
“Aku ingin pulang !” kata Feby kepada Edo.
“Kenapa ? Kau tak sanggup menyaksikan lelaki yang kau cintai bersama keluarganya ya ?” ucap Edo sembari tersenyum kecil.
“Bukan urusanmu !” ucap Feby jengkel.
Dengan cepat, Feby meninggalkan tempat itu agar Ronald tidak dapat melihatnya dengan penampilan seperti sekarang ini, sedangkan Edo masih terlihat sedang membayar bill dengan santainya.
Tak berapa lama Feby telah berada diluar restoran, tanpa menunggu waktu lama ia pun mencoba pulang dengan menggunakan sebuah taksi yang terparkir disana.
Namun
“Hei ! Mau kemana kamu ?” ucap supir taksi tersebut ketika menyaksikan Feby membuka pintu taksi yang di kendarainya.
“Pergi sana ! Disini bukan untuk bermain – main !” Tampaknya supir taksi tersebut menduga bahwa Feby adalah perempuan yang sedang mengalami gangguan jiwa.
“Saya mau pesan taksi !” kesal Feby.
“Tidak ada taksi untukmu ! Pergilah ! Hush ! Hush !”
“Apa segini cukup untuk membayar taksi ini ?” Dengan api amarah yang membara, Feby menunjukkan sejumlah uang senilai satu juta rupiah.
“Kamu pikir saya tidak waras ya ? Bahkan kepalamu pun bisa saya beli !” kata Feby dengan lantang, membuat supir taksi tersebut merasa bersalah.
“Saya akan buat laporan ke perusahaan kalian mengenai ini !” ucap Feby mengagetkan supir taksi tersebut.
“Jangan buk ! Saya mohon maafkan saya ! Saya akan dipecat jika mendapat laporan buruk !” Seketika supir taksi tersebut merasa panik dan khawatir.
“Pak ! Antar saya pulang !” ucap Feby kepada supir taksi yang berada tepat disebelah taksi yang tadi.
“Baik bu !” jawab supir tersebut.
Feby akhirnya pulang dengan menggunakan sebuah taksi, sesaat ia teringat pada Ronald yang tampak begitu mesra dengan keluarganya. Seketika muncul rasa cemburu yang membuat hatinya terasa sakit.
“Kenapa sih hari ini buruk sekali ?” batin Feby.
“Waktu aku melakukan pekerjaan kotor, aku tidak pernah merasa direndahkan, dan tidak pernah merasa tersakiti seperti sekarang ini ! Apa hidup normal sesakit ini ?” batin Feby lagi.
Tak berapa lama, tibalah Feby di depan apartemen mewahnya. Dengan cepat, ia turun dari taksi dan bergegas menuju kamarnya.
Sesampainya disana, ia lansung mengambil ponselnya yang ketinggalan.
“Lho batrainya habis !” Tanpa menunggu waktu lama, ia pun mengisi batreinya dan meletakkanya di atas meja riasnya.
“Kenapa ya hidupku seperti ini ? Apa hanya aku yang mengalami kehidupan seperti ini ?”
__ADS_1
“Apa benar kedua orangtua telah meninggal ? Jika memang benar, kenapa kalian tega meninggalkanku sendirian di dunia ini ?”
Tiba – tiba
Bip Bip Bip
Ponselnya telah hidup kembali, tanpa menunggu waktu lama, ia pun membuka ponselnya sembari tetap mengisi baterai ponselnya.
“empat belas panggilan tidak terjawab ?” Seketika ia terkejut menyaksikan notifikasi pada ponselnya.
“Ronald ?” gumamnya sesaat setelah membuka notifikasi pada ponselnya.
“Pesan dari Edo ? Ngapain dia mengirimku pesan ?” ucap Feby, lalu membuka pesan tersebut.
“Ternyata kau tidak bisa menunggu ya ? Yasudah kalau begitu, sampai ketemu dua tahun lagi !” Isi pesan dari Edo.
“Cih ! Siapa yang peduli padamu !” kesal Feby tanpa membalas pesan tersebut.
“Ronald ngapain ya sekarang ? Apa dia juga mencintai isterinya seperti mencintaiku ? Atau justru cintanya lebih besar kepada isterinya daripada cintanya kepadaku ?”
Berbagai pertanyaan muncul dihati Feby, tampaknya ia merasa cemas meninggalkan Ronald bersama isteri dan anaknya. Ia tidak ingin menyaksikan Ronald mencintai isteri dan anaknya karena ia takut Ronald akan meninggalkannya suatau hari nanti. Sekilas ia teringat pada saran mami Vera yang menyarankan untuk merebut Ronald dari isterinya.
