
Kini Ronald benar - benar tinggal sendiri di dalam istananya. Yang tersisa hanyalah dua orang security penjaga rumah.
Rumah tampak hening bagai tidak berpenghuni, pikirannya melayang pada istri dan anaknya yang telah pulang ke kampung halaman.
Ia berbaring diatas sofa nan empuk sembari memeluk foto istri dan putri tercintanya.
Namun Tiba - tiba saja bayangan Feby terlintas sekilas di pikirannya, membuat bayangan istri dan anaknya seketika hilang dari dalam pikirannya.
Ronald pun kembali bersemangat, terkadang pikirannya kotor untuk membawa Feby kerumahnya untuk menginap selama istri dan putrinya tidak berada dirumah.
Sudah satu bulan lamanya ia tidak melakukan hubungan suami istri dengan Luna karena pertengkaran yang terjadi hampir setiap hari. Hatinya yang sedih pun seketika berubah menjadi sebuah harapan untuk dapat melakukan hal itu bersama Feby.
Ronald mencoba mencari cara untuk meminta Feby datang dan tinggal di rumahnya selama istrinya dan anaknya berada di luar negeri. Ia juga telah berpikir panjang untuk melawan dilemanya antara melakukan hal kotor itu bersama Feby atau tetap setia menjaga pernikahannya dengan Luna.
Sementara itu di tempat kediaman Feby, tampak Feby sedang berbaring diatas ranjangnya sambil memikirkan perkataan Ronald tadi pagi di kamar hotel.
"Apa lelaki itu serius ya mengucapkannya ?" gumam Feby, ia masih tidak percaya dengan apa yang telah di alaminya tadi pagi.
"Kalau di lihat - lihat sih, sepertinya dia serius ! Tapi kenapa dia menginginkan aku berhenti dari pekerjaan ku ? Apa dia sebaik itu ?" ucap Feby.
"Tapi wajahnya tampan juga ya ! Seandainya melakukan hal begituan bersamanya pun tidak jadi masalah ! Ya hitung - hitung sebagai rasa trimakasih ku !" Muncul di benak Feby untuk memberikan tubuhnya kepada Ronald yang telah membebaskannya dari pekerjaan kotor itu, meskipun ia belum memiliki rasa sama sekali terhadap Ronald.
"Hem ! Sebenarnya kalau di pikir - pikir, sikap dia tadi malam itu sedikit aneh, seperti sedang menghindari sesuatu ! Apa sebenarnya dia ingin tidur denganku ya ?"
"Kasihan juga sih melihat dia seperti itu, di satu sisi sayang istri tapi di sisi lain ingin tubuhku !"
"Apa lebih baik kubantu saja dia menghilangkan bayangan istrinya itu ?"
"Ya benar ! Sebaiknya aku bantu saja dia karena dia juga sudah membantuku ! Tidak ada salahnya kan saling membantu ?"
"Tapi kalau aku berbuat seperti itu, apa aku termasuk menyakiti istrinya gak sih ? Ah ya enggaklah ! Aku tidak kenal istrinya kan ? Istri juga tidak mengenalku ! Jadi selama istrinya tidak tahu, pasti aman !"
"Iya aku harus membantu lelaki itu !"
Berbagai pertanyaan muncul di benak Feby untuk membalas kebaikan yang telah diberikan Ronald kepadanya.
Tiba - tiba
Beepp.. beepp..
Telepon genggam milik Feby berdering, sebuah panggilan dari Ronald.
"Wah panjang umur ni anak ! Baru dipikirkan sudah menelfon !" ucap Feby.
"Halo pak !" sapa Feby menjawab telepon dari Ronald.
"Hai ! Kamu sedang apa ?"
"Tidak ada ! Ada apa ya pak ? Ada yang bisa saya bantukah ?" tanya Feby penasaran.
"Ah tidak ! Saya hanya kepikiran saja !"
"Oh !"
__ADS_1
"Kamu tidak sibuk hari ini ?"
"Sibuk sih ! Sibuk tidur, melamun, ya kesibukannya seperti biasa ! Kalau tidak melayani tamu, ya pasti tidur dan meratapi nasib di rumah !" jawab Feby menjelaskan.
"Hahaha kamu lucu sekali ! Mau kerumahku tidak ?"
"Haaa ???! Kenapa pak ? Istri bapak bagaimana ?"
