WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN

WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN
CERITA MASA LALU


__ADS_3

Belasan tahun lalu tepatnya pada saat Feby berusia kurang lebih lima tahun tampak sedang mengais - ngais tempat sampah hanya untuk mencari sisa - sisa makanan yang dapat menghilangkan rasa laparnya.


Feby yang masih mungil itu di temukan oleh mami Vera dalam keadaan kotor dan dekil.


Waktu itu mami Vera yang masih muda tanpa sengaja menyaksikan Feby menyantap kulit pisang yang ditemukannya dari dalam bak sampah.


"Hei sayang ! Jangan dimakan ya !" mami Vera mengambil kulit pisang tersebut dari genggaman tangan Feby lalu membuangnya jauh - jauh.


"Kamu lapar ya ? Belum makan ?" tanya mami Vera dengan penuh kasih sayang.


Feby menjawab pertanyaan itu hanya dengan anggukan kecil.


"Yasudah kakak beliin roti ya !" mami Vera pun menggendong Feby yang masih kecil dan membawanya menuju warung terdekat.


Setibanya diwarung


"Ibu permisi ! Saya beli rotinya satu ya bu !" ucap mami Vera sembari mengeluarkan beberapa uang recehan dari dalam sakunya.


"Aduh ! Uang segini tidak cukup membeli roti ! Pergi sana ! Bawa anak itu pergi juga ! Dia bau sekali !" bentak ibu penjaga warung.


"Tolonglah buk, sekali ini saja ! Saya akan melakukan apapun !" mami Vera berusaha memohon agar ibu penjaga warung memberikan sebuah roti kepadanya.


"Hah ! OrangĀ  ini menyusahkan sekali ! Yasudah ini ambil satu, pergilah !" bentak penjaga warung sembari melemparkan satu buah roti coklat.


Dengan cepat mami Vera pun memungut roti tersebut "Trimakasih bu !" ucapnya, lalu pergi meninggalkan warung itu bersama dengan Feby.


"Ini makanlah !" mami Vera memberikan roti tersebut kepada Feby sesaat setelah ia membuka bungkusnya.


"Kita kerumah kakak ya !" ucap mami Vera, lalu pergi dengan menggendong Feby yang masih kecil.


Mami Vera memiliki sebuah tempat tinggal yang hanya terbuat dari rotan dan berlantaikan tanah. Rumah itu tampak hampir roboh.


Hidup mami Vera sebenarnya masih jauh dari kata cukup, namun ia tetap memutuskan untuk merawat Feby yang masih balita.


Ia merasa anak semungil itu tidak pantas merasakan penderitaan seperti ini.


"Mulai sekarang kita tinggal disini ya sayang !" ucap mami Vera dengan lembut.


Feby hanya berdiri dalam diam sembari menggenggam roti yang telah tersisa setengah lagi.

__ADS_1


"Kenapa rotinya gak di habisin ?" tanya mami Vera.


Feby tidak menjawab perkataannya, ia hanya diam sembari menyimpan roti tersebut. Tampaknya Feby sengaja menyimpan roti yang tersisa itu untuk disantapnya nanti.


Mami Vera yang menyaksikan itu lansung mengerti, sekilas hatinya merasa sedih melihat anak seusia itu harus menderita merasakan pahitnya kehidupan.


"Apa yang harus aku lakukan ? Disini tidak ada seorangpun yang menerimaku untuk bekerja ?" batin mami Vera.


Mami Vera adalah gadis yang menawan, parasnya cantik dan bentuk tubuhnya sangat indah mempesona. Namun meskipun begitu, tidak ada seorangpun yang menerima dia bekerja karena penampilannya yang kotor.


Ia pun mulai frustasi memikirkan cara untuk mendapatkan sejumlah uang agar dapat menghilangkan rasa lapar pada Feby dan dirinya.


"Sudah dua hari aku tidak makan !" Sesaat mami Vera menyaksikan tiga orang petani lelaki sedang berbincang - bincang, tampaknya para petani itu sedang menikmati waktu istirahatnya.


Tanpa berfikir panjang, mami Vera pun berniat menghampiri para petani itu demi mengisi perut yang kosong.


"Sayang ! Kamu tunggu sebentar disini ya !" ucap mami Vera kepada Feby, lalu pergi meninggalkannya.


Setibanya disana


"Permisi pak ! Apa ada lowongan untuk saya disini ? Saya akan mengerjakan apapun !" tanya mami Vera dengan sopan.


