WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN

WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN
LUNA DIRAWAT


__ADS_3

“Sayang! Kog aku kepikiran sama kecelakaan tadi ya?” tanya Feby.


Tampak Feby dan Ronald telah berada di dalam apartemen milik wanita selingkuhannya itu. Kecelakaan yang menyebabkan kemacetan tadi membuat hati Ronald sekilas terasa resah dan gelisah seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya. Namun meskipun begitu, ia tetap tidak ingin mengaktifkan ponselnya agar Luna, isterinya tidak mengganggu waktunya bersama dengan Feby wanita selingkuhannya itu.


“Tidak perlu memikirkan yang aneh – aneh sayang!” kata Ronald sembari bersiap untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


“Iya sih!” jawab Feby singkat.


“Sayang, aku hidupin TV ya, kamu gak merasa terganggu kan ?” tanya Feby sembari mengambil remote televise yang terletak rapi diatas meja tepat berada di samping ranjangnya.


“Iya hidupin saja sayang! Aku ingin mandi bentar!” jawab Ronald sembari melangkah menuju toilet.


Feby pun menyalakan televisinya itu, lalu pergi merapikan sepatu Ronald ke atas rak sepatu miliknya.


Tiba – tiba saja acara di televise menunjukkan sebuah berita kecelakaan yang baru saja terjadi. Wajah dan identitas Luna sangat jelas terlihat di dalam berita tersebut, hal itu sengaja dilakukan agar keluarga Luna dapat mengetahui peristiwa yang telah terjadi. Namun sayangnya, Ronald tidak dapat mendengarkan suara dari berita tersebut karena dirinya sedang asik membersihkan diri di bawah derasnya air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.


“Luna ?” Feby yang sedang asik menata sepatu, sekilas mendengar nama Luna di sebutkan di dalam acara berita singkat tersebut. Dengan cepat ia menoleh ke arah televisie yang terpajang di depan ranjang tidurnya.


“Oh hanya cuplikan sinetron!” Namun yang ia saksikan hanyalah sebuah drama sinetron yang di tayangkan secara singkat di televisie.


“Aku pikir Luna isterinya Ronald!” ucap Feby kemudian.


“Mungkin karena aku terlalu cemburu makanya selalu kepikiran pada isteri Ronald itu!” ucapnya lagi.


“Sayang! Kamu ngapain ?” tanya Ronald yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk putih milik Feby.


“Lagi menyusun sepatu! Tadi aku hanya ingin meletakkan sepatu kamu di rak sepatu, tapi setelah di pikir –pikir sekalian saja aku bersihkan semua sepatu – sepatu ini sambil menunggu kamu selesai mandi!” jawab Feby.


“Kamu sudah selesai mandi sayang ?” tanya Feby kemudian.


“Sudah dong! Kamu tidak ingin mandi ?” Ronald menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk milik wanita selingkuhannya itu, sesaat ia menyaksikan acara televisie yang begitu membosankan untuk dinikmati oleh sepasang bola matanya, lalu dengan sigap ia mengambil remote televisie yang telah berada diatas ranjang, kemudian mematikan televisie tersebut dengan santainya.


“Kalau begitu, aku mandi dulu ya sayang!” Tanpa menunggu lama Feby beranjak dari tempatnya, lalu mengambil handuk yang terletak diatas tubuh lelaki yang dicintainya itu.


Grep!


Tiba – tiba saja Ronald menarik tubuh indahnya itu dan mendekapnya di dalam pelukannya.


“Mandi yang bersih ya ? Dan jangan lama – lama!” bisik Ronald ke telinganya dengan lembut.

__ADS_1


“Ih kamu apaan sih! Lepasin dong sayang! Kalau begini, bagaimana caranya aku mandi ?”


“Kalau aku tidak ingin melepaskanmu gimana ?”


“Sayang! Jangan nakal ya! Kapan aku mandinya kalau kamu peluk seperti ini ?”


“Cup dulu baru dilepas!” goda Ronald.


“Sayang! Sudah ya, jangan nakal! Aku ingin mandi!”


“Tidak cup, maka tidak akan kulepas!” ucap Ronald sembari memanjangkan bibirnya.


“Ummah! Sudah ya! Sekarang lepasin!”


“Gak ikhlas, gak akan di lepasin deh!” goda Ronald lagi.


“Ummmaah! Umaah! Umaaah!” Feby pun mengecup bibir lelaki yang dicintainya itu berulang kali, membuat Ronald tertawa kecil hingga melepaskan dekapannya.


“Nakal ya! Awas saja nanti!” ucap Feby sesaat setelah Ronald melepaskan dekapan itu, lalu Feby pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tampaknya Ronald sangat menikmati kebersamaannya dengan Feby, wanita selingkuhannya itu, sehingga membuat ia melupakan anak dan isterinya yang begitu mengkhawatirkan dirinya.


