
Mama! Kenapa mama melamun padahal masih pagi?” ucap Bela ketika menyaksikan Luna yang sedang duduk melamun di ruang tamu.
“Eh sayang, selamat pagi! Bela tidak sekolah?” tanya Luna dengan penuh kasih sayang.
“Hari ini Bela tidak ingin sekolah” jawab Bela sambil tertunduk dengan perasaan bersalah.
“Lho? Kenapa begitu? Bela mau jadi anak nakal ya?” Luna sedikit kesal dengan apa yang telah di dengarnya.
“Maaf mama! Bela janji tidak akan mengulanginya lagi, Bela hanya tidak ingin melihat mama selalu kesepian dirumah hiks hiks” Seketika Bela menangis tersedu – sedu, ia takut Luna akan memarahinya karena keputusannya untuk tidak masuk sekolah hari ini, tentunya hal itu membuat Luna sedikit terkejut.
“Bela… huhuhu Bela.. Bela hanya tidak ingin mama selalu sedih, setiap hari Bela melihat mama sedih dan kadang – kadang mama menangis huhuhu”
“Bela tahu kalau mama menangis karena papa tidak pulang – pulang hiks, jadi Bela hanya ingin menemani mama di rumah agar mama tidak sedih – sedih lagi hiks, tolong maafkan Bela mama! Bela janji tidak akan mengulanginya lagi huhuhuhu”
Luna tampak tercengang menyaksikan putri satu – satunya berkata seperti itu kepadanya. Ia tidak menyangka bahwa gadis sekecil itu telah mengerti mengucapkan kalimat seperti itu.
“Sssttt.. sudah – sudah! Mama tidak akan marah, sudah ya!” dengan lembut Luna memeluk putri semata wayangnya itu.
“Maafkan mama ya sayang! Mama tidak tahu kalau Bela selama ini khawatir kepada mama! Maafin mama ya sayang!” ujar Luna sembari membelai lembut rambut putri semata wayangnya itu.
“Bela juga sering melihat mama menangis di dalam kamar kog, tetapi Bela takut masuk ke kamar mama” ucap Bela membuat Luna sangat terkejut, ia tidak menyangka bahwa putri semata wayangnya itu ternyata diam – diam selalu memperhatikannya.
“Mama pasti mikirin papa ya? Kalau papa tidak pulang juga, lebih baik Bela ganti papa saja ma daripada Bela melihat mama selalu sedih” lanjut Bela dengan sisa – sisa tangisannya.
“Hush! Bela tidak boleh berkata seperti itu ya! Papa itu sangat sayang kepada Bela dan mama, mungkin terjadi sesuatu dengan papa di luar sana, kita tidak boleh lansung menuduh yang tidak – tidak kepada papa ya sayang, ingat itu!”
“Iya mama!”
“Yasudah, Bela tidak usah sedih lagi ya! Mama baik – baik saja kog! Mama janji tidak akan sedih – sedih lagi!” Luna berusaha meyakinkan Bela agar putri semata wayangnya itu tidak terlalu mengkhawatirkan perasaaannya.
“Oh iya, Bela belum sarapan kan?” tanya Luna kemudian.
“Belum mama!” jawab Bela singkat sembari mengusap – usap sisa – sisa air mata yang berada di pipinya.
“Yasudah, kalau begitu kita sarapan dulu ya! Bibi pasti sudah menyiapkan sarapan diatas meja makan!” ajak Luna.
Sementara itu di kantor Ronald.
“Gimana? Enak gak sarapannya?” tanya Ronald kepada Feby.
Tampaknya Ronald benar – benar telah melupakan keluarga kecil yang telah dibangunnya sejak lama, ia tidak sadar bahwa Luna dan putrinya selalu menunggu kepulangannya dirumah dengan perasaan gelisah dan khawatir.
__ADS_1
“Iya sayang, enak banget! Kamu pinter juga pilih makanan” jawab Feby dengan penuh cinta.
“Iya dong, siapa dulu!” canda Ronald dengan membanggakan dirinya di depan wanita simpanannya itu.
Tiba – tiba
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari luar ruangan membuat Ronald dan Feby seketika menoleh kearah pintu tersebut, tak lama kemudian muncullah sekretaris Ronald dari balik pintu tersebut.
“Permisi pak!” sapa Sekretaris itu dengan penuh sopan santun, namun tetap berusaha ingin menarik perhatian Ronald dengan liukan tubuhnya.
“Apa – apaan wanita itu? Apa dia sengaja melakukan itu?” batin Feby ketika menyaksikan Sekretaris tersebut.