"Adek cari kerja sama yang lain saja ya !" ucap lelaki lainnya.


"Maaf ya dek !" ucap para petani itu kemudian, lalu kembali berbincang - bincang dan mengabaikan mami Vera.


Secara tiba - tiba mami Vera sengaja membuka pakaiannya untuk memperlihatkan tubuh bagian atasnya kepada para petani itu.


Deg !


Ketiga petani itupun tampak terkejut menyaksikan pemandangan yang tak biasa itu.


"Apa yang kau lakukan adek manis ?" tanya salah satu lelaki diantara mereka.


"Silahkan lakukan apapun pada saya, asal kalian memberikan saya uang !" ucap mami Vera dengan tegas.


"Tapi kami tidak memiliki uang !" jawab petani itu.


Namun mami Vera tidak menghiraukannya, ia tetap berdiri tegap sembari memamerkan tubuh bagian atasnya.

__ADS_1


Melihat itu, para petani lansung berdiskusi dan mengumpulkan seluruh uang yang berada di saku mereka.


"Maaf dek ! Kami sama sekali tidak memiliki uang, kami hanya petani biasa ! Inilah uang yang kami punya, hanya tigapuluh ribu saja !" ucap petani itu setelah selesai mengumpulkan uang yang mereka miliki menjadi satu.


"Tidak apa - apa ! Saya terima meski hanya tigapuluh ribu ! Kalian boleh melakukan apapun pada saya !" lantang mami Vera.


"Apa kau yakin ? Ini hanya tigapuluh ribu saja !" tanya seorang lelaki diantara mereka.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, dengan cepat mami Vera duduk diantara mereka bertiga dan menempelkan tubuhnya pada para petani itu.


Seketika ketiga petani itupun tergoda untuk melakukannya.


Dan akhirnya mami Vera telah berhasil menjual dirinya sendiri senilai tigapuluh ribu rupiah demi sesuap nasi.


Kejadian itu secara diam - diam disaksikan oleh Feby dari dalam rumah gubuk milik mami Vera yang berada tak jauh dari kebun itu.


Beberapa menit kemudian, mami Vera telah selesai melayani ketiga petani itu, ia pun pergi meninggalkan para petani itu sambil membawa uang berjumlah tigapuluh ribu rupiah.


Itu adalah nilai uang terbesar yang pernah dipegang olehnya.


Tanpa berpikir panjang ia pun bergegas membeli satu bungkus nasi dan air mineral, jumlah uang yang harus dibayarkannya hanya sebesar limabelas ribu saja. Ia masih memiliki sisa uang untuk membeli makan malam.


Sejak saat itu, mami Vera selalu menawarkan dirinya kepada petani - petani yang berada disana. Secara perlahan ia pun mulai merawat diri dan membeli pakaian - pakaian murah dari pasar agar ia dapat menjual dirinya kepada pria yang lebih dari para petani.


Beberapa tahun kemudian, Feby telah berumur limabelas tahun, ia pun berniat untuk membantu mami Vera mencari uang dengan cara melakukan pekerjaan seperti yang telah dilakukan oleh mami Vera.


Tanpa bertanya apapun mami Vera lansung menyetujui keputusan yang dibuat oleh Feby, ia mulai membantu menjual tubuh Feby kepada pengusaha - pengusaha kaya.


Beruntungnya banyak pengusaha kaya yang menginginkan Feby. Mami Vera pun memanfaatkan situasi ini, ia menawarkan harga tinggi untuk tubuh Feby dalam satu malam.


Uang hasil melayani tamu digunakannya untuk merawat wajah dan tubuh Feby agar nilainya semakin mahal.


Lama - kelamaan Mami Vera pun semakin terkenal di kalangan - kalangan pengusaha kaya yang menginginkan kesenangan. Banyak pula wanita - wanita yang memiliki ekonomi rendah meminta bantuan kepada mami Vera untuk menawarkan diri mereka kepada pengusaha - pengusaha kenalan mami Vera.


Bahkan mami Vera mendapat suntikan dana dari seorang pengusaha untuk membuka sebuah distrik hiburan malam agar para pengusaha itu dapat memilih wanita - wanita yang mereka inginkan dengan mudah.


Begitulah kisah masa lalu mami Vera dan Feby hingga jadilah mereka seperti sekarang ini.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2