
"Sayang, sudah dulu ya! Aku lanjut kerja dulu! Nanti aku akan telfon lagi!” ucap Ronald mengakhiri percakapan, lalu mematikan teleponnya.
Seketika hati Luna terasa sakit seperti tertusuk ribuan benda tajam, ia tidak menyangka lelaki yang paling dipercaya olehnya ternyata telah berbohong kepadanya.
“Apa sebenarnya yang telah terjadi ? Apa mungkin Ronald telah menipuku selama ini ? Tapi apa yang telah disembunyikannya ? Mengapa dia harus menyembunyikannya dariku ?”
Berbagai pertanyaan muncul di benak Luna, saat ini pikirannya benar – benar telah kacau. Seluruh tubuhnya tiba – tiba terasa lemas, tangannya pun tampak gemetar. Dengan pikiran yang kacau dan hati yang kecewa, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja Ronald, tempat ia duduk saat ini.
Ia memutuskan untuk menunggu Ronald di ruang kerja milik suaminya itu demi mengatasi kesalah pahamannya terhadap Ronald, suami tercintannya itu.
“Tidak! Tidak mungkin suamiku seperti itu! Dia sangat mencintaiku! Mungkin saja yang dia sembunyikan hanyalah pekerjaan yang memiliki keuntungan lebih besar, nanti dia juga akan memberitahukannya kepadaku setelah pekerjaan itu sukses! Aku percaya pada suamiku! Ya benar, aku sangat mempercayai suamiku!” Luna berusaha menghibur dirinya sendiri agar hatinya tidak merasa sakit dan pikirannya tidak memikirkan hal – hal kotor lagi, namun meskipun begitu, rasa sakit dan perasaan kecewa tetap menghiasi hatinya .
“Ah sakit sekali!” ucap Luna sembari meremas jantungnya dengan keras hingga tanpa sadar air mata telah menetes membasahi pipinya.
“Tidak mungkin! Tenang Luna! Ronald adalah lelaki setia, dia tidak mungkin menyembunyikan sesuatu darimu! Dia hanya..hanya menyiapkan kejutan untukku dan Bela! Benar, suamiku tidak mungkin seperti itu!” Kembali Luna mencoba menghibur dirinya sendiri agar rasa sakit di hatinya dapat hilang dan membuatnya tenang.
Sementara itu di dalam kamar hotel nan megah, tampak Ronald dan Feby sedang berbaring diatas ranjang yang sama sembari berpelukan di dalam selimut putih tanpa sehelai benangpun menempel pada tubuh mereka berdua.
“Sayang! Habis ini, kamu lansung kerja ya ?” tanya Feby dengan manjanya sembari memeluk erat tubuh Ronald.
“Iya dong sayang! Kenapa ? Hem ? Masih kangen ya ?”
“Masih! Kalau kamu sudah dirumah pasti tidak dapat dihubungi lagi!”
“Iya sayang! Kamu tahu sendiri kan ? Aku masih punya isteri, kalau aku telfon kamu dirumah, bisa bahaya sayang!”
“Iya sih! Atau aku melamar kerja jadi pembantu kamu saja dirumah sayang agar kita dapat bertemu setiap hari! Gimana ?” ucap Feby dengan penuh harap.
“Kamu ini bicara apa sih ? Mana mungkin cewek secantik kamu jadi pembantu dirumah! Jangan bicara yang aneh – aneh deh!” kata Ronald sembari membelai rambut Feby dengan lembut.
“Yaaahh! Aku gak bisa ketemu sama kamu setiap hari dong!”
“Nanti aku akan usahakan agar kita dapat bertemu setiap hari ya sayang!” Ronald berusaha merayu wanita selingkuhannya itu agar sabar menanti dirinya untuk mencari waktu yang tepat supaya mereka dapat kembali bertemu tanpa membuat Luna, isteri sahnya curiga.
“Kalau aku jadi karyawan di kantor kamu saja gimana ?” Feby yang ingin bertemu setiap hari dengan Ronald berusaha memikirkan cara agar mereka dapat bertemu setiap saat tanpa membuat isteri sah Ronald curiga.
“hem ? Sepertinya jadi karyawan di kantor merupakan ide yang menarik! Jadi kita dapat bertemu setiap saat tanpa ada yang curiga!” Seketika Ronald merasa senang mendengar ide yang di ucapkan oleh Feby, kekasih simpanannya itu.
__ADS_1
“Jadi aku boleh kerja di kantor kamu ?” tanya Feby kegirangan.
“Bisa dong! Kamu lulusan apa sayang?”