“Ada apa?” tanya Ronald singkat.
“Ah pak Ronald masih saja bersikap dingin kepadaku, padahal aku telah melakukan berbagai cara” batin Sekretaris tersebut dengan perasaan kecewa.
“Pak Andi dan Asistennya baru saja sampai dan mereka sedang berjalan menuju kesini pak!” kata Sekretaris tersebut.
“Baiklah! Tolong kamu hantarkan mereka kesini ya! Tapi sebelum itu, tolong bersihkan meja itu terlebih dahulu ya, pindahkan saja piring dan gelasnya ke meja saya, lalu panggilkan cleaning service untuk mengangkutnya!”
“Kenapa pak Ronald menyuruhku? Seharusnya ini tugas anak baru itu! Dia yang makan disini bukan aku!” batin Sekretaris tersebut penuh dengan emosi yang meluap – luap.
“Halo! Perlu bantuan saya?” kata Feby mencoba menawarkan bantuan kepada Sekretaris tersebut.
“Perlu bantuan kepalamu! Seharusnya membersihkan tempat makanmu sendiri adalah tugasmu, bukan tugasku! Dasar perempuan tidak tahu diri!” batin Sekretaris tersebut dengan emosi yang membara seakan ingin menelan Feby hidup – hidup.
“Wanita ini pasti ingin mencari perhatian dari pak Ronald kan? Sungguh memalukan! Tidak akan aku biarkan itu terjadi perempuan penggoda!” batinnya lagi.
“Ah tidak perlu, saya bisa mengerjakannya sendiri kog! Trimakasih!” ucap Sekretaris tersebut dengan senyum palsu yang sangat terlihat jelas di wajahnya.
“Oh! Ka.. kalau begitu baiklah, tri.. trimakasih ya!” sahut Feby yang merasa tidak enak kepada Sekretaris tersebut.
“Sama – sama” jawab Sekretaris tersebut masih dengan senyum palsu yang terpancar jelas di wajahnya.
“Senyumannya mengerikan sekali, apa itu senyuman asli miliknya? Atau mungkinkah dia sedang marah?” batin Feby yang menatap aneh kepada Sekretaris tersebut.
“Baiklah, sudah selesai! Saya permisi dulu pak!” ucap Sekretaris tersebut kepada Ronald yang sedang fokus membaca sebuah dokumen penting.
“Oh iya silahkan! Tolong hantarkan pak Andi kesini ya, lalu jangan lupa panggil cleaning service juga!” perintah Ronald.
__ADS_1
“Baik pak! Saya permisi!” ucap Sekretaris tersebut, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
“Sayang, aku juga permisi deh!” kata Feby sesaat setelah Sekretaris tersebut pergi meninggalkannya.
“Lho? Kenapa? Kamu ada urusan penting ya?” tanya Ronald kebingungan.
“Bukan begitu sayang, kamu kan sedang kedatangan tamu penting, gak enak kalau aku disini!”
“Justru bagus dong! Agar mereka melihat bahwa asistenku sangat cantik!” kata Ronald mencoba merayu kekasih simpanannya itu.
“Kalau memang tidak apa – apa, yasudah aku disini saja temani kamu!”
“Nah gitu dong, ini baru namanya wanita milik Ronald! Udah cantik, baik, penurut, gak cerewet lagi!”
“Ih kamu apaan sih? Jangan bilang kalau kamu sedang bandingin aku dengan isteri kamu ya?”
“Ya enggaklah sayang, wanita sesempurna kamu tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini!”
“Udah ih”
Tiba – tiba
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kembali terdengar, kali ini Sekretarisnya muncul bersama dengan pak Andi dan asistennya seorang wanita muda yang mengenakan rok sepan mini yang ketat.
“Silahkan masuk pak Andi!” Dengan sopan Sekretaris tersebut mempersilahkan pak Andi dan asistennya masuk ke dalam ruangan.
“Halo pak Andi, Selamat datang! Mari pak, silahkan duduk!” sapa Ronald dengan akrabnya.
“lelaki itu?” Tiba – tiba saja Feby sangat terkejut ketika melihat pak Andi dari kejauhan.
Deg!
Deg!
Deg!
Seketika jantung Feby berdetang sangat kencang, wajahnya yang tadinya terlihat sangat berseri – seri berubah menjadi pucat pasi. Sesaat ia terlihat sangat ketakutan bercampur panik, ingin rasanya ia memutar waktu agar ia tidak pernah bertemu dengan lelaki yang dilihatnya saat ini.
Bersambung..
__ADS_1