WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN

WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN
CURIGA


__ADS_3

Di sebuah kamar hotel nan megah tampak Feby tertidur pulas didalam pelukan Ronald tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnyas.


“Siapa yang nelfon sayang ?” tanya Feby sembari menahan rasa kantuknya.


“Biasa ! Isteriku ! Yasudah tidur lagi sayang !” jawab Ronald, lalu membelai lembut rambut indah Feby.


“Oh! Kirain siapa! Kamu juga tidur ya sayang!” ucap Feby sembari memeluk erat tubuh Ronald dari balik selimut putih.


Sementara itu di tempat kediaman Ronald, tampak Luna sedang gelisah memikirkan suami tercintanya itu. Secara perlahan ia melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya, rasa kecewa menyelimuti hatinya di malam yang cerah ini. Setibanya di kamar, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang pernah dipakai Ronald dan Feby melakukan hubungan intim.


“Kenapa perasaanku tiba – tiba gak enak ya ? Apa mungkin Ronald telah berselingkuh ? Tapi tidak mungkin itu terjadi ?”Berbagai pertanyaan timbul di benaknya, membuat dirinya tidak dapat beristirahat dengan tenang di malam ini.


“Apa semua wanita yang telah menjadi istri merasakan apa yang telah aku rasakan ? Atau hanya aku saja yang merasakan seperti ini ?”


“Aku sebenarnya menginginkan kamu pulang setiap hari! Meskipun harus pulang larut malam, aku pasti akan menunggu!”


Malam pun semakin larut, namun Luna masih terjaga dengan pikiran negativenya terhadap Ronald, suami tercinta itu.


“Apa benar, selama ini kamu tdur di kantor ? Kenapa pikiranku menjadi kacau begini setelah mendengar mimpi buruk Bela ?”


“Apa yang harus aku lakukan agar pikiran kotor ini cepat hilang ? Tidak mungkin Ronald melakukan hal itu kan ? Dia sangat mencintai aku dan Bela ?”


Sepanjang malam, Luna bertarung melawan pikiran kotornya terhadap Ronald, suami tercintanya itu, hingga tanpa sadar cahaya matahari telah muncul menyinari bumi dengan sinarnya.


Tiba – tiba


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar, membuat Luna beranjak dari tempat tidurnya.


“Lho ? Bela ? Kenapa sayang ? Gak bisa tidur lagi ya ?” Seketika Luna kebingungan menyaksikan putri semata wayangnya berada di depan kamarnya.


“Mama! Ini kan sudah pagi! Bela harus sekolah ma!” ucap Bela, mengagetkan Luna.


“Ha ? Masa sih sayang ?” Dengan cepat, Luna pun mengambil ponselnya untuk melihat jam yang tertera pada layar ponselnya.


“Astaga ternyata sudah jam enam pagi! Aku tidak tidur sama sekali karena memikirkan Ronald!” batin Luna sesaat setelah menyaksikan jam pada layar ponselnya.


“Bela! Yuk, mama mandikan!” ucap Luna.


“Yuk Ma!”


Dengan penuh kasih sayang, Luna membantu putri semata wayangnya itu untuk bersiap ke sekolah.

__ADS_1


“Ma! Papa belum pulang ya ?” tanya Bela, membuat Luna seketika bersedih.


“Belum sayang! Mungkin sebentar lagi papa akan pulang!” jawab Luna sembari memandikan putri tercintanya itu.


“Kog papa jarang pulang sih ma ? Kan kasian mama tidur sendirian, gak punya teman!”


“Lebih kasihan papa dong sayang! Papa sampai tidur di kantor hanya demi mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kita!”


“Kalau begitu, kita temeni saja papa tidur di kantor ma! Agar papagak tidur sendirian, mama juga gak tidur sendirian!”


“Bela bicara apa sih ? Yaudah yuk, Bela pakai baju dulu, habis itu lansung sarapan! Hari ini Bela diantar pak supir saja ya! Mama kurang enak badan!”


“Iya ma!”


Beberapa menit kemudian, Bela telah siap untuk berangkat ke sekolah bersama supir pribadinya.


“Belajar yang rajin ya sayang! Jangan nakal! Dan jangan lupa bekalnya dimakan ya!” ucap Luna.


“Siap mama!”


