
Sementara itu ditempat lain tampak Edo sedang menikmati sarapan paginya di dalam kamar sembari memikirkan Feby yang telah pergi dari kamarnya tanpa sepengetahuan dirinya.
“Kemana ya ? Aku kan belum bayar jasanya, kenapa dia pergi begitu saja ?” Edo tampak kebingungan, berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
“Aku harus menelfon perempuan tua itu untuk meminta nomor teleponnya !” ucap Edo kemudian.
Edo pun mencoba menghubungi mami Vera melalui telepon genggam miliknya untuk mendapatkan nomor telepon Feby, ia berharap agar Feby datang untuk menemui dirinya saat ini juga.
Tanpa menunggu waktu lama, panggilannya telah dijawab oleh mami Vera.
“Halo pak Edo ! Tumben pagi – pagi begini menelfon saya ? Mau cari wanita ya ?” ucap mami Vera.
“Oh bukan ! Saya hanya ingin meminta nomor telepon Feby ! Apa boleh saya meminta nomornya ?” Tanpa basa – basi Edo pun lansung mengungkapkan permintaannya.
“Ya ampun pak Edo ! Saya pikir mau pesan salah satu anak saya ! Ternyata pak Edo masih belum move on dari Feby ya ! Kalau nomor Feby sih ada, tapi dia sudah berhenti dari pekerjaan ini, mana mungkin saya berikan nomornya ke sembarang orang !” jawab mami Vera.
“Sorry ! Saya hanya ingin membicarakan sesuatu kepadanya, bukan untuk membookingnya ! Eemm.. saya akan transfer satu juta asalkan saya bisa mendapatkan nomor teleponnya !” ucap Edo.
“Maaf ya pak Edo ! Bukannya saya tidak mau ngasih, tapi saya juga harus menjaga ketenangan anak saya !”
“Bagaimana kalau saya transfer duapuluh juta ? Apakah saya bisa mendapatkan nomor teleponnya ?”
“Ha ? pak Edo yakin mau ngasih segitu hanya demi nomor telepon ?” Sesaat mami Vera tampak terkejut setelah mendengarkan ucapan Edo.
“Nomor rekening masih yang dulu kan ?”
“Eh i..iya benar ! Kalau begitu nanti saya kirim nomornya lewat whastapp ya !” ucap mami Vera.
“Baik ! Tolong ya ! Terimakasih !”
“Iya pak sama – sama !”
Telepon pun berakhir, tidak lama kemudian muncul sebuah pesan whastapp dari mami Vera yang isinya adalah nomor telepon milik Feby.
Tanpa berpikir panjang, Edo lansung menghubungi nomor telepon tersebut, namun ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari sana, membuat Edo sedikit kesal.
Ia pun mencoba menghubungi kembali nomor telepon tersebut, namun masih juga tidak ada jawaban, berkali - kali ia telah mencoba menghubungi nomor telepon tersebut, tetapi hasilnya sama saja, ia tetap tidak mendapat jawaban.
Hal itu tidak membuat Edo menyerah, ia selalu mencoba menghubungi nomor telepon tersebut tanpa henti.
Sementara itu, tampak Feby dan Ronald sedang bercumbu mesra di dalam kamarnya.
“Sayang, handphone kamu dari tadi bunyi !” ucap Ronald kepada Feby.
__ADS_1
“Oh mungkin dari mami Vera, biarkan saja !” jawab Feby, lalu menarik kembali leher Ronald untuk melanjutkan kemesraannya.
Tiba – tiba
Beepp.. Beepp
Telepon genggam milik Feby kembali berdering, membuat Ronald dan Feby sedikit terganggu.
“Lebih baik, kamu lihat dulu sayang ! Takutnya ada hal penting !” ucap Ronald dengan lembut.
Dengan perasaan kesal, Feby pun mengambil telepon genggam miliknya. Ia melihat enam panggilan tidak terjawab dari nomor baru.
“Nomor baru !” ucap Feby.
Beepp .. Beepp
Telepon genggam itu kembali berdering, sebuah panggilan dari nomor yang sama.
“Angkat saja sayang ! ucap Ronald.
“Sebentar ya !” Feby pun mejawab panggilan telepon tersebut.
“Halo !” sapa Feby sesaat setelah menjawab panggilan tersebut.
Dengan cepat, Feby turun dari ranjangnya dan berlari menuju toilet.
Hal itu membuat Ronald sedikit kebingungan, ia mencoba berpikir positif agar tidak terjadi pertengkaran antara dirinya dengan wanita selingkuhannya Feby.
