WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN

WANITA MALAM SIMPANAN CEO TAMPAN
PARA PEKERJA RONALD BERGOSIP


__ADS_3

"Bi, nanti kalau Ronald sudah pulang kabarin saya ya!” ucap Luna sembari malangkah menuju kamar tidurnya dengan bantuan bibi.


“Iya bu, pasti lansung bibi kabarin!” jawab bibi sembari memapah Luna dengan hati – hati.


Setibanya di kamar, bibi lansung membaringkan tubuh Luna secara perlahan – lahan agar Luna tidak merasakan sakit pada bagian kepala bekas kecelakaan tersebut.


“Oh iya bi, kalau Bela sudah pulang suruh kesini saja ya! Sepertinya saya tidak bisa turun kebawah karena kepala ini rasanya sakit sekali setiap bergerak!” kata Luna sembari menahan rasa sakit pada bagian kepalanya yang terasa menggigit dan pedih.


“Iya bu! Ibu istirahat saja dulu! Nanti bibi akan beritahu ibu jika bapak sudah pulang, bibi juga akan menyuruh Bela kesini setelah pulang kerumah!” Dengan lembut bibi mengembangkan selimut untuk menutupi kaki Luna.


“Makasih ya bi!” ucap Luna.


“Iya bu! Bibi kebelakang dulu ya bu!” kata bibi berpamitan lalu bergegas meninggalkan kamar tidur Luna.


“Tunggu bi!” ucap Luna menghentikan langkah kaki bibi.


“Iya bu? Apa ibu memerlukan sesuatu?” tanya bibi penasaran.


“Tolong perhatikan Ronald ya bi! Saya sangat takut terjadi apa – apa kepadanya, kalau perlu tolong suruh pak Asep pergi ke kantor Ronald!”


“Baik bu! Bibi akan menyuruh pak Asep untuk pergi ke kantor bapak!”


“Makasih ya bi! Maaf ya sudah merepotkan kalian semua!”


“Tidak apa – apa bu! Memang sudah pekerjaan kami. Kalau begitu bibi ke belakang dulu ya bu?”


“Iya bi!” jawab Luna singkat.


Bibi pun pergi meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju dapur. Sesampainya di dapur, bibi mengeluarkan bahan – bahan dan alat untuk memasak, tampaknya ia akan memasak makanan untuk makan siang.


“Pak Ronald kemana sih? Masa isterinya kecelakaan tapi dia sama sekali tidak berada disini, apa dia itu sudah tidak peduli lagi kepada isterinya?” gerutu bibi sambil menguliti bawang merah dan bawang putih satu demi satu.


“Padahal sudah punya isteri yang sangat sempurna, cantik, pengertian, gak banyak nuntut, baik lagi! Jaman sekarang sudah jarang isteri seperti bu Luna!”


“Jadi suami kog tidak ada pedulinya sama sekali! Masa iya pekerjaan bisa membuat dia jarang pulang kerumah?! Apa dia sudah tidak peduli sama anak isterinya?! Kalau aku jadi bu Luna, sudah aku ceraikan saja dia itu, masih cantik begitu pasti masih banyak yang mau!”


Sambil mendumel, bibi memasak makanan untuk disantap siang nanti. Tampaknya bibi telah menyimpan emosi melihat sikap Ronald yang seolah – olah tidak peduli dengan keluarganya sendiri.


“Kenapa sih mbak? Dari tadi kelihatannya mengomel terus!” Tiba – tiba pak Asep datang mengagetkan bibi yang sedang asik memasak.


“Kamu ya, buat kaget saja!” ucap bibi sambil mengelus – elus jantungnya.


“Ya maaf mbak! Saya tadi ingin minum tapi mendengar mbak ngomel – ngomel, ngomelin siapa sih mbak?” tanya pak Asep penasaran sambil mengambil sebuah gelas yang tertata rapi di rak piring para pekerja rumah.


“Itu loh, pak Ronald!”


“Memangnya ada apa dengan pak Ronald?”

__ADS_1


“Pak Ronald itu kayak gak sayang anak dan isteri, ucapannya saja yang manis tapi perbuatannya sama sekali tidak sesuai dengan ucapan!” kesal bibi.


“Jarang pulang kerumah katanya karena kerjaan, sekarang nomor handphonenya juga tidak dapat dihubungi padahal bu Luna baru saja mengalami kecelakaan karena sanking khawatirnya kepada pak Ronald!” lanjutnya dengan emosi yang meledak – ledak seolah ia dapat merasakan kehidupan menjadi Luna.


“Iya sih!” jawab pak Asep singkat.


“Kalau aku jadi ibu, aku sudah minta cerai dari lelaki seperti itu!” ketus bibi.


“Sabar mbak!” ucap pak Asep mencoba meredakan api amarah bibi.


“Kalau aku pikir – pikir ya, kayaknya pak Ronald itu ada main di belakang” bisik bibi kepada pak Asep.