Menyaksikan putri semata wayangnya telah pergi, Luna lansung bertolak menuju kamarnya. Dengan cepat ia membersihkan dirinya dan berniat menghantarkan sarapan pagi untuk Ronald, suami tercintanya itu. Tampaknya Luna sedikit merasa khawatir mendengar suaminya harus lembur bahkan rela tidur dikantor demi menyelesaikan pekerjaannya.


Enam puluh menit pun telah berlalu, Luna telah selesai membersihkan dirinya dan merias wajahnya senatural mungkin. Jam pada ponselnya telah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh lima menit, tibalah waktunya untuk ia berangkat menyusul Ronald ke kantor demi menghantarkan sarapan pagi kepada suami tercintanya itu.


Beberapa lama kemudian, telah sampailah ia di sebuah gedung tinggi yaitu kantor Ronald, suaminya.


“Selamat pagi bu!”


“Pagi bu!”


“Iya pagi!” jawab Luna.


Setibanya disana, tampak seluruh karyawan menyapa dirinya dengan penuh hormat.


“Selamat pagi bu!” sapa Sekretaris sembari membersihkan ruang kerja milik Ronald.


“Lho ? Bapak kemana ?” tanya Luna, ketika sepasang bola matanya tidak menukan Ronald disana.


“Bapak belum datang bu! Biasanya bapak datang jam sepuluh atau sebelas!”


“Belum datang ? Bukannya tadi malam bapak lembur ya ?”


“Kemarin pak Ronald pulang lebih awal bu! Kalau gak salah jam satu atau dua sudah pulang, setelah itu tidak pernah kembali ke kantor lagi!”

__ADS_1


Deg!


Seketika Luna tampak tercengang, hatinya terasa sakit seperti tertusuk ribuan benda tajam, ia tidak pernah menduga bahwa suaminya akan berbohong kepadanya.


“Kemaren jam dua Ronald memang menyusulku ke restoran dan makan bersama disana, tetapi setelah itu ada panggilan kerja dan dia harus lembur!” batin Luna sembari mengingat kejadian kemarin saat di restoran.


“Oh begitu ya ? Kalau boleh saya tahu, apa kalian punya klien penting bekalangan ini ?” Luna berusaha tetap tenang di hadapan Sekretaris itu agar tidak merusak nama baik Ronald dan kelurga kecilnya.


“Kalau klien penting sih belum ada bu! Tetapi teman bisnis untuk membangun perusahaan baru ada! Namanya pak Andi, baru – baru ini datang untuk membahas perusahaan baru yang akan mereka bangun!” ucap Sekretaris itu menjelaskan.


“Pak Andi ? Kalau gak salah, kemaren Ronald bilang bu saat menerima telfon dari klien! Seharusnya kliennya itu perempuan kan ?” batin Luna bertanya – tanya.


“Kalau klien perempuan tidak ada ya ?” tanya Luna kemudian.


“Untuk bulan ini, kita belum mendapatkan klien perempuan bu! Kebetulan semuanya laki – laki”


“Oh begitu! Pasti banyak pekerjaan ya di kantor ?”


“Lumayan banyak sih bu! Tetapi belakangan ini pak Ronald sering pulang lebih awal!” jawab Sekretaris itu, membuat Luna semakin tercengang.


“Yasudah, kamu boleh pergi!” kata Luna.


“Baik bu!”


Dengan santai Luna duduk di kursi suaminya itu sembari memikirkan semua perkataan dari Sekretaris tadi.


“Kemana dia ya ?” Tanpa berpikir panjang, ia mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu menghubungi nomor telepon milik Ronald.


Tak butuh waktu lama, panggilannya telah dijawab oleh suaminya itu.


“Halo sayang!” Terdengar suara parau Ronald seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya.


“Iya sayang! Kamu dimana ?” Luna berusaha untuk tetap tenang agar tidak terjadi pertengkaran diantara mereka.


“Di kantor sayang! Ada apa hem ?” ucap Ronald berbohong.


“Ehm! Siapa sih ?” Tiba – tiba saja terdengar suara wanita dari telepon genggam milik Ronald, membuat rasa curiga Luna semakin besar.


“Itu suara siapa sayang ?” tanya Luna merasa curiga.


“Suara sekretaris sayang! Biasalah di kantor, pagi – pagi begini sudah berisik!”


“Sekretaris ? Kenapa dia harus berbohong ? Sebenarnya apa yang telah di sembunyikan dariku ?” batin Luna, hatinya terasa semakin sakit mendengar suami tercintanya yang selama ini ia percaya justru berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2