
Ronald dan Feby terus berjalan secara bersama - sama menuju ruang kerja Ronald.
“Permisi pak!” Tiba – tiba saja Sekretaris menghentikan langkah kaki Ronald dan Feby.
“Ya? Apakah ada tamu hari ini ?” tanya Ronald penasaran.
“Tidak ada pak! Tetapi ibu telah menunggu di dalam sejak tadi pagi pak!” jawab Sekretaris itu mengagetkan Ronald.
“Ibu ?” tanya Ronald penasaran.
“Iya pak!”
“Ibu, maksudnya isteri saya ?” tanya Ronald lagi.
“Benar pak!” jawab Sekretaris itu, membuat Ronald seketika menjadi panik.
“Tunggu bentar! Kamu bilang tadi kalau isteri saya sudah berada disini sejak pagi ?” tanya Ronald seakan tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
“Benar pak! Kalau tidak salah, sejak jam Sembilan pagi, ibu sudah berada di ruangan bapak! Kayaknya sih ingin memberikan bekal untuk bapak!” jawab Sekretaris itu mencoba menjelaskan.
Deg!
Deg!
Dalam sekejab, Raut wajah Ronald berubah menjadi pucat pasi, jantungnya pun berdetak kencang, sesaat ia teringat dengan ucapannya pada saat berkomunikasi dengan Luna melalui telepon genggam tadi pagi. Seketika ia pun menjadi panik karena telah berbohong kepada isterinya itu, dengan cepat ia memikirkan sebuah cara agar Luna, isteri sahnya itu tidak menaruh rasa curiga pada dirinya.
“Kamu ikut dia dulu ya!” kata Ronald kemudian kepada Feby, membuat Feby memandang Sekretarisnya sesaat.
“Kamu tolong bawa Feby ke ruangan kamu dulu ya! Dia adalah karyawan baru di kantor ini, tolong kamu ajari sebentar!” ucap Ronald kepada Sekretarisnya itu.
“Baik pak!” jawab Sekretaris itu singkat.
“Ayo ikut saya!” ucap Sekretaris itu kepada Feby.
Sesaat Feby memandang wajah Ronald seakan tidak rela berpisah dengan lelaki itu walau hanya sebentar saja. Ronald yang seolah –olah mengerti arti tatapan Feby hanya memberikan sebuah isyarat berupa anggukan ringan agar Feby menuruti perintahnya untuk mengikuti Sekretaris itu untuk selama Luna, isterinya masih berada di kantor. Feby pun akhirnya pergi bersama dengan Sekretaris itu.
__ADS_1
Sesaat setelah Feby pergi, Ronald kembali melanjutkan langkah kakinya dengan jantung yang masih berdetak kencang tidak beraturan, rasa panik kini menyelimuti pikirannya di sepanjang langkahnya.
Setibanya di ruangan, ia memandang Luna dari jauh sedang duduk bersandar pada kursinya sambil memegang kepalanya dengan mata terpenjam.
“Sa..sayang!” sapa Ronald, membuat Luna memandang kearahnya sesaat.
“Kamu sudah datang ?” tanya Luna dengan lembut.
“I..iya! Kamu sudah berapa lama disini sayang? Kenapa tidak kasih kabar terlebih dahulu ? Aku kan bisa jemput kamu tadi!” Ronald mencoba mencari cara agar isterinya itu tidak bertanya tentang kebohongannya tadi pagi.
“Oh! Aku hanya ingin memberikanmu sebuah kejutan! Aku juga telah memasak sarapan untukmu tadi pagi!” jawab Luna sembari menunjukkan bekal yang telah dibawanya.
“Benarkah ? Kebetulan aku lapar sekali sayang! Yasudah aku lansung makan saja ya! Pasti masakan isteriku enak sekali!” ucap Ronald sembari membuka bekal tersebut,tampaknya ia masih berusaha agar Luna melupakan percakapan tadi pagi.
“Wahh! Makanannya cantik sekali, dan juga wangi! Pasti enak!” Ronald mencoba mengambil sesuap makanan tersebut lalu mengarahkannya pada mulutnya, tingkah lakunya tersebut mampu membuat Luna tersenyum kecil.
“Enak sekali sayang! Masakan isteriku memang yang terbaik!” ucapnya sembari menyantap makanan tersebut dengan lahapnya, meskipun sebenarnya ia sudah makan bersama Feby sembelum berangkat ke kantor.