"Oh tenang saja ! Istri saya sedang berada di luar negeri selama sebulan"
"Selama sebulan ? Ya ampun kasihan banget lelaki ini di tinggal selama sebulan, pasti kesepian ! Sebaiknya aku harus menemaninya untuk membalas kebaikannya !" batin Feby.
"Boleh !" jawab Feby kemudian.
"Saya jemput ya !"
"Oh tidak perlu pak ! Biar saya datang sendiri saja ! Kirim lokasinya saja pak !"
"Kenapa ?"
"Tidak apa - apa ! Kirim saja alamatnya !"
"Yasudah kalau begitu, saya akan kirim alamatnya !"
"Okey ! Kalau begitu saya bersiap - siap dulu, agar lebih cepat sampainya !"
"Oh baiklah ! Saya tunggu ya !"
Telepon pun berakhir.
Dengan semangat yang membara, ia bergegas menuju alamat yang telah dikirim oleh Ronald.
Perasaan riang gembira membuat wajahnya tampak berseri - seri.
Beberapa lama kemudian, ia pun tiba di istana milik Ronald.
"Waah besarnya !" Feby tampak kagum ketika menyaksikan rumah megah milik Ronald.
"Cari siapa mbak ?" tanya security kepada Feby.
"Cari pak Ronald mas ! Saya disuruh kesini karena ada pekerjaan penting !" jawab Feby.
"Oh mbak Feby ya ?"
"Eh iya benar, saya Feby !"
"Sudah di tunggu bapak di dalam mbak ! Silahkan masuk !"
Tampaknya Ronald telah menitipkan pesan kepada security sebelumnya, sehingga membuat security begitu cepat menginjinkan Feby untuk masuk ke dalam rumah.
"Oh trimakasih mas !" ucap Feby, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
"Busseett ! Rumah orang kaya ternyata segede ini ya ? Kalau aku punya rumah sebesar ini, aku pasti merasa menjadi ratu !" batin Feby kagum sembari memandangi daerah rumah Ronald yang begitu megah dan luas.
__ADS_1
"Hei !" sapa Ronald yang baru saja keluar dari rumah.
"Hai pak !"
"Mari masuk !"
"Oh trimakasih !"
Feby pun masuk ke dalam rumah itu. Tak henti - hentinya ia memandangi rumah itu, membuat Ronald sedikit bingung menyaksikan sikapnya.
"Ada apa ?" tanya Ronald.
"Ah tidak ada apa - apa pak ! Rumah bapak besar sekali ! Hehehe !"
"Oh ! Rumah besar tapi sunyi, sama saja tidak bahagia kan ?" ucap Ronald.
"Kamu mau minum apa ?" tanya Ronald kemudian.
"Air putih saja pak !"
"Tunggu sebentar ya ! Bibi sedang libur, jadi saya harus ambil sendiri !"
"Baik pak !"
Tak lama kemudian, Ronald telah kembali sembari membawa segelas air putih.
"Trimakasih !" ucap Feby, lalu meneguk air putih tersebut.
Sesaat Ronald memandangi wajah dan tubuh Feby dengan penuh hasrat. Namun ia tetap berusaha untuk menyimpan hasratnya itu.
Feby yang sadar telah diperhatikan seketika bepikir untuk melakukan rencana yang telah disusunnya matang - matang sebelum berangkat kerumah Ronald.
Dengan sengaja ia menghempaskan rambutnya kebelakang dan menurunkan bajunya agar buah kembarnya sedikit terlihat oleh Ronald.
Benar saja, hal itu berhasil membuat Ronald gelisah.
Pandangan Feby kemudian tertuju pada foto keluarga yang berada tepat di samping Ronald.
Ia pun memanfaatkan kesempatan manis ini. Dengan sengaja ia duduk berada di samping Ronald dan berpura - pura memandang foto keluarga tersebut.
"Oh ini istri dan anak bapak ya ?" tanya Feby sembari melipat kakinya hingga membuat roknya sedikit terangkat.
Deg !
Perasaan Ronald pun menjadi bercampur aduk menyaksikan kaki Feby yang begitu mulus dan putih bersih. Jantungnya berdetak kencang, pikirannya selalu menggodanya dengan hal - hal kotor.
"I..iya benar !" jawab Ronald gugup.
Grep !
Dengan sengaja pula Feby menyentuh kaki Ronald sehingga membuat Ronald semakin ingin melakukan hal itu dengannya.
"Istri bapak cantik sekali ! Anaknya juga lucu !" Feby tampak sedang menggoda Ronald dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Bersambung..