
Suasana di sore hari tampak cerah, tinggallah Ronald seorang diri berada di restoran, isteri dan putrinya telah pergi meninggalkannya dengan mengendarai sebuah taksi online yang telah dipesannya.
Tanpa berpikir panjang Ronald mengambil kesempatan ini untuk bertemu dengan wanita lain yang dicintainya yaitu Feby. Ia pun memutuskan untuk menghubungi nomor telepon Feby.
Tak lama kemudian, panggilan teleponnya telah dijawab oleh wanita selingkuhannya itu.
“Halo !” sapa Feby memalui telepon genggam miliknya.
“Halo sayang ! Maaf ya, tadi ada isteri dan anakku ! Aku takut ketahuan sama mereka !” kata Ronald, membuat Feby semakin merasa cemburu.
“Memangnya kalau ketahuan kenapa ?”
“Kalau ketahuan bahaya dong sayang ! Luna bisa menceraikan aku !”
“Oh begitu ! Kamu lebih sayang isteri kamu ya ketimbang aku ?”
“Ya enggak dong sayang ! Aku itu ada anak, namanya Bela ! Bela masih kecil, dia butuh orangtua yang lengkap !”
“Ya kalau lebih sayang sama isteri juga tidak apa – apa kog ! Aku juga sadar diri dengan posisiku !”
“Sayang ! Jangan bicara seperti itu ya ! Sekarang kamu dimana ? Aku tadi ke apartemen kamu tapi kamunya tidak ada !” ucap Ronald, mengagetkan Feby.
“Jadi tadi Ronald datang kesini ?” batin Feby.
“Kita ketemu ya ! Aku jemput kamu sekarang ! Kamu siap – siap ya !” kata Ronald kemudian, lalu mengakhiri teleponnya.
Ronald pun masuk kedalam mobil mewahnya, lalu bergegas pergi menjemput wanita selingkuhannya yaitu Feby.
Hanya dalam waktu tigapuluh menit, ia pun telah sampai di apartemen itu.
“Hai sayang !” Secara tiba – tiba Feby pun muncul di hadapannya dengan mengenakan gaun mini merah yang menggoda.
“Lho ! Kog sudah dibawah aja ? Aku kan belum menelfon ?” ucap Ronald.
“Kita kan sehati ! Hehehe !” ucapnya sembari masuk kedalam mobil mewah milik Ronald.
“Kamu cantik sekali hari ini sayang !”
“Oya ? Berati gak sia – sia dong aku dandan !”
“Kamu dandan ?”
“Iya ! Khusus untuk lelaki yang aku cintai !”
“Hahaha ! Kamu memang lucu sekali ya !” ucap Ronald sembari mencubit pipi Feby dengan lembut.
Sesaat mereka terdiam dan saling memandang satu sama lain, jantung kembali berdetak kencang seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Tiba – tiba
__ADS_1
Cup !
Ronald mengecup bibir manis Feby dengan ganasnya, dengan penuh cinta Feby pun menyambut kecupan itu. lima menit lamanya mereka bertarung bibir di dalam mobil mewah milik Ronald tepat berada di depan apartemen milik Feby.
Hosh ! Hosh ! Hosh !
Tampak nafas keduanya terengah – engah setelah melakukan pertempura itu.
“Sayang ! Pengen !” kata Ronald kemudian masih dengan nafas yang tidak beraturan.
“Kita ke hotel saja yuk !” jawab Feby.
Tanpa berpikir panjang, Ronald akhirnya menjalankan mobilnya menuju hotel yang biasa mereka kunjungi, yaitu hotel Diamond.
Setibanya disana, mereka saling melepas rindu dengan brutalnya di dekat pintu kamar.
“I love you ! Hosh Hosh Hosh !” ucap Feby terengah - engah sembari menikmati serangan brutal Ronald.
“Hah ! Sayang ! Kamu enak sekali ! Hosh hosh !” Dengan ganasnya Ronald melanjutkan aksinya itu tanpa memikirikan isteri dan anaknya di rumah.
Rasa bersalah kepada Luna isterinya tidak pernah terpikirkan lagi olehnya karena ia sudah terbiasa melakukan perselingkuhan itu bersama Feby wanita simpanannya itu.
Beberapa menit pun berlalu, Adegan brutal itupun telah selesai dilakukan.
“Sayang ! Kamu hari ini pulang ya ?” ucap Feby dengan manjanya, sembari memeluk tubuh Ronald didalam selimut putih tanpa terbalut benang sehelaipun.
“Iya dong sayang ! Aku harus pulang ! Isteriku dirumah menunggu !” jawab Ronald sembari membelai lembut rambut indah Feby.
“Sabar ya sayang ! Kamu juga harus mengerti statusku saat ini !”
