
“Kenapa sayang?” tanya Ronald sesaat setelah Feby selesai berbincang – bincang melalui ponselnya.
“Mami katanya ingin datang!”
“Oh yasudah tidak apa – apa! Nanti saya akan sewa hotel saja!” kata Ronald yang lebih mengingingkan menyewa sebuah kamar hotel dari pada kembali kerumah bertemu dengan isteri dan putri semata sayangnya.
“Tidak perlu sayang, mami datangnya hari Minggu!”
“Oh begitu, berarti aku tidak perlu menyewa kamar hotel dong!”
“Tidak perlu, terlalu boros! Kamu ya, mentang – mentang banyak duit, seenaknya saja buang sana sini!”
“Bukan begitu lho sayang! Kalau aku kembali kerumah, otomatis akan sulit berkomunikasi dan menemui kamu!” ucap Ronald dengan lembut sembari membelai rambut Feby.
“Yasudahlah kalau begitu, yuk kita lansung ke supermarket saja!” kata Feby.
Merekapun kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Setibanya disana, Ronald yang menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya.
Sementara itu di tempat lain, tampak pak Asep telah menunggu Bela di depan gerbang sekolah. Tak berapa lama para siswa dan siswi pun berhamburan keluar gerbang menghampiri orangtua masing – masing.
“Non, disini!” Pak Asep berteriak melambaikan tangannya, membuat Bela melangkah menghampiri dirinya dengan cepat.
“Pak Asep! Papa mama gak ikut ya?” tanya Bela sesaat setelah sampai di mobil.
“Mama kan lagi sakit non! Kalau papa belum pulang karena masih ada pekerjaan yang harus di urus non!” jawab pak Asep dengan lembut.
“Papa selalu saja urusin kerjaan, kenapa ak berhenti kerja saja sih?” kesal Bela, lalu masuk ke dalam mobil dengan hati – hati.
BAM
Pak Asep pun menutup pintu mobil sesaat setelah Bela berada di dalamnya.
“Sudah siap non?” tanya pak Asep yang telah duduk di bangku depan yaitu bangku supir.
“Sudah pak!” jawab Bela singkat, lalu pak Asep pun mulai menjalankan mobil mewah itu.
__ADS_1
“Non, kenapa sedih begitu wajahnya?” tanya pak Asep.
“Bela lama – lama gak suka lihat papa! Mama lagi sakit tapi papa gak ada dirumah!” ketus Bela.
“Papa kan sedang kerja non! Uang hasil kerjanya juga untuk keperluan non dan mama!” Pak Asep mencoba membuat suasana hati Bela menjadi lebih tenang.
“Pokonya Bela gak suka, titik!”
“Eh non, ada supermarket tuh, mau beli sesuatu gak?” Pak Asep berusaha mengalihkan perhatian Bela agar tidak terlihat murung karena memikirkan Ronald yang tak kunjung pulang kerumah.
“Mau mau! Bela ingin beli coklat untuk mama agar mama cepat sembuh!” Tiba – tiba saja raut wajah Bela berubah begitu cepat, dari murung menjadi riang gembira.
“Oke siap non! Kita meluncur ya!” ucap pak Asep dengan penuh semangat agar suasana hati Bela yang sedang bergembira tetap terjaga.
“Yeeeyy! Pak, Bela ada duit dua ratus ribu, nanti Bela beliin untuk bapak juga ya!” kata Bela kegirangan.
“Waahh! Non baik sekali, makasih ya non! Bapak sampai terharu!” ucap pak Asep, membuat wajah Bela memancarkan senyum gembira.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di supermarket dan memarkirkan mobil mewah itu dengan rapi. Dengan perasaan riang gembira, Bela turun dari mobil, lalu bergegas masuk ke dalam supermarket tersebut.
“Ayo pak sini! Nanti cokelatnya habis kalau kita lama jalannya!” teriak Bela, membuat pak Asep mempercepat langkah kakinya.
Setibanya di dalam supermarket, Bela berjalan menelusuri rak – rak berisikan barang – barang dagangan yang tertata rapi disana, sedangkan pak Asep hanya mengikuti langkah kaki gadis kecil itu.
