Wanita, Jangan Pergi Dariku

Wanita, Jangan Pergi Dariku
CH - 27


__ADS_3

Lelaki yang sudah aku selamatkan hidupnya itu ternyata kamu Ndre, bagaimana bisa ini terjadi? Takdir seakan mempermainkanku. 


tok tok tok


Andreas mengetuk pintu kamar Citra. 


" Aku mau keluar, kamu kunci aja pintunya. Kayaknya aku pulang agak larut." Ucap Andreas. 


Ceklek! 


Citra membukakan pintu kamarnya. 


"Mendadak sekali?" Tanya Citra.


"Iya, ada undangan penting yang harus aku hadiri. Kamu nggak papa kan sendiri? Akan ku usahakan untuk cepat pulang."


Mendengar ucapan Andreas yang singkat itu entah mengapa seperti ada sekuntum mawar yang merekah di hati Citra. Sekilas perkataan itu menyiratkan kepedulian Andreas kepadanya. 


"Oke.. "


"Aku pergi ya." Pamit Andreas.


Citra mengangguk mengiyakan permintaan Andreas. 


Andreas segera keluar dari rumahnya dan mulai mengendarai mobilnya untuk keluar meninggalkan Citra. 


"Astaga.. " Tiba tiba Citra teringat sesuatu. 


Segera Citra mendial kontak seseorang di seberang sana. 


"*Hall*o? Tante? "


"Citra lupa banget kalau acaranya malam ini."


"Iya.. Bisa Citra pasti usahain dateng."


"Iya Citra bareng tante."


"Oh iya Citra kesana tante."


Citra mengakhiri panggilan di ponselnya.


Tante Riris, begitulah nama yang tertulis di kontak ponselnya. Dia adalah ibu dari sahabatnya,  Fiana. 


Beberapa waktu lalu mereka tak sengaja bertemu saat Citra sedang berbelanja di minimarket. 


Citra membuka aplikasi ojek online untuk memesan. Tak lama dia sudah mendapatkan driver terdekat. Dalam waktu 15 menit driver itu akan tiba. 


Citra segera memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk berganti baju dan bersiap siap. 


15 menit kemudian. 


"Citra Maharani? " 


Driver ojol itu memastikan saat melihat gadis cantik bermake up tipis dengan gaun pastel setinggi lutut tengah berdiri di depan rumah yang dia tuju. 


"Betul." Jawb Citra singkat. 


"Sesuai aplikasi ya kak alamatnya?"


"Iya.."


Driver ojek online itu memberikan helmnya pada Citra. 


Tadinya Citra akan mengendarai motornya sendiri untuk keluar rumah. Namun mengingat kini dia tengah berbadan dua dia mengurungkan niatnya tersebut.

__ADS_1


Citra mengenakan jaket denim yang ditentengnya dan memakai helm dari driver ojol itu. 


*****


"Tante Riris?" Panggil Citra. 


Wanita paruh baya dengan gaun tertutup itu tersenyum melihat kedatangan Citra. 


"Tante.."


Citra mencium punggung tangan Riris dan memeluknya erat. 


"Susah payah tante cari nomer kamu tahu? Akhirnya dapat juga. Ngilang gitu aja ya setelah lulus kuliah. Nggak pernah main ke rumah lagi?" Riris menyentuh ujung hidung Citra dengan jari telunjuknya. 


"Maaf tante. Sebenernya Citra kena musibah, lima tahun lalu . Ponsel Citra kena jambret jadi kontak pada ilang semua. Dan pas Citra main ke rumah tante, tante sudah pindah. "


"Kamu kan bisa hubungi Fiana.." 


"Iya tante tapi.. " Citra tak melanjutkan kalimatnya. 


"Ya sudah dibahas nanti lagi. Acaranya sudah mau dimulai kita masuk yuk."


Riris dan Citra berjalan beriringan menuju lantai utama bangunan megah yang tentu saja milik keluarga Andreas. Keluarga Andreas memang sering mensponsori para artis untuk acara semacam ini. 


Sesekali mereka saling bertukar cerita dengan penuh canda tawa. 


****


Di panggung utama tengah berdiri seorang wanita cantik yang anggun. Wanita bergaun hitam dengan belahan dada rendah itu tengah melantunkan sebuah lagu single ke Duanya. 


Semua mata di ruangan tentu saja tertuju kepada wanita cantik bersuara emas di tengah gemerlapnya panggung itu. 


Lagunya pun berakhir dan digantikan oleh pembawa acara yang kini tengah bertugas. 


"Fi… " Panggil Riris kepada wanita bergaun hitam tadi yang kini tengah berada di balik layar. 


