
Sementara itu di ruang kerja Ronald.
“Sayang! Hari ini kamu pulang ke rumah kan ?” tanya Luna kepada Ronald.
“Iya dong sayang! Kamu sabar ya! Aku selesaikan dulu pekerjaanku yang sedikit ini!” jawab Ronald sembari menggenggam tangan Luna dengan lembut.
“Aku dan Bela akan menunggu dirumah! Jangan tidur di kantor lagi, kasian isterimu ini kesepian setiap malam!” ucap Luna dengan manjanya.
“Uluuhh! Isteriku yang cantik ini ternyata kesepian dirumah ya?”
Tiba – tiba
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu, dan secara bersamaan Sekretaris Ronald muncul dari balik pintu ruangannya itu.
“Permisi pak! Hiks!” ucap Sekretaris itu sembari menangis dan memegang pipi kirinya, membuat Ronald dan Luna sedikit terkejut.
“Lho ? Kamu kenapa ? Bukannya tadi saya menyuruhmu untuk mengajari karyawan baru ?” tanya Ronald kebingungan.
“Hiks! Ma.. Maaf pak! Hiks!” jawab Sekretaris itu sembari tetap menangis dan memegang pipi kirinya.
“Sayang!” Luna tampak bingung menyaksikan sekretaris itu yang tiba - tiba saja datang sambil menangis.
“Sebentar ya sayang! Aku urus ini dulu!” kata Ronald kepada Luna.
“Kenapa bibir kamu terluka ? Ada apa sebenarnya ?” tanya Ronald tegas.
“Saya di tampar pak! Hisk!” jawab Sekretaris itu sambil tetap menangis.
“Sayang! Kayaknya aku harus pulang! Kamu selesaikan dulu masalah ini!” ucap Luna.
“Aku antar kamu ya!”
“Tidak perlu sayang! Kasian itu sekretaris kamu, sampai terluka begitu!” bisik Luna kepada Ronald.
“Kalau begitu aku antar sampai depan saja!" jawab Ronald.
"Sebentar ya sayang!” ucap Ronald kemudian.
“Kamu tunggulah disini! Silahkan duduk di sofa dulu! Saya ingin mangantar isteri saya dulu sampai ke depan!” kata Ronald kemudian kepada Sekretarisnya itu.
“Baik pak!” jawab Sekrataris itu, lalu duduk di sofa sembari tetap memegang pipi kirinya yang terasa sakit.
“Ayo sayang!” ucap Ronald kepada Luna.
__ADS_1
Mereka pun pergi meninggalkan Sekretaris itu di dalam ruangan sendirian. Dengan cepat, Ronald dan Luna melangkahkan kaki karena panik menyaksikan Sekretarisnya itu telah di aniaya oleh orang lain, ini adalah kejadian pertama yang pernah terjadi di kantornya.
Dubrak!
Tiba – tiba saja Luna bertabrakan dengan Feby saat hendak melangkah menuju parkiran.
Deg!
Sesaat jantung Ronald berdetak kencang, ada perasaan panik di dalam hatinya menyaksikan wanita selingkuhannya sedang bertatapan dengan isteri sahnya tepat di hadapannya.
“Maaf mbak! Saya tidak sengaja karena buru – buru banget!” ucap Luna kepada Feby.
“Ini isteri sah nya Ronald ?” batin Feby, sesaat ia menyaksikan tangan Ronald menggenggam erat tangan Luna isteri sahnya itu, dalam sekejab rasa cemburu muncul membuat hatinya seketika merasa sakit.
“Mbak! Halo! Mbak tidak apa – apa ?” Luna yang menyaksikan itu terlihat kebingungan.
“Ah tidak apa –apa kog!” jawab Feby sembari menatap sepasang bola mata Ronald, lalu menatap tangannya yang menggenggam erat tangan Luna.
Ronald yang melihat itu seakan mengerti, secara perlahan ia pun melepaskan genggaman tangannya, membuat Luna sedikit merasa bingung.
“Sayang! Ada apa ?” tanya Luna kepada Ronald.
“Ti.. tidak apa – apa kog sayang! Yaudah yuk lanjut jalan!” jawab Ronald sedikit panik.
“Mbak! Maafkan isteri saya ya! Dia tadi tidak sengaja menabrak!” ucap Ronald kemudian kepada Feby.
Dalam sekejab, hati Feby terasa sakit mendengar lelaki yang sangat dicintainya memanggil dirinya dengan sebutan mbak di depan isteri sahnya. Sakit yang dirasakan seperti menyerang jantungnya secara bertubi – tubi dan membabi buta. Melihat lelaki yang dicintainya menggandeng tangan wanita lain saja sudah sangat menyakiti hatinya, sekarang ia harus berpura – pura tidak saling mengenal dengan lelaki yang dicintainya itu.
