Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 35


__ADS_3

Haris baru saja meneguk secangkir kopi panas byang uapnya masih nampak di permukaannya. 


Haris melihat dua orang asisten rumah tangganya sedang bersantai di pinggir balkon rumahnya sambil memainkan ponsel. Samar samar dia mendengar dua orang wanita berumur itu saling kasak kusuk. 


"Apa kamu yakin nona Citra melakukan itu? Sepertinya dia bukan orang yang kayak gitu." Ucap Sari, pengurus kebun dan kebersihan rumah. 


"Ya kasihan banget ya." Timpal Wulan, juru masak. 


Mendengar nama Citra disebut, Haris merasa penasaran dan memutuskan untuk mendekat, "Kalian bicarain apa?"


"Ehh tuan!" Kata Sari dengan gugup serta menjauh karena terkejut tiba tiba Haris sudah berdiri di belakang mereka.


Tatapan Haris terhenti ketika melihat foto Citra yang berada di ponsel yang Wulan genggam. Dia segera merebut ponsel asisten rumah tangganya itu. Wulan yang terkejut hanya bisa terdiam tanpa melawan, mengingat lelaki itu adalah bosnya. 


Haris melihat layar ponsel Wulan dengan wajah tak enak, "Astaga Citra! Apa yang terjadi?" Bisik Haris. 


Haris tak tinggal diam. Dia mengembalikan ponsel Wulan dan segera berlari ke lantai atas untuk mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas kamarnya. 


****


Andreas duduk diruang tunggu IGD untuk menunggu Citra. 


Setelah beberapa menit dia duduk seorang perawat menghampirinya. 


"Dokter ingin bicara dengan keluarga pasien!" Ucap perawat itu, "Bisa ikut saya sebentar untuk menemui dokter?"


Andreas mengikuti perawat itu ke ruang IGD, terlihat Citra masih tergeletak lemah belum sadarkan diri di atas tempat tidur. Sementara dokter masih sibuk membereskan beberapa alatnya. Melihat kedatangan Andreas dan perawat, dokter menghentikan kegiatannya. 


"Saya suami pasien dokter. "


"Begini pak, terdapat 10 luka di tubuh istri bapak. Walaupun luka ringan tapi ini akan berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat mengingat istri anda sedang hamil." Ucap dokter, "Dia bukan hanya butuh perawatan fisik saja Pak, sepertinya psikologisnya sedikit terguncang."


"Apa yang sebenarnya terjadi." Bisik Andreas wajahnya terlihat panik 


tanpa menjawab perkataan dokter. 


"Permisi pak?" Tegur dokter.


"Oh ya.." Jawab Andreas terkejut. 


"Kedepannya tolong jaga istri bapak dengan baik supaya hal hal semacam ini tidak terjadi lagi, permisi." Dokter mengemasi alatnya dan berlalu. 


Andreas hanya diam tidak menanggapi.


Ponsel Andreas yang sengaja ia silent agar tidak mengganggu istirahat Citra bergetar .


"Pak bapak dimana?" Ucap Didi.


"Saya dirumah sakit ada apa?"


"Tolong lihat video yang saya tag ke bapak."


"Video? Video apa lagi kali ini?"


Andreas menghela nafas. Namun sejurus kemudian dia memutar video itu. 

__ADS_1


Bugh


Sebuah tinju Andreas layangkan ke dinding kamar. 


"Bangsat!!!!" Umpat Joice. 


"Didi kamu masih disana? Dengar! Kamu urus semua orang yang terlihat di video itu, jangan kamu lewatkan satupun. Beri mereka pelajaran yang setimpal." Andreas menghela nafas dengan kasar, "Dan untuk wanita itu, biar menjadi urusanku."


Andreas menghentikan panggilannya.


Dia memandang wanita yang masih belum sadarkan diri itu dengan rasa penuh penyesalan. 


"Citra aku mohon kamu baik baik saja." Bisiknya. 


***


Joice berlari menyisir jalan raya di sekitar minimarket dekat rumah sakit. Nafasnya memburu karena sedari tadi berlarian kesana kemari mencari keberadaan Citra. 


"CITRA!!!" Teriak Joice memanggil nama Citra .


"CITRA!!! "Dari lawan arah Haris melakukan hal yang sama.


Langkah mereka berdua terhenti ketika mengenali dan mendengar satu sma lain. 