“Apa aku harus merebut Ronald dari isterinya ? Tapi apakah tindakan seperti itu sangat kejam kepada sesame wanita ?” ucapnya.
Sementara itu di tempat lain, tampak Ronald dan keluarganya telah selesai menikmati makan siang bersama. Mereka pun bersiap untuk kembali pulang kerumah.
“Kayaknya enggak deh sayang, lagi pula sudah jam empat ! Di kantor juga tidak ada kesibukan apa – apa !” jawab Ronald.
“Oh ! Sepertinya akhir – akhir ini kamu tidak pernah sibuk ? Bisnis masih lancar kan sayang ?” Tampaknya Luna merasa kebingungan menyaksikan Ronald suaminya memiliki banyak waktu luang bersama keluarganya setelah ia kembali dari luar negeri.
“Ya kebetulan saja sayang ! Lagi pula isteriku cantik, sudah pasti suamimu ini lebih betah dirumah daripada dikantor !” goda Ronald.
“Ih papa ! Jangan genit sama mama !” ucap Bela dengan polosnya.
“Tau nih papanya Bela, genit banget !” sambung Luna.
“Ya suka – suka papa dong ! Mama kan isteri papa, ya terserah papa dong mau genit atau enggak !” canda Ronald.
Tiba – tiba
Beep beep
Telepon genggam milik Ronald berdering, sebuah panggilan dari Feby, membuat Ronald sedikit panik. Namun untuk menutupi perselingkuhannya, dengan terpaksa ia harus menjawab panggilan tersebut agar Luna tidak curiga kepadanya.
“Sebentar ya sayang !” kata Ronald kepada Luna, membuat Luna mengangguk pelan sembari tersenyum.
__ADS_1
“Halo buk ! Sebentar lagi akan saya telepon ya, saya sedang bersama keluarga saya soalnya !” ucap Ronald sesaat setelah ia menjawab panggilan tersebut.
“Sayang ! Ini aku Feby ! Kamu gak simpan nomor aku ya ?” Feby tampak bingung mendengar ucapan Ronald yang tidak masuk akal.
“Oh begitu ! Baiklah buk ! Saya akan selesaikan hari ini ! Begitu berkasnya selesai, akan saya kirim ke ibu hari ini juga !” ucap Ronald, membuat Feby semakin bingung.
“Kalau begitu, saya akhiri dulu ya buk ! Kirim saja file nya ke email yang saya berikan waktu itu !” ucapnya lagi.
“Baik ! Terimakasih ! Selamat sore !” ucap Ronald kemudian, lalu mengakhiri percakapannya.
“Em sayang !” kata Ronald kepada Luna sesaat ia mematikan ponselnya.
“Iya paham ! Kamu mau lansung ke kantor kan ?” ucap Luna seakan mengerti apa yang akan dikatakan oleh suami tercintanya itu.
“Kog tahu sih ?”
“Ya tahu dong ! Tadi kan aku dengar mau selesaikan berkas hari ini juga !”
“Iya ! Aku lupa ternyata ada pekerjaan yang tertunda minggu lalu ! Untung klien nya tidak marah !”
“Memangnya Sekretaris kamu kemana ? Masa dia gak ingatin kamu sih ?”
“Yah aku juga kurang tahu sayang ! Mungkin saja dia juga lupa ! Tapi nanti begitu sampai kantor, akan aku tegur Sekretaris itu ! Kerja gak benar, bisa – bisanya lupa pada hal penting begini !”
“Kamu janga terlalu kejam sayang ! Kemarin buat peraturan gak jelas, sekarang mau negur Sekretaris itu ! Kalau menegur, jangan sampai menyakiti hati orang ya !”
“Iya lho sayang ! Inilah yang buat aku semakin sayang sama kamu ! Karena kamu adalah isteri yang supeeerrr pengertian ! Selain pengertian, kamu juga sangat cantik ! Gak ada perempuan lain yang menyaingi kecantika isteriku di dunia ini !”
“Apa sih sayang ! Yasudah kamu lansung ke kantor gih ! Biar cepat pulang !”
“Iya sayang ! Tapi aku carikan taksi dulu untuk kalian ya !” ucap Ronald, lalu bergegas mencari sebuah taksi online untuk menghantarkan isteri dan putrinya kembali kerumah.
Tak butuh waktu lama, taksi pun telah datang.
“Hati – hati ya sayang !” ucap Ronald kepada Luna.
“Iya kamu juga ya !”
“Papa cepat pulang ya !” kata Bela.
“Pasti dong !”
“Bye papa !”
Taksi tersebut pun melaju.
__ADS_1
Bersambung..