“Aku? Em…akuuuuu..!” Seketika Feby merasa malu menjelaskan pendidikannya, membuat Ronald sedikit kebingungan menyaksikan sikap Feby yang tiba – tiba saja berubah.
“Kenapa ? Kalau tamat SMA juga tidak apa – apa lho sayang! Pendidikan itu hanya formalitas saja! Kan aku yang punya perusahaan!” kata Ronald mencoba meyakinkan Feby.
“Eemm..! Masalahnya, aku..aku tidak pernah sekolah sayang!” ucap Feby.
“Serius ? Kamu tidak pernah sekolah sama sekali ? SD juga tidak pernah ?” Ronald tampak terkejut mendengar jawaban yang diucapkan Feby.
“Em! Ka..kami dulu hidup sangat sulit, makan sehari sekali saja sudah sangat bersyukur! Ja..jadi..!”
Grep!
Belum selesai Feby berbicara, Ronald telah memeluk tubuhnya dengan erat sembari mengelus rambutnya dengan lembut. Perasaan sedih dan iba bercampur menjadi satu setelah mendengarkan penjelasan singkat tentang masa lalu Feby yang begitu menyedihkan.
“Sudah! Tidak usah dilanjutkan lagi!” ucap Ronald sembari tetap memeluk erat tubuh wanita selingkuhannya itu.
“Aku tidak apa – apa lho! Sudahlah sayang, jangan bersikap terlalu berlebihan begitu!” kata Feby sembari tersenyum kecil.
“Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu merasakan penderitaan sedikitpun!” lanjutnya, membuat Feby seketika tersenyum penuh kebahagiaan.
“Yasudah! Kalau begitu, kamu jadi asisten pribadiku saja! Jadi tidak perlu memikirkan berkas – berkas, tidak perlu bekerja!”
“Lho? Terus tugas aku apa dong ? Kalau tidak bekerja, nanti seluruh karyawan menjadi curiga!”
“Kamu kerjanya pesen makan untuk aku, buat teh atau kopi, terus pijitin aku di kantor! Mudah kan ?”
“Pijitin ? Memangnya di kantor ada ya tugas pijitin bos ?” tanya Feby dengan polosnya.
“Ya ada dong! Kamu orangnya!”
“Aku ? Maksudnya, selama ini tidak ada yang memiliki pekerjaan pijitin bos ?”
“Hahaha! Tidak ada sayang! Itu hanya becanda lho! Kamu kog serius banget! Tapi memang kamu harus pijitin bos mu ini kalau orang tidak ada!” canda Ronald.
__ADS_1
“Siap bos!” jawab Feby dengan antusias.
“Kalau begitu, kita sekarang beres – beres, terus berangkat ke kantor bareng!” ucap Ronald.
“Ke kantor ? Sekarang ?” tanya Feby kebingungan.
“Iya! Kenapa ??”
“Kog mendadak banget?”
“Oh jadi kamu gak mau ni ceritanya ?”
“Mau dong sayang! Tapi apa tidak perlu surat lamaran ?” tanya Feby penasaran.
“Untuk apa ? Kan aku sudah terima kerja!”
“Nanti kalau orang curiga gimana?”
“Ada yang berani tanya ? Lansung kita pecat hari itu juga!”
“Ih kamu jahat banget sayang! Hahaha!”
“Kalau tidak jahat, tidak mungkin bisa jadi bos seperti sekarang ini dong!” jawab Ronald membanggakan dirinya dengan candanya.
“Hem ya deh!”
“Yasudah, kamu mandi duluan gih!” kata Ronald kemudian.
“Iya bos! Asisten pribadi mandi dulu ya!” jawab Feby sembari melangkah menuju toilet, membuat Ronald tertawa kecil.
Ronald telah memutuskan Feby untuk bekerja di perusahaannya agar ia dapat bertemu setiap saat dengan wanita selingkuhannya itu tanpa harus membuat Luna, isterinya merasa curiga.
Menit telah berganti jam, tanpa terasa jam di dinding telah menunjukkan pukul dua belas siang, Feby dan Ronaldpun telah bersiap untuk berangkat ke kantor secara bersama – sama.
Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di kantor. Seluruh mata yang memandang tampak tercengang menyaksikan wanita cantik yang berada di samping Ronald.
“Selamat siang pak!” sapa karyawan yang berada disana.
__ADS_1
“Ya, pagi!” jawab Ronald singkat sembari terus berjalan menuju ruangannya bersama dengan Feby, wanita selingkuhannya.
Bersambung..