Setibanya di dalam toilet, Feby pun melanjutkan percakapannya dengan Edo.
“Darimana kamu dapat nomorku ?” tanya Feby panik.
“Kenapa ? Kamu tidak senang ya jika aku menelfonmu ? Aku hanya ingin bertanya, kamu dimana ? Kenapa tiba – tiba pergi tanpa bilang – bilang ? Apa kamu tidak menginginkan uangnya ?” ucap Edo dengan santainya.
“Dengar ! Jangan telfon aku dulu ! Aku ada urusan penting !” kata Feby.
"Sepenting apakah urusanmu itu sehingga membuat aku harus menunggu ?" ucap Edo dengan santai sambil menikmati kopi panasnya.
"Tidak ada seorangpun yang bisa membuatku menunggu ! Kembalilah sekarang ! Aku tidak suka ditinggalkan seperti itu ! Aku beri kamu waktu sepuluh menit untuk datang !" ucap Edo kemudian.
"Aku gak bisa menemuimu hari ini ! Pulang saja ! Untuk bayarannya tidak usah dipikirkan ! Aku berikan secara gratis untukmu ! Udah ya, bye !" jawab Feby, lalu mematikan teleponnya.
Tiba - tiba
__ADS_1
Beepp.. Beepp..
Baru saja ia mematikan teleponnya, Edo telah menghubunginya kembali.
"Ada apa lagi ? Bukannya semua sudah jelas ?" Dengan cepat, Feby pun menjawab panggilan tersebut.
"Kenapa terburu - buru begitu cantik ? Aku sangat tidak suka diabaikan ! Belum pernah ada orang yang mengabaikanku ? Cepat datang dan aku akan mentransfer uangnya tiga kali lipat !" ucap Edo, membuat Feby sedikit kesal.
"Apa kau tuli ?! Aku sudah bilang, itu aku lakukan secara gratis ! Jadi tidak usah mencariku lagi ! Okey !" lantang Feby, lalu mematikan teleponnya.
Namun
Beepp.. Beepp..
Lagi - lagi Edo menghubunginya.
"Ada apa lagi ?!" jawab Feby kesal.
"Aku tidak akan berhenti mengganggumu sebelum kamu kembali kesini ! Dengar ya cantik, kemanapun kamu pergi, aku bisa mencarimu hanya dalam waktu singkat ! Jadi menurut saja dan segera datang !"
"Kau sudah gila ya ?! Aku tidak akan datang ! Aku sudah pulang !"
"Aku tunggu dalam waktu sepuluh menit ! Jika kau belum datang juga, jangan salahkan aku jika distrik hiburan milik perempuan tua kesayanganmu itu hancur lebur hari ini !" ucap Edo dengan santai sembari menyeruput kopi panasnya.
Edo adalah pria yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan sesuatu. Ia akan melakukan segala cara agar tujuannya tercapai dengan cepat.
Selama ini Edo tidak pernah mengejar wanita seperti yang ia lakukan kepada Feby seperti sekarang ini. Harta yang melimpah serta wajah yang tampan selalu membuat wanita datang sendiri menghampiri dirinya.
Lalu dengan liciknya ia memakai para wanita - wanita itu hingga bosan tanpa status hubungan sama sekali.
"Apa yang ingin kau lakukan ?! Ini tidak ada kaitannya dengan mami !" ucap Feby dengan lantang.
"Jika kamu ingin tahu apa yang akan aku lakukan kepada mamimu, ya tidak usah datang ! Mudah kan ?! Lalu saksikan sendiri apa yang terjadi !" jawab Edo.
"Jangan macam - macam ya ! Aku tidak suka caramu !"
"Tidak ada yang menyukai caraku dalam bertindak cantik ! Kembali sekarang dan jangan buat aku menunggu lebih lama lagi ! Jika dalam waktu sepuluh menit kamu belum datang juga, maka distrik hiburan milik mamimu tercinta itu akan hancur detik itu juga ! Aku akan menyuruh orang - orangku kesana saat ini juga !" ucap Edo, membuat membuat Feby sedikit panik.
"Kurang ajar kamu ya ! Aku sudah bilang, ini tidak ada hubungannya sama mami !"
"Dimulai dari sekarang, satu menit telah berlalu ! Waktu yang tersisa hanya sembilan menit lagi ! Pikirkanlah secara matang - matang !" ucap Edo, lalu mengakhiri teleponnya.
Feby tampak kesal mendengar ucapan Edo yang bertindak sesukannya. Namun demi menyelamatkan distrik hiburan milik mami Vera, terpaksa ia harus kembali ke kamar Edo.
__ADS_1
Bersambung..