Tanpa sengaja sepasang bola mata pak Asep menangkap pemandangan yang tak biasa, ia menyaksikan Ronald sedang asik berbelanja dengan wanita lain di supermarket Itu.
“Itu bukannya pak Ronald?” batin pak Asep tercengang.
“Dari wajah dan postur tubuhnya sih seperti pak Ronald, tetapi siapa perempuan yang sedang bersama pak Ronald?” batinnya lagi, sesaat ia teringat pada ucapan bibi asisten rumah tangga yang mengatakan bahwa Ronald kemungkinan telah bermain di belakang Luna, sesaat kemudian ia teringat pada ucapan Sekretaris Ronald di kantor yang mengatakan bahwa Ronald telah pergi bersama karyawan barunya yang bernama Feby.
“Mungkinkah pak Ronald memang berselingkuh? Kejam sekali, ibu kecelakaan demi mencari dia sedangkan dia sedang asik bersama wanita lain!” batin pak Asep yang sedikit merasa kesal menyaksikan bossnya itu sedang berbelanja begitu mesranya dengan wanita lain.
“Non Bela!” Sesaat pak Asep teringat akan gadis kecil itu, ia telah kehilangan jejak dari gadis kecil yang lugu itu.
“Non!” panggil pak Asep sambil menelusuri area tersebut.
__ADS_1
“Non Bela?” Seketika pak Asep terkejut menyaksikan Bela yang berada tidak jauh dari tempat Ronald dan wanita itu.
“Gawat! Non Bela tidak boleh melihat pak Ronald!” Dengan cepat, pak Asep berlari menghampiri Bela. Ia tidak ingin melihat gadis kecil yang begitu polos dan lugu menangis karena menyaksikan papanya sedang bersama dengan wanita lain.
“Non!” ucap pak Asep sesaat setelah tiba disana sembari menghalangi pandangan matanya dari Ronald.
“Bela sudah dapat cokelatnya pak!” ucap Bela sambil menunjukkan tiga batang cokelat.
“Oh pinternya! Kalau begitu, kita lansung pulang saja ya non! Takutnya mama rindu dirumah, kasihan mama masih sakit sendirian dirumah!” kata pak Asep yang sedang berusaha agar Bela tidak bertemu dengan Ronald di tempat itu.
“Iya mama pasti kasihan! Kita bayar saja yuk pak!” ucap Bela.
“Yuk!” sahut pak Asep, lalu melangkah menuju kasir bersama Bela sembari tetap menutupi Ronald dengan tubuhnya dari pandangan mata gadis kecil itu.
“Untung saja, non Bela nurut!” Sesaat batin pak Asep merasa bersyukur.
“Kasihan sekali, non Bela masih kecil harus merasakan kurangnya kasih sayang dari pak Ronald. Bu Luna lebih kasihan, dia kecelakaan karena mengkhawatirkan pak Ronald, sudah begitu pak Ronald juga tidak pulang kerumah melihat keadaan isterinya yang sedang sakit, malah enak – enakan bersama perempuan cantik” pak Asep mendumel di dalam hatinya.
“Sudah pak!” ucap Bela mengagetkan pak Asep.
“Oh sudah ya non? Yaudah yuk lansung pulang saja!” jawab pak Asep, sembari melangkah menuju parkiran bersama gadis kecil itu.
Setibanya di dalam mobil, pak Asep lansung menyalakan mesin mobil.
“Ini untuk bapak satu!” ucap Bela sembari memberikan sebuah cokelat batangan kepada pak Asep.
“Wahh! Terimakasih banyak ya non!” jawab pak Asep.
“Sama – sama!” sahut Bela dengan lugunya.
Pak Asep pun mulai menjalankan mobil mewah itu.
“Non Bela baik sekali, sama seperti bu Luna! Kasihan sekali mereka yang begitu polos dan lugu tetapi malah dibohongi oleh pak Ronald! Kejam sekali, kalau saya punya isteri secatik bu Luna, tidak akan pernah aku sia – siakan apalagi sampai bermain di belakang!” batin pak Asep sambil menyetir, tampaknya ia merasa iba melihat Luna dan putri semata wayangnya harus tinggal bersama dengan lelaki seperti Ronald.
Bersambung..
__ADS_1