
Langit yang begitu cerah memancarkan teriknya cahaya matahari yang seakan membakar kulit. Pak Asep yang sudah berada dikantor lansung bertanya kepada salah seorang karyawan yang berada disana.
“Permisi buk! Saya supirnya isteri pak Ronald! Apa pak Ronald ada diruangannya?” tanya pak Asep kepada karyawan wanita yang secara kebetulan berpapasan dengannya.
“Kalau info tentang pak Ronald saya kurang tahu pak! Coba bapak tanya saja kepada Sekretarinya! Itu dia, yang memakai kemeja kuning!” jawab karyawan tersebut, lalu menunjuk Sekretaris Ronald yang baru saja muncul dengan mengenakan kemeja kuning telur.
“Oh, baiklah kalau begitu buk! Trimakasih atas infonya!” kata pak Asep dengan sopannya.
“Iya pak, sama – sama!” sahut karyawan tersebut lalu pergi meninggalkan pak Asep seorang diri.
Tanpa menunggu waktu lama, pak Asep bergegas menghampiri Sekretaris tersebut.
“Permisi buk!” Setibanya disana, pak Asep lansung menyapa Sekretaris itu dengan penuh sopan santun. Namun Sekretaris itu menyambut kedatangannya dengan tatapan sinis.
“Maaf buk, saya mau tanya! Apa pak Ronald ada di ruangannya?” tanya pak Asep kemudian.
Dengan sinisnya, Sekretaris itu menatap pak Asep dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pak Asep tampak menggunakan seragam supir berwarna hitam lengkap dan sepatu kulit yang memiliki harga jauh lebih murah dari barang – barang branded yang biasa digunakan oleh tamu – tamu bisnis Ronald. Tatapan Sekretaris itu sedikit membuat pak Asep merasa tidak nyaman, namun ia tetap berusaha untuk bersikap santai menghadapi wanita cantik nan elegan yang berada di hadapannya.
“Kamu siapa ya?” tanya Sekretaris itu dengan sinisnya.
“Saya supirnya bu Luna, isteri pak Ronald bu!” jawab pak Asep.
“Oh ternyata hanya supir!” sinis Sekretaris itu sembari memandang rendah pak Asep, membuat pak Asep sedikit merasa sakit hati.
“Pak Ronaldnya tidak ada!” ketus Sekretaris itu, lalu membuang pandangannya dari pak Asep, supir pribadi Luna.
“Kalau boleh tahu, pak Ronaldnya kemana ya bu? Soalnya tadi malam juga tidak pulang, bu Luna sangat khawatir kepada pak Ronald!” kata pak Asep mencoba menjelaskan.
“Mana saya tahu! Kalau kamu ingin tahu info lebih lengkapnya, tanyakan saja pada karyawan barunya! Dia asisten pak Ronald, hari ini juga tidak masuk kerja, mungkin lagi sama pak Ronald!” ketus Sekretaris tersebut.
“Karyawan baru? Kalau boleh saya tahu, karyawan baru pak Ronald perempuan atau laki – laki bu?”
“Kamu banyak tanya ya!! Memangnya untuk apa sih?” Tiba – tiba saja Sekretaris itu menjadi marah karena berkomunikasi dengan pak Asep yang hanya seorang supir dirumah Ronald.
“Maaf bu, tapi ini atas perintah bu Luna, isterinya pak Ronald! Jika ibu tidak ingin memberitahu, maka saya akan sampaikan ke bu Luna kalau Sekretaris pak Ronald tidak ingin memberitahu informasi tentang pak Ronald!” ucap pak Asep mengagetkan Sekretaris itu.
“Waduh! Jangan sampai supir sialan ini berkata seperti itu kepada isteri pak Ronald, bisa gawat karir aku!” batin Sekretaris itu seketika merasa panik.
“Yasudah, saya kasih tahu info yang jelasnya tapi jangan sampaikan kalimat seperti itu kepada isteri pak Ronald!” ucap Sekretaris itu kemudian, pak Asep hanya menatapnya dengan tatapan tajam.
“Karyawan pak Ronald yang baru itu namanya Feby, anak baru disini! Yang bawa dia kesini adalah pak Ronald, katanya sebagai asisten pribadi. Pak Ronald terpaksa memberikan pekerjaan kepada wanita yang tidak berpendidikan itu karena dia pernah menolong pak Ronald dari pencopet!” kata Sekretaris itu menjelaskan.
__ADS_1
“Sudah begitu saja, hari ini dia juga tidak masuk, pak Ronald juga tidak masuk! Mungkin sedang ada pertemuan dengan klien diluar kantor! Paling sore sudah balik ke kantor!” lanjut Sekretaris itu.
“Baiklah, trimakasih infonya!” jawab pak Asep, lalu pergi meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju paskiran.
Setibanya di parkiran, ia lansung mengambil telepon genggamnya dan menghubungi nomor ponsel milik Luna.
Tanpa lama kemudian, Luna telah menjawan panggilan dari pak Asep,supir pribadi.
“Halo bu!” sapa pak Asep sesaat setelah Luna menjawab panggilannya.
“Iya, bagaimana pak? Apa Ronald berada di kantor? Sudah bertemu dengannya?” tanya Luna dengan penuh rasa khawatir.
