
Dengan perasaan penuh emosi, Feby pun bergegas mengenakan pakaiannya.
"Ada apa ? Kenapa terburu - buru sekali !" Ronald tampak kebingungan menyaksikan Feby berbenah sembari memancarkan wajah yang terlihat kesal.
"Maaf sayang, aku harus pergi sekarang ! Ada urusan yang harus aku selesaikan !" ucap Feby.
"Oh begitu ! Biar aku antar saja ! Tunggu sebentar ya, aku pakai baju dulu !" Ronald pun bangkit berdiri dan bergegas untuk mengenakan pakaiannya.
"Tidak usah sayang ! Aku pergi sendiri saja, kamu lebih baik mandi saja !"
"Kamu yakin ?"
"Iya ! Yaudah aku pergi dulu ya !"
"Yasudah kalau begitu, kamu hati - hati ya !" ucap Ronald, lalu mengecup kening Feby dengan lembut.
"Iya ! Kamu semangat kerjanya ya ! Bye sayang !" Dengan cepat, Feby pun pergi meninggalkan Ronald.
Ia pun bergegas menuju kamar Edo secara sembunyi - sembunyi agar Ronald tidak dapat menyaksikan ia memasuki kamar lain di hotel ini.
Beberapa saat kemudian, Feby pun telah tiba di depan pintu kamar milik Edo.
Dengan cepat, ia menghubungi nomor ponsel Edo agar membukakan pintu untuknya.
"Iya cantik ?! Kamu sudah jalan menuju kesini kan ?" ucap Edo sesaat setelah menjawab panggilannya.
"Buka pintu ! Cepat !" perintah Feby, membuat Edo sedikit kebingungan.
Tak lama kemudian, pintu kamar pun terbuka.
"Selamat datang kembali cantik !" ucap Edo menyambut dirinya.
Dengan cepat, Feby pun masuk kedalam kamar agar Ronald tidak dapat menemukannya.
"Aku sudah datang, sekarang kau mau apa ?!" lantang Feby.
"Kau belum mandi ya ?" Edo tampak tercengang menyaksikan penampilan Feby seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Tentu saja belum ! Kau yang menyuruhku datang kesini dalam waktu sepuluh menit kan ?! Gimana aku bisa mandi ?!" ketus Feby.
"Luar biasa ! Ternyata kau bisa sampai dalam waktu yang telah aku tentukan, bukankah tadi kau bilang sedang berada dirumah ?" tanya Edo penasaran.
"Kau terlalu banyak tanya ! Sekarang apa mau mu ?! Aku sudah disini ! Cepat katakan ! Aku sangat sibuk hari ini, jadi tidak punya waktu banyak untukmu !"
"Tadi dia bilang sudah pulang, tapi kenapa bisa sampai disini secepat itu ? Belum mandi lagi ! Pasti dia menyembunyikan sesuatu dariku ! Pasti ada pria lain di dalam hotel ini" batin Edo, sepertinya Edo tidak dapat ditipu semudah itu.
"Lebih baik kau mandi saja dulu !" ucap Edo kemudian.
"Katakan saja apa maumu !!"
"Mandi ! Atau aku yang akan memandikanmu ?!" perintah Edo.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mandi ! Aku buru - buru sekarang ! Jadi cepat katakan saja apa maumu ! Kau ingin membayarku kan ? Yasudah bayar saja ! Aku sudah disini sekarang" ucap Feby kesal.
"Yasudah kalau begitu, aku akan memandikanmu sekarang !" kata Edo, mengagetkan Feby.
"Tunggu ! Okey baik ! Aku akan mandi ! Kau duduk saja !" ucap Feby, membuat Edo tersenyum kecil.
Dengan kesal, Feby pun menuju toilet dan bergegas mandi.
Tiba - tiba
Beepp.. Beepp..
Telepon genggam milik Feby berdering, membuat Edo sedikit penasaran.
Secara perlahan, Edo pun mengambil ponsel tersebut dari dalam tas Feby, ternyata sebuah panggilan dari Ronald.
"Ronald ? Apa pria ini yang membuat Feby kabur tadi malam ?" batin Edo.
Edo yang penasaran, mencoba membawa ponsel tersebut keluar kamar untuk mencari tahu lelaki mana yang telah membuat Feby mengabaikannya.
"Bodoh sekali ! Hotel ini bukan cuma satu lantai ! Kalau begitu, aku akan mencari tahu dari resepsionis saja !" Edo pun kembali masuk kedalam kamarnya.