“Hush! Tidak boleh bicara seperti mbak! Nanti di dengar bu Luna gimana? Kasihan dia lagi sakit” ucap pak Asep.


“Biasanya seperti itu pak, laki – laki kalau tiba – tiba hilang kabar harus di cari tahu!”


“Mbak jangan suka berpikiran kotor, belum tentu pak Ronald seperti itu, kali aja beneran sibuk bekerja!” bantah pak Asep.


“Memang sering terjadi seperti itu lho!” ucap bibi.


“Aduh hampir saja lupa! Tadi bu Luna nyuruh kamu pergi ke kantor pak Ronald” kata bibi kemudian.


“Kenapa tidak bilang dari tadi mbak? Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu!”


“Ya, hati – hati!”


“Kamu cari apa sih sayang? Serius banget maini handphonenya” tanya Feby penasaran sambil menyaksikan acara televisie.


“Cari makanan, kamu mau makan apa sayang?” jawab Ronald sambil tetap mencari menu makanan online.


“Kamu sudah lapar ya?”


“Sedikit, kamu mau makan apa? Ayam goreng atau rending sapi?”


“Kalau ingin makan ayam goreng, aku bisa memasaknya kog!” ucap Feby sembari beranjak dari tempat tidurnya, lalu menghampiri Ronald.


“Kamu bisa masak?” tanya Ronald penasaran.


“Kamu mau makan apa?” ucap Feby sembari duduk di pangkuan Ronald, lalu membelai wajahnya dengan lembut.


“Aku ingin makan ayam goreng!” kata Ronald sambil memegang pinggul wanita selingkuhannya itu.


“Hem!” Feby mengkerutkan kening serta memanjangkan bibirnya seakan sedang memikirkan sesuatu.


“Bisa masak gak?” tanya Ronald sembari tersenyum kecil.


“Bisa gak ya?”

__ADS_1


“Pasti gak bisa kan? Mana mungkin princess bisa masak!” ucap Ronald menggoda wanita selingkuhannya itu.


“Jangan salah! Princess yang satu ini berbeda dari Princess yang lain!” balas Feby.


“Bedanya apa?”


“Princess yang ini bisa masak, daaaaaann…” Feby menghentikan ucapannya untuk membuat lelaki yang dicintainya itu penasaran.


“Dan apa?” tanya Ronald sedikit mengkerutkan keningnya.


“Dan bisa membuat sang pangeran minta ampun diatas ranjang!” bisik Feby dengan lembut ke telinga Ronald, membuat Ronald sedikit merinding dan memancing hasrat bercintanya karena lidah Feby terasa seperti menyentuh daun telinganya dengan lembut.


“Ohh? Berani memancing pangeran ya?” goda Ronald sembari mengelitik tubuh Feby hingga membuat wanita selingkuhannya itu tertawa lebar..


“Hahaha! Sudah sayang, ampun!” kata Feby sembari tertawa lebar menahan rasa geli.


“Ampun?” tanya Ronald sembari tetap mengelitik tubuh wanita selingkuhannya itu.


“Iya ampun sayang! Hahaha! Sudah sayang, nanti aku bisa ngompol lho!” jawab Feby sembari tetap tertawa lebar.


“Itu akibatnya kalau berani menggoda pangeran!” Ronald pun mengehentikan aksinya itu.


“Jangan begitu dong sayang! Aku tidak suka di gituin, geli!” ucap Feby dengan manjanya sembari tetap duduk di pangkuan Ronald.


“Geli ya?” tanya Ronald, membuat Feby mengangguk manja.


“Uhh kasihan, kalau begitu hukumannya diganti saja!” kata Ronald kemudian.


“Hukuman? Hukuman apa?” Seketika Feby merasa sedikit bingung.


“Ini hukumannya!” Ronald memancangkan bibirnya memberikan sebuah isyarat kepada Feby, wanita selingkuhannya itu.


“Hem! Mulai lagi kan?” ucap Feby yang seakan mengerti keinginan dari lelaki yang dicintainnya itu.


“Mana? Kog gak ada rasa ya?” goda Ronald sambil memanjangkan bibirnya.


Cup!


Dengan penuh senyum, Feby akhirnya mengecup bibir lelaki yang dicintainya itu.


“Sudah kan?” tanyanya kemudian sesaat setalah ia mengecup bibir Ronald.


“Ah, masa hanya sebentar! Yang lama dong!” manja Ronald, membuat wanita seligkuhannya itu tertawa kecil.


Cup!


Kembali Feby mengecup bibir Ronald, membuat Ronald menyambut kehangatan bibirnya dengan penuh cinta dan hasrat. Adegan kecupan itupun berlansung beberapa menit, hasrat keduanya terasa membara bagaikan sepasang kekasih yang sudah lama menahan rasa rindu. Secara perlahan, Ronald dan Feby saling melepaskan pakaian yang mereka gunakan saat ini, dan agedan suami isteri itupun terjadi diatas sofa yang berada di kamar apartemen milik Feby, sang wanita malam simpanan Ronald.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2