Fiana tercengang melihat siapa wanita di depannya. Namun dia bersikap seolah biasa saja dan berusaha mengulas senyum. 


"Dia kesini sama mama." Ucap Riris.


Fiana memandang Riris dengan tatapan tak bersahabat seolah tak menyukai yang Riris lakukan. 


"Fi.. Bagaimana keadaan kamu selama ini? Kamu pindah rumah nggak bilang bilang Fi." Ucap Citra. 


Fiana hanya tersenyum sinis tak menjawab ataupun menanggapi ucapan Citra. 


Riris yang menyadari sikap Fiana segera membuat alasan. 


"Sepertinya Fiana lagi capek Cit, kamu sama tante aja yuk di luar." Ajak Riris. 


"Ohh iya tante..  Emm kebetulan Citr juga mau ijin ke kamar kecil."


"Ohh.. Oke!"


***


Citra menatap wajahnya di cermin. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah mencuci tangannya. 


"Hehh…"


Citra melihat bayangan di cermin. Ada Fiana yang tengah melipat tangannya bersandar pada dinding toilet. 


"Gue mau ngomong."


Citra terlihat senang karena bertemu Fiana di toilet. Namuni cara memandang dan berbicara Fiana sangat tak bersahabat sehingga memudarkan senyum di wajah Citra. 

__ADS_1


"Lo jangan sok akrab sama gue. " Ucap Fiana. 


Citra sungguh terkejut dengan ucapan Fiana yang menohok mengingat seberapa dekat mereka dulu. 


"Kita nggak sedekat itu." Lanjut Fiana yang berhasil membuat hati Citra sakit. 


"Jangan karena mama gue baik sama lo. Lo jadi manfaatin dia buat pansos sama gue. Denger ya!" 


Fiana mendekat pada Citra. 


"Level kita beda. Anggap lo nggak kenal gue, begitu juga sebaliknya. " Bisik Fiana. 


"FIANA.." sentak Riris dari balik pintu toilet. Entah sejak kapan wanita paruh baya itu berdiri di tempat itu. 


Fiana tidak mengucapkan apapun. Dia hanya menatap Riris dengan gusar dan berlalu mengabaikannya. 


"Cit.. Kamu jangan masukin hati omongan Fiana ya nak. Dia lagi kena star syndrome kayaknya. Maafin dia ya nak. "


Citra menggeleng pelan. 


"Citra ngerti tante. Citra tau Fiana seperti apa."


"Ya sudah ya. Kita lihat penampilan Fiana lagi yuk. Katanya bakal ada pengumuman penting gitu. Tante jadi penasaran."


Citra mengangguk. 


Mereka kembali berjalan beriringan meninggalkan toilet.


****


"Aku cantik tidak?" Goda Fiana kepada lelaki yang tengah meainkan ponselnya di ruang khusus artis utama. 


Lelaki itu melirik sekilas pada Fiana krmudian kembali memainkan ponselnya. 


"Ya… Apa konsernya belum selesai?" Jawab Andreas datar. 


"Satu lagu lagi. Ayo kita pergi, aku alan antar kmu ke kursi VIP. "


Fiana menggandeng Andreas ke kursi penonton. Tentu saja hal itu menarik perhatian para paparazzi yang ada di tempat itu dan mrmbuat mereka segera berkerumun. 


Cekrek Cekrek


"Fiana, kabarnya anda akan menikah dalam waktu dekat ini?"


"Apakah berita ini benar? Tolong konfirmasinya kak!"


Kerumunan wartawan tak henti hentinya mengambil gambar Fiana dan Andreas, juga mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. 


Fiana mengulas senyum yang begitu manis, sementara asistennya berusaha melindunginya dari kerumunan para pencari berita itu. 


"Untuk berita itu memang benar. Ya saya sudah bertunangan." Fiana menjawab dengan senyuman lagi. 


Sesekali dia menatap Andreas sambil tersenyum manja. "Iya kan sayang?"


"Wahh beneran guys"


Segerombolan pemburu gosip itu saling berbisik. 


"Guys bener guys." Bisik para wartawan itu.


"Jadi kakak dan Andreas Yudhistira akan menikah dalam waktu dekat?"


"Doakan saja yang terbaik buat kami ." Senyum Fiana kembali mengembangnamun tidak dengan Andreas. 


Tanpa mereka sadari ternyata sepasang mata bermanik hitam tengah memperhatikan mereka dengan air matanya yang sudah membanjiri pipi mulusnya. 

__ADS_1


Aku tahu tak seharusnya aku punya perasaan seperti ini dan sudah harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi mengingat statusku. Tapi semakin ku tepis perasaan ini semakin kuat. Dan sakit yang kurasa juga semakin dalam. 


__ADS_2