Sesampainya didalam kamar, ia mengambil ponselnya dan mencoba menelepon resepsionis hotel.
"Selamat siang, dengan saya Sinta, ada yang bisa dibantu ?" ucap seorang resepsionis wanita.
"Iya siang ! Saya ingin tanya, nomor kamar lelaki yang bernama Ronald berapa ya ?" tanya Edo.
"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya pak ?"
"Oh begitu, disini yang bernama Ronald ada dua tamu ! Satu tamu berada di kamar executive suite room, dan satu tamu lagi berada di kamar standart room !" ucap Resepsionis tersebut.
"Executive ? Berarti satu lantai denganku ! Kalau dilihat dari kecepatannya datang, pasti dia tidak jauh dari kamarku !" batin Edo.
"Kalau tidak salah, Ronald yang tinggal di kamar Executive !" ucap Edo kemudian.
"Baik pak ! Tamu yang bernama Ronald menginap dikamar nomor duapuluh !" jawab Resepsionis tersebut, membuat Edo sedikit terkejut.
"Ternyata benar ! Berada satu lantai denganku ! Wanita itu berani bermain - main denganku rupanya !" batin Edo kesal.
"Baik trimakasih atas informasinya !" ucap Edo kemudian kepada Resepsionis tersebut.
"Baik pak ! Apa masih ada yang bisa dibantu pak ?"
"Tidak ! Trimakasih !" Edo pun menutup teleponnya, kemudian mencoba menghubungi nomor anak buahnya melalui ponselnya.
Tanpa menunggu lama, teleponnya telah dijawab oleh anak buahnya tersebut.
"Halo boss !"
"Siapa yang berada di hotel diamond sekarang ?" tanya Edo tanpa basa - basi.
__ADS_1
"Kebetulan, saya yang bertugas mengawal boss hari ini ! Saya sudah berada dibawah sejak pukul tujuh tadi boss !"
"Bagus ! Pergi cari tahu laki - laki yang tinggal di kamar nomor duapuluh ! Kirim foto, alamat rumah dan tempat kerjanya !" perintah Edo.
"Baik boss !"
"Saya tunggu kabarnya hari ini juga !" ucap Edo, lalu mematikan teleponnya.
Beberapa saat kemudian Feby telah keluar dari dalam toilet.
Deg !
Feby terkejut ketika mendapati Edo telah duduk santai dan menatap tajam kepadanya.
"Sini !" perintah Edo kepada Feby.
"Cih !" ucap Feby, lalu memalingkan pandangannya.
"Oohh ? Sudah berani menipuku, masih berani mengabaikanku ya ?" ucap Edo kesal.
Dengan cepat, Edo pun melemparkan tubuh Feby keatas ranjangnya.
"Lepasin ! Mau apa sih ?!" kesal Feby.
"Siapa lelaki yang telah membuatmu meninggalkanku secara diam - diam ?" tanya Edo mengejutkan Feby.
"Apa maksudmu ? Aku tidak mengerti !"
"Masih berani berbohong ya ?" Edo yang kesal lansung melucuti pakaian Feby dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan ?! Kau sudah gila ya ?!" ucap Feby sembari berusaha melepaskan diri dari Edo.
"Aku paling tidak suka kebohongan ! Jawab dengan jujur, siapa yang membuat kau meninggalkanku tadi malam ?!" tanya Edo lagi dengan tatapan penuh amarah namun bibirnya tetap memancarkan senyum kecil dan nakal.
"Lepasin ! Kau mengerti tidak ?! Aku bilang lepasin !"
Jlup !
Tanpa basa - basi, Edo memasukkan senjantanya kedalam Feby.
"Ini akibat kalau berbohong !" ucap Edo sembari malakukan aksinya dengan paksa.
"Kau sudah gila !" jawab Feby sambil merasakan kenikmatan itu.
Sementara di tempat lain, tampak satu orang anak buah Edo telah mengawasi kamar nomor duapuluh.
Tak lama kemudian, Ronald pun keluar dari dalam kamar tersebut, membuat anak buah Edo bergegas untuk mengambil gambar wajah Ronald melalui ponselnya.
Cekreekk
Cekreekk
__ADS_1
Beberapa gambar telah didapatkan, anak buah tersebut pun mengikuti langkah kaki Ronald secara diam - diam.
Bersambung..