpenting Andreas sudah mau bertanggung jawab.
"Andre !!" Sela bu Arum tak terima.
"Sudah bu, tidak papa! Yang penting anak ibu sudah mau bertanggung jawab. Dan tolong, temani anak saya saat melahirkan nanti.." Ucap bu Asih dengan pelan.
Bu Arum sebenarnya tidak enak dengan bu Asih, namun keputusan memang ada di tangan anak lelakinya.
Andreas tersenyum penuh kemenangan.
"Dan satu lagi, saya tidak ingin pernikahan saya di ketahui oleh media.." Tambah Andreas.
"Baik.. Anda tidak perlu khawatir tuan, saya akan merahasiakan ini semua.." Jawab bu Asih.
"Jangan panggil dia tuan bu ! Sebentar lagi dia akan menjadi menantu ibu jadi ibu tidak perlu seperti itu.. Harusnya anak itu yang sadar diri jika dia masih punya malu dan masih punya pikiran!" Bu Arum berbicara dengan tegas tanpa memandang Andreas.
Andreas memengangi kepalanya yang berdenyut dengan celotehan ibunya.
"Orang saya akan mengurus semuanya. Waktu dan tempat serta penghulu saya yang siapkan. Nanti saya akan kabari anda.."
"Baik.." jawab om Bayu mewakili bu Asih.
Sementara bu Asih tengah mengangkat panggilan dari ponselnya yang sedari tadi beedering.
"Halo Dila kenapa?" Bu Asih berbisik mendekatkan mulutnya ke ponsel.
Dia terdiam sejenak. Raut wajahnya menunjukkanndia tidak baik baik saja.
"APA !!" Bu Asih lemas seketia, dia hampir saja pingsan.
__ADS_1
_______