“Kamu jangan berlebihan deh! Gak lucu tau!” ucap Luna sembari tersenyum kecil.
“Oh iya, tadi pagi kamu kemana ? Trus kamu gak tidur di kantor ya selama ini ?” tanya Luna mengagetkan Ronald, hingga membuat ia berhenti menyantap makanan itu.
“Ehm! Sebentar sayang, aku minum dulu!” ucap Ronald, lalu meneguk segelas air putih yang berada di atas mejanya sembari memikirkan sebuah alas an agar Luna tidak curiga sedikitpun kepadanya.
“Kenapa dia seakan – akan sulit menjawab pertanyaanku ?” batin Luna menyimpan rasa curiga.
“Ah! Enaknya!” ucap Ronald kemudian, lalu meletakkan kembali gelas yang telah kosong itu.
“Tadi kamu tanya apa sayang ?” tanya Ronald kemudian.
“Kamu tadi malam gak tidur disini ya ?”
“Oh iya benar sayang! Aku lupa cerita sama kamu! Kamu tahu pak Andi kan ?” ucap Ronald, berusaha menyembunyikan kebenaran dari isterinya itu.
“Pak Andi ? Maksud kamu orang yang akan bekerja sama dengan untuk menciptakan sebuah perusahaan baru itu ya ?” tanya Luna menegaskan.
__ADS_1
“Iya benar sayang! Kamu ingat juga, jadi tadi malam aku ke kantornya membahas masalah kerjasama itu, gak mungkin dia yang datang kesini terus kan ? Nah, kami sama – sama ketiduran disana! Sekretaris yang berisik tadi pagi itu juga sekretaris dia sayang!” ucap Ronald berbohong.
“Kamu tahu gak sayang! Pak Andi itu ternyata punya hubungan dekat lho dengan sekretarisnya !” ucap Ronald lagi, mencoba mengalihkan topik.
“Hubungan bagaimana maksudnya?” tanya Luna penasaran.
“Hubungan begitu lho! Masa gak tahu?”
“Maksudnya pacaran ?”
“Iya benar! Pacaran!”
“Bukannya pak Andi sudah memiliki isteri ya?” tanya Luna lagi.
“Iya sudah! Bahkan sudah punya tiga orang anak lho sayang! Coba bayangin!” Tampaknya Ronald berhasil mengalihkan perhatian Luna dan membuat rasa percaya Luna terhadap dirinya kembali.
"Berarti pak Andi berselingkuh dong ?"
"Benar sekali!"
"Astaga! Kamu jangan seperti itu ya sayang!" kata Luna kepada Ronald.
"Ya pasti enggak dong sayang! Aku kan sayang sama kamu dan Bela, mana mungkin tega melakukan hal itu! Isteriku secantik ini kog diselingkuhi!" ucap Ronald sembari mencubit pipi Luna, isterinya dengan lembut.
"Oh iya, kemarin kamu bilang lembur karena ingin mengerjakan berkas - berkas dari klien wanita waktu itu, kog lemburnya malah jadi urusin kerjasama dengan pak Andi sayang?" tanya Luna dengan polosnya.
Deg!
Sontak Ronald terkejut, sesaat ia teringat akan ucapannya waktu itu di restoran. Ia tidak menyangka bahwa isterinya tidak melupakan hal itu, dengan cepat ia pun mencoba memikirkan sebuah alasan untuk membuat isterinya itu tidak menyimpan rasa curiga sedikitpun kepadanya.
"Em! Tadinya kalau berkas itu belum selesai, aku akan lembur mengerjakannya! Tetapi sayangnya, berkas itu cepat banget selesainya sayang! Sebenarnya kemarin jam enam sudah mau pulang, tapi pak Andi tiba - tiba saja datang tanpa membuat janji! Dia memang selalu begitu, suka datang tiba - tiba sayang! Mungkin lain kali aku akan beritahu pada sekretaris agar membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu denganku" Ronald berusaha meyakinkan Luna dengan kebohongan yang baru saja dirangkainya.
"Oh begitu! Pantesan saja, tidurnya gak di kantor! Hampir saja aku curiga padamu sayang! Maaf ya!" Seketika Luna merasa bersalah kepada suaminya itu karena telah memikirkan hal - hal kotor tentang dirinya sebelumnya.
Bersambung..
__ADS_1