"Lah kamu ngapain disini?" Tanya Joice. 


"Kamu dari mana saja?" Tanya Haris terlihat terkejut. 


"Aku ya dari rumah sakitlah."


"Baru bisa nyusul habis jagain papaku." Joice membela diri. 


"Apa kamu nggak tahu apa yang terjadi pada Citra?"


"Kenapa sih?" Tanya Joice dengan khawatir. 


"Lihat!"


Haris menunjukkan sebuah video kepada Joice. 


"Brengsek!"


Joice terjongkok dan menangis, "Anj*ng kenapa aku bisa seceroboh ini. Arghhh?!!!" Joice mengacak acak rambutnya sendiri. 


Melihat Joice yang menunjukkan sisi lainnya Haris membantunya berdiri, "Sudah.. Ini bukan saatnya menyalahkan diri kamu sendiri. Yang terpenting kita harus temukan Citra sekarang."


Joice mengangguk menyetujui perkataan Haris. 


Tak lama berselang ponsel Haris berdering. Nama Amer terlihat di layar ponselnya. 


"Halo Mer?"


"Mobil gue sama adek lo, dia nganter istrinya ke rumah sakit. Nggak biasa nih gue pakai mobil mahal." Ucap suara Amer dari seberang sana. 


"Apa?" Haris terbelalak, "Mer ,rumah sakit mana?"

__ADS_1


"Gue nggak tahu juga, nggak nanya sih tadi. Ya palingan yang terdekat dari sini." Jawab Amer


Tut tut tut


 Haris mengakhiri panggilannya. 


"Rumah sakit terdekat dari sini cuman rumah sakit tempat kamu praktek kan?"


"Iya iya.." Jawab Joice dengan cepat, "Apa Citra di rumah sakit? "


"Iya kita naik mobilku." Ajak Haris menggandeng tangan Joice tanpa sadar. 


Joice menariknya dengan kasar, "Nggak..  Aku lari aja lebih cepet."


***


Citra membuka mata dan mendapati dirinya di ruangan yang tidak asing. Dia menatap sebuah jam yang menempel di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.


Matanya terperanjat saat melihat sebuah tangan kekar menggenggam tangannya dengan erat. 


Andreas, lelaki itu sedang tidur terduduk dengan badan menumpu pada sisi ranjang Citra. 


Citra berusaha bangun. Dengan pelan dia memindahkan tangan Andreas menjauh darinya. Dan menapakkan kakinya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. 


Citra melepas cincin kawinnya dengan mata berkaca dan berat hati kemudian meletakkannya di sisi kiri Andreas tertidur. 


"Selamat tinggal." Ucapnya. 


****


Joice menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di depan pintu lobby rumah sakit kembali. Seseorang menepuk bahunya sehingga dia membalikkan badan. 


"Citra?" Pekik Joice, Citra mengangguk. Joice memeluk wanita itu dengan erat dan mengusap pipinya, "Kamu nggak papa? Maafkan aku Cit! Maafkan aku yang ceroboh nggak bisa jaga kamu." Ucap Joice penuh sesal. 


Citra menggeleng, "Joice ayo pergi!"


"Pergi?"


"Ya Joice, bawa saya pergi dari kota ini. Saya nggak mau hidup di kota menakutkan ini Joice. Bawa saya pergi Joice." Ucap Citra. 


Joice mengerti maksud Citra. Dia mengajak Citra untuk mengikutinya, hingga dia masuk ke dalam ruangan VVIP pak Nurdian. 


Terlihat pak Nurdian sedang mengutak atik ponselnya. Kondisinya terlihat jauh lebih baik dari saat Joice meninggalkannya tadi. 


Pak Nurdian menghentikan kegiatannya saat melihat dua orang wanita masuk ke kamarnya. 


"Joice." Ucapnya lirih. 


Pak Nurdian memandang Citra, kemudian tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Dalam benak hati pak Nurdian ingin rasanya dia menanyakan apa yang terjadi saat melihat keadaan teman baru putrinya yang terlihat pucat itu. Namun beliau mengurungkan niatnya melihat wajah Joice yang ingin mengatakan sesuatu.


"Citra.. Kamu tunggu disana ya!" Joice melepaskan tangan Citra yang sedari tadi digenggamnya. 


Joice menunjukkan sebuah ruangan di sebelah kamar VVIP pak Nurdian. 


******

__ADS_1


__ADS_2