“Belum buk! Tapi saya sudah bertemu dengan sekretarisnya, kata Sekretarisnya mungkin pak Ronald sedang ada pertemuan di luar kantor, katanya pak Ronald biasa akan kembali ke kantor pada sore hari buk!” jawab pak Asep menjelaskan.
“Oh begitu?” sahut Luna.
“Oh iya bu, tadi kata Sekretarisnya, pak Ronald pergi bersama karyawan barunya, katanya karyawan baru itu seorang perempuan yang terpaksa dikasih pekerjaan oleh pak Ronald” Pak Asep melanjutkan ucapnnya.
“Terpaksa?” ucap Luna sedikit bingung.
“Benar bu! Perempuan itu sudah menolong pak Ronald dari pencopet, jadi pak Ronald memberikan pekerjaan kepadanya untuk membalas budi!”
“Oh begitu, yasudah kalau begitu! Yang penting Ronald tidak kenapa – kenapa! Pak Asep lansung ke sekolah Bela saja ya, sebentar lagi sudah jam pulang sekolah, tolong jemput Belay a!” kata Luna.
Sementara itu di tempat lain, tampak Feby dan Ronald sedang betelanjang tanpa terdapat satu helai bedangpun yang menempel pada tubuh keduaya, adegan singkat yang mereka lakukan tadi tampaknya tidak begitu menguras energi.
“Karena kamu nakal, jadinya lama belanja!” ucap Feby sambil memakai baju yang baru saja di ambil dari dalam lemari pakaiannya.
“Kamu sih selalu menggoda aku!” jawab Ronald sembari memakai bajunya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun telah selesai berpakaian, kini waktunya untuk berangkat menuju supermarket terdekat untuk membeli bahan – bahan masakan yang diperlukan.
Dengan hati yang gembira, mereka pun bergegas menuju parkiran sembari berpegangan tangan dengan mesranya bagaikan sepasang remaja yang saling jatuh cinta.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, tampak para wanita menatap kagum kea rah Ronald. Wajah tampan serta tubuh tegap dan tinggi itu telah berhasil mencuri perhatian para wanita yang tinggal di apartemen itu.
“Tampan sekali!”
“Dia seperti laki – laki tampan yang ada di serial drama korea!”
“Beruntung sekali wanita itu, memiliki lelaki tampan seperti itu!”
__ADS_1
“Aku harap, aku juga memiliki kekasih seperti lelaki itu!”
“Ah, aku sangat iri kepadanya! Kekasihnya tampan sekali, sedangkan kekasihku hampir menyerupai kingkong!” ucap wanita lainnya, lalu menatap sinis kekasihnya yang berada di sebelahnya sedang menikmati makanan ringan dengan tubuh besarnya.
Begitulah ucapan – ucapan kecil dari para wanita yang telah mereka lewati, membuat Feby sesaat merasa bangga memiliki kekasih yang terlihat sempurna seperti Ronald. Hal itupun membuat ia semakin yakin untuk tidak pernah berpikir meninggalkan Ronald.
Tiba – tiba
Beepp.. Beep..
Telepon genggam milik Feby berdering, sebuah panggilan dari mami Vera.
“Dari mami sayang, aku angkat dulu ya!” kata Feby kepada Ronald.
“Iya sayang!” jawab Ronald singkat, lalu Feby pun menjawab panggilan tersebut.
“Halo mi!” sapa Feby sesaat setelah menjawab panggilan itu.
“Ya ampun sayang, kamu dari mana saja? Tidak ada kabar sama sekali!” ucap mami Vera.
“Aku dirumah saja mi! Ada apa?”
“Ada apa? Ada apa? Kamu sudah lupa ya sama mami?! Hari ini mami akan berkunjung ketempatmu!” kata mami Vera, membuat Feby sedikit panik.
“Mi, kalau hari ini tidak bisa!”
“Kenapa? Ada pacar kamu ya? Kalau hanya pacar, jangan pernah memberikan segalanya kepadanya! Mami sangat tidak setuju ya! Mami akan datang, mami takut dia akan memanfaatkan kamu apa lagi kalau dia tahu latar belakang pekerjaanmu!” Tampaknya mami Vera sedikit mengkhawatirkan Feby.
“Bukan mi! Ada pak Ronald!” ucap Feby dengan nada suara pelan, membuat Ronald sedikit bingung menyaksikannya.
“Oya? Ronald yang pengusaha kaya raya itu ya? Yang pernah menjadi pelanggan kamu?” tanya mami Vera penasaran dengan nada suara lantang.
“Iya mi!” jawab Feby singkat.
“Okey, kalau begitu mami datangnya besok saja! Selamat bersenang – senang anakku yang cantik! Jangan lupa ambil semua harta bendanya ya!” kata mami Vera, membuat Feby sedikit bingung.
“Besok juga tidak bisa mi!”
“Kenapa? Pengusaha kaya itu masih disana juga besok?”
“Iya mi!” jawab Feby sembari memandang wajah Ronald yang terlihat begitu penasaran menyaksikan Feby sedang berbincang – bincang dengan mami Vera melalui telepon genggam miliknya.
__ADS_1
“Ya ampun! Ternyata pengusaha kaya itu sudah nempel banget ya sama kamu. Yasudah kalau begitu, mami datangnya hari Minggu saja. Jangan kemana – mana apalagi alasan sedang ada tamu! Okey? Bye sayang!” ucap mami Vera, lalu mengakhiri percakapannya.
Bersambung..