WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN

WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN
MEMUTUSKAN MENINGGALKAN PEKERJAAN KOTOR


__ADS_3

"Apa - apaan sih mami ! Memangnya kenapa kalau pengusaha paling kaya di kota ini ?! Mau pengusaha keg, mau apa keg yang penting dia harus bayar uang jasa !" gerutu Feby.


"Aku tidak peduli sama sekali kalau dia pengusaha kaya !" lanjutnya.


"Siapa pengusaha kaya ?" tanya Ronald yang sedari tadi telah menguping.


"Eh pak ! Ehm tidak ada kog pak ! Hehehe !" jawab Feby gugup.


"Gimana tidurnya pak ? Nyenyak ?" tanya Feby kemudian.


"Ya lumayan lah !" jawab Ronald berbohong.


"Bagus deh ! Kalau begitu, saya mandi dulu ya pak !"


"Oh iya silahkan ! Saya juga akan mandi setelah kamu selesai !" Feby pun bergegas membersihkan dirinya.


Beberapa jam kemudian Feby dan Ronald telah selesai membersihkan diri dan bersiap untuk kembali kerumah masing - masing. Ronald pun telah memberikan uang jasa beserta bonusnya kepada Feby.


"Trimakasih untuk bayarannya dan juga bonusnya pak ! Senang berbisnis dengan bapak !" ucap Feby sembari tersenyum lebar menyaksikan uang - uang yang ada di tangannya.


"Iya sama - sama ! Trimakasih juga sudah menemani saya !" jawab Ronald sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu, saya pulang dulu pak ! Bye bye !" Feby pun berpamitan dengan centilnya.


"Tunggu !" Seketika Ronald menghentikan langkah kaki Feby.


"Hm ? Kenapa pak ? Masih perlu bantuan saya ?" tanya Feby dengan sopan.


"Bu.. bukan !" jawab Ronald gugup, membuat Feby tampak bingung.


"Apakah kamu masih mengambil tamu sepulang dari sini ?" tanya Ronald kemudian.


"Tentu saja ! Saya akan melayani tamu sebanyak mungkin !" jawab Feby dengan lantangnya.


Ronald tampak kecewa setelah mendengar jawaban yang ucapkan oleh Feby. Rasanya ia tidak rela mendengar Feby tidur dan melayani pria lain.


"Em maaf sebelumnya ! Kalau boleh saya tahu, berapa bayaran setiap kali kamu melayani seorang pria ?" tanya Ronald kemudian dengan sopan dan lembut agar tidak menyinggung perasaan Feby.

__ADS_1


"Maksud bapak apa ya ?" Feby tampaknya sedikit tersinggung setelah mendengar pertanyaan yang telah di lontarkan oleh Ronald.


Dengan cepat, Ronald pun memikirkan cara agar Feby tidak salah paham dengan ucapannya.


"Maaf ! Maksud saya, barangkali uang yang saya berikan itu kurang ?" ucap Ronald kemudian.


"Oohh !! Saya pikir apaan !" jawab Feby,  tampaknya ucapan Ronald dapat memperbaiki kesalah - pahaman itu dengan cepat.


"I..iya ! Hehehe !" Ronald pun merasa lega.


"Tenang saja pak ! Uang yang bapak berikan itu lebih dari cukup ! Biasanya satu malam itu saya hanya di bayar duapuluh sampai empatpuluh juta, itu juga harus dibagi lagi !" ucap Feby menjelaskan.


"Dibagi ?" Mendengar itu, Ronald tampak sedikit bingung.


"Iya ! Setiap satu pelanggan, mami Vera akan mendapat empatpuluh persen dari bayaranku, soalnya dia yang sudah memberikan tamu kepadaku ! Lagi pula mami Vera juga yang telah membesarkanku, jadi bagiku itu tidak menjadi masalah ! Hitung - hitung balas budi !"


"Balas budi ? Apa kamu akan membalas budi dengan melakukan pekerjaan seperti ini ?"


"Tentu saja ! Hanya pekerjaan ini yang dapat menghasilkan uang banyak ! Lagi pula siapa yang mau menerima orang yang tidak memiliki pendidikan sama sekali sepertiku ! Hahaha ! Lucu sekali !"


"Iya ! Terkadang dua tamu ! Tergantung kesepakatan mami Vera dengan pelanggan !"


"Kalau saya ingin kamu berhenti melakukan pekerjaan seperti itu, apakah kamu mau melakukannya ?"


Jlep !


Seketika Feby terdiam membisu, ia tidak menyangka akan mendengarkan hal seperti itu dari pelanggannya. Selama ini tidak ada seorangpun yang bertanya seperti itu kepadanya.