“Iya aku ngerti kog ! Kamu sudah menikah, sedangkan aku hanyalah selingkuhanmu yang tidak terlalu penting !”
“Hei sayang ! Kamu tidak boleh bicara seperti itu ! Kamu itu sama pentingnya dengan Luna ! Aku sayang sama kamu, aku juga sayang sama Luna !”
“Kalau sayang ! Kenapa waktu itu cueki aku selama satu bulan, berarti lebih penting isterimu dong !”
Sementara itu ditempat kediaman Ronald, tampak Luna telah menunggu kepulangannya di sofa yang berada di teras rumahnya dengan mengenakan gaun tidur mini berwarna putih dan sangat tipis. Ia juga telah merias wajahnya dengan riasan natural untuk memberikan kejutan kepada Ronald. Tampaknya Luna berniat untuk menggoda suami tercintanya itu karena sudah hampir satu bulan ia tidak melakukan hubungan intim dengan Ronald layaknya suami isteri.
“Sudah sore begini kog belum pulang juga ya ? Padahal sudah jam enam ! Harusnya sih sudah pulang !” ucap Luna khawatir.
“Apa kau coba telfon saja ya ?” gumamnya.
“Ah jangan deh ! Aku kan ingin buat kejutan untuknya, kalau ditelfon bukan kejutan dong namanya !” Dengan hati riang gembira, Luna memutuskan untuk tetap menunggu kepulangan suaminya itu.
Menit demi menit telah berlalu, jam telah berganti jam, Luna masih tetap setia menunggu kepulangan suami tecintanya itu.
“Mama ! Papa kenapa belum pulang juga ! Kan sudah jam Sembilan malam !” Tiba – tiba saja Bela datang menghampirinya di ruang tunggu.
“Eh sayang ! Kog belum tidur ? Sudah malam lho !”
__ADS_1
“Bela mimpi buruk ma !”
“Ya ampun, sini sama mama !” ucap Luna, membuat Bela duduk di pangkuannya.
“Memangnya Bela mimpi apa ?” tanya Luna kemudian.
“Bela mimpi papa pergi sama tante cantik ! Terus papa jahat sama Bela dan mama ! Di dalam mimpi Bela, mama sedang menangis !”
Deg !
Seketika Luna terkejut mendengar ucapan dari putri tercintanya itu, untuk pertama kalinya putri tecintanya memiliki mimpi seperti itu. Sesaat jantung Luna berdetak kencang, perasaan resah dan gelisah mulai menyelimuti hatinya, namun ia harus menyembunyikan perasaan itu dari putri tercintanya.
“Bela ! Itu hanya mimpi ! Ini pasti karena Bela gak berdoa dulu sebelum tidur kan ?” kata Luna kemudian.
“Iya ! Bela lupa bedoa ! Yasudah deh, Bela berdoa dulu ma !” jawab Bela, lalu pergi melangkah menuju kamarnya.
“Habis berdoa, Bela lansung tidur ya !” teriak Luna.
“Iya mama !”
Tinggallah Luna seorang diri berada diruang tengah, Sesaat ia memikirkan mimpi buruk yang baru saja dialami oleh Putrinya itu sehingga mebuat suasana hatinya hancur seketika, rasa cemas dan curiga mulai muncul di pikirannya.
Dengan cepat, ia pun mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor telepon Ronald.
Tanpa menunggu waktu lama, panggilannya telah dijawab.
“Halo !” Terdengar suara Ronald dari telepon genggamya seperti baru saja bangun dari tidurnya, suasana ruangan juga terdengar begitu hening membuat rasa curiga dihati Luna semakin besar.
“Ada apa sayang ?” tanya Ronald kepada Luna.
“Kamu dimana ?” Luna berusaha bersikap tenang agar tidak terjadi pertengkaran antara mereka seperti dulu sebelum ia pergi keluar negeri.
“Di ho.. eh di kantor sayang !” jawab Ronald yang hampir saja keceplosan mengatakan hotel.
“Ho ? apa maksudnya ka ?” batin Luna.
“Kamu tidak pulang ya ? Ini sudah jam Sembilan malam lho !” tanya Luna kemudian.
“Aduh sayang ! Kayaknya malam ini aku gak bisa pulang soalnya berkas – berkas tadi belum selesai dikerjakan !” jawab Ronald berbohong.
“Oh begitu ! Yaudah deh !” Seketika Luna merasa kecewa.
“Yaudah ya sayang ! Aku lagi sibuk banget !”
“Iya ! Besok cepat pulang ya !” jawab Luna dengan nada suara lemah.
“Iya ! Bye sayang ! Love you !” kata Ronald, lalu mematikan teleponnya.
“Byee !” Belum sempat Luna menjawab, telepon sudah berakhir.
__ADS_1
Bersambung..