“Halo! Mbak ?” ucap Luna sembari melambaikan tangannya di hadapan Feby.
“I.. Iya! Sa.. Saya tidak apa – apa kog!” jawab Feby gugup.
“Baiklah kalau memang tidak apa – apa! Saya dan isteri saya permisi dulu!” kata Ronald, lalu meninggalkan tempat itu.
“Permisi ya mbak!” ucap Luna sembari mengikuti Ronald dari belakang.
“I.. Iya! Silahkan!” jawab Feby.
“Sayang! Kamu lain kali hati – hati ya! Jangan sampai menabrak orang lain seperti tadi!” kata Ronald kepada Luna sembari merangkul bahu isterinya itu, membuat hati Feby semakin terasa sakit.
“Beginikah rasanya mejalani hubungan dengan suami orang ? Harus rela di tinggalkan demi wanita yang telah menjadi isteri sahnya ?” batin Feby, tanpa terasa air matanya telah menetes membasahi wajah cantiknya itu.
“Permisi! Kamu karyawan baru disini ya ?” sapa seorang karyawan lelaki kepada Feby.
“Eh.. I.. iya benar!” jawab Feby sembari mengusap air matanya.
__ADS_1
“Apa kamu baru saja menangis ?” tanya lelaki tersebut.
“Ah ti.. tidak kog! Eh maksudnya, iya benar, saya baru saja menangis! Saya sangat terharu karena dapat bekerja di perusahaan ternama ini!” jawab Feby berbohong.
“Oh! Itu memang hal yang wajar! Saya juga dulu pernah menangis saat pertama kali bekerja disini, tetapi lama – kelamaan pekerjaan itu terasa seperti beban yang sangat berat dan kita harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya!”
“Oh!” jawab Feby sembari tersenyum tipis.
“Ngomong – ngomong nama kamu siapa ?”
“Saya Feby!”
“Saya Jaka! Salam kenal ya! Semoga betah disini! Kalau ada perlu apa – apa, kamu bisa panggil saya kog!” ucap lelaki itu sembari tersenyum tipis.
“Oh! Trimakasih banyak pak!” jawab Feby canggung.
“Ehm!” Tiba – tiba saja Ronald telah kembali dan membuat karyawan lelaki itu seketika terkejut.
“Maaf pak! Permisi pak!” ucap lelaki itu, lalu meninggalkan Feby bersama Ronald.
“Kamu tidak apa – apa ?” tanya Ronald kepada Feby.
“Oh! Tidak apa – apa kog! Dia tadi hanya sekedar menyapa saja!”
“Berani sekali dia menyapa wanitaku ya! Aku pecat baru tahu rasa!”
“Ih jangan dong! Kamu kog jahat banget!”
“Ya siapa suruh dia deketin milikku!” ucap Ronald tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada Feby.
“Yasudah kalau begitu kita masuk ke ruangan aku dulu yuk! Ada masalah yang harus aku selesaikan sedikit!” kata Ronald, lalu mengandeng tangan Feby sembari berjalan bersama memasuki ruang kerjanya.
“Kamu tahu tidak ? Sekretaris yang aku kenalkan sama kamu baru saja di aniaya orang lain! Padahal selama ini kantor selalu aman – aman saja! Aku penasaran, siapa orang yang telah berani menganiaya karyawan kepercayaanku!” ucap Ronald sembari tetap berjalan, membuat Feby seketika tercengang.
Ronald sama sekali tidak menyadari bahwa wanita selingkuhannya itulah yang telah menganiaya Sekretaris kepercayaannya itu.
Dengan perasaan gugup dan sedikit rasa takut, Feby hanya mengikuti Ronald tanpa sepatah katapun.
Setibanya di ruangan, tampak Sekretarisnya yang telah lama menunggu di ruangan seketika terkejut menyaksikan Ronald datang bersama dengan wanita yang telah menampar dirinya.
“Hebat sekali! Pak Ronald lansung tahu siapa orang yang telah menganiaya aku! Rasakan itu anak baru! Kau pasti akan di pecat di hari pertamamu bekerja!” batin Sekretaris itu merasa lega, ia menduga bahwa Ronald akan memberikan hukuman yang setimpal kepada wanita yang telah menampar dirinya yaitu Feby.
“Duduk dulu! Aku akan bertanya kepadanya!” kata Ronald kepada Feby, lalu duduk bersama di atas sofa tepat di hadapan Sekretarisnya itu.
“Aduh! Perempuan ini ternyata lansung mengadu kepada Ronald! Habislah aku!” batin Feby seketika merasa panik.
__ADS_1
“Benar pak! Dia orang yang telah menampar saya! Bapak tidak salah sama sekali!” ucap Sekretaris itu secara tiba – tiba, membuat Ronald dan Feby tercengang saat itu juga.
Bersambung..