Perasaan senang dan sedih pun menjadi satu. Di satu sisi Feby merasa senang karena ada yang ingin membebaskan dirinya dari pekerjaan kotor yang telah ia lakukan selama bertahun - tahun, namun di sisi lain ia merasa tidak pantas untuk berhenti dari pekerjaan kotor yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.


"Ah bapak ini bicara apa ? Saya tidak mungkin bisa berhenti dari pekerjaan ini ! Ini sungguh menyenangkan" jawab Feby sembari tersenyum lebar, namun senyum yang dilemparkan itu sangat jelas terlihat penuh kepalsuan.


"Kalau seandainya saya memberikan kamu duaratus juta dalam sebulan, apakah kamu mau berhenti dari pekerjaanmu ?" Ronald berusaha untuk membuat Feby berhenti melakukan pekerjaan kotornya.


Deg !


Feby terdiam membisu setelah mendengar ucapan Ronald. Jantungnya berdetak tidak kencang. Sepasang bola matanya tampak berkaca - kaca, ia merasa sangat terharu mendengar seseorang ingin membebaskannya dari pekerjaan kotor yang selama ini ingin di hindarinya.

__ADS_1


"Hahaha ! Bapak jangan bercanda, saya tidak suka dengan candaan bapak ! Hahaha" Feby berusaha menutupi kesedihannya dengan cara tertawa lebar.


"Saya tidak sedang bercanda ! Saya ingin kamu berhenti dari pekerjaan itu !" jawab Ronald tegas.


Seketika air mata Feby menetes membasahi pipi, ternyata yang ia dengar bukanlah sebuah mimpi. Ia tidak menyangka keinginannya selama ini akan teruwujud. Sudah bertahun - tahun lamanya ia ingin keluar dari pekerjaan kotor ini, namun faktor ekonomi membuatnya tidak dapat meninggalkan pekerjaan itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat membenci pekerjaannya itu, ia juga membenci dirinya sendiri yang telah kotor.


"Bapak tidak bercanda kan ? Saya sangat tidak suka dengan candaan bapak ini ?" tanya Feby sembari air mata terjatuh menetes membasahi wajah cantiknya.


"Ma..maaf ! Saya tidak bermaksud menyakiti hatimu ! Maafkan saya ! Saya memang menginginkan kamu berhenti dari pekerjaan itu ! Ta.. tapi kalau kamu tidak mau, yasudah tidak apa - apa ! Saya minta maaf" Ronald merasa sangat bersalah, ia menduga bahwa ucapannya telah menyinggung dan menyakiti perasaan Feby sehingga membuatnya menangis.


"Tidak pak ! Bapak tidak salah sama sekali ! Saya memang sangat menginginkan keluar dari pekerjaan kotor ini !" Feby menjelaskan sambil berusaha tersenyum meski air mata mengalir deras di pipinya.


"Sa..saya tidak menyangka akan ada pria yang mencoba membebaskanku ! Hahaha ! Ini seperti mimpi bagiku ! Hahaha !" ucapnya lagi sembari tertawa di dalam tangisnya.


Grep !


Secara spontan, Ronald memeluk erat tubuh Feby sehingga membuat Feby seketika terkejut. Namun tanpa sengaja tangis Feby tiba - tiba pecah di dalam pelukan Ronald. Ia menangis sejadi - jadinya, sudah bertahun - tahun lamanya ia tidak pernah menangis seperti ini.


"Ma.. maaf ! Saya bukan bermaksud seperti itu !" Ronald pun tampak terkejut dengan tindakan yang di lakukannya, secara perlahan ia pun mundur menjauh dari Feby.


"Tidak apa - apa pak ! Justru saya yang harus meminta maaf ! Harusnya saya tidak menangis seperti ini di hadapan pelanggan ! Memalukan sekali !" ucap Feby sembari menghapus air mata yang telah membasih pipinya.


"Hahaha ! Maaf ya pak !" ucapnya kemudian.


"Tidak perlu meminta maaf ! Saya tidak merasa terganggu sama sekali !" jawab Ronald.


"Jadi apa kamu mau berhenti dari pekerjaanmu ?" tanya Ronald kemudian.


Secara perlahan, Feby menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia ingin berhenti dari pekerjaan kotornya.


Ronald yang menyaksikan itu pun tampak senang. Akhirnya keinginannya terwujud untuk tidak berbagi kasih dengan lelaki lainnya.


"Boleh saya minta nomor telepon kamu ?" ucap Ronald sembari mengeluarkan telepon genggam miliknya.


"Boleh !" lirih Feby.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2