Sementara itu di suatu tempat tepatnya di sebuah rumah sakit, tampak Luna sedang di tangani oleh salah seorang dokter lelaki yang terlihat masih muda dan tampan.


“Hanya ada satu yang mencarinya dok, orang itu adalah asisten rumah tangga pasien itu!” jawab perawat tersebut.


“Yasudah tidak apa – apa! Yang penting, sudah ada orang yang mencari dia!”


Tiba – tiba


“Mamaaaa!! Maaaamaaa! Huhuhu! Maaamaa! Huhuhu!” teriak seorang gadis kecil dari kejauhan sembari menangis terisak – isak.


“Non, tenanglah! Mama pasti baik – baik saja!” ucap wanita yang berjalan bersama gadis kecil itu. Mereka adalah Bela, bibi dan supir pribadi Luna yang rela menghantarkan mereka diluar jam kerja.


“Dok! Bagaimana keadaan ibu ?” tanya bibi kepada dokter tersebut sesaat setelah tiba di depan pintu ruangan tempat Luna dirawat.


“Apakah ibu adalah keluarga dari pasien ?” tanya dokter.


“Saya asisten rumah tangganya dok, gadis kecil ini adalah anak dari ibu itu, dan bapak ini adalah supir pribadi ibu!” jawab bibi menjelaskan.

__ADS_1


“Maaammaaaa! Huhuhu! Maaamaa!” Tak henti – hentinya Bela menangis sambil memanggil – manggil mamanya.


“Non, tenang dulu ya!” ucap bibi berusaha membuat putri semata wayang itu berhenti menangis.


“Pasien tidak apa – apa! Hanya luka pada bagian kepala saja! Dia sangat beruntung, biasanya kecelakaan seperti ini dapat menyebabkan cacat tubuh bahkan kematian! Kalian boleh mengunjunginya sekarang!” kata dokter menjelaskan, membuat bibi dan supir terasa sedikit lega.


“Syukurlah! Terimakasih dok!” ucap bibi kemudian.


“Yasudah kalau begitu, saya permisi dulu!” kata dokter.


“Baik dok! Silahkan!” jawab bibi singkat.


Menyaksikan dokter telah pergi, tanpa menunggu lama, mereka semua pun masuk ke dalam ruangan tempat Luna dirawat.


“Maamaaa! Huhuhu!” teriak Bela sembari berlari menghampiri Luna yang terbaring lemah dengan lilitan perban di bagian kepalanya.


“Sayang! Kenapa nangis ? Mama tidak apa – apa lho!” ucap Luna lemah sembari membelai lembut rambut putri semata wayangnya itu.


“Maamaaa! Jangan bawa mobil sendirian lagi! Huhuhu!” kata Bela sembari tetap menangisi Luna.


“Iya – iya! Mama minta maaf ya sudah buat Bela khawatir! Sudah – sudah, mama baik – baik saja kog!”


“bu, kami sangat khawatir wajah ibu muncul di berita, pak Asep sampai datang malam – malam kerumah! Tapi untung sih pak Asep lansung datang tadi, jadi kami bisa kesini melihat ibu!” kata bibi.


“Benar bu! Saya sampai kaget tadi melihat wajah ibu di berita!” ucap pak Asep, supir pribadi Luna.


“Ya ampun, trimakasih banyak ya untuk kalian semua karena sudah mengkhawatirkan saya!” Sesaat Luna merasa terharu menyaksikan supir dan asisten rumah tangganya begitu mengkhawatirkan dirinya.


“Maaf gara – gara saya ceroboh, kalian semua sampai repot begini! Bela saja sampai menangis begini!” ucap Luna sembari tersenyum kecil.


“Lebih baik ibu jangan bawa mobil sendiri lagi deh! Telfon pak Asep saja!” kata bibi.


“Iya bu! Lain kali telfon saya saja, tidak apa – apa bu!” sambung pak Asep.


“Iya – iya! Em..Ngomong – ngomong suami saya tidak ada ya ?” Seketika sepasang bola mata Luna mencari keberadaan Ronald di sekililing ruangan.


“Pak Ronald belum pulang bu!” jawab bibi mengagetkan Luna.


“belum pulang ? Ini sudah malam lho! Aduh saya khawatir sekali kepadanya!” Tiba – tiba saja raut wajah Luna berubah seperti sedang menyimpan kegelisahan dan kekhawatiran.

__ADS_1


“Sudah bu, jangan pikirkan yang lain – lain dulu! Pak Ronald pasti baik – baik saja! Lebih baik ibu istirahat dulu!” kata pak Asep, membuat bibi mengangguk pelan.


Bersambung..


__ADS_2